
Vanila yang terjatuh karena terdorong, membuat Vano dan Aldrin berhenti berantem.
"Kamu nggak apa-apakan Va?" Kata Vano yang mencoba mendekati Vanila.
"Lala itu istri mas Rasyid. Kamu ingat itu." Kata Aldrin yang menepis tangan Vano.
"Cukup ma, kak. Kalian pergi semuanya !" teriak Vanila kesal lalu masuk ke rumah dan mengunci pintu kamarnya.
Aldrin bermaksut memgejar Vanila, tetapi telponnya berbunyi, Aldrin melihat kalau mama mertuanya yang menelpon.
"Iya ma?... iya ini Al balik ke rumah sakit.... iya. Wa'alaikumussalam." Kata Aldrin lalu segera menuju mobilnya.
Vano yang melihat sikap Aldin, hanya bisa mengurut dada untuk mengurangi kekesalannya.
"Vano pamit dulu mbok. Kalau ada apa-apa dengan Vanila, hubungi Vano ya mbok? Assalamualaikum." Kata Vano lalu pergi setelah mbok Sa menjawab salamnya.
Sejak hari itu Aldrin tidak pulang ke rumah Vanila dan juga tidak menghubungi Vanila, walaupun beberapa kali Vanila mencoba menghubungi, tetapi Aldrin tidak pernah menjawab telponnya ataupun pesan yang Vanila kirim.
"Hallo, iya? oh tante. iya tan?... iya, nanti Lala ke sana. iya tan." Kata Vanila lalu mematikan hpnya.
"Mbok Lala ke rumah sakit tempat mbak Qila, nanti suruh pak Arman jemput Lala agak sorean ya mbok?" Kata Vanila, lalu berangkat ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Vanila segera menuju ruangan Sidqila, yang berada di lantai 3 rumah sakit, ruang VVIP.
"Assalamualaikum" Kata Vanila sambil mengetuk pintu kamat Sidqila, setelah bertanya pada bagian resepsionist letak kamar Sidqila.
Tampak mama Sidqila membuka pintu ruangan Vanila dan mempersilahkan Vanila untuk masuk.
"Bagaimana keadaan mbak Qila tante?" Tanya Vanila ramah.
"Seperti yang kamu lihat. Kehamilan Qila itu membuat fisiknya menjadi lemah, Qila terus-terusan muntah dan tidak bisa makan. Dia sangat membutuhkan Aldrin. Qila tidak bisa berpisah dari Aldrin. Tante mohon sama kamu, lepasin Aldrin buat Qila."Kata mama Sidqila dengan wajah sedih.
"Maaf tante, Lala..."
" Tante mohon La." Kata mama Sidqila lagi.
"Lala nggak bisa tante. Lala akan izinkan mas Aldrin terus bersama mbak Qila, selama mbak Qila hamil dan butuh mas Aldrin. Tapi setelah itu, mas Aldrin bisa kembali berlaku adil terhadap kami." Terang Vanila yang membuat mama Vanila marah kepada Vanila.
"Dasar, perempuan nggak punya hati kamu. Anak saya itu sakit karena dia terus-terusan cemburu, memikirkan ketika Aldrin bersama kamu. Dari kecil Qila tidak pernah punya barang yang sama dengan orang lain, setelah besar, masak Qila harus berbagi suami dengan orang lain." Kata Mama Sidqila dengan suara tinggi yang menyebabkan Sidqila terbangun.
"Ma..."
"Iya sayang. Maaf, mama buat kamu bangun ya?" Kata mama Sidqila sambil menghampiri Sidqila.
Sidqila yang melihat Vanila berdiri tidak jauh dari ranjangnya, langsung timbul perasaan benci, karena ketika bersama Sidqila, Aldrin sering menyebut Vanila.
"Apa kabar mbak?" Tanya Vanila sambil tersenyum mencoba ramah.
"Nggak usah pura-pura baik. Kamu pasti senangkan lihat saya begini?" Kata Sidqila sinis.
"Nggak mbak. saya selalu doain yang terbaik buat mbak sama bayi yang sedang mbak kandung." Kata Vanila lagi.
"Saya nggak butuh doa kamu. Saya mau kamu cerai dari mas Al. Saya nggak mau berbagi suami dengan perempuan manapun." Kata Sidqila yang mulai emosi.
"Maaf mbak. Mbak minta mas Aldrin ceraikan saya, maka saya akan setuju." Kata Vanila
"Kamu kan tahu, kalau mas Al nggak akan ceraikan kamu. Supaya kalian bercerai, harus kamu yang minta ke mas Al." Kata Sidqila dengan suara yang semakin tinggi.
"Mbak tenangin diri mbak. Jangan emosi, hati-hati dengan kandungan mbak." Kata Vanila yang mencoba meneangkan.
"Saya akan tenang kalau kamu berjanji akan meminta cerai dari mas Al." Kata Sidqila lagi.
"Maaf mbak, saya tidak mau bicara kalau mbak masih emosi. Saya permisi dulu." Kata Vanila lalu segera berlari meninggalkan ruangan Sidqila.
__ADS_1
Vanila sempat mendengar Sidqila berteriak, tapi Vanila terus menuju tempat parkir karena ada mama Sidqila yang menjaga Sidqila.
Vanila yang bingung, harus bagaimana, akhirnya hanya bisa menangis di bangku taman rumah sakit yang berada di bawah pohon besar.
"Kamu kenapa La?" Tanya sebuah suara yang sangat Vanila kenal. Vanila menyeka air matanya, dan menatap arah sumber suara yang berada di belakangnya sambil tersenyum.
"Kak Badai? Lala nggak apa-apa. Sedih aja lihat pasien di ruang rawat tadi." Kata Vanila berbohong.
"Syukurlah. Kakak kira kamu ada masalah." Kata Badai lalu duduk di samping Vanila.
"Kakak apa kabar?" Tanya Vanila
"Alhamdulillah, sehat. Kamu sehat juga kakak lihat." Kata Badai sambil memperhatikan Vanila.
"Iya Alhamdulillah, Lala sehat kak." Kata Vanila lagi.
"Kamu ngapain di rumah sakit?" Tanya Badai.
"Belanja" Jawab Vanila yang mencoba belanja.
"Belanja obat, jenazah atau penyakit?" Tanya Badai yang langsung menanggapi candaan Vanila.
"Kakak maunya apa?" Tanya Vanila balik.
"Kamu ini kebiasaan, ditanya malah balik tanya." Kata Badai sambil menjitak pelan kepala Vanila.
"Aw, sakit tau kak. Ntar kalau Lala gegar otak gimana?" Tanya Vanila sambil mengusap kepalanya.
"Ya tinggal beli otak baru. Gitu aja kom repot." Kata Badai sambil tertawa.
"Kak Badai ih. Kakak aja sana beli otak baru. Kok kakak sekarang jadi gesrek ya? kelamaan main sama Bang Bagas nih." Kata Vanila
"Enak aja kamu bilang kakak gesrek. Kamu tuh nggak ilang-ilang jahilnya."
Sesampainya di rumah, mbok Sa dengan wajah khawatir segera menemui Vanila.
"Non kemana aja?, Den Aldrin dari tadi nelponin. Den Aldrin nanya apa non pergi ke.rumah sakit? Mbok jawab iya. Lalu den Al matiin telponnya." Kata mbok Sa.
"Hp Lala mati. Tadi kan Lala bilang mau ketemu mbak Qila. Sebentar Lala telpon mas Al dulu." Kata Vanila, lalu segera menghubungi Aldrin melalui telpon rumahnya, tapi sudah 10 kali Vanila telpon, tidak ada jawaban dari hp Aldrin.
"Nggak di jawab mbok. Ya udah, Lala mau mandi dulu." Kata Vanila lalu masuk ke kamarnya.
Selesai mandi, Lala segera menghidupkan hpnya yang tadi mati. Ada banyak sekali pesan dari Aldrin yang menanyakan keberadaan Vanila.
Vanila kembali menghubungi Aldrin, tapi tetap tidak ada jawaban.
"Assamualaikum. Iya kak? Innalillahi wa innailaihi rojiun. Iya Lala segera kesana." Kata Vanila lalu segera mengganti bajunya dna mengenakan jilbabnya.
"Mbok, cepat siap-siap. Kita harus ke rumah mbak Qila. Anakas Aldrin sama mbak Qila meninggal." Kata Vanila.
"Innalillahi wa innailaihi rojiun. Iya non sebentar." Kata mbok Sa lalu segera mengganti pakaiannya.
Vanila dan mbok Sa segera ke rumah Sidqila diantar pak Arman.
Vanila melihat rumah Sidqila yang sudah ramai, tampak Kyai Abdullah dan Umi Salma sedang menyambut pelayat di teras rumah.
"Assalamualaikum umi, abah." Kata Vanila sambil mencium punggung tangan umi Salma dan kyai Abdullah.
Umi salma yang biasanya ramah, tiba-tiba menjadi sinis terhadao Vanila. Bahkan umi Salma segera menepis tangan Vanila.
Kyai Abdullah yang tahu kalau Vanila bingung dengan sikap umi Salma, hanya tersenyum pada Vanila sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Kamu jangan masuk La. Abah khawatir Aldrin tidak bisa menahan emosinya." Kata Kyai Abdullah.
__ADS_1
"Tapi Bah?"
"Dengarin Abah. Abah yakin kalau ini takdir Allah. Tapi orang yang sedanh sedih dan berduka, suka lupa, kalau Allah maha berkehendak." Kata Kyai Abdullah.
"Ya udah, Lala tunggu di luar aja." Kata Vanila lalu pamit dan menunggu di dalam mobil.
Setelah sekitar sejam di dalam mobil, Vanila melihat Aldrin yang sedang menggendong kain kafan mungil, dengan wajah yang kelihatan sangat sedih, diikuti oleh romongan pelayat, menuju pemakaman yang tidak jauh dari rumahnya.
Vanila hanya bisa memandang dari dalam mobil, karena seperti kata kyai Abdullah, takutnya Aldrin akan emosi, tapi Vanila tidak tahu kenapa Aldrin bisa emosi dengan Vanila.
"Kita pulang aja non." Kata mbok Sa.
"Nggak mbok. Kita tunggu aja. Lala mau tahu, kenapa mas Al harus marah dengan Lala." Kata Vanila.
"Besok aja kita kesini lagi. Sekarang kondisinya sedang nggak baik." Kata mbok Sa lagi.
"Iya nin. Kita pulang aja." Kata paka Arman.
"Tapi pak, mbok..."
"Sudahlah non. Besok kita kesini lagi." Kata mbok Sa sambil mengelus kepala Vanila.
"Ya udah. Besok kita kesini lagi." Kata Vanila, lalu mereka pulang.
Sesampainya di rumah, Vanila segera masuk ke kamarnya. Vanila sedang memikirkan, apa yang terjadi. Vanila menebak-nebak bagaimana Sidqila bisa keguguran. Walaupun terakhir kali Sidqila marah sama Vanila, tapi tidak akan sampai menyebabkan keguguran.
Malamnya, Vanila hanya duduk di meja makan, tanpa memasukkan makanan ke piringnya.
"Non harus makan. Jangan terlalu di pikirin" Kata mbok Sa khawatir, karena dari siang Vanila tidak makan.
"Lala nggak laper mbok. Nanti Lala makan roti aja." Kata Vanila lalu kembali ke kamarnya.
Vanila berusaha menghubungi Aldrin, tapi lagi-lagi tidak diangkat, bahkan terdengar kalau telpon Vanila di reject. Vanila yang merasa lelah dengan pikirannya, akhirnya tertidur.
Keesokan paginya, Vanila bangun pagi-pagi sekali dan bersiap akan ke rumah Sidqila.
"Sarapan dulu non. Itu sudah mbok buatkan sandwich" Kata mbok Sa, yang mamaksa Vanila duduk di meja makan dan menghabiskan sarapannya.
Baru akan mengunyah sandwich yang digigitnya, tiba-tiba Aldrin masuk ke rumah Vanila dengan wajah yang marah.
"Assalamualaikum mas." Kata Vanila begitu melihat Aldrin.
"Wa'alaikumussalam." Jawab Aldrin ketus.
"Lala turut berduka cita ya mas." Kata Vanila sambil menatap Aldrin.
"Kamu semalam ketemu Qila di rumah sakit?" Tanya Aldrin
"Iya, Lala ketemu mbak Qila..."
"Kenapa kamu tega bunuh anak Qila sama mas. Kenapa La?" Tanya Aldrin dengan wajah sedih bercampur emosi yang membuat Vanila terkejut.
"Lala bunuh anak mas? Maksudnya apa?" Tanya Vanila bingung.
"Kamu kalau cemburu sama Qila, kamu kan bisa ngomong baik-baik sama mas. Nggak usah nemuin Qila." Kata Aldrin lagi dengan suara yang mulai meninggi.
"Lala nggak..."
"Nggak usah bohong La ! Kamu kan tahu kalau Qila lagi hamil. kandungannya lemah. Mas harus jaga emosinya biar stabil, makanya mas jarang ke tempat kamu. Tapi kan kamu nggak harus menuntut hak kamu sama Qila. Tapi sama mas La." Kata Aldrin lagi
"Lala nggak pernah nuntut apapun. Lala..."
"Sudah lah La, bagaimanapun kamu sudah bunuh ansk mas dan Qila. Untung aja Qila berbaik hati tidak menuntut kamu, padahal mamanya sudah menghubungi pengacara mereka untuk menuntut kamu. Kamu renungkan kesalahan kamu. Mas nggak mau kejadian seperti ini terjadi lagi di kemudian hari. Dan satu lagi, kamu jangan pernah temui Qila." Kata Aldrin dengan suara mengancam lalu pergi meninggalkan Vanila yang bingung, dengan semua perkataan Aldrin.
__ADS_1
Vanila yang jenius, seketika menjadi bodoh, untuk mencerna apa yang terjadi. Bagaimana mungkin Vsnila jadi pembunuh anaknya Aldrin dan Qila.