
Semenjak Dahlia, mengatakan bahwa Vanila harus menjauhi Vano, Vanila selalu menghindari Vano. Vano yang dari awal memang menyukai Vanila, memutuskan untuk mendekati Jenifer yang merupakan sahabat Vanila. Walaupun tidak bisa berdekatan secara langsung dengan Vanila, dengan mendekati Jenifer, Vano jadi bisa berdekatan dengan Vanila, walaupun di cuekin.
"La. Bisa nggak, bilangin ke teman kamu itu, jangan kecentilan dengan Vano. Vano itu punya kakak" Kata Dahlia, sewaktu mereka bertemu pas makan malam.
"Maaf kak, itu haknya Jeje dan kak Vano. Lagian Jeje nggak pernah kecentilan kok, dengan kak Vano. Kak Vanonya aja yang tiap istirahat selalu nemuin Jeje." Kata Vanila membela Jeje. Tidak membela juga sih, tapi itu kenyataannya. Setiap jam istirahat, Vano selalu datang ke kelas mereka menemui Jenifer. Kadang Vano bawa coklat, kadang ngajak makan ke kantin, kadang mereka hanya ngobrol di kelas.
"Iya, tapi kan kamu bisa bilangin ke teman kamu, kalau Vano itu punya kakak." Kata Dahlia lagi, dengan suara yang mulai marah.
"Maaf kak, Lala nggak bisa. Lagian Lala bingung nanti mau bilang apa ke Jeje. Bukankah kakak ngelarang Lala, bahwa jangan sampai ada yang tahu kalau kita saudara. Kalau Lala belain kakak, nanti kalai Jeje nanya, kakak siapa nya Lala, trus Lala harus jawab apa?" Kata Vanila lagi.
"Aargh.. kamu sama teman kamu itu, sama-sama menyebalkan." Kata Dahlia lalu pergi meninggalkan Vanila.
Vano selalu memberi perhatian kepada Jenifer. Hal ini tentu saja membuat Jenifer, lama kelamaan mulai menyukai Vano.
"La, menurut kamu, kak Vano itu gimana sih?" Tanya Jenifer sambil membayangkan wajah Vano yang baru saja memberinya coklat.
"Mmm.. B aja sih. Kamu suka sama kak Vano?" Tanya Vanila
"Ih. kok B aja sih aja sih La? Kak Vano itu baik, ganteng, tinggi, cakep, ramah..."
"Iya.. sekalian aja bilang, rajin menabung, ahli ibadah, murah tersenyum, cowok idola seantero sekolah." potong Vanila
"Nah... bener banget kamu La. Nah itu tau, kenapa kamu tadi bilang B aja?" Tanya Jenifer
__ADS_1
"Jeje sayang. Nggak ada kali, manusia yang sesempurna itu di dunia ini. Itu karena kamu sudah jatuh cinta sama kak Vano. Bukannya jatuh cinta itu buat orang jadi buta ya? Aku dengar kalau orang jatuh cinta, kotoran kucing berasa coklat loh." Kata Vanila sambil tertawa.
"Lala.. ih.. kamu jorok ah. nggak gitu juga kali. Tapi kan emang kak Vani itu keren. Apalagi dia suka bawain aku coklat, suka ngunjungi aku pas jam istirahat. Kak Vano pasti suka juga sama aku kan La?" Tanya Jenifer lagi.
"Tau ah.. elap" Kata Vanila yang pergi meninggalkan Jenifer menuju kantin, dan langsung diikuti oleh Jenifer. Karena kalau di sekolah, Jenifer dan Vanila sudah seperti anak kembar siam yang tidak bisa dipisahkan.
Sebetulnya, Vanila malas pergi ke kantin. Karena setiap ke kantin, pasti saja, ada kakak kelas yang cari-cari alasan buat dekatin Vanila. Walaupun Vanila tidak pernah bersikap ramah, selalu memperlihatkan wajah dinginnya, tapi tetap saja masih banyak kakak kelas yang mau mendekatinya.
"Lala cantik, boleh Kak Nando yang tamvan ini duduk di sini?" Tanya Nando yang merupakan playboy cap kerupuk di sekolah.
Tanpa memandang dan menghiraukan Nando, Vanila segera memakan bakso yang tadi dipesannya.
"Kalau diam, berarti boleh dong." Kata Nando lalu duduk di bangku yang ada di depan Vanila.
"Eh.. cewek ganjen. Gak usah godain cowok gue deh lo. Gaya Lo aja sok-sok nggak mau dekat-dekat cowok, tapi bisa-bisanya Lo makan bakso di sini sama cowok gue." Kata Dewi Kakak kelas Vanila yang tiba-tiba datang, memotong pembicaraan Jenifer.
"Sayang jangan gitu. Jangan ribut-ribut di sini." Kata Nando yang berusaha menenangkan Dewi.
Vanila yang kebetulan sudah selesaƬ makan bakso, Lalu berdiri dan menggandeng Jenifer untuk pergi meninggalkan kantin.
"Emang cewek nggak ada sopan santunnya lo ya. Gue masih ngomong tapi lo tinggalin gitu aja." Kata Dewi yang semakin kesal, lalu memyiram Vanila dengan air yang ada di atas meja. Karena Vanila berjalan bersama Jenifer, Jeniferpun ikut terkena siraman air dari Dewi.
"Biasa aja kali kak. nggak usah pakai siram-siram juga. Aku tuh sudah mandi pagi tau." Omel Jenifer kesal sambil mengelap air yang membasahi bagian belakangnya.
__ADS_1
"Berani ngelawan gue lo?" Kata Dewi dengan nada suara yang marah.
"Sudah dong sayang" Pujuk Nando
"Kakak kira aku takut. Jangan mentang-mentang aku diam, kakak bisa berlaku seenaknya ya. Kita ini sekolah. Sama-sama bayar. Jangan karena kakak merasa senior trus kakak bisa nindas kami yang junior. Hellow.. ini tuh tahun 2020, nggak ada lagi yang namanya junior takut sama senior atau senior nindas junior." terang Jenifer panjang lebar, yang membuat Dewi semakin marah, dan ingin menampar Jenifer, tapi di tahan oleh Nando.
"Jaga tuh cewek bar bar kakak." Kata Jenifer lalu pergi meninggalkan kantin bersama Vanila.
"Kamu kenapa diam aja sih La?, Lawan kek, ngomel kek, protes kek" omel Jenifer yang mulai kesal dengan sikap cuek dan diam Vanila.
"Buang-buang energi. Sayang loh energi yang aku dapat dari mengunyah bakso 33 kali untuk hal yang nggak penting kayak gitu." Kata Vanila santai yang membuat Jenifer tidak menyangka dengan jawaban sahabatnya itu, sehingga membuat Jenifer tidak bisa marah.
Vano yang kebetulan berada tidak jauh dari mereka, tersenyum mendengarkan jawaban Vanila, yang bisa membuat Jenifer yang cerewet, langsung diam seketika tanpa membantah lagi.
Tidak terasa sudah hampir mau satu semester Vanila sekolah di SLTP Harapan Bangsa. Selama proses belajar mengajar, Vanila selalu menjadi pusat perhatian di kelas dan menjadi murid kesayangan para guru. Semua materi yang disampaikan oleh guru, bisa di kuasai dengan sangat baik sekali oleh Vanila. Bahkan, buk Wana, wali kelasnya yang juga merupakan guru biologi meminta Vanila untuk mengikuti perlombaan biologi antar sekolah seProvinsi, dimana perwakilan sekolah yang menang akan mengikuti tahap nasional sebagai perwakilan provinsi. Mrs. Merry yang merupakan guru bahasa Inggris meminta Vanila menjadi salah satu peserta tim debat bahasa Inggris perwakilan sekolah bersama dengan murid kelas 2, Stella dan Grace.
"La, kamu kok pintar banget sih? Di kasih makan apa sih La sama mbok Sa?" Tanya Jenifer sewaktu mereka sedang istirahat dan kembali dari ruangan Mrs. Merry yang meminta Vanila untuk mewakili sekolah mengikuti lomba debat.
pertanyaan Jenifer membuat Vanila terdiam, karena Ia ingat, kalau dulu Al pernah menanyakan hal yang sama. Aldrin yang tiba-tiba saja menghilang, tanpa pesan dan tanpa kabar.
"Woi La, aku tuh cuma nanya kamu dikasih makan apa, kok malah bengong? Ayam tetangga aku kemaren mati loh La, karena suka bengong." Kata Jenifer sambil tertawa yang membuat Vanila tersenyum masam, karena Ia baru saja mengingat Aldrin.
"Mbok Sa kasih aku makanan seperti biasa kok. Nasi kadang pamai ayam, kadang ikan, kadang daging, kadang..."
__ADS_1
"Dah ah. Kok kamu jadi mendata apa yang kamu makan sih La." Kata Jenifer yang agak sedikit kesal dengan jawaban Vanila.