
Sudah hampir satu bulan Vanila berada di negara I. Mbok Sa sudah benar-benar pulih dan sudah bisa beraktivitas lagi.
Carl kembali ke negaranya sehari setelah Vanila menolak cintanya. Walaupun kecewa, tapi Carl menerima keputusan Vanila.
Aldrin selalu saja berusaha menemui Vanila. Bahkan setiap hari Aldrin mengirimi Vanila bunga, yang membuat Vanila semakin tidak suka dengan sikap Aldrin.
Berkali-kali Vano menasehati masnya untuk mengikhlaskan Vanila, tapi Aldrin tetap dengan pendiriannya. Bahkan Aldrin jarang pulang ke rumah Sidqila yang membuat Sidqila curiga kalau Aldrin punya wanita lain.
Vanila takut keluar rumah, karena Vanila yakin kalau Aldrin selalu berada di sekitar rumahnya. Karena begitu Vanila melangkah keluar, Aldrin pasti langsung muncul menemuinya.
"Iya keket? Aku balik mungkin masih lama. Kamu urus aja dulu semua pasien aku. Kamu minta suster Anet masak. Aku bukan koky kamu. iya iya aku bakalan balik secepatnya. ok. bye." Kata Vanila lalu mematikan telponnya.
Vanila yang sedang mengganti ganti saluran tv karena tidak tahu apa yang mau ditonton, melihat berita bahwa di kota A sedang terjadi bencana tsunami. Kejadian yang baru terjadi semalam, sudah banyak merenggut korban jiwa.
"Assalamualaikum mbak Amel." Sapa Vanila melalui telpon.
"Aer? ini beneran kamu aer? Kamu sekarang di negara I? Kamu menghilang kemana saja. Mbak kangen dengan kamu." Kata Amel dengan suara serak karena terharu.
"Jawab salam itu wajib mbak." Kata Vanila.
"Wa'alaikumsalam. Mbak senang akhirnya kamu kembali." Kata Amel lagi.
"Mbak, tadi aku nonton berita kota A lagi kena musibah, keuntungan aku selama 4 tahun AerSS sumbangin kesana semua aja." Kata Vanila.
"Kamu yakin Ae?" Tanya Amel
"Iya mbak. Sumbangin aja semua. Belikan semua keperluan masyarakat di sana untuk bertahan hidup. Belikan juga obat-obatan dan peralatan medis. Nanti aku kasih nomor vendornya. Aku ada yang mau di urus lagi. Kangen-kangenanya ntar kalau aku nggak sibuk ya mbak. Assalamualaikum." Kata Vanila lalu mematikan saluran telponnya dengan Amel begitu mendengar jawaban salam dari Amel.
Vanila mencari informasi relawan medis yang akan di kirim ke lokasi bencana. Vanila mendapatkan nomor pihak yang akan mengirimkan relawan medis ke kota yang terdampak bencana, kebetulan malam ini mereka akan berangkat ke lokasi bencana.
Vanila mempersiapkan beberapa pakaian dan keperluannya selama di sana. Vanila memasukkan barang-barangnya ke dalam tas ransel yang cukup besar.
"Mau kemana non?" Tanya mbok Sa.
__ADS_1
"Lala mau ke kota A mbok. Di sana sedang terjadi bencana. Malam ini Lala akan berangkat dengan tim relawan medis." Terang Vanila.
"Tapi non di sana berbahaya." Kata mbok Sa khawatir.
"Mbok tenang aja. Mbok doakan Lala baik-baik aja."Kata Vanila.
"Oh iya, Lala khawatir kak Aldrin masih di luar, jadi Lala mau mbok Sa sama pak Arman keluar, biar kak Aldrin ngira Lala yang pergi." Kata Vanila.
"Iya non. Non hati-hati di sana. Jaga diri non baik-baik." Kata mbok Sa sambil memeluk Vanila erat.
Seperti yang sudah direncanakan, mbok Sa keluar bersama pak Armam. Dan benar saja Aldrin masih menunggu di luar dan segera mengikuti mobil yang dibawa pak Arman.
Vanila segera menghubungi transportasi online dan berangkat menuju bandara, bertemu relawan lain yang akan berangkat.
"Dokter Abi? Dokter berangkat juga?" Tanya Vanila yang melihat dokter Abimana, yang merupakan dokter yang pernah merawat Vanila sewaktu Vanila mengalami kecelakaan.
"Lala, MashaAllah La. Kamu apa kabar? Kenapa kamu bisa ikut relawan medis?" Tanya dokter Abi bingung.
"wah, dah jadi perawat aja kamu La." Kata dokter Abi sambil mengecek kartu keanggotaan pekerja rumah sakit Vanila.
"Iya dok, seru kayaknya kalau jadi perawat." Kata Vanila sambil nyengir.
"Kamu ini ada ada saja." Kata dokter Abi lagi.
Dokter Abi meminta Vanila menandatangani dokumen yang sudah Vanila isi secara online. Bagaimanapun lokasi bencana adalah lokasi yang rawan, sehingga kemungkinan terburuk bisa saja menimpa mereka.
Banyak para relawan lain yang memperhatikan Vanila dan dokter Abi, bahkan ada beberapa yang tidak suka melihat kedekatan Vanila dengan dokter Abi, apalagi Vanila yang cantik, langsung menarik perhatian mata para lelaki yang ada di dekat Vanila.
Setelah selesai mendata, semua relawan yang akan berangkat, mereka menunggu pesawat dari TNI AU yang akan membawa mereka ke lokasi bencana beserta logistik yang akan di bawa.
"Dokter Abi kenal suster cantik sendiri aja. Kenalin ke kita juga dong." Protes dokter yang lain.
"Oh iya La kenalin ini dokter Agung, dokter Harun, dokter Ilyas, dokter Meta, dokter Farhana, dokter Siska, dokter Srik, dan yang terakhir dokter Anye." Kata dokter Abi memperkenalkan Vanila.
__ADS_1
Para dokter pria segera mengulurkan tangannya, tapi hanya menerima tangkupan tangan di depan dada oleh Vanila.
"Lala. Mohon bimbingannya dokter semua." Kata Vanila sambil tersenyum yang membuat para dokter cowok yang kebetulan pada masih jomblo berbunga-bunga, sementara dokter cewek memandang Vanila sinis.
Mereka berangkat bersama beberapa tentara, menggunakan pesawat hercules. Vanila yang penampilannya berbeda dari relawan lainnya, karena Ia menggunakan gamis dan jilbab yang cukup dalam, ditambah wajah cantiknya cukup menarik perhatian kaum adam.
"Dikiranya mau pengajian, pakai pakain seperti itu." Kata dokter Anye kepada dokter Srik.
"Iya, apa nggak susah gerak nanti? bagaimana kalau tersangkut, kan nanti jadi repot sendiri." Kata dokter Srik.
"InshAllah nggak akan mengganggu." Jawab Vanila sambil tersenyum mendengar perkataan dokter Anye dan dokter Srik.
"Lala umurnya berapa? biar nggak salah panggil. Soalnya sekarang banyak yang imut tapi umurnya sudah 35 tahun." Kata dokter Siska.
"Panggil Lala aja. Yang jelas dia ini jauh umurnya dibawah kita." Jawab dokter Abi yang tidak suka rekan dokter wanitanya seperti memojokkan Vanila.
"Lah, beneran jauh di bawah kita? Tadi gue lihat di datanya Suster Lala ini udah kerja di rumah sakit hampir 4 tahun." Kata dokter Harun yang penasaran.
"Udah Lo nggak usah bahas umur deh dokter Harun, ntar kalau tahu berapa umur Lala, lo bisa kena serangan jantung." Kata dokter Abi lagi.
"Emang semuda apa sih dia, sampai segitunya dokter Abi nutupin umurnya?" Kata dokter Anye.
"Aduh kok jadi pada ribut soal umur sih. Ya udah biar lo pada nggak ribut. Lala ini terakhir gue ketemu 5 tahun yang lalu umurnya 14 tahun. Nah Lo semua pikir sendiri deh sekarang dia umurnya berapa? masih bocah nih anak." Jelas dokter Abi membuat teman-temanya terdiam,sementara Vanila cuma bisa tersenyum nggak enak hati.
"Ngapa dokter bilang umur Lala berapa? Biar aja Lala di bilang 35 tahun" Protes Vanila yang berbisik kepada dokter Abi yang duduk di sebelahnya.
"Udah biarin aja. Kamu istirahat aja dulu, perjalanan kita lumayan jauh, sekitar 2 jaman." Kata dokter Abi yang memang sudah menganggap Vanila seperti adeknya.
"Aye aye Captain" Kata Vanila pelan sambil memberi hormat sama dokter Abi.
"Saya dokter La, bukan tentara." Kata Abi sambil tertawa melihat tingkah Vanila.
Vanila menyandarkan kepalanya ditas ransel yang di bawanya, mengistirahatkan sebentar matanya yang lumayan ngantuk.
__ADS_1