Vanilarea

Vanilarea
Owner AERSS


__ADS_3

Sudah satu minggu berlalu, daerah yang terkena bencana berangsur-angsur mulai di perbaiki oleh tentara dan dibantu masyarakat sekitar.


Pria yang terakhir kali ditolong Vanila juga sudah sadar, tetapi kondisinya masih sangat lemah. sehingga ia segera di pindahkan ke rumah sakit.


"Kak Lala, hari ini kita main apa?" Tanya seorang anak kecil yang bernama Annisa. Annisa paling suka ketika ia bermain bersama Vanila.


"Main apa ya...?" Tanya Vanila pura-pura bingung


"Main kucing tangkap tikus mau?" Tanya Vanila sambil tersenyum.


"Mau, ayo kak." Tarik Annisa agar Vanila segera menuju lapangan tempat anak-anak berkumpul.


Karena sering di ajak bermain, mereka masih bisa tertawa bahagia, walaupun di tengah bencana, dan hanya Vanila yang bisa membuat mereka bermain dan tertawa bahagia.


"Ok, sekarang kita buat lingkaran besar, trus saling berpegangan tangan ya." Perintah Vanila kepada anak-anak.


"Sekarang siapa yang mau jadi kucing dan siapa yang mau jadi tikusnya?" Tanya Vanila


"Icha jadi tikus, kak Lala jadi kucing." Saran Annisa.


"Iya setuju" kata yang lainnya.


"Baik lah. Kakak akan jadi kucing garong, aungm." Kata Vanila menirukan suara harimau yang membuat anak-anak tertawa.


"Kucing itu suaranya ngeong kak, bukan aungm." Kata Annisa membesarkan.


"Itu kucing imut, kakak kan kucing garong, aungm." Kata Vanila lagi sambil seolah-olah akan menerkam Annisa.


Lalu Vanila mulai mengejar Annisa yang berlari dan dilindungi teman-temannya agar tidak tertangkap, mereka semua bisa tertawa lepas melupakan sejenak apa yang terjadi seminggu yang lalu.


"Tsk.. menyebalkan. Kenapa sih dia selalu bisa jadi pusat perhatian?" Tanya dokter Anya yang dari awal memang tidak suka dengan Vanila.


"Iya, mana Lettu Badai nempel mulu lagi sama dia. Padahalkan aku mau tebar pesona." kata dokter Srik sambil manyun.


"Sudah, nggak usah iri. Kan memang Lala itu cantik, baik, tulus, jadi siapa saja pasti suka dengan Lala." Kata dokter Hasna yang lebih bijak.


"Iya sebel aja. semua yang cakep dekat-dekat dia melulu, dokter Abi, dokter Harun, Letu Badai tu si kopral Ari ikutan juga." kata dokter Anya lagi, yang membuat dokter Hasna hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah dua rekannya.


Hampir dua jam Lala bermain dengan anak-anak, kadang main kejaran kucing tangkap tikus, kadang main tebak-tebakan, dan banyak permainan lain yang mereka mainkan.


Setelah menami anak-anak bermain, dan mereka kembali ke keluarganya untuk istirahat dan makan siang, Dokter Abi memanggil semua tim relawan yang dibawanya.


Akses jalan yang sudah di buka, dan dokter sekitar yang bertugas sudah kembali, dokter Abi sudah membicarakan dengan yang lain, bahwa besok mereka akan kembali, karena ada beberapa tim tentara yang juga akan kembali dan digantikan tim yang lain.


"Pertama saya mau mengucapkan terimakasih atas kerja keras rekan-rekan sekalian selama disini. Hari ini adalah hari terakhir kita disini. Besok kita akan kembali ke kota S melanjutkan aktifitas seperti biasanya. Saya juga sudah lapor dengan pak kepala desa, bahwa kita akan kembali besok." Terang dokter Abdi yang di sambut senang oleh rekan-rekannya kecuali Vanila.


"Kamu kenapa nggak senang La?" Tanya dokter Harun.


"Sedih ninggalin adek-adek." jawab Vanila.

__ADS_1


"Yah, mau bagaimana lagi. Kita kan harus balik, tugas kita disini sudah selesai." Kata dokter Harun lagi.


"Lala boleh tinggal disini aja nggak ya?" Tanya Vanila dengan mata berbinar senang.


"Kamu ini ada-ada saja. Tim relawan itu harus pergi lengkap pulang juga lengkap." Kata dokter Harun lagi.


"Oh, gitu ya." Katanya dengan suara sedih dan pelan.


"Nanti kalau sudah balik, kamu bisa kembali lagi ke sini pribadi." Kata dokter Harun.


"Benar juga. Ok dokter, terimakasih buat sarannya." Kata Vanila yang kembali senang.


Malam ini kepala desa membuat acara syukuran alakadarnya sebagai ucapan terimakasih kepada tim relawan yang telah membantu. Walaupun desa mereka masih banyak membutuhkan bantuan, tapi kepala desa dan masyarakat sekitar senang atas pertolongan para relawan.


"Kak Lala besok balik ya?" Tanya Airin dengan wajah sedihnya.


"Iya, besok kakak harus balik. Tapi InshAllah nanti kakak datang lagi." Kata Vanila sambil mengusap kepala Airin.


"Janji?" Tanya nya sambil menunjukka jari kelingking mungilnya.


"InshAllah" Jawab Vanila sambil menautkan jari kelingkingnya.


Setelah acara syukuran dengan makan bersama, semuanya istirahat karena hari sudah malam.


Pagi-pagi sekali tim relawan medis sudah bangun, dan siap-siap akan kembali ke ibu kota, kota A. Dari kota Ibu kota kota A, mereka akan kembali ke kota S.


"Sini kakak bawak tas kamu La." Kata Badai yang mengambil alih ransel Vanila.


"Nggak. Kakak cuma antar kamu sampai bandara." Kata Badai lagi. Lalu membantu Vanila untuk naik ke atas truk tentara yang akan membawa mereka ke ibu kota, kota A.


"Lettu Badai kembali juga?" Tanya dokter Abi heran.


"Nggak dok, saya cuma ngantar aja." Terang Badai.


"Oh. Saya kira lettu balik juga. Kamu jadi mau balik lagi La?" Tanya dokter Abi.


"InshAllah." Kata Vanila sambil tersenyum


"Nggak usah pakai senyum jawabnya, ntar ada yang diabetes." Kata dokter Abi meledek Vanila.


"Emang senyum bisa buat diabetes? teori dari mana tu dok?" Tanya Vanila lugu, karena untuk kasus-kasus tertenti,Vanila terkadang memang tidak pintar.


"Ya bisalah, kalau senyumnya semanis senyum kamu." Kata dokter Abi sambil tertawa.


"nggak lucu tau dok." Protes Vanila.


"Saya nggak lagi ngelucu kok." Jawab dokter Abi lagi, dan masih tertawa karena berhasil ngerjain Vanila.


Perjalanan yang memakan waktu hampir dua jam, tidak terasa berlalu. Mereka sampai ke kantor kepala daerah, untuk serah terima dan melaporkan kondisi terakhir.

__ADS_1


Semua pihak yang terlibat, berkumpul dilapangan kantor kepala daerah. Mereka berbaris rapi sesuai dengan kelompok.


Tidak lama setelah kepala daerah kota B, memberikan kata sambutan dan ucapan terimakasih, terlihat ada enam orang yang datang memasuki lapangan.


Kepala daerah mendapat bisikan dari ajudannya tentang siapa yang datang.


"Mari kita sambut CEO AERSS yang akan memberikan sumbangan untuk perbaikan infra struktur senilai 40 M." Kata kepala daerah semangat yang membuat Vanila yang tadinya sedang menunduk memperhatikan iringan semut, menatap ke arah Satya dan Amel yang kebetulan juga memandangnya.


Amel yang sudah sangat rindu dengan Vanila, langsung berlari ke arah Vanila dan memeluknya dengan air mata yang tidak mau berhenti.


Satya juga berjalan ke arah Vanila, dengan tatapan penuh kerinduan, tapi Satya tahu batasan, kalau dia tidak bisa memeluk Vanila.


"Ngilang empat tahun, tahu-tahu kamu sudah disini aja Ae." Kata Satya lagi.


Orang-orang yang memperhatikan mereka bertiga agak bingung, karena seperti menonton adegan sinetron anak yang tertukar, trus orang tuanya tidak sengaja menemukannya di tengah kerumunan orang.


"Tsk. kenapa sih dia bisa kenal orang-orang hebat. Pembantu mereka dulu kali ya?" Kata Anya yang di dengar oleh Amel dan Satya.


Amel dan Satya yang tahu siapa Vanila, hanya menahan marah dalam hati, karena Vanila tidak suka dirinya di ekspos.


"Pak Satya, silahkan menyerahkan bantuan secara simbolis." Kata ajudan pak kepala daerah.


"Baik pak." Kata Satya lalu kembali ke podium, sementara Amel masih memeluk Vanila erat.


"Nggak enak ah mbak, dilihatin orang. Kita kayak teletubies gini." Kata Vanila sambil melepaskan pelukan Amel dan tersenyum.


Satya diminta kepala daerah untuk memberikan sambutan, beberapa orang yang ada di sana, ada yang tahu seperti apa AERSS, perusahaan suport system terbesar yang ada di negara I.


Mereka sering mendengar nama AERSS, tapi tidak pernah melihat secara langsubg CEO AERSS yang ternyata sangat tampan.


"AERSS akan memberikan sumbangan perbaikan infra steuktur dan rumah warga yang rusak parah dengan total 40 M. Dana ini nantinya akan di kelola oleh AERSS sendiri menggunakan sistem yang transparant, yang dapat di akses oleh siapa saja, sehingga tidak ada dana yang bisa di selewengkan. Sumbangan yang diberikan AERSS sebenarnya merupakan sumbangan dari owner AERSS yang menyumbangkan seluruh deviden yang diterimanya dalam tiga tahun ini. Kebetulan pemilik AERSS sedang bersama kita hari ini, saya ingin adek saya ini, sesekali menunjukkan dirinya, kalau dia orang hebat, supaya tidak ada orang-orang yang meremehkannya." Kata Satya lalu menatap Amel dan Vanila, sehingga semua mata yang ada dilapangan juga tertuju ke Amel dan Vanila yang berdiri sangat dekat.


"Wah, ternyata owner AERSS itu perempuan yang berbaju merah. Keren sekali." kata orang-orang yang mulai berbisik-bisik, karena Amel menggunakan baju berwarna merah.


"Sana mbak, temanin bang Satya." Kata Vanila sambil tersenyum.


"Kamu nggak dengar kalau Satya panggil owner, owner AERSS kamu loh Ae." Kata Amel sambil menarik tangan Vanila berjalan menuju podium sambil tersenyum.


Satya menyerahkan simbol penyerahan bantuan kepada Vanila, yang membuat Vanila bingung, dan ragu-ragu untuk mengambilnya.


"Ae, ini sumbangan kamu, kamu yang berhak menyerahkannya." Kata Satya yang membuat dokter Anya dan dokter Srik yang tadi mengira kalau Vanila adalah pembantu atau OB di AERSS, menjadi bengong dan tidak percaya.


Vanila menatap mbak Amel, dan Amel menganggukkan kepalanya, tanda bahwa Vanilalah yang harus menyerahkan simbolis bantuan kepada kepala daerah.


Vanila segera mengambil simbol bantuan yang tertulis 40 M dan menyerahkannya kepada bapak kepala daerah. Vanila segera menangkupkan tangannya di depan dada, agar bapak kepala daerah tidak mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


Badai, dokter Abi dan dokter Harun tidak habis pikir, hal mengejutkan apa lagi yang ada di diri Vanila. Umur yang begitu muda dengan pencapaian yang besar, tapi dia selalu menutupi semuanya dari orang-orang, termasuk orang-orang yang dekat dengannya.


"Kejutan apa lagi yang belum muncul La?" Tanya dokter Abi sewaktu Vanila kembali ke rombongan relawan medis.

__ADS_1


"Hehehe" Jawab Vanila dengan cengirannya.


__ADS_2