Vanilarea

Vanilarea
Dokter Jaki


__ADS_3

Sudah sebulan Vanila meninggalkan Kampung Laut dan menjalankan kegiatan sehari-harinya di kota S.


"Kamu nggak ke AERSS Ae?" Tanya Amel yang lagi VC dengan Vanila.


"Aku ngilang muluk. Mbok Sa udah protes. Sekarang giliran aku jaga mbok Sa mbak." Terang Vanila.


"Kamu nggak kangen rujak yang biasa Ae?" Tanya Satya.


"Kangen banget. Abang antarin pesan bumbunya aja 2 kg. Ntar aku ganti semua biayanya." Kata Vanila dengan wajah memelasnya.


"Tergantung ibu bos ngizinin atau nggak. Kamu tau sendiri kan Ai, kalau mbak mu ini nggak bisa jauh-jauh dari abang." Kata Satya sambil menaik turunkan alis matanya dan langsung di protes oleh Amel.


"Abang kamu sableng Ae. Mana ada mbak begitu. Ya udah, ntar mbak kirimkan aja pakai paket kilat." Kata Amel.


"Wah... makasih ya mbak." Kata Vanila senang.


"Mbak udahan dulu ya. Ada yang datang. Ntar aku kirimin rancangan sistem yang baru. Wassalamualaikum." Kata Vanila lalu segera mematikan sambungan VCnya setelah Amel dan Satya menjawab salamnya.


"Non, itu ada mas Vano sama mbak Jeje." Kata mbok Sa sambil mengetuk pintu kamar Vanila.


"Iya sebentar mbok." Kata Vanila lalu segera menyambar jilbab instan yang ada di meja.


"Bagus kamu ya La. Balik udah sebulan nggak bilang-bilang." Protes Jenifer yang langsung menghampiri Vanila begitu keluar dari kamar.


"Hehe.. lagi purak-purak sibuk. Wow.. garcep nih kak Vano. Udah ada aja hasil pernikahan. Vano junior or Jenifer junior nih?" Tanya Vanila sambil memegang perut Jenifer yang sudah membuncit.


"Harus garcep dong Va. InshAllah Vano junior. ya sayang?" Jawab Vano dan meminta Jenifer untuk meyakinkan.


"Cie..cie.. sayang-sayang..." Ledek Vanila.


Lalu mereka bercerita tentang banyak hal selama Vanila tidak ada di kota S. Seharian Vano dan Jenifer berada di rumah Vanila, yang sudah seperti rumah mereka sendiri.


"Pinjem Jeje ya kak, semalam aja.." pujuk Vanila sewqktu Jenifer dan Vano akan pulang.


"Nggak bisa Va. Jeje kalau nggak ada kakak, nggak bisa tidur dia. Kakak aja nggak bisa handle bisnis yang di luar kota kalau nggak ajak Jeje. Bawaan orok. Maunya dekat dadynya mulu." Terang Vano.


"Aish.. Jeje aja nih kecentilan. Bilang aja nggak mau pisah dari kak Vano. pakai alasan bawaan orok." Protes Vanila.


"Hehe... beneran loh La. Makanya kamu nikah dong, biar tau gimana rasanya bawaan baby." Kata Jenifer.


"Sana-sana pulang kalau nyuruh aku nikah. Aku marah nih" Kata Vanila pura-pura marah.


"Maaf La, nggak bermaksud..."


"Tapi bo ong." Kata Vanila lalu tertawa.


"Lala..." Pekik Jenifer kesal karena dikerjai Vanila.


"Ya udah pulang gih. udara malam nggak bagus buat bumil." Kata Vanila lagi.


"Ya udah, kami pulang ya La. Assalamualaikum." Kata Jenifer lalu pamit bersama Vano meninggalkan rumah Vanila.


Vanila yang mulai bosan, akhirnya memutuskan untuk menghubungi dokter Abi menanyakan apakah ada pekerjaan di rumah sakit tempat dokter Abi bekerja.


"Di sini nggak ada posisi kosong untuk dokter La. Tapi kalau nggak salah, di rumah sakit tentara mereka butuh banyak tenaga medis tapi untuk perawat." Terang dokter Abi.


"Nggak apa. Lala coba. Lala punya ijazah perawat kok. tq dokter untuk infonya." Kata Vanila senang lalu mempersiapkan berkas dan mencari informasi untuk melamar pekerjaan sebagai perawat.


Setelah mengirimkan lamarannya via email, Vanila tidak sabaran untuk bekerja di rumah sakit. Vanila jadi teringat dengan Catherine dan Suster Ana yang selalu ada untuk Vanila sewaktu di negara J.


Setelah seminggu memasukkan lamarannya, Vanila mendapat email panggilan untuk melakukan interview. Vanila mempersiapkan dirinya untuk interview di rumah sakit Tentara sebagai perawat.


Interview yang cukup melelahkan sekaligus tes pekerjaan yang dilakukan di hari yang sama. Vanila mendapatkan teman baru yang sama-sama melamar sebagai perawat di rumah sakit Tentara.


"Bagaimana La?" Tanya Anisa sewaktu melihat Vanila keluar dari ruang HRD untuk wawancara terakhir. Vanila memasang wajah sedih sambil menggelengkan kepalanya.


"Kok bisa sih, kamu nggak keterima. Nilai tes kamu yang paling baik loh. Ayok kita protes." Kata Anisa sambil menarik tangan Vanila untuk masuk lagi ke dalam ruangan HRD, tapi Vanila menahannya dan langsung tersenyum manis sambil memeluk Anisa.


"Kamu ni ya. bisa-bisanya ngerjain aku." Kata Anisa kesal tapi ikutan senang.


"cih.. tentu aja diterima. Modal tampang doang. Coba kalau nggak cantik, nggak bakalan tuh diterima." Cibir salah seorang perawat yang ikut melakukan seleksi, yang dari awal memang tidak suka dengan Vanila, karena selama tes, Vanila selalu menjadi pusat perhatian karena wajahnya yang cantik.

__ADS_1


Anisa yang mendengar cibiran perawat senior bermaksud untuk menegurnya tapi ditahan oleh Vanila, karena Vanila nggak mau, hari pertama sudah buat ribut.


"Dasar nenek sihir. Sirik tanda tak mampu." Kata Anisa dengan suara pelan, karena sebetulnya ia juga takut dengan perawat senior yang tadi ngomongin Vanila.


"Aku traktir, mau?" Tanya Vanila


"Jangan ah. Kamu kan sama seperti aku. Kita baru mau kerja. Kita harus hemat, nggak boleh boros." Terang Anisa yang tahu bagaimana susahnya mencari uang, karena Anisa berasal dari keluarga yang pas-pasan, dan Ia mengira kalau Vanila juga berasal dari keluarga yang sederhana, karena Vanila mau berteman dengannya.


"Ya udah, besok aku traktir, aku bawain bekal makan siang mau?" tanya Vanila.


"Kalau itu sih aku nggak nolak. Kamu bisa masak?" Tanya Anisa senang.


"InshAllah." Kata Vanila sambil tersenyum, lalu mereka berpisah, setelah menerima seragam perawat dari bagian inventaris rumah sakit.


Vanila melihat seragam yang diberikan adalah celana yang cukup ngepas body, sementara Vanila tidak terbiasa untuk mengenakan celana dan memperlihatkan bentuk tubuhnya.


Sewaktu interview Vanila sempat menanyakan apakah ia boleh menggunakan rok, dan bagian HRD mengatakan boleh, tapi pihak rumah sakit tidak menyediakan, jadi Vanila harus mempersiapkan sendiri.


Vanila segera menghubungi designer butik langganannya dan meminta untuk dibuatkan beberapa stel seragam perawat yang satu ukuran lebih besar dari ukuran tubuh Vanila. Karena butik langganannya sudah tau ukuran Vanila mereka segera membuat seragam perawat yang Vanila pesan dan selesai sebelum besok Vanila kenakan.


Hari pertama bekerja, Vanila mendapat shift pagi sama dengan Anisa. Mereka berdua terlihat sangat semangat dan antusias membantu para dokter bekerja.


"Hua... bisa sakit jantung aku lama-lama disini." Kata Anisa ketika berada di ruangan khusus perawat sewaktu bertemu Vanila. Vanila yang heran hanya menaikkan satu alisnya, dan langsung dipahami oleh Anisa.


"Yang di rawat pak tentara, mana ganteng-ganteng." Jawab Anisa lagi.


"Biasa saja. jangan kegatelan." Tegur suster senior yang membuat Anisa langsung menutup mulutnya, dan Vanila hanya tersenyum melihat tingkah teman barunya.


"Ayok ke kantin." Ajak Anisa dan diangguki oleh Vanila sambil membawa tas bekal makan siang yang sudah disiapkan mbik Sa.


"Kamu beneran jadi bawain aku makan siang?" Tanya Anisa melihat Vanila menenteng tas bekal.


"Yup." Jawab Vanila


"Kan udah ada makanan dari rumah sakit." Kata Anisa lagi.


"Nggak apa. Nanti terserah kamu sih, mau makan bekal aku, atau makanan rumah sakit." Kata Vanila lagi.


Begitu sampai kantin, ternyata di kantin sudah ramai dengan karayawan, dokter dan juga perawat yang istirahat makan siang. Vanila yang memang dari awal selalu menjadi pusat perhatian langsung menjadi tatapan banyak pasang mata yang ada di kantin. Ada tatapan memuja, tatapan suka, juga tatapan sinis dan penuh kebencian. Vanila yang sudah terbiasa cuek saja menerima tatapan orang-orang yanga ada di kantin.


"Raka. Lo masuk sini juga?" Tanya Anisa senang melihat temannya.


"Iya. Alhamdulillah. Btw boleh kenalan nggak dengan teman lo?" Tanya Raka to the point.


"Dasar cowok, nggak bisa lihat yang cantik, langsung aja ngajak kenalan." dumel Anisa.


"Raka. Temannya Anisa dari orok." Kata Raka sambil mengulurkan tangannya karena Vanila duduk pas berhadapan dengan Raka.


"Lala" Jawab Vanila dan hanya menangkupkan tangannya di depan dada tanpa menerima uluran tangan Raka, yang membuat Raka jadi salah tingkah.


"Kenalin ini teman-teman gue, itu Seno, itu Danu, sama Rudy." Terang Raka sambil menunjuk teman-temannya.


"Lala?! Ini beneran kamu?" Kata seorang cowok yang menggunakan sneli menghampiri meja Vanila dan teman-temannya.


Vanila menatap sumber suara yang memanggil namanya, dan berusaha mengingat wajah yang terlihat senang melihat Vanila.


"Kak Ghalih?" tanya Vanila yang akhirnya mengenali pria yang tadi menyebut namanya.


"Kakak apa kabar?" Tanya Vanila senang bisa bertemu dengan teman sekolahnya dulu.


"Jak" teriak Ghalih memanggil Jaki yang sedang membawa nampan makanan, dan langsung berjalan ke arah Ghalih.


"Kok lo tumben duduk bareng anak-anak perawat?" tanya Jaki sambil meletakkan makanannya di meja lalu duduk di samping Ghalih dan tidak memperhatikan Vanila yang sedang menatapnya. Karena sejak ditinggal Vanila, Jaki yang pecicilan, berubah menjadi Jaki yang cool.


"Mau roti isi dok?" tawar Vanila sambil menyodorkan bekal makan siangnya yang berisi roti isi ke hadapan Jaki.


"deg" Jantung Jaki berdetak lebih kencang ketika mendengar suara yang sudah lama tidak di dengarnya. Jaki segera menatap sumber suara yang tadi menawarkannya roti isi, dan tidak bisa berkata apa-apa ketika melihat Vanila yang sedang tersenyum manis ke arahnya.


"MashAllah La. Ini beneran kamu?" Tanya Jaki tidak percaya, dan Vanila hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"My hanny bunny sweety kakak, akhirnya ketemu." Kata Jaki bermaksud memeluk Vanila tapi Vanila segera mengepalkan tangannya ke hadapan Jaki.

__ADS_1


"Maaf, lupa." Kata Jaki.


"Berasa dejavu nggak sih kak?" Tanya Vanila yang melihat Ghalih sedang meminum susu kotak strowberi yang diambilnya dari kotak bekal Vanila.


Reaksi Jaki membuat orang-orang yang ada di mejanya agak sedikit kaget dan bengong, karena dokter Jaki yang terkenal cool, judes dan sedikit cuek, mengucapkan kalimat yang tidak menggambarkan dirinya selama ini.


Meja tempat Vanila dan teman-temannya berada langsung menjadi pusat perhatian, karena ada Vanila yang cantik ditambah dokter Jaki dan Ghalih yang kelihatan keren karena mereka jadi dokter tentara.


Vanila memperkenalkan dokter Jaki dan dokter Ghalih kepada teman-teman perawat yang juga di kenalnya.


"Keren kakak ya.. udah jadi dokter aja."Kata Vanila bangga.


"Itu bentuk pengalihan si Jaki karena di tinggal kamu La." Kata Ghalih.


"Beneran?" Tanya Vanila tidak percaya.


"Yah.. mau bagaimana lagi. Dari pada mikirin kamu yang nggak jelas dimana rimbanya, mendingan kakak berubah jadi seperti sekarang, biar pas ketemu kamu, kamunya klepek-klepek sama kakak, karena berhasil jadi lebih keren dari Ghalih." Jawab Jaki bangga.


"Idih pede bener. Siapa juga yang mau klepek-klepek sama kakak. Tapi Lala senang, kakak emang jadi keren, nggak kayak kak Jaki yang Lala kenal dulu. Tapi Lala kangen dengan kak Jaki yang dulu." Kata Vanila sambil tersenyum ke arah Jaki.


"Udah.. jangan di ungkit Jaki yang dulu. Jaki yang sekarang aja, lebih keren." Kata Jaki lagi.


"Udah berapa pasukan kak Jaki sama kak Ghalih?" Tanya Vanila lagi.


"Belum ada pasukan. Kakak inshAllah dua minggu lagi mau nikah, kamu datang ya La. Kalau Jaki sepertinya CLBK." Kata Ghalih.


"CLBK?" Tanya Vanila bingung.


"Iya, Cinta Lama Belum Kelar sama kamu La." Kata Ghalih yang langsung mendapat tendangan dari kakai Jaki yang ada di bawah meja.


"Aduh" Kata Ghalih sambil mengelus kakinya yang habis ditendang Jaki.


"Kenapa kak?" Tanya Vanila


"Nggak apa-apa. Ada banteng ngamuk." Kata Ghalih sambil nyengir dan menahan sakit.


"emang ada banteng di rumah sakit? Nggak mungkin lah." Kata Vanila sambil menatap Ghalih serius.


"Becanda La." Kata Ghalih sambil menepok jidat, karena walaupun Vanila anak yang jenius, tapi untuk beberapa hal terkadang Vanila terlihat polos.


"Lah.. masak kak Jaki yang keren kalah sama kak Ghalih. Kalau nggak ada yang mau sama kakak, nih Nisa bisa jadi kandidat. Langsung halalin aja, nggak usah pakai pacaran, dosa." Kata Vanila sambil menunjuk Anisa yang langsung salah tingkah dan tersipu malu.


"Kalau halalin Lala boleh nggak?" Tanya Jaki to the point.


"Telat kakak. Aku udah nikah." Kata Vanila sambil menunjukkan cincin bemata hijau yang dikenakannya di jari manis kanannya. Cincin pernikahan mamanya yang memang jadi cincin nikah waktu ia menikah dengan Aldrin, dan membuat Jaki serta beberapa teman perawat cowok yang baru dikenalnya tersedak berjamaah, tidak percaya kalau Vanila yang masih kelihatan imut sudah menikah.


"Bercanda kamu La." Kata Jaki tidak percaya.


"Serius loh kak. Tanya aja mbok Sa. Mau Lala telponkan?" Kata Vanila sambil mengeluarkan hpnya.


"Jadi kamu beneran udah nikah?" Tanya Seno meyakinkan.


"Yup" Jawab Vanila yakin.


"Yah.. kalah cepet kamu Jak." Kata Ghalih sambil menepuk bahu Jaki yang sedang kecewa.


"Ya udah, kakak sama Nisa aja nih yang masih available." Kata Vanila lagi.


Mereka kembali ngobrol, berusaha melupakan kekecewaan kalau Vanila sudah menikah (pernah menikah..😅)


Sudah tiga bulan Vanila bekerja di Rumah Sakit tentara dan menyelesaikan masa magang dan akan di kontrak selama setahun menjadi perawat.


Vanila yang memang cekatan dan sangat membantu para dokter ketika bertugas selalu mendapat pujian, yang membuat beberapa rekannya tidak suka. Apalagi kedekatan Vanila dengan dokter Jaki yang menjadi incaran banyak perawat maupun dokter perempuan, karena Jaki hanya mau bercanda dan tertawa kalau bersama Vanila.


"Kamu beneran udah nikah La?" Tanya Jaki lagi sewaktu cuci tangan di wastafel sehabis melakukan operasi dan melihat Vanila yang memasang cincin yang katanya cincin pernikahannya.


"Benar lah." Jawab Vanila


"Kok kakak nggak pernah lihat suami kamu jemput?" Tanya Jaki heran.


"Kakak nguntit Lala?" Tanya Vanila curiga.

__ADS_1


"Nggak. Kakak sering lihat kamu pulang di jemput pak Arman. kan nggak mungkin suami kamu pak Arman." canda Jaki


"Ya nggak lah. Pak Arman dan mbok Sa itu udah kayak orang tua Lala." Kata Vanila.


__ADS_2