Vanilarea

Vanilarea
Perjumpaan


__ADS_3

Azzam merasa senang dan sangat beruntung, karena Ia bisa sekelas bahkan duduk dekat dengan Vanila. Begitu juga dengan Rere, sejak pertama kali lihat Azzam waktu pengajian di pesantren, Ia selalu merasa jantungnya berdetak lebih cepat seperti orang yang habis lari maraton 10 KM. Sementara Vanila merasa biasa aja, karena Vanila masih penasaran dengan Al yang pergi begitu saja.


Azzam dan Vanila selalu menjadi pusat perhatian, Azzam karena ketampanan, keramahan, dan kepintarannya, sementara Vanila terkenal dengan kepintaran dan kejutekannya. Vanila hanya mau bicara banyak dan tertawa jika bersama Rere dan Juli.


"Kelompok biologi, kakak satu kelompok sama kamu ya La?" Tanya Azzam.


"Tanya aja sama kak Rere dan kak Juli." Kata Vanila, masih sambil membaca buku tafsir.


"Sudah kakak tanya tadi waktu di kantin pas ketemu. Dan mereka bilang ok." Kata Azzam lagi.


"Oh.. ya udah kalau ok." Kata Vanila masih sambil membaca buku tafsirnya.


"Kakak lihat kamu nggak ke kantin. itu kakak bawain susu strowberi sama roti abon pedas kesukaan kamu." Kata Azzam.


"terimakasih. tapi nggak perlu kak. Kak Rere nanti bawain jajanan aku." Kata Vanila.


"Rezeki nggak boleh di tolak loh La." Kata Azzam sambil menarik buku yang Vanila baca, menutupnya, lalu meletakkannya di atas meja.


"Lagian, nggak sopan juga kalau ngomong itu sambil melakukan aktivitas lain. di agama kita di ajarkan bahwa adab itu lebih tinggi dari ilmu." Kata Azzam sambil tersenyum.


"Maaf kak. Tapi bukankah di agama kita juga diajarkan bahwa perempuan dan laki-laki itu tidak boleh berdua-duaan. nanti jadinya fitnah." Kata Vanila nggak mau kalah.


"Yang bilang kita berdua siapa? itu ada Hasna, Imam, Tofik, Fika, sama yang lain juga tuh." Kata Azzam menunjuk nama-nama orang yang di sebutnya.


"Hehe...😁"


"Dimakan sama di minum tuh susu sama roti." Kata Azzam.


"Thanks Kak." Kata Vanila lalu mulai memakan roti dan meminum susu strowberi favoritnya.


Untuk tugas biologi, mereka di suruh meneliti dan menjelaskan tentang tumbuh-tumbuhan. mereka boleh bebas memilih tumbuhan yang akan di teliti. karena Vanila sudah punya pengalaman dengan kantong semar dan sangat menyukai tanaman kantong semar, sehingga Vanila menyarankan untuk membuat paper tentang kantong semar.


"Ok, aku setuju, kita meneliti tentang kantong semar." Kata Azzam


"tapi kan susah cari tanaman itu di sini." Protes Rere


"Gampang, ntar aku minta kirim sama bunda." Kata Vanila, dan akhirnya mereka sepakat akan membahas kantong semar.


Vanila segera menghubungi bunda Ningrum untuk mengirim tanaman kantong semar yang ada di taman bunda. Dengan paket kilat khusus, tanaman kantong yang di minta Vanila Ia terima kurang dari satu hari. Mereka segera meneliti dan membuat laporan untuk penelitian mereka. Vanila bertugas untuk mempresentasikan kantong semarnya, karena Vanila sangat memahami kantong semar. Sehingga, kelompok Vanila kembali mendapatkan nilai yang terbaik.

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Hari ini Vanila membantu Umi Salma untuk membereskan ruangan yang ada di lantai 2. di lantai 2 ada ruang baca dan 2 kamar, milik anak laki-laki umi Salma. Vanila sudah hampir dua tahun tinggal di rumah umi salma, tapi Ia tidak pernah tahu tentang anak-anak umi Salma. Vanila hanya tahu kalau Umi Salma punya dua orang putra. putra pertama sedang sekolah di Kairo Mesir, dan putra bungsunya sekolah di kota B. sewaktu bersih-bersih, Vanila tidak sengaja melihat foto keluarga umi Salma. Vanila melihat wajah yang tidak asing di foto itu.


"Kak Al?" Kata Vanila sambil memandang foto itu lekat-lekat.


Vanila senang karena akhirnya Ia bisa menemukan jejak Al. Cinta pertamanya. anak laki-laki yang membuat Vanila nyaman.


"Kenapa La?" Tanya Umi Salma


"Nggak ada Umi. cuma nggak sengaja lihat foto keluarga umi." kata Vanila sambil meletakkan kembali figura foto ke tempatnya semula.


"Oh.. iya itu foto waktu anak-anak umi masih kecil. Itu Al sama Rasyid. Rasyid itu nggak suka di foto, jadi setiap di foto wajahnya selalu buram." Kata umi Salma sambil tersenyum mengingat kelakuan putranya Rasyid.


"Kak Rasyid pasti anak yang aktif" Kata Vanila


"Nakal tepatnya. Rasyid itu nggak suka di atur. dia selalu tidak cocok dengan Abah. makanya Rasyid dari SMP, memilih sekolah di tempat adik abah." Kata Umi Salma dengan raut muka sedih.


"Umi jangan sedih. Nanti kak Rasyid pasti pulang lagi." Kata Vanila sambil memeluk Umi Salma. Lalu Vanila kembali membantu umi Salma dengan perasaan senang, karena berhasil menemukan Al.


"Bulan depan Al akan pulang." Kata Umi Salma dengan wajah yang senang.


"Hehe.. Lala senang, karena umi pasti senang." Kata Vanila mencoba membuat umi Salma tidak curiga.


"iya. bulan depan Al pulang, sekitar 2 bulanan. Habis itu dia akan balik lagi buat lanjutin studynya." Kata Umi Salma. Dan Vanila hanya manggut-manggut sambil mengingat Al yang dulu suka menemaninya dan mengajarkannya hapalan Alquran.


🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱


Hari ini Vanila izin pulang cepat dari sekolahnya, karena Vanila tiba-tiba merasa tidak enak body. Rere mengantarkan Vanila pulang ke pesantren karena di izinkan ustadzah Ana.


"Kok udah pulang La?" tanya Umi Salma sewaktu melihat Rere memapah Vanila.


"Aisyah sakit Nyai." Terang Rere.


"Yo wis. cepet bawa masuk nduk." Kata umi Salma agak panik, karena selama ini Vanila tidak penah sakit.


Rere memapah Vanila sampai kekamarnya. Selama ini Rere tidak pernah ke kamarnya. mereka selalu bertemu di pesantren atau di sekolah, karena memang tidak sembarangan orang bisa masuk rumah utama. Rere memandang kagum kamar Vanila yang penuh dengan buku-buku yang tertata rapi. Dan yang membuat Rere juga agak heran, tidak ada barang-barang yang cewek banget seperti boneka dan pernak pernik lainnya.


"Baringkan aja Lala di kasurnya. Umi ambil obat sama air anget dulu." Kata Umi Salma sama Rere.

__ADS_1


"Iya Nyai." Kata Rere.


"Nggak usah Umi. Lala butuh tidur aja. tadi malam kurang tidur sepertinya." Kata Vanila, lalu segera menarik selimutnya.


"Makasih kak." Kata Vanila yang mencoba tersenyum


"Iya. Kamu istirahat yang benar. Nggak enak lihat kamu sakit. Syafakillah Syah. La ba'sa thohurun InshAllah." Kata Rere lalu meninggalkan Vanila dna pamit dengan umi Salma. Sementara umi salma, masih memandang Vanila yang kelihatan pucat.


"Kamu udah makan La? Umi suruh Siti antar makanan ya?"Tawar umi Salma


"Nggak usah umi. Lala beneran cuma butuh tidur. InshAllah nanti bangun tidur, pasti baikan." Kata Vanila, lalu umi Salma keluar meninggalkan Vanila, lalu Vanila melepaskan Jilba dan softlensenya, dan tidak lupa untuk mengunci pintu kamarnya, sebelum ia kembali membaringkan tubuhnya.


Vanila tertidur selama dua jam, yang membuat keadaannya lebih baik dari sebelumnya. Karena ketika sakit, Vanila memang hanya membutuhkan tidur dibandingkan obat. Sewaktu bangun, Vanila merasakan kalau perutnya lapar. Vanila segera mencuci muka, dan memakai kembali fondation dan sofrlensenya. Vanila menyambar jilbab instan besarnya yang berwarna hitam, lalu segera ke dapur.


Kerena hari sudah sore dan menjelang ashar, rumah umi Salma memang sepi, karena semuanya akan melaksanakan sholat berjamaah di mesjid.


"Astagfirullah" Kata sebuah suara yang mwmbuat Vanila terkejut dan menoleh ke arah sumber suara.


"Kak Al ?!" Kata Vanila yang juga terkejut


"Kamu siapa?" Tanya Al heran, yang membuat Vanila sedikit kecewa karena Al tidak mengenalinya.


"Nama aku Aisyah. Aku anak temannya abah, yang sementara waktu tinggal disini." tetang Vanila.


"Oh.. ya sudah. Saya mau balik ke mesjid lagi. Kamu cepetan makannya, trus sholat ke mesjid" Kata Al datar, yang membuat Vanila jadi sedih, dan hanya menganggukkan kepalanya.


Vanila mempercepat makannya, lalu mencuci piring bekas ia makan, kemudian segera ke kamarnya untuk berwudhu dan pergi ke mesjid buat sholat berjamaah.


Selesai sholat dan kembali ke rumah, Abah dan umi terlihat sedang berbicara dengan Al diruang tamu.


"Assalamualaikum wr. wb." Salam Vanila


"Wa'alaikumussalam, wr.wb." Ucap abah, umi dan Al kompak.


"Sini La. kenalin ini Al anak umi yang paling besar." Kata Umi Salma


"Al" Kata Al yang biasa aja


"Sudah tahu umi. Maaf, Lala balik ke kamar dulu." Kata Vanila, lalu meninggalkan Al, Abah dna Umi.

__ADS_1


Sikap Al, membuat Vanila sedikit kecewa, tetapi ia berusaha membesarkan hatinya, dengan mengatakan pada dirinya sendiri, bahwa hal itu wajar, mengingat penampilan Vanila yang berbeda.


__ADS_2