Vanilarea

Vanilarea
New Style


__ADS_3

Hari ini Vanila berangkat ke kota K bersama mbok Sa. Vanila berpamitan sama semua anak-anak yang ada di panti, bunda Ningrum dan Pak Arman. Beberapa anak panti yang masih kecil bahkan menangis dengan suara keras karena mereka tidak mau Vanila pergi.


"Sarah, Safa, Rizka, jangan nangis ya. kakak janji nanti kalau ada waktu libur, kakak pasti pulang ke sini. Sarah, Safa sama Rizka harus jadi anak sholeha. Jika kalian jadi anak yang sholeha, nurut sama bunda, nanti kakak akan sering VC. Ok." Kata Vanila sambil menhapus air mata trio balita yang selalu bersama Vanila.


"iya. kakak Lala janji ya.." Kata Sarah sambil berusaha menahan tangisnya.


"Janji." Kata Vanila sambil mengangkat jari kelingkingnya dan langsung di tautkan dengan jari kelingking, Sarah, Farah dan Rizka.


Vanila tersenyum melihat semua penghuni panti, yang masih melihat Vanila, sampai mobil yang dikendarai Pak Arman menghilang si tikungan Jalan.


Badai, dan Guntur, ikut mengantar Vanila ke Bandara. Selama di jalan Vanila berusaha membuat dua orang lelaki kembar yang selalu menjaganya selama satu tahun ini tertawa.


"Udah dong kak, manyunnya, kayak anak perawan ditinggalin pacarnya pergi. manyun muluk." Kata Vanila sambil berusaha melucu, tetapi Badai dan Guntur tetap diam saja, yang membuat Vanila tertawa terputus putus karena merasa lawakannya jadi garing.


"Nanti Lala VC tiga kali sebulan deh " Kata Vanila lagi.


"Lama banget. nggak bisa tiga kali sehari gitu." Kata Guntur


"Kakak kira minun obat, tiga kali sehari. kan Lala di sana nanti pasti punya banyak kesibukan. kakak juga kan. Kak Badai pasti sibuk dengan tes AAU nya. Kak Guntur bukannya mau kuliah ya. kan mau jadi pengusaha yang sukses." Kata Vanila panjang lebar.


"Ya udah, 1 hari 1 kali." Kata Badai mencoba menawar.


"Ya udah harga pas aja. 1 minggu 1 kali. Lala VC setiap hari minggu. Take it or leaf it." Kata Vanila serius (Dah kayak tawar menawar di abang-abang sayur ya...😅😅)


"Deal" Kata Guntur dan Badai bersamaan.


"Ok. kalau deal, senyum dong. Biar Lala bisa berangkat dengan tenang." Kata Vanila yang membuat Guntur dan Badai terpaksa tersenyum.


"Oh iya, satu lagi. Jangan bilang sama Kak Jaki dan Kak Ghalih, Lala pergi kemana. dan jangan juga kesih nomor hp Lala sama mereka, apalagi nomor sepatu. Mereka pasti nggak mau belikan Lala sepatu. Jadi nggak perlu." Kata Vanila sambil tertawa, yang membuat seisi mobil jadi tertawa.


Sesampainya di Bandara, Pak Arman, Guntur dan Badai menunggu sampai Panggilan untuk penumpang segera masuk ke pesawat.


Setelah menunggu sekitar setengah jam, terdengar pengumuman untuk penumpang pesawat yang akan mengantar Vanila ke kota K, meminta penumpang segera chek in.

__ADS_1


Vanila mencium tangan pak Arman, lalu tersenyum, karena pak Arman mengelus kepala Vanila.


"Jangan lupa janji kamu La." Kata Badai sambil memeluk Vanila erat. Begitu juga dengan Guntur.


"Ok kakak." Kata Vanila sambil tersenyum ketika melepaskan pelukan Badai dan Guntur. Lalu melambaikan tangannya dan segera masuk ke ruangan yang menuju ke lapangan tempat pesawat terparkir.


Pesawat yang membawa Vanila dan penumpang lainnya ke kota K berangkat, sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.


Perjalanan selama kurang lebih 2 jam 18 menit menuju kota K, membuat Vanila tertidur. Sampai Ia di bangunkan mbok Sa, bahwa pesawat akan mendarat.


Vanila mengerjap-ngerjapkan matanya, untuk mengumpulkan nyawanya yang berserak ntah kemana sewaktu tertidur.


"Udah mau sampai ya mbok?" Tanya Vanila yang nyawanya sudah kumpul semua.


"iya non. itu bandaranya sudah kelihatan" Kata mbok Sa.


Setelah pesawat mendarat dengan sempurna, penumpang mulai turun satu persatu dan mengurus bagasi bawaan mereka.


"Sebelum ke pesantren, Lala mau ke hotel dulu. Sore aja kita ke pesantrennya ya mbok."


"Ayok non. Supir yang di sediakan tuan sudah nunggu di pintu keluar." Kata mbok Sa, sambil menarik travel bag Vanila yang cukup besar.


Supir yang sudah menunggu, mengambil barang bawaan Vanila dan mbok Sa, kemudian memasukkannya ke bagasi, lalu mereka segera menuju hotel.


Sesampainya di hotel, Vanila segera menelpon papanya, menyampaikan bahwa ia sudah sampai kota K dengan selamat. Setelah itu Vanila menelpon bunda Ningrum memberitahukan hal yang sama.


Vanila segera membuka travel bag nya yang sudah berisi gamis, rok dan jilbab. Karena Vanila memutuskan kalau hari ini Ia akan merubah penampilannya secara total, sehingga tidak ada lagi yang kagum atau iri dengan kecantikannya.


untuk menutupi kulit wajahnya yang putih, Vanila memilih menggunakan Foundation dan base makeup berwarna gelap. kemudian, Ia menggunkan soflense berwarna hitam untuk menutupi warna mata hazelnya. untuk tangan Vanila memilih menutupnya dengan sarung tangan yang hanya memperlihatkan jari-jari tangannya saja.


Selesai merubah penampilannya, Vanila memilih untuk keluar hotel, melihat reaksi pegawai hotel yang tadi menyapanya, karena mereka tahu Vanila adalah salah satu putri pemilik hotel tersebut.


Rencana Vanila berhasil, tidak ada satupun dari mereka yang menyapa Vanila, ketika Vanila keluar kamar menuju restoran untuk makan siang. Mbok Sa sudah menunggu di meja yang tidak jauh dari pintu masuk. Vanila segera duduk di bangku yang ada di hadapan mbok Sa.

__ADS_1


"Maaf non. Itu bangkunya sudah ada yang ngisi." Kata mbok Sa sopan, memberitahu Vanila kalau Ia tidak bisa duduk di situ.


Vanila yang mulai dengan ide jahilnya, berusaha merubah suara dan intonasi gaya bicaranya.


"ehem. memangnya ada gitu yang duduk di sini?, Kan Ibu sendirian aja. Jadi saya boleh atuh duduk di sini." Kata Vanila dengan logat sunda yang kental.


"Iya, itu tempat duduk untuk nona muda saya." Kata mbok Sa lagi.


"Mana? dari tadi saya lihat, ibu teh sendirian." Kata Vanila lagi yang berusaha menahan tawanya, melihat ekspresi mbok Sa, yang mulai sedikit kesal.


"Iya. sebentar lagi nona muda saya datang. Non duduk di tempat lain aja. kan masih banyak tuh meja kosong." Kata mbok Sa lagi dengan suara yang mulai kesal.


"Hahahahaha... ini Lala mbok." Kata Vanila yang tertawa, karena berhasil ngerjain mbok Sa.


"Non Lala?! Kenapa non jadi hangus begini?" Tanya mbok Sa heran karena melihat wajah Vanila yang berwarna coklat.


"😁, Lala mau tampil kayak gini sekarang. Biar nggak ada yang merasa terganggu atau mandang Lala dengan tatapan aneh, karena Lala mirip mama." terang Vanila, sambil memakan buah nanas yang ada di meja.


"Mbok aja yang besarin non dari bayi, nggak ngenalin. Non berubah banget." Kata mbok Sa sambil memandang lekat-lekat Vanila, dan masih tidak percaya kalau anak perempuan di hadapannya Vanila. Yang membuat mbok Sa yakin itu Vanila, adalah suara dan gaya bicaranya.


"Ya harus berubah dong mbok." Kata Vanila lagi, lalu mulai memakan makan siangnya yang sudah disipkan di meja yang ada di depannya.


Selesai makan, Vanila memutuskan untuk melihat taman yang ada di hotel. Karena salah satu kelebihan hotel design Arlan adalah memiliki taman dengan tema atau konsep tertentu.


Kota termasuk kota dingin yang berada dekat pegunungan, sehingga konsep taman yang dipilih adalah konsep bertema Belanda. Arlan memilih konsep taman tulip seperti yang di Belanda.


Vanila yang kagum melihat taman bunga tulip, tidak sengaja menabrak seseorang.


"Kalau Jalan matanya di pakai mbak." Kata seseorang yang ditabrak Vanila.


"deg" Jantung Vanila berdetak cukup kencang ketika melihat siapa yang di tabraknya. Jenifer segera berdiri dari duduknya, karena Ia tadi terduduk sewaktu bertabrakan dengan Vanila.


"Maaf" Kata Vanila pelan lalu pergi meninggalkan Jenifer menuju kamarnya.

__ADS_1


Jenifer merasa agak familiar dengan suara Vanila, tapi karena Jenifer melihat wajah dan penampilan orang yang menabraknya, membuat Ia tidak menduga, kalau itu adalah Vanila.


__ADS_2