Vanilarea

Vanilarea
Pasien Epidural Hematoma


__ADS_3

Vanila senang akhirnya bisa kembali menyibukkan diri, walau Jaki seperti biasa, selalu menuntut Vanila untuk menjelaskan kenapa suaminya nggak pernah kelihatan.


"Dokter Jaki please deh, udah banyak gosip yang nggak enak tentang kita. Lala nggak mau ya di panggil HRD. Lala anak baru, masak udah banyak scandal." Protes Vanila ketika Jaki duduk di sampingnya untuk makan siang, karena Nisa hari ini shift siang, jadi Vanila tidak punya teman, karena nggak ada perawat yang mau berteman dengan Vanila, karena Vanila yang anak baru sudah sangat terkenal di kalangan rumah sakit. Apalagi setiap ada tentara yang berobat di rumah sakit, suka menanyakan Vanila yang membuat rekan-rekan lainnya semakin sebal dengan Vanila.


"Biarin aja. Kucing mengeong kafilah berlalu." Kata Jaki cuek sambil menyendokkan makanannya ke mulutnya.


"Kak Ghalih cutinya berapa lama sih?" Tanya Vanila, karena setelah 3 bulan menikah baru mendapat jatah cuti untuk honey moon.


"Besok udah balik. Nggak usah nanya Ghalih, udah suami orang. Kakak aja nih ditanya, masih available." Kata Jaki sambil tersenyum manis ke arah Vanila.


"Nggak usah nawarin diri juga. Lala istri orang." balas Vanila sambil tertawa yang membuat Jaki langsung bermuka masam.


Jaki yang tetap tidak percaya kalau Vanila sudah menikah, selalu mencari informasi siapa suami Vanila. Karena Jaki memang pernah dengar kalau Vanila sudah menikah, tapi waktu itupun Jaki tidak percaya.


Selesai dari kantin, Vanila bermaksud kembali ke ruangannya untuk melihat apakah ada yang bisa di kerjakannya. Tapi belum sampai ruangannya, Vanila melihat beberapa dokter dan perawat mendorong brankar ke arah pintu masuk. Vanila segera membantu mendorong brankar dan bersiap membantu.


"Ada apa bang? kok banyak brankar yang di dorong?" Tanya Vanila.


"Ada kecelakaan, dan korbannya lumayan banyak, soalnya truk tentara yang bawa tentara pulang latihan." Terang Seno yang sama-sama perawat baru seperti Vanila.


Vanila, perawat dan dokter yang bertugas segera membawa korban yang dipindahkan dari ambulans ke brankar.


"La siapkan ruang operasi." Teriak Jaki sambil mendorong brankar pasien yang lukanya sangat parah di bagian kepala.


Vanila segera berlari ke ruang operasi bersama beberapa perawat yang bertugas di ruang operasi. Jaki di bantu perawat yang lain segera memasukkan pasien ke ruang operasi.


Jaki dan beberapa dokter segera melakukan observasi mengenai kondisi pasien, supaya tahu tindakan apa yang akan di ambil.


"Glasgow Coma ScaleĀ (GCS) di bawah 10. Epidural Hematoma." Kata Vanila spontan kebiasaan menganalisa pasien yang bermasalah dengan kepala, yang membuat orang-orang yang berada di ruang operasi memandang Vanila, dan Vanila masih belum sadar, malah reflek melakukan observasi lebih lanjut.


"Pendarahannya harus segera di hentikan. darah yang disekitar dura harus dikeluarkan." Kata Vanila dengan wajah serius, lupa kalau dia sedang berperan jadi perawat malah menganalisa seperti dokter.


"Sok tau kamu. Anak baru kemaren sore." Kata dokter Anggita yang tidak suka melihat orang-orang yang ada di ruangan itu memperhatikan Vanila.


"Kita harus lakukan CT Scan atau MRI terlebih dahulu, baru bisa memastikan apakah pasien beneran mengalami epidural hematoma" Kata dokter Anggita.


"Butuh waktu untuk mempersiapkan CT Scan atau MRI, takutnya GCS pasien terus menurun. InshAllah saya tidak salah analisa." Kata Vanila serius.


"Dokter Jaki, izinkan saya yang mengoperasi pasien." Kata Vanila yang membuat orang-orang yang ada di ruang operasi semakin terkejut, bagaimana mungkin seorang perawat akan mengoprasi pasien, yang seharusnya di operasi oleh dokter ahli bedah otak.


"Jangan gila kamu. Ini nyawa taruhannya." Bentak dokter Anggita.


"Saya serius. Kalau kita berdebat terus, pasien tidak akan selamat. Atau adakah yang bersedia mengoperasinya?" Tanya Vanila dan hanya ada keheningan.


"Kamu yakin bisa La?" Tanya Jaki serius.


"InshAllah dok. Di Negara J, saya sudah beberapa kali melakukan operasi orang-orang yang mengalami epidural hematoma." Jawab Vanila yakin.


"Ok. Kalau gitu, kamu yang pimpin operasi." Kata Jaki.


"Tapi dok.." Protes dokter Anggita.


"Kita tidak punya banyak waktu dokter Anggi." Kata Jaki.


Mereka segera melakukan tindakan terhadap pasien. Vanila yang sudah beberapa kali melakukan operasi pasien epidural hematoma, melakukan operasi dengan tenang. Vanila tahu betul tindakan apa yang harus dilakukan.


Jaki yang menjadi asisten Vanila bingung, bagaimana mungkin Vanila bisa mengoperasi pasien epidural hematoma dengan tenang, bahkan tahu pasien mengalami epidural hematoma tanpa melakukan CT Scan atau MRI.


Setelah lebih dari 3 jam, akhirnya Vanila berhasil mengeluarkan darah yang terperangkap di dura yaitu rongga antara selaput otak dan tempurung kepala.


"Kamu hutang penjelasan sama kakak La." Kata Jaki sewaktu selesai mencuci tangan dan membuka surgical gown nya.


Selesai membersihkan diri, Vanila di panggil oleh direktur rumah sakit dan beberapa kepala bagian yang ada di rumah sakit, karena dokter Anggita melaporkan tindakan yang dilakukan Vanila dan di setujui oleh dokter Jaki.


Vanila duduk dengan tenang di tengah ruangan, menghadapi sekitar 10 orang dokter senior termasuk dokter Anggita dan dokter Jaki.


"Bisa di jelaskan yang terjadi tadi di ruang operasi?" Tanya dokter kepala.


"Maaf dokter kepala. Yang tadi terjadi di ruang operasi adalah tindakan yang memang harus di lakukan untuk pasien yang mengalami epidural hematoma. Kalau harus menunggu dokter bedah datang, mengingat GCS pasien yang terus menurun, kemungkinan besar pasien tidak selamat." Terang Vanila.

__ADS_1


"Bagaimana kamu begitu yakin kalau pasien mengalami epidural hematoma, sementara belum dilakukan CT Scan atau MRI terhadap pasien. Lagian apakah kamu tahu siapa pasien yang kamu tangani?" Tanya dokter kepala dengan nada suara yang mulai meninggi


"Untuk menyelamatkan orang, bukankah kita tidak harus melihat siapa dan apa kedudukan pasien tersebut. Kalau dokter kepala tanya kenapa saya bisa yakin pasien mengalami epidural hematoma tanpa melakukan CT Scan atu MRI, itu karena saya sudah beberapa kali menangani pasien dengan kasus yang sama." Jelas Vanila.


"Bagaimana mungkin, perawat seperti kamu bisa menangani pasien epidural hematoma?, kalau terjadi apa-apa dengan pasien, kamu harus bertanggung jawab" kata dokter kepala lagi dengan nada suara yang masih tinggi.


"InshAllah saya tanggung jawab. Tapi masalah pasien selamat atau tidak itu kuasanya Allah. Saya hanya berusaha melakukan yang terbaik." Jawab Vanila.


"Oh iya dokter kepala. Maaf, selain ijazah perawat, saya juga sudah memegang lisensi untuk dokter bedah otak dari rumah sakit yang ada di kota H di negara J." Kata Vanila lagi.


"Jangan bercanda kamu." Kata dokter kepala meremehkan Vanila, karena bagaimana mungkin perawat seumuran Vanila memegang lisensi dokter bedah dari rumah sakit terkenal yang ada di kota H negara J.


" Ini ID card untuk licensi saya. Dokter bisa langsung cek, karena di situ ada barcode yang kalau dokter kepala scan akan keluar data dan licensi saya." Kata Vanila sambil menyerahkan Id card pegawai yang tergantung di lehernya, dan membalikkan bagian belakang id card.


Dokter kepala yang tidak percaya, segera menscan barcode yang ada di belakang tanda pengenal yang diserahkan Vanila.


Setelah berhasil menscan dan melihat data yang muncul dari hasil scan barcode, terlihat identitas serta lisensi yang dikeluarkan oleh perguruan tinggi ternama yang ada di kota H di negara J, yang merupakan salah satu universitas kedokteran terbaik di dunia.


"Bagaimana mungkin kamu seorang dokter bedah, bekerja di rumah sakit ini jadi perawat?" Tanya dokter kepala dengan suara yang mulai melunak.


"Lowongan yang ada jadi perawat dok. Ya saya ngelamar jadi perawat dengan ijazah perawat saya." Jawab Vanila sambil tersenyum, yang membuat dokter kepala dan dokter lain yang bermaksud menyidang Vanila hanya geleng-geleng kepala.


"Kalau begitu, mulai sekarang kamu saya angkat jadi salah satu dokter bedah di rumah sakit ini." Kata dokter kepala sambil tersenyum.


"Jangan dok. Kalau keadaan darurat saya bersedia. Lebih seru jadi perawat." Kata Vanila yang membuat orang-orang yang ada di ruangan itu heran, karena Vanila tidak bersedia di angkat menjadi dokter spesialis di rumah sakit Tentara.


"Kamu ini memang aneh ya. Orang berlomba-lomba untuk jadi dokter spesialis di rumah sakit ini, eh kamu malah nolak. songong bener." Kata dokter kepala agak sewot.


"Maaf, dok. Saya tetap jadi perawat aja. Tapi kalau di butuhkan dalam keadaan darurat, baru saya bersedia. Ok dekter?" Tanya Vanila sambil tersenyum yang membuat dokter kepala akhirnya menyetujui permintaan Vanila.


"Kamu ini ya. Terserah. Pokoknya pasien yang tadi kamu operasi harus kamu handle sampai sembuh." Kata dokter kepala.


"Siap dok." Kata Vanila sambil memberi hormat.


Lalu dokter kepala membubarkan sidang yang dilakukan terhadap Vanila.


"Kamu simpan kejutan apa lagi La?"Tanya Jaki, yang sebenarnya tidak terlalu terkejut, karena Jaki tahu kalau Vanila cerdas, dan bahkan lompat kelas.


"Lala! Kakak serius." Kata Jaki dengan wajah serius.


"Iya ampun. Lala serius nih, eh btw bukannya serius sudah bubar ya?" Tanya Vanila lagi yang membuat Jaki jadi kesal dan langsung menoyor kepala Vanila pelan.


"Aduh. kualat loh kak. Fitrah ini kepala Lala. Nanti kalau Lala tiba-tiba amnesia bagaimana?" Tanya Vanila pura-pura marah.


"Nggak usah akting. Nggak bakalan dapat AMI award." Kata Jaki.


"Lah, AMI award bukannya ajang penghargaan penyanyi ya?" Tanya Vanila.


"Au ah elap." Kata Jaki kesal karena Vanila masih saja becanda.


"Hehehe.. maaf. Kejutan apa ya? masalah nikah udah tau, Lala dokter bedah juga udah tau, Lala anak pemilik Syauqi properties udah tau belum?" Tanya Vanila dengan wajah polosnya.


"Udah tau." Jawab Jaki ketus.


"Lala salah satu pemilik AERSS perusahaan suport sistem sekaligus Lala perancang sistemnya udah tau belum ya?" Tanya Vanila lagi.


"What? Jangan bercanda kamu La. Kamu yang punya AERSS ?" tanya Jaki tidak percaya.


"Kamu jadi perancang sistemnya? Jangan main-main La, AERSS itu salah satu perusahaan suport sistem terbesar di negara kita. rumah sakit ini aja pakai jasa perusahaan itu." Jelas Jaki.


"Tau. kan Lala yang rancang sistem penggajian bagian HRD." Jelas Vanila santai.


"Jangan ngayal jadi super duper jenius girl deh La." Kata Jaki sambil tertawa meremehkan Vanila.


"Kakak tau nama lengkap Lala?" Tanya Vanila


"Tau lah, udah kakak hapal-hapal buat persiapan ijab kabul." Kata Jaki serius.


"Idih.. pede bener. Siapa emang nama lengkap Lala?" tanya Vanila.

__ADS_1


"Vanilarea Aisyah Syauqi putri bungsu anak pak Arland Syauqi." Jawab Jaki.


"Nah kalau kepanjangan AERSS?" tanya Vanila lagi.


"Aer Suport System kan?" Tanya Jaki balik.


"Nah Rea kalau di balik jadi apa?" Tanya Vanila lagi.


"Kok jadi main tebak-tebakan?" Kata Jaki agak kesal.


"Jawab aja." Kata Vanila.


"Aer. What ??? beneran kamu yang punya AERSS? Wah... jadi minder kakak, kita seperti langit dan bumi." Kata Jaki dengan wajah sedih.


"Jangan sedih. Lala nggak pilih-pilih teman kok." Kata Vanila sambil menepuk bahu Jaki, lalu meninggalkan Jaki yang masih bengong, tidak percaya kalau Vanila itu manusia.


Seperti yang disampaikan dokter kepala, Vanila bertanggung jawab penuh untuk pasien yang di operasinya. Dan ternyata pasien yang diopersi Vanila adalah Danyon yang ada di kota S.


Vanila terus memantau perkembangan Danyon yang di operasinya. Setelah menunggu kurang lebih 12 jam, akhirnya Danyon itu sadar, tapi masih berada di ICU, untuk observasi pasca operasi.


Setelah memeriksa kondisi pasien, Vanila segera melaksanakan sholat subuh, dan meminta pak Arman untuk menjemputnya.


Sesampainya di rumah Vanila segera mengistirahatkan tubuhnya yang lelah yang belum istirahat dari jam makan siang.


Vanila terbangun ketika alarm di hpnya yang menunjukkan wakti sholat zuhur berbunyi. Vanila yang tubuhnya terlatih untuk bangun ketika mendengar suara adzan, segera ke kamar mandi, berwudhu dan melaksanakan sholat zuhur.


Selesai sholat, Vanila segera menuju ruang makan, karena cacing yang ada di kampung tengah mulai berdemo minta di isi.


"Mbok masak apa?" Tanya Vanila.


"Calamari pakai sambel terasi, sama rebusan baby labu siam" terang mbok Sa, yang membuat Vanila semangat menyenduk nasi beserta lauk pauknya.


"Hari ini masuk jam berapa non?" Tanya mbok Sa yang menemani Vanila makan


"Jam 3 mbok, tapi Lala harus segera balik ke rumah sakit, buat cek kondisi pasien Lala." Jawab Vanila.


Selesai makan, Vanila segera bersiap-siap ke rumah sakit di antar pak Arman. Mbok Sa juga sudah membawakan cemilan untuk Vanila ketika di rumah sakit, karena biasanya kalau sudah kerja, Vanila suka nggak ingat makan, kalau nggak melihat kotak bekal.


"Assalamualaikum Nisa." Sapa Vanila ramah ketika melihat Anisa di ruang perawat.


Wa'alaikumussalam Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh. Kamu hutang cerita sama aku." protes Anisa begitu melihat Vanila karena semalam dia tidak sempat bertanya, karena mereka sama-sama sibuk.


"Nanti ya. Aku harus periksa pasien yang semalam. Karena dokter kepala suruh aku tanggung jawab." Kata Vanila sambil tersenyum.


"Tadi udah di periksa dokter kapala, dan sudah dipindahkan juga ke ruang rawat VIP." kata Nisa.


"Ya udah, aku harus pastiin juga. Kamu kalau mau makan, itu mbok Sa bawain roti isi kayaknya. Makan aja kalau mau. Ambil di loker." Kata Vanila lalu pergi ke ruang VIP


Vanila mendekati ruang VIP yang di jaga oleh dua orang tentara.


"Permisi. Saya harus memeriksa pasien." Kata Vanila ramah.


"Maaf, bukannya seharusnya yang memeriksa dokter. Anda hanya seorang perawat, dan tidak ada dokter yang mendampingi anda. Danyon tidak bisa diperiksa sembarang orang." Kata salah satu tentara yang menjaga.


"Tapi saya yang di kasih tanggung jawab untuk memastikan pasien baik-baik saja sampai sembuh." Terang Vanila lagi.


"Cklek" Terdengar suara pintu terbuka dan tampak seorang wanita yang walaupun sudah berumur tapi masih kelihatan sangat cantik.


"Ada ada ribut-ribut?" Tanya wanita itu.


"Ini buk, ada perawat yang mau memeriksa Danyon." Kata tentara yang tadi menghalangi Vanila masuk.


"Anda?" Tanya wanita itu sambil mengerutkan keningnya.


"Maaf nyonya. Saya diminta dokter kepala untuk bertanggung jawab terhadap pasien yang semalam saya operasi." Jelas Vanila sambil tersenyum.


Lalu wanita itu melihat tanda pengenal Vanila yang tergantung di lehernya.


"Benar nyonya. Anda tidak usah khawatir. Suster Vanila ini yang mengoprasi Danyon semalam. Suster Vanila sebenarnya dokter spesialis bedah otak lulusan salah satu universitas kedokteran terbaik di dunia." Jelas dokter Jaki.

__ADS_1


"Oh.. ini dokter Vanila yang sudah menyelamatkan suami saya. Maaf, saya heran kok dokter pakai pakaian perawat. Silahkan masuk. Suami saya baru saja bangun." Terang wanita itu ramah, lalu masuk ke ruangan VIP diikuti Vanila dan dokter Jaki.


__ADS_2