
Selesai tampil, Badai dan teman-temannya turun dari panggung menuju ke arah Vanila yang malam itu benar-benar menjadi pusat perhatian. Tidak hanya karrna kecantikannya fisiknya, tapi juga kecantikan hatinya.
"Wah.. kamu keren La. Anak kecil banyak amat jajannya." Kata Bagas dan hanya dijawab senyuman oleh Vanila.
"Iya, kok kamu gampang amat sih La, kasih sumbangan 50 juta?" Tanya Rangga
"itu uang bagi hasil sama kak Badai." Kata Vanila yang mulai tersenyum jahil, dan membuat kening Badai berkerut. Karena seingat Badai, Ia tidak pernah punya usaha dengan Vanila.
"Wah.. Lo punya usaha nggak bilang-bilang kita Dai." Protes Andre.
"Perasaan gue nggak punya usaha. Yang punya usaha tuh Guntur, kembaran gue. Bagi hasil yang mana sih La?" Tanya Badai juga penasaran.
"Itu loh usaha peternakan." kata Vanila yang berusaha menahan tawanya.
"Peternakan apa? Abang mau join juga lah." Kata Bagas antusias.
"Peternakan tuyul sama ba*i ngepet. hahahaha" jawab Vanila sambil tertawa, melihat ekspresi Badai, Rangga, Andre dan Bagas yang shock seketika, karena dikerjai sama Vanila.
"Asem kamu La. Pantesan aja uangnya banyak, peternakannya aja seperti itu." Kata Rangga yang ikutan tertawa.
"Udah, nggak usah dengarin si Lala. Emang suka sesat infonya. Jelas aja uangnya banyak. Lala inikan anaknya Ar.."
"Kak Badai, please deh. Nggak usah pakai bawa-bawa papa. Lagian itu uang Lala. Beneran. Lala dosa loh kalau bohong. Ya kan kak Bagas?" tanya Vanila yang berusaha mengalihkan pembicaraan, karena Vanila tidak mau ada yang tahu dia anak siapa.
"Eh? Apaan?" tanya Bagas yang bingung karena tiba-tiba namanya disebut Vanila.
"Kalau bohong dosa." kata Vanila
"Iya tuh kalau bohong dosa. Btw kamu tadi anak siapa La?" Kata Bagas membenarkan Vanila, tapi memang dasar tentara yang biasa di latih untuk fokus, Bagas tetap aja bertanya Vanila anak siapa.
"Anak mama papa Lala lah." Jawab Vanila sambil nyengir.
"Nama papa mama kamu loh." Kata Bagas lagi
"Susah nih ngalihin perhatisn tentara. Tapi kalau Lala bilang Lala anak siapa, nggak usah pura-pura terkejut ya, ekspresinya? Biasa aja." Kata Vanila yang masih enggan menyebut, dia anak siapa.
"Muter-muter dari tadi kayak komedi putar." Protes Rangga
"Arlan Syauqi" Kata Badai
"What?!" koor Rangga, Bagas, dan Andre kompak, karena mereka tahu betul nama Arlan Syauqi , pemilik perusahaan property ternama, dan banyak hotel bintang 5 di seluruh kota yang ada di negara I, dan beberapa di luar negeri.
"Tuh kan, Lala bilang mukanya biasa aja." Kata Vanila mencoba bercanda.
__ADS_1
"Pantesan aja kamu enteng banget nyumbang segitu. Itu jajan kamu sehari kayak ya La?" Tanya Rangga.
"Nggak tahu. Papa kalau kirim uang ke rekening mbok Sa. Itu tadi rekekening pribadi Lala. Uang hasil kerjaan Lala." Kata Vanila
"Anak kecil banyak gaya pakai kerja" Kata Badai sambil menoel kepala Vanila.
"Beneran loh kak. Itu uang yang Lala dapat karena jual sistem Laporan keuangan." Jawab Lala polos.
"Wtf. Kamu nggak becanda kan La?" Tanya Rangga yang memang suka dengan pembuatan sistem komputer.
"Nggak. Tiga tahun yang Lalu, Lala buat sistem keuangan, yang di pakai untuk melaporkan kondisi keuangan di semua hotel dan perusahaan papa. Karena papa bilang sangat membantu, jadi papa merekomemdasikan sistem yang aku buat ke perusahaan rekanan papa. Tapi nggak ada yang tahu, kalau sistem nya aku yang buat." Jelas Vanila.
"waduh.. cewek keren kayak kamu emang bibit unggul. Tapi sayang baru 13 tahun. Cepat besar kenapa La? Biar abang bisa lamar." kata Rangga.
"Enak aja Lo bro. Yang ada gue duluan yang lamar, kalau Lala cukup umur." protes Bagas
"Kebanting Lo sama Lala bang. Kalau sama gue baru cocok, sama-sama genius, ntar kalau punya anak, anak-anak kami pasti super genius." Kata Rangga
"Idih.. jauh banget khayalannya bang. Itu pembicaraan 21 tahun ke atas. Lala nggak ikut-ikut ah." Kata Vanila lalu meninggalkan mereka dan pergi mengambil minuman.
Acara berlangsung sampai larut malam. Tapi Badai mengantar Vanila sebelum jam 11, karena Vanila yang meminta kembali kekamarnya.
"Udah antar aja Dai. Anak di bawah umur memang nggak boleh-lama diluar." Ejek Bagas
"Asem nih bocah. Ada aja jawabannya." Kata Bagas sambil menggaruk kepalamya yang tidak gatal. Sementara Badai pergi mengantarkan Vanila kembali ke kamarnya.
Selama di jalan, menuju kamarnya, Vanila bercerita tentang banyak hal kepada Badai. Vanila bercerita apa yang sudah dilaluinya selama tiga tahun tidak bertemu dengan Badai, dan seperti biasa Badai selalu menjadi pendengar cerita yang baik. Badai juga menyimpan dalam memorynya setiap gerak-gerik yang Vanila lakukan.
" Oh iya, kakak kapan ninggalin hotel?" Tanya Vanila
"Besok pagi-pagi abis sholat subuh" Jawab Badai.
"Cepat banget. Kan Lala masih kangen. Tiga tahun nggak ketemu. Cerita Lala masih banyak juga." Kata Vanila sambil cemberut yang membuat Badai jadi gemas sendiri lihat bibir manyun Vanila.
"Itu bibir biasa aja. Jangan kayak ikan munjaher gitu." Kata Badai sambil mengacak kepala Vanila.
"Kak Badai ! Jilbab Lala jadi berantakan tau." Protes Vanila sambil meninju lengan Badai yang terasa keras. Dan Badai hanya tertawa. Hal itu membuat Vanila makin morang maring.
"Itu lengan di semen ya? Keras amat. Tangan Lala sakit." protes Vanila.
"Makanya jangan jadikan tangan kakak samsak. Di elus-elus kek." Kata Badai.
"Ih..Kak Badai sejak kapan jadi kucing? Harus di elus-elus." protes Vanila lagi yang membuat Badai makin tertawa, karena Vanila berfikir kalau yang di elus-elus itu hanya kucing. (Kalau baca komik, pasti MC ceweknya bilang "Ih kamu mesum." 😁 Kalau MC cowok bilang kata elus)
__ADS_1
"Ya sudah. Tuan putri Lala sudah sampai dengan selamat tanpa kurang satu apapunn. Sekarang pangeran Badai akan undur diri. Selamat istirahat. Have a nice dream. Jangan lupa mimpikan kakak ya." Kata Badai sambil membungkukkan badannya ala-ala pangeran yang pamit habis ngantar tuan putri.
"Ya ntar Lala usahakan." Jawab Vanila santai.
"Apa yang di usahain La?" Tanya Badai heran
"Mimpiin kakak lah. Apa lagi.?" Kata Vanila yang langsung membuat Badai tertawa, mendengar jawaban Vanila.
"Kamu ini ya, ada-ada saja. Ya udah, kakak balik dulu. Assalamualaikum." Kata Badai
"Wa'alaikumusalam" Jawab Vanila, lalu Badai pergi meninggalkan Vanila yang masih memandangi kepergian Badai dari teras.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Pagi ini Vanila bangun pagi-pagi sekali. Badai sudah pamitan dengan Vanila melalui pesan yang di kirimnya ke WA.
Selesai sholat subuh, Vanila memutuskan untuk berlari di taman sekitar hotel.
"Assalamualaikum Va." Salam sebuah suara yang membuat Vanila agak terkejut, karena Vanila tahu betul siapa pemilik suara itu.
"Wa'alaikumussalam kak." Jawab Vanila masih tetap berlari tanpa memandang Vano yang mulai mensejajarkan larinya dengan Vanila.
"Kamu masih marah sama kakak Va?" Tanya Vano.
"Bukannya itu kalimat retoris ya kak?" Tanya Vanila balik
"Kamu lihat ini." Kata Vano yang mengeluarkan hpnya, kemudian memutar Video Jenifer yang meminta maaf sama Vanila, karena Ia sudah egois dan mementingkan cowok, daripada temannya.
Vanila yang melihat Jenifer menangis jadi ikut-ikutan menangis. Karena tidak merencanakan untuk menangis, Vanila tidak membawa tisu ketika lari pagi. Vano yang melihat Vanila menangis, memberikan sapu tangannya kepada Vanila.
"Terimakasih kak." Kata Vanila sambil mengusap air matanya.
"Jadi kamu nggak marah lagi sama kakak kan Va?" Tanya Vano.
"Ok. Aku nggak marah lagi sama kakak. Terimakasih udah buat Jeje maafin aku. Maaf karena aku marah sama kakak." Kata Vanila sambil tersenyum.
"Its ok Va. Yang penting sekarang kamu udah nggak marah lagi sama kakak." Kata Vano tersenyum lega.
"Btw, kok kakak bisa tahu aku di sini?" Tanya Vanila
"Kakak nggak sengaja lihat Video kamu lagi belain anak-anak di butik." Jawab Vano.
"Maksudnya?" tanya Vanila heran, lalu Vano memperlihatkan Video yang kebetulan di rekam dan di upload ke media sosial salah satu pengunjung cafe.
__ADS_1
Vanila yang melihat Video itu panik seketika, Lalu izin sama Vano untuk segera balik ke hotel. Sesampainya di hotel, Vanila segera menghubungi salah satu staff IT dan humas di perusahaan papanya, untuk menghapus Video tersebut, karena Vanila tidak mau videonya menjadi Viral dan privasi nya terganggu.