
Vanila bersama Ibu-ibu anggota UMKM, selesai melakukan pekerjaan sebelum masuk waktu ashar, mereka segera kembali ke rumah masing-masing untuk melanjutkan aktivitasnya.
"Kakak cantik nanti jadi main ke pantai?" Tanya Airin sambil membersihkan mukanya yang belepotan tepung.
"Jadi dong. Kamu jadi temanin kakak kan?" Tanya Vanila yang sudah selesai membersihkan wajahnya.
"Jadi dong." Jawab Airin yang meniru gaya bicara Vanila yang membuat mereka berdua tertawa.
"Ya udah, mandi sana, terus jangan lupa sholat ashar. Kakak tunggu di tempat Buk Sinta ya. wasalamualaikum Airin cantik" Kata Vanila sambil menoel hidung mungil Airin lalu segera menyusul Bu Sinta yang sudah menunggu Vanila untuk pulang bersama ke rumahnya.
Selesai mandi dan melaksanakan sholat ashar, Vanila segera siap-siap karena ia akan melihat sunset di pantai kampung laut.
Vanila mengenakan gamis berwarna army senada dengan jilbab dalam yang dikenakannya. Pakaian yang Vanila kenakan adalah pakaian khusus rancangannya yang diproduksi oleh butik langganananya, sehingga baju yang digunakan Vanila tidak ada yang menyamainya.
"Kakak cantik" Teriak Airin yang memanggil Vanila
"Iya sebentar." Kata Vanila lalu segera keluar dari kamar sambil terasenyum melihat Airin yang sudah siap dengan sepeda yang sesuai dengan ukurannya.
"Ayok." Ajak Airin.
"iya sebentar, bu, Lala pergi main ke pantai dulu ya sama Airin. Assalamualaikum" Kata Vanila lalu segera keluar dan mengenakan sendal jepit favoritnya.
"Di samping ada sepeda Ibu. Kamu pakai aja La. hati-hati jangan sore banget pulangnya. Wa'alaikumussalam Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh." Kata Bu Sinta, yang membuat Vanila segera menuju halaman samping dan melihat sepeda milik bu Sinta yang merupakan sepeda khusus cewek.
Vanila dan Airin segera mengayuh sepeda masing-masing menuju pantai. Karena tidak hari libut, pantai yang didatangi Vanila dan Airin sangat sepi, hanya ada satu atau dua orang warga yang sedang mencari kerang atau keong laut dipinggiran pantai.
Sesampainya di pantai, Vanila dan Airin segera meletakkan sepeda mereka di salah satu pendopo yang memang disediakan di sekitar pantai.
Vanila dan Airin berjalan menyusuri pantai sambil menikmati angin pantai yang berhembus cukup kencang, yang membuat jilbab dan gamis Vanila berkibar-kibar.
"Kakak cantik, ayok kita cari kerang juga." Ajak Airin sambil menarik tangan Vanila lalu mendekati salah satu warga yang sedang mengais pasir pantai dengan alat yang terbuat dari besi.
"Paman Saleh, boleh Airin bantu?" Tanya Airin pada seorang pria yang sedang mengais pasir.
"Boleh. wah.. paman senang kalau airin mau bantu. bisa dapat banyak nanti paman kerangnya." Kata pria yang bernama Saleh itu senang.
Airin segera memberikan alat mengais pasir dan mengajarkan Vanila cara mencari kerang, kepiting, ataupun keong laut yang tersembunyi di pantai.
Vanila dan Airin mulai mengais pasir dengan alat yang dipinjamkan pak Saleh. Airin yang sudah ahli, selalu saja mendapatkan kerang, sementara Vanila tidak mendapatkan kerang satupun setelah mengais pasir selama 10 menitan.
Airin menertawakan Vanila yang tidak pernah berhasil mendapatkan kerang, bahkan Airin mengejak Vanila karena ia berhasil mendapatkan kerang yang besar.
"Airin awas kamu ya, itu kan tadi kerang kakak." Kata Vanila karena sebenarnya Vanila yang duluan berhasil mengais kerangnya, tetapi keburu Airin yang duluan mencomot kerangnya dari pasir.
Airin berlari meninggalkan Vanila dengan membawa kerang hasil rebutannya. Vanila yang agak sedikit kesal segera mengejar Airin, namun karen memang Airin biasa di pantai, lari Airin lebih cepat dari Vanila. Di tambah lagi Vanila yang kesusahan berlari karena gamis dan jilbabnya yang selalu berkibar.
Dari tempat yang tidak begitu jauh dari Airin dan Vanila ada beberapa puluh pasang mata yang melihat interaksi Airin dan Vanila, bahkan mereka seolah-olah enggan mengedipkan matanya (lebai authornya...😅😅) melihat Vanila yang sedang berlari mengejar Airin.
"Ehem.." Deheman Pram berhasil membuat anak buahnya yang akan berlatih, mengalihkan pandangan mereka ke sumber suara, dan melihat yang punya suara sudah berdiri dengan muka galaknya.
"Lari 100 putaran." Teriak Pram yang langsung membuat pasukannya segera berlari menuruti perintah Pram.
Pram kembali menatap Vanila dan terlihat sudut bibirnya terangkat ke atas ketika melihat Vanila yang sedang mengejar Airin.
Selain Pram, rupanya dari kejauhan juga terlihat Asri dan beberapa teman seusianya yang memandang Vanila dengan pandangan tidak suka.
"yah.. kakak cantik payah masak kejar aku aja nggak bisa" Kata Airin yang mendekati Vanila yang berhenti mengejar Airin dan mengatur nafasnya.
__ADS_1
Begitu Airin terlihat lengah, Vanila bermaksud menangkap Airin, tapi Airin yang lincah bisa segera menghindari Vanila dan berlari tertawa meninggalkan Vanila.
"hahaha.. kakak cantik kena tipu." ejek Airin.
"Airin kamu ya..." Geram Vanila sambil kembali mengejar Airin.
Airin berlari menuju tepi pantai yang ombaknya bergulung-gulung menuju tepian. Hembusan angin yang semakin kencang membuat muka Vanila tertutup jilbab lebarnya.
"Bruak.."
"aduh" kata Vanila yang jatuh terduduk di pasir pantai yang basah karena air laut yang menuju tepi.
Vanila memegang kepalanya yang habis terbentur sesuatu dan segera mendongak menatap orang yang di tabraknya. Sementara yang di tabrak berdiri tinggi di depan Vanila sambil tersenyum ke arah Vanila sambil mengulurkan tangannya bermaksud membantu Vanila.
"Kirain tadi nabrak gedebong pisang." Kata Vanila lalu berdiri tanpa menerima uluran tangan Pram.
"Mana ada gedebong pisang keren seperti saya." Protes Pram.
"Kakak cantik nggak apa-apa?" Tanya Airin panik dan segera mendekat ke Vanila.
Vanila yang melihat Airin datang segera menangkapnya dan menggelitiki Airin.
"Ampun kak, ampun. hahaha.. nggak lagi Airin ganggu. hahahha" Kata Airin yang terus tertawa karena di gelitik Vanila.
"Dasar bocah. masa kecil nggak bahagia." Kata Pram yang membuat Vanila menatap Pram sinis.
"Pak tentara ganteng, lagi latihan sore ya?" Tanya Airin.
"Iya. Kok kamu tahu?" Tanya Pram sambil tersenyum ramah.
"Sering lihat. Tapi Airin nggak pernah lihat pak tentara." Kata Airin sambil memperhatikan Pram.
"Wah ini abang pimpinan tentara yang baru ya? ternyata bukan gosip, abang ganteng banget. Lebih ganteng dari bang Agus. Boleh kenalan nggak bang? Nggak rugi loh kenalan dengan saya. Soalnya saya itu perempuan paling cantik di kampung laut. Nama saya Asri."Kata Asri sambil mengulurkan tangannya dengan gaya centilnya.
"Pram" Kata Pram sambil tersenyum ramah tapi tidak menyambut uluran tangan Asri, yang membuat Asri memandang Pram heran.
"Maaf bukan mukhrim" Kata Pram yang membuat Asri kembali tersenyum karena paham.
"Kalau gitu, Asri mau kok jadi mukhrimnya bang Pram." Kata Asri lagi masih dengan tingkah genitnya, yang membuat Vanila memutar bola matanya malas.
Pram yang melihat Vanila tidak suka melihat kedekatannya dengan Asri, sengaja ingin membuat Vanila merasa cemburu.
"Dek Asri orang asli sini?" Tanya Pram berpura-pura ramah yang membuat Vanila tersedak salivanya mendengar Pram menyebut kata 'dek Asri'. Sementara Asri mesem-mesem senang mendengar Pram menyebutnya dengan panggilan Dek.
"Ayok Dek Airin kita pergi. Jangan ganggu orang yang pede kate. Ntar kita jadi kambing congek lagi." Sindir Vanila sambil tertawa lalu segera mengajak Airin pergi meninggalkan Pram dan Asri, yang membuat Pram bengong melihat tingkah Vanila, lalu segera tersenyum, karena Pram merasa kalau Vanila sedang cemburu.
"Saya permisi dulu. Saya ada urusan dengan Airin." Alasan Pram lalu segera mengejar Vanila dan Airin.
"Kamu kenapa pergi Ai? cemburu?" Tanya Pram to the point.
"Hellow.. Pe de amat nih Captaint bilangin saya cemburu. Ya nggak mungkin lah, teman bukan, sodara bukan, pa.. eh nggak boleh pacaran, suami bukan, kenapa saya harus cemburu?" Tanya Vanila.
"Kalau nggak cemburu, kenapa tadi kamu pergi begitu aja?" Tanya Pram lagi
"Kan katanya kalau laki-laki dan perempuan berduaan yang ketiganya setan. Ya saya sama Airin nggak maulah jadi setannya." Jawab Vanila yang membuat Pram langsung tertawa terbahak-bahak, sementara Airin hanya menatap Pram dan Vanila bingung, nggak ngerti apa yang mereka omongin.
"Kenapa kamu nggak milih jadi orang kedua?" Tanya Pram lagi
__ADS_1
"ih GAJE. yok Airin kita pergi. Ada buaya darat, ntar kita di terkam lagi." Kata Vanila
"Di laut sini nggak ada buaya kakak cantik." Kata Airin dengan polosnya yang membuat Pram tertawa sementara Vanila semakin kesal mendengar tertawa Pram, bahkan membuat Pram kelihatan jadi makin cakep.
"Jangan ketawa aja Captaint, lihatin tuh anak buahnya yang lagi latihan. Jangan makan gaji buta." Teriak Vanila yang membuat Pram kembali tertawa melihat tingkah Vanila.
Vanila dan Airin segera mengayuh sepedanya meninggalkan Pram yang masih terus saja melihat Vanila, hingga menghilang di ujung jalan. Sudut bibir Pram terangkat, membayangkan tingkah Vanila yang selalu saja membuatnya berbunga-bunga. (pak kapten bucin 😂😂)
Sesampainya di rumah bu Sinta, Vanila melihat pak kades dan bu Sinta yang sedang duduk santai di kursi yang ada di teras rumah.
"Kok cepet baliknya La?, katanya mau lihat sunset?" Tanya buk Sinta.
"Besok-besok aja lihatnya buk." Kata Vanila sambil berjalan mendorong sepeda yang dipakainya dan meletakkan ditempat semula.
"Kamu ke pantai sama siapa La?" Tanya pak Kades
"Sama Airin. Udah Lala antar pulang. Lala masuk dulu ya pak, mau bersih-bersih dan ganti baju." Kata Vanila lalu masuk ke dalam rumah.
Vanila tidak lagi keluar kamar sampai selesai sholat isya. Bu Sinta memanggil Vanila untuk makan malam. Agus yang baru pulang dari kota, terkejut ketika melihat bu Sinta bersama Vanila menuju ruangan makan.
"Itu dokter Lala, yang nyelamatin kamu dulu Gus." Terang pak Kades ketika melihat Agus yang terus memandang Vanila.
"Assalamualaikum. Bagaimana kondisi kamu? bekas operasinya ada masalah nggak?" Tanya Vanila sambil tersenyum yang membuat Agus masih terpaku menatap Vanila, sampai pak kades harus menyenggol bahunya Agus agar ia tersadar.
"Eh.. iya. Udah baikan dok, walau kadang-kadang suka nyeri kalau angkat yang berat-berat." Jawab Agus.
"Oh. Jangan terlalu kerja berat. Tapi kamu hebat, cepat banget pulihnya." Kata Vanila sambil tersenyum, yang membuat Agus jadi salah tingkah.
Mereka melanjutkan makan malam bersama tanpa ada yang berbicara. Hanya sesekaki terdengar suara dentingan sendok dan piring ketika mereka menyenduk makanan yang di inginkan.
Sejak kedatangannya di kampung laut yang ada di kota A, membuat kampung kecil yang jumlah penduduknya kurang dari 100 orang menjadi hidup. Vanila sering membuat acara atau kegiatan baik itu untuk anak-anak, remaja, ibu-ibu ataupun bapak-bapak yang ada di kampung laut.
Setiap hari, Pram selalu menemui dan menggoda Vanila, sehingga Vanila selalu morang-maring kalau bertemu Pram yang justru sangat senang habis mengganggu Vanila.
"Udah deh captaint sana. Nggak bosan gangguin saya terus? Nggak enak nih dilihatin fans beratnya captaint." kata Vanila sambil melirik Asri.
"Ya.. kamu harus terbiasa dong. Kan kita akan bersama seumur hidup." Kata Pram sambil tersenyum.
"Ogah. Nggak mau saya seumur hidup sama anda, bisa makan hati saya setiap hari, keriput nambah banyak karena nggak bisa nahan marah, amit-amit deh jangan sampai saya menghabiskan sisa umur saya sama anda." Terang Vanila panjang lebar yang membuat Pram kembali tertawa.
"Kualat kamu Ai. beneran jodoh sama saya baru tahu kamu. Lagian kenapa kamu terlalu formal sih Ai? Jangan panggil captaint karena jabatan saya bukan kapten, jangan sebut anda juga, karena kesannya kayak partner bisnis. Kalau jadi partner hidup kamu, pasti saya akan terima dengan senang hati Ai." kata Pram sambil tersenyum manis banget, bisa diabetes kalau terus-terusan lihat senyum Pram.
"Amit-amit jabang bayi." kata Vanila sambil mengetok-ngetok meja yang ada di depannya.
"Tunggu halal Ai, baru ntar kita buat baby yang keren seperti saya dan imut serta menggemaskan seperti kamu." Kata Pram dengan wajah mesumnya yang langsung membayangkan wajah anak-anaknya bersama Vanila.
"Arrrggh. Kapten gila, stres saya lama-lama ngomong sama anda. Omongannya ngelantur kemana-mana." Kata Vanila sambil berdiri meninggalkan Pram yang masih senyum-senyum nggak jelas.
Seperti itu kelakuan Pram setiap ketemu Vanila, yang membuat Vanila selalu berusaha menghindari Pram. Tapi ntah kenapa setiap kegiatan yang ia lakukan selalu saja melibatkan Pram, sehingga mau tidak mau Vanila harus bertemu Pram.
Tidak terasa sudah 6 bulan Vanila berada di kampung laut. Sudah banyak perubahan yang Vanila lakukan untuk kampung laut. Vanila ingin walaupun kampung laut adalah kampung yang kecil, tapi kampung laut melek teknologi untuk membuat kehidupan masyarakatnya lebih baik lagi, dengan tidak meninggalkan budaya asli yang sudah mengakar turun temurun.
Hari ini Vanila berencana akan kembali ke rumah yang sudah enam bulan ini di tinggalkannya. Vanila juga sudah kangen dengan mbok Sa yang setiap hari menyuruh Vanila pulang. Hanya Airin, dan keluarga pak kades saja yang tahu kalau Vanila akan pulang, karena vanila tidak mau masyarakat kampung laut beramai-ramai mengantarkan Vanila ke bandara.
Vanila memeluk Airin dan bu Sinta sebelum pergi.
"Airin jangan nangis. InshAllah nanti kalau kakak nggak sibuk, kakak main lagi ke sini. Airin harus jadi anak sholeha, dengar ucapan bapak sama ibuk. Nanti kalau hapalannya sudah khatam jus 30, Airin boleh minta hadiah dama kakak." Kata Vanila berusaha menenangkan Airin yang menangis sesegukan, tidak sanggup berkata-kata, hanya menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan Vanila.
__ADS_1
"Ibuk dan bapak jaga kesehatan ya.. kalau perlu apa-apa telpon aja Lala. InshAllah kalau Lala bisa bantu, Lala akan bantu. Kamu jaga ibuk sama bapak ya Gus." Kata Vanila pada pak kades, bu Sinta dan Agus. lalu segera berpamitan dan masuk ke dalam pesawat meninggalkan kota A.