Vanilarea

Vanilarea
Tempat Baru


__ADS_3

Setelah beristirahat di hotel, sore harinya supir hotel yang sudah di tunjuk Arlan mengantarkan Vanila ke pesantren Kyai Abdullah. Awalnya supir yang mengantar dan menejer hotel agak terkejut melihat penampilan Vanila yang sangat berbeda. Vanila hanya tersenyum, karena tahu pasti bahwa di pikiran mereka pasti penuh dengan pertanyaan, tapi tidak berani bertanya.


"Hati-hati di jalan non Lala." Kata Manager hotel lalu menutup pintu mobil yang akan mengantar Vanila.


"Non yakin mau tampil kayak gini?"Tanya mbok Sa lagi.


"Yakin mbok. di tempat baru nanti, nggak boleh ada yang tahu Lala seperti apa ya."Kata Vanila meyakinkan mbok Sa.


Jarak antara hotel yang tidak begitu jauh, hanya memakan waktu sekitar 30 menit. Mobil hotel yang membawa Vanila memasuki halaman pesantren yang luas, lalu berhenti di sebuah rumah berlantai 2 bercat putih yang terbuat dari kayu dan di tumbuhi banyak tanaman yang membuatnya sangat asri.


Dari pintu rumah keluar seorang pria paruh baya yang mengenakan kopiah, baju koko dan kain sarung, penampilan khas ssorang kyai, bersama seorang wanita yang menggunakan jilbab lebar dan panjang sebetis. Walaupun sudah berumur, tapi wanita itu masih terlihat cantik karena selalu tersenyum.


"Assalamualaikum" Kata Vanila lalu mencium tangan kyai Abdullah dan istrinya.


"wa'alaikumussalam. Anak ini siapa ya?" Tanya Kyai Abdullah.


"Itu Non Lala pak Kyai." Kata mbok Sa, yang muncul dari belakang mobil, membantu mengeluarkan barang-barang Vanila.


"Oalah... ini Lala toh. Anaknya Arlan." Kata Istri kyai Abdullah sambil tersenyum senang dan memeluk Vanila dan sedikit terharu. Karena istri kyai Abdullah tahu betul bagaimana Arlan memperlakukan Vanila karena Rosaline meninggal.


"Ayo masuk-masuk. Beginilah keadaan di pesantren." Kata Istri kyai Abdullah sambil mengajak Vanila masuk kedalam rumahnya.


Kyai Abdullah dan Mbok Sa mengikuti, Istri kyai Abdullah dan Vanila yang sudah masuk ke rumah, sementara supir hotel, membawa barang-barang Vanila ke teras rumah, lalu duduk di bangku yang ada di teras.


"Oalah.. Ummi nggak nyangka, kalau Lala datang hari ini. Arlan baru semalam nelpon ya bah? eh sore ini Lala udah datang. Ummi seneng waktu papa kamu bilang, kamu mau belajar dan tinggal disini." kata Ummi Salma istri kyai Abdullah.


"Iya buk." Kata Vanila yang masih agak bingung, karena perempuan yang baru ditemuinya ini sangat antusias, bahkan tidak melepaskan tangan Vanila.


"Kok ibuk sih. Panggil Ummi aja. itu suami ummi panggil abah. kamu sudah seperti putri kami, walau kita nggak pernah ketemu. Semua putri Arlan sudah seperti anak-anak ummi." Terang ummi salma.

__ADS_1


"Di ajak ngobrol terus tamunya Mi, nggak di suguhin minum dulu?"Kata kyai Abdullah


"Oalah.. sangking senangnya ummi lupa. yo wis, tunggu sebentar ya." Kata Ummi Salma lalu pergi ke belakang.


"Lala kelas berapa sekarang sekolahnya?" Tanya kyai Abdullah


"Tahun ini Lala masuk kelas X Bah." Jawab Vanila yang membuat Kyai Abdullah mengerutkan dahinya tanda bingung.


"Bukannya kamu itu lahir 8 atau 9 tahun yang lalu ya kalau nggak salah abah?" Tanya kyai Abdullah lagi


"Non Lala ini anaknya nggak sabaran Kyai. Jadi hobinya lompat kelas." Terang mbok Sa dan Kyai Abdullah hanya manggut-manggut.


"Wah... wes ayu, pinter lagi." Kata Ummi Salma yang datang bersama seorang perempuan yang usianya sekitaran usia mbok Sa, membawa minuman dan kue bolu yang tersusun di piring-piring kecil.


"Nggak juga ummi. Karena Lala orangnya nggak sabaran aja."Kata Vanila sambil tersenyum.


"Minum minum. ala kadar nya ya La."Kata Kyai Abdullah mempersilahkan mbok Sa dan Vanila untuk minum. Lalu Vanila dan mbok Sa, meminum minuman yang tersaji di hadapan mereka.


"Nanti aja ummi. maaf Lala sudah merepotkan." Kata Vanila agak sedikit tidak enak, karena Ia meminta sama papanya supaya Ia bisa punya kamar peibadi. Karena kalau Vanila gabung dengan santriwati yang lain, bisa ketahuan penampilan Vanila asli seperti apa.


Mbok Sa, Vanìla, kyai Abdullah dan Ummi Salma berbicara tentang berbagai hal. termasuk mbok Sa menyampaikan kebiasaan buruk Vanila, supaya ummi salma dan kyai Abdullah tidak terkejut.


"Ya udah Kyai, saya pulang dulu, soalnya sudah pesan tiket untuk keberangkatan yang terakhir hari ini. Semua dokumen non Lala ada di map biru. Jadi untuk keperluan mendaftar sudah saya siapkan. Saya titip non Lala ya Nyai Salma, Lala ini anak baik, walau kadang suka manja. Tapi Lala cukup mandiri dan punya pemikiran yang dewasa. Kalau Lala ada salah, langsung di tegur aja Nyai."Kata mbok Sa, dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"InshAllah. kami akan jaga Lala, seperti anak kami sendiri. Mbok Sa tidak usah khawatir." Jawab ummi salma.


"Non baik-baik di sini. Semuanya kerjakan sendiri. Nggak ada lagi mbok yang bisa bantuin non." Kata Mbok Sa yang air mata mulai mengalir membanjiri pipi keriputnya.


"Mbok jangan nangis. Lala pasti baik-baik aja. Lala kan udah besar. Lala pasti bisa sendiri." Kata Vanila sambil memeluk mbom Sa dan berusaha menahan tangisnya.

__ADS_1


Setelah memeluk Vanila cukup lama, akhirnya mbok Sa pergi meninggalkan pesantren untuk segera ke Bandara.


Ummi salma mengantarkan Vanila ke kamar tempat Vanila akan tinggal selama di pesantren. Walaupun tidak tinggal di kamar asrama santriwati, tapi Vanila tetap menjalankan kegiatan yang sama dengan penghuni pesantren lainnya.


Saat sholat magrib, ummi salma memperkenalkan Vanila kepada santriwati yang ada di pesantren.


"Perkenalkan, ini santriwati baru yang akan belajar sama-sama disini."Kata Ummi Salma lalu mempersilahkan Vanila untuk memperkenalkan diri.


"Assalamualaikum. Nama saya Vanilarea Aisyah Syauqi. Panggil saja saya Aisyah, terimakasih." Kata Vanila sambil tersenyum. Walaupun warna kulitnya sudah di buat berwarna coklat, warna bola mata di hitamkan, tetapi Vanila masih terlihat manis karena hidung mancung, bibir mungil dan mata bulat dengan bulu mata panjang dan lentik, yang tidak bisa di rubahnya.


Umi Salma meminta Vanila untuk duduk bersama santriwati yang lain. Santiwati juga manusia, respon mereka tentu saja berbeda-beda. ada yang suka dan ada juga yang tidak suka, karena mereka merasa Vanila di istimewakan, karena tidak tinggal di asrama bersama santriwati yang lain. Tapi ummi Salma sudah menjelaskan kalau Vanila ini adalau keponakannya, sehingga Vanila bisa tinggal di rumah utama.


"Hi. Nama aku Rere. ini Panjul." Kata Rere sambil tertawa kecil yang membuat teman yang di tunjuk melotot ke arahnya..


"Panjul?" Tanya Vanila heran


"Hehe sorry. Juli maksud aku. kalau siang namanya Juli, kalau malam panjul." Kata Rere lagi dengan suara pelan yang membuat Vanila tersenyum, senang dengan teman barunya.


Merekapun kembali mendengarkan materi di sampaikan umi salma.


"Kamu hapal berapa surat pendek La?" Tanya Ummi, karena mau menunjuk senior yang akan membimbing Vanila hapalan.


"Alhamdulliah 6 juz ummi." Jawab Vanila, yang membuat Ummi dan santriwati yang lain agak terkejut, tidak menduga kalau Vanila sudah hapal 6 juz.


"Boleh umi tes bacaan kamu La?"Tanya Ummi Salma


"InshAllah bisa ummi." Kata Vanila. Lalu ummi Salma memilih salah satu surah yang ada dari 6 jus terakhir dalam alquran. Vanila membaca surah Al - Hadid. Vanilapun memulai bacaannya dengan tartil bahkan bacaan yang merdu.


"MashaAllah." Kata ummi Salma kagum dengan Vanila. Lalu ummi salma menunjuk Rere untuk menjadi pembimbing Vanila karena kebetulan, Rere sudah hapal setengah dari 30 juz.

__ADS_1


Suasana pesantren yang menyenangkan dan kebersamaan yang ada, membuat Vanila merasa nyaman walaupun ia baru beberapa jam berada di pesantren.


__ADS_2