
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih bsmpir 3 jam, Vanila akhirnya sampai di rumahnya. Mbok Sa sudah menunggu Vanila di depan rumah. Begitu Vanila turun, mbok Sa langsung memeluk Vanila erat dengan air mata yang bercucuran.
"Non jangan pergi lagi. Jangan tinggalin mbok." Kata mbok Sa dengan air mata yang masih mengalir membasahi pipi tuanya.
"Maafin Lala ya mbok." Kata Vanila sambil mengusap air mata mbok Sa.
"Den Al." Sapa mbok Sa, lalu mengajak Vanila dan Aldrin masuk ke rumah.
Setelah berada di kota S, keesokan harinya Aldrin dan Vanila mulai melakukan kegiatan seperti biasanya. Aldrin tidak mengizinkan Vanila bekerja, karena Aldrin yang akan memenuhi semua keinginan Vanil (Lagian Vanila memang tidak perlu bekerja, pendapatan dari bagian Syauqi properties saja tidak akan habis kalau di belikan kerupuk 😅😅✌)
"Mas, Lala hari ini ke panti asuhan ya? Udah lama nggak lihat Oma Ratna sama adik-adik." Kata Vanila ketika mengantar Aldrin yang akan pergi bekerja sampai teras rumah.
"Iya, pergilah. pulangnya jangan sore banget. InshAllah mas pulang sesudah ashar." kata Aldrin.
"Terima kasih mas" Kata Vanila tersenyum senang sambil mencium punggung tangan Aldrin, dan Aldrin mencium puncak kepala Vanila.
"Iya sama-sama. Mas pergi dulu Assalamualaikum" Kata Aldrin lalu masuk ke mobilnya dan berangkat setelah mendengar jawaban salam dari Vanila.
Vanila siap-siap pergi ke panti asuhan bersama mbok Sa, di antarin pak Arman. Sesampainya di panti asuhan Oma Ratna dan penghuni panti yang lainnya menyambut Vanila dengan bahagia, bahkan setelah kurang lebih 1 jam Vanila berada di panti Zikri datang ke panti karena diberitahu Kipli.
"Assalamualaikum." Salam Zikri
"Wa'alaikumussalam." Jawab yang mendengar salam Zikri
"MashAllah. Ini benaran kamu Aisyah? Ngilang kemana aja selama ini?" tanya Zikri antusias.
"Iyalah kak ini aku. nggak ngilang kok. Cuma tidak menampak kan diri aja." Kata Vanila sambil tersenyum.
"Kamu bisa aja. Apa bedanya ngilang sama nggak nampakin diri?" Tanya Zikri
"Beda huruf." Jawab Vanila polos membuat orang yang mendengarnya jadi tertawa.
Setelah ngobrol dengan Zikri, Vanila membantu pengurus panti masak untuk makan siang. Vanila bermaksud memberikan kejutan buat Aldrin membawakan makan siang ke kantornya.
Aldrin yang memang tidak pernah pilih-pilih makanan, membuat Vanila tidak harus memasak masakan khusus untuk Aldrin.
Menu makan siang di panti hari itu adalah Ayam goreng rempah, sayur asem dan sambal tomat. Selesai masak, Vanila memasukkan masakannya ke dalam rantang yang terdiri dari 3 susun.
"Oma, mbok Sa, La pergi dulu ya. Antar makan siang mas Al." Kata Vanila sambil menunjukkan rantang makan siang untuk Aldrin.
"Iya, hati-hati. Nanti pulang sama den Al?" Tanya mbok Sa.
"Nggak ah. Lama kalau nunggu mas Al pulang. Abis zuhur Lala pulang. Assalamualaikum" Kqta Vanila lalu pergi meninggalkan panti di antar pak Arman.
jam menunjukkan pukul 11.34 menit ketika Vanila sampai di kantor Aldrin. Vanila meminta pak Arman untuk meninggalkannya, karena Vanila akwn pulang dengqn transportasi online.
"Selamat siang mbak. Pak Aldrin ada?" Tanya Vanila ramah.
Resepsionis yang terlihat modis dan cantik menggunakan stelan blazer pas body berwarna hitam, melihat Vanila dengan tatapan remeh.
"Maaf. Apakah mbak sudah punya janji?" Tanya sekretaris itu mencoba ramah.
"Belum sih. Tapi saya mau antar makan siang." Kata Vanila sambil menunjukkan rantang yang dibawanya.
"Tukan catring rupanya." Kata resepsionis itu pelan.
__ADS_1
"Tidak sembarangan orang bisa bertemu pak Aldrin. Mbak titip saja ke saya makan siangnya, nanti saya suruh OB kantor yang antar." Kata resepsionis itu mencoba ramah dan tersenyum palsu.
Vanila yang dari awal sadar kalau resepsionis itu memandang Vanila remeh, karena penampilan Vanila yang cupu dan dikira karyawan catring, membuat Vanila jadi semangat untuk tahu, sifat asli staff resepsionis AlRasyid properties.
"Nggak boleh dititipin. Saya susah payah loh masaknya." Kata Vanila lagi.
"Mbak kok ngeyel sih. Nggak sembarang orang bisa ketemu pak Aldrin. Apalagi cuma karyawan catring kayak mbak gini." kata resepsionis yang di dada sebelah kirinya terdapat tulisan Santiana.
"Telpon aja dulu. Pak Aldrin pasti mau ketemu saya." Kata Vanila lagi.
"Banyak cewe yang ngejar-ngejar pak Aldrin jauh lebih cantik dari kamu. Nggak usah ngayal deh pak Aldrin tertarik dengan cewek cupu kayak kamu." Kata Santiana meremehkan Vanila, dan membuat beberapa orang yang lalu lalang mulai memperhatikan mereka.
"Saya beneran deh. Nggak bohong. Pak Aldrin pasti mau ketemu saya." Kata Vanila lagi.
"Kamu ini nggak ngerti juga ya. Saya tuh tau banget kamu perempuan seperti apa. Pasti kamu mau godain pak Aldrin seperti perempuan-perempuan lain yang datang dengan berbagai alasan mau merayu dan ngejar-ngejar pak Aldrin." kata Santiana, yang membuat Vanila tersenyum dan baru tahu kalau banyak perempuan yang ngejar-ngejar Aldrin.
"Nggak capek ya, pak Aldrin di kejar? Lari dari mana ke mana aja kalau lagi kejar-kejaran?" Tanya Vanila dengan wajah polosnya.
"Kamu ini ya.." Kata Santiana dengan mata yang sudah melotot menahan marah, melihat sikap Vanila.
"Jangan suka marah-marah loh mbak. Mbak tau nggak sih, kalau kita marah paling sedikit ada sekitar 21 urat saraf di wajah kita yang putus. Hal itu bisa menyebabkan kerutan di wajah semakin nertambah banyak." Kata Vanila yang memberi penjelasan yang membuat Santiana tidak bisa berkata-kata lagi.
"Kamu ini ya.. pak Anto, tolong antar mbak ini keluar. Dia mengganggu kenyamanan kantor." Kata Santiana yang kebetulan melihat satpam kantor yang menghampiri mereka.
"Silahkan mbak keluar." kata Pak Anto mencoba ramah.
"Saya mau ketemu pak Aldrin. Mau antar makan siang. Kenapa di suruh keluar?" kata Vanila yang masih berdiri di tempatnya.
"Tidak sembarang orang bisa ketemu pak Aldrin. Kalau mbak cuma mau antar makan siang, serahkan saja sama mbak Santi, nanti OB kantor akqn antarkan." Kata pak Anto lagi masih mencoba bersikap ramah.
Aldrin yang kebetulan akan makan siang bersama Azam yang berkunjung ke kantor Aldrin melihat ribut-ribut di depan resepsionis, berjalan ke arah resepsionis.
"Ribut-ribut apa di depan mas Al?" Tanya Azam.
"Nggak tau jauga. Ayo cek." Ajak Aldrin.
"Lala?!" Kata Aldrin terkejut melihat Vanila yang lagi berbicara dengan pak Anto dan Santiana.
"Aisyah!" Kata Azam senang melihat Vanila dan langsung mendekatinya, membuat Aldrin agak heran.
"ada apa ini Santi, pak Anto?" Tanya Aldrin kepada bawahannya.
"Ini pak. Ada perugas catring yang maksa mau antar langsung makqn siang buat Bapak." Kata Santiana sambil tersenyum ke arah Aldrin.
"Kenapa nggak disuruh keruangan saya?" tanya Aldrin.
"Memang boleh pak?" Tanya Santiana.
"Ya boleh lah." Kata Aldrin agak sedikit kesal.
"Tapi pak.."
"Nggak ada tapi-tapi. Yang kamu bilang petugas catring ini istri saya." Kata Aldrin membuat orang-orang yang mendengarnya terkejut tidak percaya termasuk Azam.
"Beneran Syah?" tanya Azzam tidak percaya. Vanila yang emang dasarnya usil, hanya nyengir sambil menunjukkan cincin nikah di jari manis kanannya.
__ADS_1
"Ayok sayang."Kata Aldrin sambil memegang tangan Vanila dan mengambil rantang yang di pegang Vanila, diikuti Azzam dari belakang dengan banyak pertanyaan dikepalanya.
"Mas nggak asik ah. Kan lagi seru tadi. Mana tau kayak di sinetron-sinetron, Lala di dorong keluar dari kantor, trus rantang makanan Lala berantakan, trus Lala beresin rantangnya dengan air mata bercucuran trus terdengar backsong 'Ku menangiiiis...' hahahaha. Pasti seru." kata Vanila sambil tertawa ketika masuk ruangan Aldrin dan duduk di sofa.
Aldrin dan Azzam saling pandang melihat Vanila yang tertawa senang.
"Kamu ini ada ada aja. Dasar jahil." Kata Aldrin yang duduk disamping Vanila sambil menoel hidung mancung Vanila.
"Aisyah beneran istri kamu mas?" Tanya Azzam.
"Beneran lah." Kata Aldrin yang agak kurang suka dengan pertanyaan Azzam.
"Kok mas bisa menikah dengan Aisyah?" Tanya Azzam lagi karena penasaran.
"Karena jodoh." Jawab Aldrin malas.
"Yah... aku kalah start dong." Kata Azam kecewa.
"Maksud kamu?" Tanya Aldrin agak cemburu.
"Udah udah, nanti aja bahasnya. Kita makan siang dulu. Untung aku bawak lumayan banyak. Rezeki kamu kak Azzam." Kata Vanila sambil membuka rantang yang ada di meja.
"Hmmm.. sedep banget ini Syah? Kamu yang masak?" tanya Azzam.
"Nggak sih. Aku mandor doang. Mas mintak tolong OB antarin piring dong." Kata Vanila sambil nyengir.
Aldrin lalu berdiri menghubungi pantry, meminta OB untuk mengantarkan peralatan makan yang mereka butuhkan.
Setelah OB mengantar peralatan makan keruangan Aldrin, Vanila mulai mengambilkan nasi dan lauk pauknya ke piring Aldrin dan Azzam.
"Kamu nggak makan La?" tanya Aldrin ketika Vanila tidak mengambil makanan untuknya.
"Lala udah kenyang. Tadi sebelum kesini, udah makan ayam 3 potong sama sayur asem semangkok. Di suruh mbok Sa nyicip, eh karena enak jadi bablas." kata Vanila sambil nyengir.
"Kebiasaan kamu jadi kucing belum hilang ya Syah?" Tanya Azzam yang hanya di jawab cengiran oleh Aisyah, yang membuat Aldrin jadi bertanya-tanya bagaimana Azzam mengenal Aisyah.
"Makan dulu. Kata Abah kalau makan nggak boleh berisik." kata Vanila yang membuat Aldrin dan Azzam makan dalam diam.
Setelah menghabiskan semua makanan yang dibawa Vanila, Aldrin kembali menghubungi OB kantor untuk membereskan.
"Kamu hutang penjelasan sama mas La. Kok bisa kenal Azzam?" Tanya Aldrin.
"Ck, Mas ini pelupa ya? Kak Azzam kan teman sekolah aku. Waktu mas dulu pulang, kak Azzam kan sering modus pura-pura belajar di rumah Umi." terang Vanila.
"Enak aja modus. Kakak beneran nggak ngerti loh." Protes Azzam yang nggak terima karena Vanila tahu kalau Azzam cuma modus menggunakan alasan tidak mengerti pelajaran, untuk mendekatai Vanila.
"Nggak usah bohong deh kak. Aku tahu kok, kakak masternya fisika di sekolah yang lama." kata Vanila lagi, yang membuat Azzam hanya bisa tersenyum canggung karena ketahuan.
"Trus tadi maksud kamu apa Zam kalah start?" Tanya Aldrin
"Aku suka Aisyah." jawab Azzam jujur, yang membuat Aldrin jadi tidak senang.
"Tapi Lala istri mas sekarang. Kamu harus ingat itu." Kata Aldrin penuh penekanan.
"Iya mas, Aku tahu." kata Azzam sambil tersenyum agar Aldrin tidak marah.
__ADS_1