Vanilarea

Vanilarea
Menginap


__ADS_3

Setelah berbicara dengan Amel, Satya, Rizky dan Niken, Vanila memutuskan untuk mengajak semua karyawannya makan bersama, di tempat makan yang tidak jauh dari kantornya.


Amel segera memesan tempat dan memberitahukan karyawan yang lain untuk segera ke warung makan yang berada di sebrang kantor mereka.


"Kamu mau kemana Ae?" Tanya Niken yang melihat Vanila akan pergi.


"Mau ke toilet, nggak betah pakai ini." Kata Vanila sambil menunjuk wajahnya yang full makeup.


"Kamu ini ada-ada aja Ae. Perempuan menghabiskan watunya berjam-jam untuk makeup, kamu malah nggak suka." Kata Niken sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah Vanila.


"Duluan aja. Nanti aku nyusul." Kata Vanila, lalu segera ke toilet menghapus makeup nya.


"Tutup aja pak kantornya. Ayok kita makan." Kata Vanila ramah kepada pak Aryo yang merupakan security AERSS.


"Nggak apa-apa non. Bapak nanti saja." Kata Pak Aryo sopan.


"Tutup aja pak. Nggak mau kan bapak di pecat sama yang punya kantor?" Kata Satya yang menyusul Vanila.


"Siap pak Satya, duluan saja. Nanti saya menyusul." Kata Pak Aryo, lalu bersiap-siap mengunci kantor.


Hanya beberapa dari karyawan AERSS, yang merupakan karyawan lama, karena dalam 4 tahun AERSS terus berkembang, tentu saja banyak penambahan karyawan baru.


Karyawan baru banyak yang krasak krusuk melihat Vanila, bahkan karyawan cowok tidak bisa berhenti curi-curi pandang ke Vanila, begitu juga karyawaa cewek.


Selama ini mereka kira Satya adalah pemilik AERSS. Karena di akta pendirian perusahaa memang nama Satya yang tertulis, karena waktu itu Vanila masih di bawah umur.


"Ehem." Deheman Satya membuat semua karyawanya langsung terdiam.


"Perkenalkan, Ini Aer. Aer ini adalah pemilik AERSS yang sebenarnya. 4 tahun lalu kami berusaha mendirikan AERSS, hingga AERSS bisa besar seperti saat ini, tidak lepas dari bantuan Aer yang selalu membuat analisa perancangan sistem, untuk program yang kita buat." Kata Satya yang membuat karyawan AERSS kembali krasak krusuk.


"Berlebihan abang. Nggak segitunya juga. Oh iya, santai aja. Anggap saja aku adek dari kakak dan abang semua." Kata Vanila sambil tersenyum.


"Wah, aku mau nih, punya adek pintar, cantik lagi kayak gini." Celetuk Handoko yang merupakan salah seorang IT yang memang paling gokil di antara yang lainnya.


"Emang abang nggak punya adek?" Tanya Vanila.


"Punya sih, tapi kalau di tukar sama kamu abang rela ganti adek." Kata Handoko membuat yang lainnya tertawa dan langsung mendapat pelototan dari Satya, yang membuat Handoko langsung diam.


"Matanya biasa aja bang. Biarin aja, aku senang kalau lihat mereka senang. Ya sudah, hari ini boleh makan sepuasnya, bahkan boleh bungkus buat keluarganya di rumah. Nanti aku yang bayar semuanya." Kata Vanila yang langsung mendapatkan sorakan bahagia dari karyawannya yang berjumlah kurang lebih 36 orang di luar Satya, Amel, Niken dan Rizky.


Mereka segera memesan makanan dan tidak lupa memesan yang di bungkus untuk keluarga mereka.Hari itu tempat makan yang ada di depan AERSS benar-benar beruntung, karena Vanila memesan makanan sangat banyak.


Selesai makan, mereka kembali ke kantor dengan wajah yang bahagia, walaupun gaji mereka di AERSS tidak terlalu besar, karena Vanila menerapkan bagi hasil, tapi mereka bahagia bisa bekerja di AERSS.


"Lala mau ke makam pak Sugeng dan Ibuk. Mbak Amel antar ya?" Tanya Vanila.


"Ok." Kata Amel. Lalu setealah makan, mereka segera pergi ke makam Pak Sugeng dan istrinya. Mereka adalah orang yang menjaga Vanila ketika Vanila berada di kota P.


Selesai Ziarah, Amel mengantarkan Vanila ke hotel. Tadinya Amel menawarkan untuk menginap di rumahnya, tapi Vanila tidak ingin menyusahkan orang.

__ADS_1


"Kamu lama di sini kan Ae?" Tanya Amel.


"Nggak mbak. Besok Lala mau ke kota D. Mau ketemu bunda Kangen juga sama adek-adek." Kata Vanila.


"Kok cepat amat sih Ae?" Tanya Amel lagi.


"Aku harus balik ke negara J mbak. Masih harus selesaikam urusan di sana." Kata Vanila lagi.


"Oh. Kita ke rumah sakit sebentar ya. Mbak mau jengukin sepupu mbak yang kecelakaan. Mumpung rumah sakitnya nggak jauh dari sini."Kata Amel.


"Ok. Mbak atur aja." Kata Vanila lagi.


Lalu mereka segera ke rumah sakit tempat saudara Amel di rawat.


"Mbak duluan aja. Aku mau ke toilet dulu." Kata Vanila lalu pergi ke toilet rumah sakit.


Setelah dari toilet, Vanila segera menuju ruangan tempat saudara Amel di rawat. Hampir sejam mereka berada disana, kemudian Amel dan Vanila pamit.


"Permisi nona." Kata dua orang pria yang menghalangi jalan Vanila dan Amel yang akan masuk ke lift.


"Iya kenapa?" Tanya Vanila.


"Nyonya kami ingin bertemu anda." Kata salah seorang di antara mereka.


"Maaf saya tidak kenal." Kata Vanila lalu hendak masuk ke lift tapi masih di tahan.


"Tolong nona. Nona memang tidak kenal dengan nyonya kami, tapi nona kenal dengan tuan muda kami. Tuan Daffa" Kata pria itu lagi.


"Tapi Ae.."


"Its ok." Kata Vanila sambil tersenyum


Vanila mengikuti kedua pria yang berpakaian rapi ala bodyguard.


Vanila masuk ke ruangan VVIP, di dalam terlihat seorang pria yang sedang terbaring dengan elektroda yang tertempel di tubuh pasien.


"Bukannya, dia yang saya tolong tadi pagi?" Tanya Vanila.


"Benar nona. Tuan Daffa memaksa untuk melakukan penerbangan ke sini untuk mengejar nona." Terang bodyguard itu.


"Mengejar saya?" Tanya Vanila bingung.


"Kamu Lala?" Tanya seorang wanita yang keluar dari toilet.


"Iya nyonya." Kata Vanila, yang membuat perempuan yang masih terlihat cantik walau sudah berumur,yang baru saja keluar dari toilet, memeluk Vanila erat.


"Alhamdulillah. Akhirnya kami menemukan kamu." Kata perempuan itu sambil melepaskan pelukannya dan tersenyum manis ke arah Vanila.


"Maksud nyonya?" Tanya Vanila heran.

__ADS_1


"Daffa mencari kamu 4 tahun yang lalu. Kamu menjadi penyemangat Daffa untuk sembuh. Oh iya, saya maminya Daffa. Nama saya Ayu. Kamu bisa panggil saya mami, seperti Daffa memanggil saya." terang wanita itu.


"Kenapa saya bisa jadi penyemangat Daffa?" Tanya Vanila lagi.


"Karena bertemu kamu, Daffa punya keinginan untuk sembuh. Daffa mengalami kelainan jantung. Kami sedang mengusahakan donor Jantung buat Daffa, tapi belum ada yang cocok."Terang Mami Daffa


"Stenosis Aorta, Apakah Daffa sudah melakukan operasi perbaikan aortanya?" Tanya Vanila


"Bagaimana kamu tahu?" Tanya mami Daffa heran.


"Saya dokter spesialis jantung di salah satu rumah sakit di negara J." jawab Vanila.


"Sudah pernah operasi perbaikan Aorta, tapi jantungnya menolak." Terang mami Daffa.


"Apakah besok kita bisa melakukan EKG?, Biara saya cek penyebab tidak bisa perbaikan. Saya rasa walaupun Stenosis Aorta merupakan penyakit jantung bawaan, tapi dengan kemajuan teknologi sekarang, saya rasa Daffa tidak perlu transplantasi jantung." Terang Vanila.


"Benarkah? Alhamdulillah. Mami sudah sangat putus asa. Karena penyakit Daffa bisa kumat kapan saja." Terang mami Daffa.


"InshAllah, kita lihat kondisinya besok nyonya." Kata Vanila.


"Panggil mami. Jangan panggil nyonya. Kalau sadar nanti, Daffa pasti senang lihat kamu." Kata Mami Daffa sambil tersenyum senang, sedangkan Vanila hanya tersenyum canggung.


Sampai sore Vanila nungguin Daffa yang belum sadar, sementara mami Daffa pergi keluar karena ada urusan. Maminya minta tolong Vanila untuk jagain Daffa.


"Iya mbak Amel?, Iya aku masih di rumah sakit. Nanti aku langsung ke hotel aja. nggak apa-apa. Aku kenal kok. Ok mbak. Wa'alaikumussalam Wa Rahmatullahi Wa Barakatu h." Kata Vanila lalu menutup telponnya, dan meletakkan di meja yang lokasinya tidak jauh dari Vanila.


Adzan ashar mulai terdengar, karena rumah sakit tempat Daffa di rawat adalah rumah sakit islam.sehingga suara kumandang adzan terdengar di rumah sakit. Vanila segera mengambil wudhu dan melaksanakan sholat ashar.


Daffa yang sebenarnya dari tadi sudah sadar memperhatikan Vanila yang tengah khusyuk untuk sholat ashar, berzikir, dan tidak lupa mendoakan semua orang yang dikenalnya.


"Kamu mau ajarkan aku sholat?" Tanya Daffa ketika Vanila melipat mukenahnya.


"InshAllah." Kata Vanila sambil tersenyum


"Kamu kok tidak menghakimi aku, kenapa sudah sebesar ini tidak pandai sholat." Kata Daffa heran.


"Aku bukan Allah yang berhak menghakimi seseorang. Kamu kan manusia biasa yang pastinya tidak luput dari salah. Aku senang kamu mau belajar,lebih baik terlambat dari pada tidak." Jelas Vanila panjang lebar.


"Terimakasih." Kata Daffa bahagia.


"Jantung kamu bagaimana?" Tanya Vanila.


"Sudah lebih baik. Sepertinya aku tidak perlu pakai ini lagi." Kata Daffa sambil melepaskan elektroda di dadanya.


"Nggak perlu sih. Aku lihat sudah mulai stabil. Oh iya, karena kamu sudah baikan, Aku pamit pulang dulu, besok pagi aku kesini lagi buat pemeriksaan munggunakan EKG." Kata Vanila.


"Bisa nggak, kamu disini aja. Bukankah di sana ada tempat tidur? Aku tidak akan berbuat yang macam-macam dengan kamu. Aku hanya rindu selama empat tahun ini mencari kamu."Kata Daffa dengan wajah sedih.


Vanila hanya diam, sambil berfikir, walau ini rumah sakit, dan ada tempat tidur terpisah untuk keluarga pasien, tapu tidak mungkin Vanila tidur sekamar dengan Daffa bahkan kedua pengawalnya.

__ADS_1


"Kamu tidak usah khawatir, mami nanti juga akan nginap." Kata Daffa, karen melihat Vanila yang lagi berfikir.


"Ok. Aku nginap di sini. Sekarang kamu istirahat dulu." Kata Vanila sambil menaikkan selimut Daffa seperti yang selalu Vanila lakukan ke pasiennya.


__ADS_2