
Kagum dengan Vanila, membuat kedua wanita, istri-istri kyai besar pemilik pondok pesantren yang ada di kota K, terus mengobrol, sementara Vanila hanya menyimak, tanpa ingin ikut campur.
"Assalamualaikum Ummi." Salam seorang pria yang datang dari belakang membawakan 4 cangkir yang berisi teh hangat, dan sepiring bolu gulung.
"Wa'alaikumussalam." Jawab Umi Salma, Nyai Halimah dan Vanila kompak.
"Astagfirullah. Umma sampai lupa Zam, kalau belum nyuguhin tamu minum." Kata Nyai Halimah sambil tertawa kecil, merasa tidak enak karena keasyikan ngobrol.
"Nggak apa-apa umma. kebetulan tadi Azzam dengar umma ngobrol, kan umma kalau udah ngobrol sama ummi sukak lupa." Kata Azzam sambil tersenyum dan meletakkan apa yang dibawanya ke meja yang ada di hadapan tamu.
"Hehe.. tau aja anak umma." Kata Nyai Halimah lagi.
"Azzam antar minum untuk paklek Edi dulu umma." Kata Azzam lalu keluar menuju teras tempat paklek Edi supir keluarga Kyai Abdullah, duduk menunggu Ummi Salma.
"oh iya, mbakyu lupa, kalau kesini mau ngundang keluarga Kyai Yusuf menghadiri acara pengajian akbar di pesantren. Abah nggak bisa datang, karena nyampaikan undangan ke tempat lain." Kata ummi Salma menyampaikan tujuannya datang.
"Iya mbak Yu. nanti Imah sampaikan sama Abinya Azzam. diminum tehnya mbak yu, La. itu bolu nya di makan juga." Kata Nyai Halimah.
Vanila dan Ummi Salma segera meminum teh yang sudah hangat dihadapan mereka, sambil mencicipi bolu gulung yang dihidangkan dan kembali mengobrol.
Vanila yang tidak mau mengganggu obrolan Ummi Salma dan Nyai Halimah memilih untuk mengulang hapalan Juz 24 yang akan Ia setor nanti malam ba'da Isya.
Nyai Halimah yang duduk di hadapan Vanila, memperhatikan bibir mungil Vanila yang sedang komat kamit.
"Kamu baca mantra La?"Tanya Nyai Halimah
"Nggak Nyai. Lala lagi muroja'ah, nanti malam mau setor juz 24." Kata Vanila
"MashaAllah. Bukannya kamu baru beberapa hari ya di pesantren, dah hapal aja juz 24." Kata Nyai Halimah kagum
"Boleh Nyai dengar hapalan kamu La?" tanya Nyai Halimah.
"InshAllah Nyai." Kata Vanila lalu memulai bacaan surah-surah yang ada di Juz 24. Mulai dari surah Az-Zumar 32 ayat dan di akhiri surah Fussilat 46 ayat, dimana keseluruhan Juz 24 ada 175 ayat.
Azzam yang duduk di teras bersama paklek Edi merasa kagum mendengar bacaan ayat suci yang dilantunkan Vanila. Sewaktu mengantarkan minum Azzam sempat sekilas melirik Vanila, walaupun kulitnya kelihatan gelap, tetapi Vanila masih terlihat manis. Azzam berkali-kali istigfar dalam hati, karena Ia mengagumi lawan jenis. Ia takut hal tersebut akan menjadi zina hati dan pikiran.
"MashAllah La. Tartil kamu benar, makhrajnya juga pas, nggak ada yang salah." Kata Nyai Halimah, begitu Vanila menutup hapalannya.
"Alhamdulillah. makasih Nyai." kata Vanila senang.
Azzam yang dari luar mendengar suara hapalan Vanila untuk juz 24 nya menjadi semakin kagum. Azzam juga sempat mendengar, kalau Vanila adalah anak yang cerdas, membuat Azzam jadi terus-terusan berfikir tentang Vanila, yang membuat Azzam harus beristigfar berkali-kali.
Sebelum maghrib, Ummi Salma dan Vanila pamit meninggalkan rumah Nyai Halimah. Nyai Halimah dan Azzam memandang kepergian mobil yang membawa umi Salma dan Vanila, hingga hilang di ujung jalan.
Sesampainya di pesantren, Vanila izin dengan umi Salma untuk kembali ke kamarnya, karena Ia akan bersiap-siap untuk sholat maghrib dan Isya berjamaah, serta melakukan hapalan setoran. Sebelum maghrib, penghuni pesantren sudah melaksanakan makan malam, karena padatya kegiatan yang akan dilakukan hingga sholat Isya.
"Aisyah. gimana?" Tanya Rere antusias sewaktu bertemu Vanila
"Gimana apanya?" Tanya Vanila heran
"Ketemu Gus Azzam nggak?" Tanya Rere lagi.
__ADS_1
"Mmm.. ketemu." Jawab Vanila datar.
"Kok kamu nggak antusias sih Syah. Gus Azzam ganteng kan..?" Tanya Rere lagi.
"B aja." Jawab Vanila lagi yang membuat Rere jadi morang maring.
"Gantengkan relatif. menurut kak Rere Gus Azzam ganteng. tapi menurut aku biasa aja." Kata Vanila lagi.
"Mata kamu katarak kayaknya Syah. Semua santriwati bilang gus Azzam gantengloh. soalnya pas acara pengajian tahunan, gus Azzam selalu datang sama Umi dan Abinya. Karena anak-anak Kyai Abdullah, beberapa tahun ini nggak kelihatan, jadinya Gus Azzam yang selalu jadi pusat perhatian." terang Rere dengan semangat 45.
"Enak aja kakak bilang mata aku katarak. beneran loh. soalnya aku pernah jumpa yang lebih ganteng." Kata Vanila yang tiba-tiba ingat Al.
"Udah La, iyain aja. biar diam si Rere." Kata Juli yang baru datang.
"Hehe.. iya." Kata Vanila yang membuat Rere tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Adzan magribpun terdengar dikumandangkan. Semuanya bersiap-siap untuk melaksanakan sholat maghrib berjamaah. Setelah sholat dan berdoa, mereka sibuk dengan hapalan surah yang sudah di tugaskan. karena kalau tidak ada kajian, mereka melakukan kegiatan setor ayat.
Vanila yang sudah menghapal juzz 24, segera setoran, begitu dipersilahkan untuk setoran. Hapalan Vanila benar-benar membuat santriwati senior kagum, karena dalam waktu cepat Vanila bisa menghapal 1 juz.
Vanila sangat menikmati waktunya menjadi santriwati. Ummi Salma sudah mendaftarkan Vanila ke Madrasah Aliyah yang setara dengan SMA. MA tempat Vanila akan sekolah berada di luar lingkungan pesantren. Tapi sebagian besar santri dan santriwati ponpes Kyai Abdullah bersekolah disana.
"wah.. senin besok kamu masa orientasi murid baru ya Syah?" Tanya Juli.
"Iya kak. emang biasanya ngapain aja?" Tanya Vanila
"Orientasi murid baru di MA mah beda dari sekolah umum. kebanyakan sih melakukan kegiatan pengenalan sekolah, pengenalan ekskul atau kegiatan sekolah, trus ada kegiatan bakti soksial juga." jelas Juli.
"Nah iya itu" kata Juli. Melihat tingkah Juli Vanila jadi ingat Juki yang selalu bertingkah konyol.
HP Vanila berbunyi, terlihat di layar bahwa ada panggilan VC melalu WA dari bunda Ningrum.
"Asalamualaikum bunda." kata Vanila sambil tersenyum senang.
"Wa'alaikumussalam sayang. loh itu muka kenapa jadi itam gitu La?" tanya bunda Ningrum heran.
"Sebentar bunda... Kak Juli, aku ke kamar dulu ya. nanti balik lagi." kata Vanila lalu pergi meninggalkan Juli.
"Iya bunda, ini Lala kelamaan berjemur. jadi gosong gini." Jawab Vanila
"masak sih. cucian kali, La di jemur." Kata Bunda Ningrum mencoba bercanda.
Vanila masih sambil mengobrol dengan bunda Ningrum membersihkan wajahnya, dan membuka softlense yang digunakan. karrna Vanila nggak mau nanti, anak-anak panti malah histeris dan mimpi buruk melihat Vanila yang menyoklat.😅.
Vanila mengenakan jilbab sorong berwarna salem, yang membuat kulit putihnya semakin cantik.
"assalamualaikum kak Lala." sapa trio balita yang langsung bercerita dengan bahasa balitanya kepada Vanila, mereka mengobrol hampir 30 menit.
"Bun, bilangin Lala, Badai VC langsung aja." Terdengar suara Badai, ketika bunda Ningrum akan menyerahkan HPnya kepada Badai. Lalu bunda Ningrumpun izin untuk memutuskan VC nya.
"Assalamualaikum La." Kata Badai begitu melihat wajah Vanila muncul dj HPnya.
__ADS_1
"Wa'alaikumusalam kak." Jawab Vanila sambil tersenyum.
"Kamu jadi makin cantik La, pakai hijab." Kata Badai.
"Jelas cantik dong kak. Kalau ganteng berarti aku cowok." Kata Vanila sambil tertawa.
"Gimana di sana? betah La?"Tanya Badai.
"Betah banget. Lala juga sudah nambah juz hapalan." Kata Vanil.
"Alhamdulillah. seneng kakak dengarnya." Kata Badai sambil tersenyum
"btw anyway busway.. kak Guntur mana kak?" Tanya Vanila.
"Kak guntur sekarang lagi ngurus bisnisnya. Dia buka cafe gitu joint bareng temannya." kelas Badai.
"Wah.. hebat tuh kak Gutur. Ntar bisa jadi pengusaha sukses, punya usaha yang besar, trus jadi CEO muda, ketemu sekretaris cantik yang sholeha tapi galak, awalnya berantem, trus lama-lama jadi sukak, lalu menikah, punya anak, happy ending. the end." Kata Vanila panjang lebar sambl tertawa geli membayangkan kehidupan Guntur seperti novel yang ada di mangatoon yang suka dibaca Vanila.
"ini kehidupan nyata La. bukan novel. Dasar pecinta fiksi." ejek Badai.
"Biarin. seru tau. Oh iya btw, anyway n busway lagi nih ya kak, kakak nggak jadi daftar AAL?" Tanya Vanila
"Jadi, tapi kan bukanya bulan depan." Jawab Badai.
"Asaalamualaikum" Salam sebuah suara yang familiar dan wajahnya tiba-tiba muncul di layar hp Vanila.
"Woy hp abang tuh." Protes Badai.
"Biarin. Abis abang nggak mau kasih aki nomor Lala. Nggak mau bilang juga Lala kemana. aku pinjam bentar bang, sewa sewa deh. nanti aku bayar. kalau ingat." kata Jaki sambil nyengir ke arah Badai.
"Woy Lala, ngilang kemana kamu. bagus kamu ya. bisa bisanya ninggalin kak Jaki yang gantengnya nggak berujung ini." kata Jaki yang membuat Vanila tertawa.
"Jiah.. dia ketawa. jawab dong La." Kata Jaki yang tiba-tiba serius.
"Rahasia kak. nanti kalau aku bilang, ntar kakak nyusul lagi. lagian kakak kan rada-rada." Kata Vanila masih sambil tertawa.
"Bagi no hp kamu dong La. please..." kata Jaki sambil memperlihatkan cengiran kudanya.
"Nggak boleh. btw kakak udah baikan belum sama kak Ghalih?" Tanya Vanila.
"Udah dong. kemaren tuh si Ghalih lagi PMS jadinya dia moodian dan rada sensitif." kata Jaki yang tiba-tiba di getok sama Ghalih yang protes.
"Enak aja kamu Jak. Kamu tuh cowok jadi-jadian yang lagi PMS." protes Ghalih.
"Assalamualaikum kak." sapa Vanila sewaktu melihat wajah Ghalih.
"wa'alaikummussalam. MashaAllah kamu cantik banget La." Jawab Ghlih sambil tersenyum.
"Mulai.. ngegombal." Protes Jaki yang nggak mau ngalah.
"Kenyataan tau." Kata Ghalih lagi.
__ADS_1
Obrolan seru mereka bertiga, membuat Badai tereliminasi. Sementata Jaki yang akhlak dan otaknya agak minimalis, nggak perduli kalau hp yang digunakan adalah hp Badai. mereka bertiga terus ngobrol lebih dari 1 jam, yang membuat Vanila rindu suasana sekolah dimana ada Jaki dan Ghalih.