
Setelah membereskan urusannya, Vanila menemui Fatih, pengurus dan anak-anak panti yang lain.
"Assalamualaikum. Maaf semalam tidak bisa menemani. Soalnya ada yang harus Lala urus." Kata Vanila ketika sampai di aula tempat sarapan.
"Nggak apa-apa La. Kami ngerti kok." kata Fatih, Lalu mereka melanjutkan sarapannya.
Hari ini mereka akan mengunjungi beberapa tempat wisata yang lokasinya tidak begitu jauh dari hotel. Semuanya terlihat lelah, tetapi mereka merasakan sangat bahagia, terutama anak-anak, karena mereka puas bermain.
Setelah puas bermain dari pagi sampai sore, mereka kembali ke hotel untuk beristirahat, kemudian paginya melanjutkan perjalanan kembali ke panti.
Vanila ada urusan mendadak yang harus dilakukannya di kota S, sehingga Ia memutuskan untuk kembali duluan. Sebenarnya pak Arman akan mengantar Vanila, tapi Vanila lebih memilih naik transportasi online, karena besok pagi pak Arman harus mengantar Oma ratna dan beberapa pengurus panti yang satu mobil dengan Vanila.
Perjalanan dari hotel ke kota S memakan waktu sekitar 4 jam. Vanila yang mulai lelah, memutuskan untuk memejamkan matanya, mengistirahatkan tubuhnya yang mulai lelah.
"Saya izin istirahat dulu ya pak. Kalau Bapak lelah atau ngantuk, kita istirahat saja. Tidak usah dipaksakan." Kata Vanila.
"Baik non. Silahkan istirahat." Kata Bapak supir online ramah.
Vanilapun akhirnya mulai mengarungi dunia mimpi. Namun mimpinya berubah menjadi mimpi buruk, karena mobil yang membawa Vanila ke kota S mengalami kecelakaan. Sebuah truk yang mengalami rem blong, menabrak bagian samping mobil, sehingga menyebabkan Vanila mengalami luka yang cukup parah.
Pengguna jalan yang melihat kejadian itu, segera melarikan Vanila dan supir transportasi online ke rumah sakit terdekat.
"apa yang terjadi sus?" Tanya seorang pria yang mengenakan snelli ikut membantu mendorong brankar dengan seorang pasien yang terluka cukup parah.
"Kecelakaan Dok. Pasien mengalami cedera parah dibagian kepalanya." Terang suster yang ikut mendorong brankar.
Dokter dan beberapa orang suster segera memberikan pertolongan terhadap pasien di ruangan IGD.
Suster yang bernama Diana, membuka jilbab Vanila, dan mulai membersihkan darah yang menutupi wajah Vanila. Benturan akibat kecelakaan itu membuat luka yang cukup serius di bagian kepala Vanila.
"MashAllah. Cantik sekali pasien ini." Kata suster Diana yang sudah selesai membersihkan wajah Vanila dari darah yang tadi menutupi wajahnya.
Dokter Abimana dan perawat yang lain jadi tertarik memandang Vanila yang memang cantik.
Setelah memberikan pertolongan dan membersihkan darah dari kepala dan wajah Vanila, mereka segera menjahit lukanya, dan memasang beberapa alat kesehatan lainnya.
"Sepertinya kita harus lakukan CT scan sus. Tolong dipersiapkan." Kata Dokter Abimana yang melihat luka yang cukup serius dibagian kepala Vanila. Ia khawatir terjadi penggumpalan darah atau gegar otak di kepala Vanila.
"Baik dok." Jawab suster Anita
"Apakah keluarga pasien sudah dihubungi?" tanya Dr. Abimana lagi.
__ADS_1
"Sudah Dok. Pihak kepolisian yang menghubunginya." Jawab suster Ana.
"Baguslah kalau begitu. Bagaimana dengan pasien yang satu lagi?" Tanya Dr. Abimana.
"Dokter Aryo yang tangani dok." Jawab suster Ana.
"Baiklah. Kalau hasil CT scan sudah keluar, segera bawa ke ruangan saya. Jaga pasien dengan baik, karena dia belum keluar dari masa kritis." Terang Dr. Abimana.
Beberapa orang perawat melakukan ct scan terhadap Vanila. Untungnya walaupun bagian kepalanya terdapat luka cukup parah, tapi tidak ada penggumpalan darah, dan Vanila hanya mengalami gegar otak ringan.
Arlan yang mendapat telpon dari pihak kepolisian yang mengatakan bahwa Vanila mengalami kecelakaan, langsung menghubungi mbok Sa, karena mbok Sa yang posisinya paling dekat dengan Vanila. Arlan berpesan, tidak boleh ada yang tahu masalah kecelakaan Vanila.
Setelah menempuh perjalanan hampir sekitar 2 jam, mbok Sa dan Pak Arman sampai di rumah sakit tempat Vanila di rawat. Mbok Sa hanya bisa menangis melihat nona kecilnya terbaring lemah di brankar rumah sakit, dengan beberapa alat kesehatan yang terpasang di tubuhnya. Dokter Abimana yang mengetahui kalau keluarga pasien sudah datang, meminta suster untuk memanggil mbok Sa ke ruangannya.
Dokter Abimana agak sedikit terkejut melihat Mbok Sa ketika masuk ruangannya, karena mbok Sa tidak mirip sama sekali dengan Vanila.
"Ibu ini siapanya pasien?" Tanya Dokter Abimana setelah meminta mbok Sa duduk di kursi yang berada di depan Dokter Abimana.
"Saya pengasuhnya dok. Papanya non Lala lagi di luar kota. Dua atau tiga jam lagi baru bisa sampai ke sini. Bagaimana kondisi non Lala dok?" Tanya mbok Sa dengan air mata yang sudah tidak bisa terbendung lagi mengingat kondisi Vanila.
"Ibu tenang dulu. Saya akan jelaskan kondisi pasien secara garis besarnya. Kecelakaan yang dialami menyebabkan luka yang cukup parah di bagian dahi pasien. Tetapi setelah kami melakukan ct scan, pasien tidak mengalami kondisi yang terlalu serius. Tidak ada penggumpalan darah di kepalanya, pasien hanya mengalami gegar otak ringan. Satu lagi, Kaki pasien mengalami retak tulang. Kami akan melakukan tindakan setelah melihat perkembangan kondisi pasien nanti." Jelas dokter Abimana.
Arlan yang mendengar Vanila kecelakaan, langsung meminta sekretarisnya mencarikan penerbangan secepatnya untuk menuju kota S. Arlan benar-benar sangat mengkhawatirkan kondisi Vanila.
Sesampainya di rumah sakit setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, Arlan langsung menuju ruang ICU diantar pak Arman yang menjemput ke Bandara.
Arlan cukup terpukul melihat kondisi Vanila yang terbaring, dengan kepala di perban, swlang infus di tangan kirinya dan alat bantu pernafasan yang terpasang dihidungnya.
"Lala harus kuat. Jangan tinggalin papa." Kata Arlan di balik kaca ruang ICU karena Vanila tidak bisa di kunjungi.
"Kata dokter yang menangani non Lala, untuk sementara kondisi non Lala alhamdulillah tidak begitu mengkhawatirkan tuan. Kita harus berdoa supaya non Lala cepat sadar." Terang mbok Sa.
"Iya. Mbok jaga Lala. Saya cari dokter yang menangani Lala." Kata Arlan yang menghapus air mata di wajah tuanya yang kelihatan lelah, lalu pergi mencari ruangan dokter jaga.
Dokter Abimana masih berada di ruangannya ketika Arlan datang, dan Ia menyampaikan hal yang sama seperti yang disampaikan ke mbok Sa.
"Jadi tuan jangan khawatir. Kami akan melakukan yang terbaik untuk nona Lala." Kata Dokter Abimana yang berusaha menenangkan Arlan.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Dokter Abimana sedang melakukan pemeriksaan kepada Vanila, ketika Vanila mulai membuka matanya. Dokter Abimana cukup terpana dengan mata hazel Vanila yang cerah, walaupun dalam kondisi sakit.
__ADS_1
"Saya di mana?" Tanya Vanila dengan suara lemah.
"Nona ada di rumah sakit. Apa yang nona rasakan?" Tanya dokter Abimana.
"Kepala saya sakit. Rasanya berat sekali. Kaki kiri saya juga sakit dok." Kata Vanila
"Ok. Saya periksa dulu." Kata dokter Abimana lalu mulai memeriksa Vanila kembali.
"Bagaimana kondisi pak supir yang bersama saya dok?" Tanya Vanila.
"Pak supir yang mangalami kecelakaan bersama nona tidak terlalu parah. Hanya mengalami sedikit memar, dan beliau sudah dibawa anggota keluarganya pulang." Jawab dokter Abimana.
"Syukurlah." Kata Vanila.
"Saya sudah selesai memeriksa nona, dan nona juga sudah melewati masa kritis. Saya akan memberitahu keluarga nona, kalau nona sudah sadar. Kami juga akan memindahkan nona ke ruang perawatan." Terang Dokter Abimana.
"Keluarga?" Tanya Vanila heran.
"Iya, pengasuh dan papa nona." Jawab dokter Abimana.
Vanila yang masih merasakan sakit dan agak lelah, memutuskan untuk menutup matanya ketika dokter Abimana pamit keluar ruangan ICU, memberitahu kelurga Vanila, bahwa Vanila sudah sadar dan akan di pindahkan ke ruang VVIP seperti permintaan Arlan.
"Suster, apakah ada kain untuk menutup rambut saya?"Tanya Vanila yang baru sadar kalau Ia tidak memakai hijab lagi.
"Sebentar nona. Untuk sementara apakah bisa menggunakan selimut?"Tanya suster Diana
"Its ok. Terimakasih sus." Kata Vanila. Lalu membantu Vanila untuk menutup rambutnya dengan selimut. Kemudian mendorong beankar Vanila ke ruangan VVIP yang sudah di pesan oleh Arlan.
Sesampainya di ruangan VVIP, dokter Abimana dan beberapa perawat pria membantu memindahkan Vanila ke brankar yang ada di ruangannya. Setelah Vanila pindah, mbok Sa dan seorang perawat wanita, membantu Vanila menyeka tubuhnya dan mengganti bajunya dengan pakaian rumah sakit.
"Sayang. Apa yang sakit? Bilang sama papa La." Kata Arlan begitu masuk ruangan Vanila dengan wajah khawatirnya.
"Nggak apa-apa Pa. Lala nggak apa-apa." Kata Vanila yang berusaha tersenyum supaya papanya tidak khawatir. Padahal seluruh tubuhnya terasa sakit. Ingin rasanya Vanila menangis. Tapi melihat wajah khawatir papanya, membuat Vanila memilih untuk tersenyum menenangkan papanya.
"Kalau ada apa-apa, Lala bilang sama papa ya? Papa akan disini jagain Lala." Kata Arlan sambil menggenggam tangan kanan Vanila.
"Papa istirahat aja. Lala sudah nggak apa-apa pa." Kata Vanila lagi.
"Ya udah. Papa akan istirahat. Lala juga ya." Kata Arlan sambil mengecup kepala Vanila, lalu beristirahat di tempat tidur yang memang disediakan buat keluarga pasien.
Vanila juga memilih untuk memejamkan matanya, agar sakit yang di rasanya bisa berkurang. Tapi ketika sakitnya mulai tidak tertahankan, Vanila banyak-banyak beristigfar dan berzikir.
__ADS_1