Vanilarea

Vanilarea
Pernikahan (part 2)


__ADS_3

Hari ini Liliana menikah dengan pria yang dicintainya. Mereka sudah lama menjalin hubungan, sejak Liliana kuliah di negara M. Rahmat adalah pria asli warga negara M. Ia pria yang baik, sopan dan pekerja keras. Hal itulah yang membuat Arlan menyetujui hubungan Rahmat dan Liliana.


Liliana terlihat sangat cantik dengan gaun panjang berwarna broken white. Sedangkan adik-adiknya yang menjadi pengiring pengantin, menggunakan kebaya berwarna merah. Semua putri-putri Arlan sangat cantik. Mereka punya kecantikan masing-masing.


Liliana memasuki ballroom hotel menuju tempat akad nikah berlangsung. Senyum selalu menghiasi wajahnya yang memang sedang bahagia. Arland terharu melihat putri-putrinya, dan air mata tidak dapat dibendungnya ketika melihat Vanila.


"Putri kita sudah besar sayang. Hari ini aku akan menyerahkan tanggungjawabku menjaga Liliana kepada pria yang dicintainya. Seandainya kamu masih ada disini Rosa."Kata Arlan lirih dalam hati.


Liliana duduk di samping Rahmat. Vanil dan Dahlia memasangkan kerudung putih, di kepala Liliana dan Rahmat. Lalu mereka duduk di kursi yang posisinya tidak jauh dari tempat akad. Arlan menjabat tangan Rahmat dan segera melaksanakan ijab kabul.


"Sah" Kata yang di ucapkan penghulu, dan orang-orang yang menyaksikan acara Ijab Kabul, ketika Rahmat selesai mengucapkan ijab kabul. Kemudian dilanjutkan prosesi pemasangan cincin nikah, penandatanganan buku nikah, dan sungkem kepada orang tua mempelai. Arlan didampingi Kakak sepupunya, menerima sungkeman Rahmat dan Liliana.


Setelah acara prosesi pernikahan adat sunda dilakukan, para tamu undangan dipersilahkan untuk menikmati konsumsi yang disediakan.


Vanila selalu bersama mbok Sa, kecuali pada saat foto keluarga atau prosesi yang harus melibatkan keluarga.


"Mbok ambilkan non makan ya." Kata mbok Sa ingin berdiri dari duduknya.


"Nggak usah mbok. ini Vano sudah ambilkan. Makan Va." Kata Vano meletakkan piring yang berisi makanan dengan porsi yang tidak begitu banyak dihadapan Vanila.


"Kakak nggak perlu repot-reopot. Aku bisa ambil sendiri."Kata Vanila sinis


"Mubazir itu nggak bagus loh Va." Kata Vano lagi.


Dengan terpaksa Vanila memakan, makanan yang di bawa Vano, dan Vano tahu sekali, kalau Vanila makan itu, lauk dan sayurnya yg banyak, nasinya sedikit saja.


Tidak lama kemudian Fatir datang membawakan Vanila piring yang berisi potongan buah dan puding.


"Hi.. La.. kite jumpe lagi. itu saye bawakan buah same puding" Kata Fatir sambil tersenyum kepada Vanila.


Vanila memandang Vano dan Fatir yang sedang tatap-tapan dengan pandangan sinis(Kalau di cerita cartoon udah ada kilatan petir antara mata Vano dan Fatir 😅)

__ADS_1


Vanila yang merasa ada sesuatu yang tidak enak, segera menghabiskan makanannya, memakan sepotong puding, sebagai bentuk menghargai usaha Fatir, meminum air putih yang ada di gelas hingga habis, lalu permisi pergi meninggalkan Vano dan Fatir.


Vano dan Fatir hanya memandang Vanila yang mulai menjauh dari mereka.


Vanila kembali ke kamarnya, segera ganti baju dan membersihkan makeup yang tadi digunakan. Lalu Vanila mengistirahatkan tubuhnya di atas tempat tidur yang berukuran besar.


"ting nong.. ting nong" suara bel kamar hotel sukses membuat Vanila terbangun dati tidurnya. Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, Vanila berjalan ke arah pintu dan membuka pintu kamarnya.


"Non tidur? Maaf, bibik bangunin non." Kata mbok Sa


"Nggak apa mbok" kata Vanila lalu berjalan kembali ke kasurnya.


"Sudah sore non. Non mandi dulu, nanti neng Angel datang sama asistennya jam 6." terang mbok Sa.


Tanpa banyak ngomong, Vanila segera menuju kamar mandi, biar lebih segar. Sementara mbok Sa, membereskan laptop dan buku-buku yang berantakan di atas kasur.


Keluar dari kamar mandi, Vanila menggunakan bathrobe dan menggosok rambutnya dengan handuk biar cepat kering. Mbok Sa segera mengambil handuk dari tangan Vanila, lalu mebantunya mengeringkan rambut Vanila, memberi vitamin rambut dan menyisir rambut Vanila dengan rapi.


"Umur Lo beneran 8?" Tanya Angel yang masih tidak percaya, karena kalau dilihat dari fisik Vanila yang tinggi Ia kelihatan seperti gadis yang berusia 14 tahun, tapi dari segi wajahnya yang imut, Vanila kelihatan seperti anak-anak yang menggemaskan.


"Perlu aku kasih kakak akte kelahiran biar percaya?" Kata Vanila.


"Nggak perlu keles. Cuma gue susah aja buat percaya, secara sikap lo nggak kayak bocah." Kata Angel lagi.


"Banyak yang kirim salam noh ďi IG gue, waktu gue posting foto kita waktu acara siraman. kalau gue posting foto Lo, yang sekarang, bisa heboh lagi nih IG gue."Kata Angel yang memperlihatkan postingan IGnya kepada Vanila.


Vanila yang melihat IG Angela, hanya tersenyum dan tidak perduli. Sebenarnya Vanila punya IG, tapi IG nya hanya menampilkan quotes dan gambar pemandangan tempat-tempat yang pernah ia kunjungi.


Di acara resepsi, Vanila kembali menjadi pusat perhatian, karena penampilannya yang begitu menarik perhatian. Vano yang juga hadir di acara itu selalu berusaha mendekati Vanila, yang membuat Dahlia semakin tidak menyukai Vanila.


"Kakak, jauh-jauh deh dari aku." Kata Vanila yang melihat Vano, duduk disampingnya.

__ADS_1


"Inikan tempat umum Va. Siapa aja boleh dong duduk disini. Lagian kakak nggak makan orang kok" Kata Vano yang mencoba bercanda.


Resepsi yang diadakan lebih bersifat kekeluargaan dengan konsep garden party. sehingga tidak ada panggung tempat pengantin yang biasanya di pajang.


Vanila yang berusaha menghindari Vano, pergi meninggalkan Vano. Tetapi Vano yang tidak mudah menyerah, kembali mendekati Vanila, seperti bayangan yang mengikuti kemana Vanila pergi.


"Va, jangan lari terus." Kata Vano yang berusaha menahan Vanila dengan memegang tangannya. Vanila melihat kearah Vano dengan tatapan tidak suka, karena Vano memegang tangannya. Sewaktu Vanila membalikkan badannya, bermaksud meninggalkan Vano, Vanila melihat Jenifer yang menatap Vanila dengan tatapan marah.


Vanila berjalan mendekati Jenifer dan memegang tangan Jenifer, menahan agar Jenifer tidak pergi.


"Kamu jangan salah paham Je. Kak Vano dan aku nggak ada hubungan."Jelas Vanila


Jenifer menghempaskan tangan Vanila dan menatap Vanila masih dengan tatapan marah.


"Kamu munafik La. Aku nggak mau punya teman kayak kamu. Kamu bilang tidak ada hubungan dengan Vano, tapi kenyataannya apa La? Kamu tetap aja sama kak Vano. Kamu tahukan La, gimana perasaan aku dengan kak Vano." Kata Jenifer


"Tapi Je, aku beneran nggak ada hubungan dengan kak Vano." Kata Vanila lagi.


Vano yang melihat Vanila dipojokkan oleh Jenifer berjalan mendekati mereka.


"Maaf kan kakak Je. ini semua salah kakak. Vanila nggak salah. Tapi perasaan nggak bisa dipaksakan Je."Kata Vano


"Kalian berdua jahat. Aku benci kalian. benci." Kata Jenifer lalu berlari meninggalkan Vanila dan Vano.


Vanila mengejar Jenifer, tetapi karena kebaya yang digunakannya membuat Vanila kesulitan untuk mengejar Jenifer.


Vanila terduduk di bangku yang ada di taman sambil menangis.


"Maafkan kakak Va." Kata Vano yang duduk disamping Vanila


Vanila berdiri meninggalkan Vano tanpa berbicara sepatah katapun.

__ADS_1


__ADS_2