Vanilarea

Vanilarea
Bertemu


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama 13 jam, Vanila sampai di negara I di kota S tempat mbok Sa tinggal selama Vanila di negara J.


Vanila segera menghubungi pengacaranya menanyakan dimana mbok Sa di rawat. Setelah mendapat informasi, Vanila dan Carl segera menuju ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Vanila segera menanyakan ruang ICU kepada resepsionis kemudian berjalan cepat menuju ICU. Carl dan Vanila tentu saja menjadi perhatian orang-orang yang berada di rumah sakit. Mereka mengira kalau Carl adalah suami atau pacar Vanila, karena selalu mengikuti kemana Vanila pergi.


Sesampainya di depan ICU, Vanila melihat pak Arman yang sedang duduk di bangku yang ada di lorong ICU.


"Pak Arman." Panggil Vanila membuat pria yang sudah kelihatan tua itu menoleh ke arah yang sangat di kenalnya.


"Non Lala." Kata pak Arman dengan mata berkaca-kaca karena ia senang bisa melihat Vanila lagi.


"Bagaimana mbok Sa?" Tanya Vanila


"Non Lala bisa lihat sendiri. Sa saat ini sedang koma."Kata pak Arman dengan air mata yang mengalir, karena melihat kondisi istrinya.


"Bagaimana mbok Sa bisa kecelakaan?" Tanya Vanila


"Sa selalu ke makam tuan Arlan untuk membersihkannya seperti pesan non. Saya sudah bilang ke makamnya besok saja, karena saya lagi tidak enak badan, takut tidak konsentrasi nyetir karena habis minum obat. Tapi Sa memutuskan untuk pergi sendiri. Saya dapat kabar dari polisi kalau Sa mengalami kecelakaan dan ada di sini. Sewaktu saya datang, dokter bilang kondisinya lumayan parah. Ada penggumpalan darah di kepala Sa, itu salah satu penyebab Sa koma." Terang pak Arman sambil sesegukan, mengingat kejadian penyebab mbok Sa kecelakaan.


"Lala mau ketemu dokter yang rawat mbok Sa." Kata Vanila yang tiba-tiba hampir mau jatuh karena kepalanya sedikit pusing. Carl segera menahan Vanila agar tidak terjatuh.


"Terimakasih." Kata Vanila dan segera melepaskan pegangan Carl.


"Sepertinya kamu mengalami jet lag. Kamu harus istirahat dulu." Kata Carl yang masih berjaga-jaga takut Vanila jatuh.


"Saya tidak apa-apa. Oh iya, tuan, eh Carl, anda harus istirahat. Tidak jauh dari rumah sakit ini ada hotel keluarga saya. Anda istirahat saja dulu di sana." Kata Vanila.


"Saya akan ke hotel kalau kamu juga ke hotel untuk istirahat." Jawab Carl.


"Tapi saya harus ketemu dokter mbok Sa. Saya akan terus di rumah sakit." Kata Vanila lagi.


"Kalau begitu saya juga akan di rumah sakit." Kata Carl.


"Terserahlah." Kata Vanila lalu berjalan ke ruangan dokter jaga ICU.


Dokter jaga menjelaskan kondisi mbok Sa, dan Vanila melihat rekam medis dan hasil CT Scan yang dilakukan pihak rumah sakit. Vanila mengamati rekam medis Vanila dan hasil CT Scan.


"Kenapa tidak di operasi?" Tanya Carl

__ADS_1


"Terlalu beresiko karena umur mbok Sa." Jawab Vanila


"Bagaimana anda tahu?" Tanya dokter itu heran.


Vanila tidak menjawab, Vanila terus mengamati hasil CT Scan yang sedang di pegangnya. Vanila sedang mencari cara untuk mengurangi atau mengeluarkan penggumpalan darah yang ada di sekitar otak belakang mbok Sa, tanpa harus melakukan operasi besar.


Setelah mengamati, Vanila menemukan cara untuk mengeluarkan gumpalan darah yang tertahan.


"Kita bisa mengeluarkan hematoma yang di alami mbok Sa, tanpa melakukan operasi besar." Kata Vanila kepada dokter jaga.


"Tidak ada cara mengeluarkan hematoma tanpa operasi besar. Saya sudah berpengalaman dibidang ini lebih dari 10 tahun. Resikonya terlalu besar untuk melakukan operasi. Mengingat umur beliau yang sudah sangat tua. Sebaiknya kamu banyak-banyak berdoa, atau ikhlaskan saja." Kata dokter itu sedikit sombong dan membuat Vanila marah.


"Anda bukan Tuhan, yang bisa memutuskan hidup mati seseorang. Lagian bukankah dokter sudah di sumpah untuk menyelamatkan nyawa pasiennya?" Kata Vanila emosi yang membuat kepalanya kembali pusing. Carl kembali menahan Vanila agar tidak terjatuh.


"Kamu istirahat dulu saja Aisyah." Kata Carl.


"Tapi kita tidak punya banyak waktu." Kata Vanila.


"Vanila menjelaskan tindakan yang harus di ambil dokter itu untuk menyelamatkan mbok Sa. Karena Vanila tidak mungkin melakukan operasi, karena kondisi tubuhnya yang lelah dan masih mengalami jet lag setelah berada di udara kurang lebih 13 jam.


Vanila menjelaskan dengan terperinci setiap tindakan yang harus di lakukan dokter itu, yang membuat dokter yang menangani mbok Sa heran, bagaimana mungkin gadis muda seperti Vanila bisa menjelaskan proses pengeluaran hematoma tanpa melakukan operasi besar.


"Saya sudah 2 kali melakukannya. Dan Alhamdulillah berhasil. Bahkan pasien terakhir saya lebih tua dari mbok Sa." Jawab Vanila.


"Jadi kamu dokter?, saya kira kamu masih kecil, kalau memperhatikan wajah kamu yang seperti anak-anak." Kata dokter yang merawat mbok Sa bernama dokter Andri.


"Dokter lakukan seperti yang saya jelaskan tadi. Percaya dengan saya. InshaAllah cara itu berhasil. Dokter tidak usah ragu dengan saya." Kata Vanila sambil me geluarkan kartu keanggotaannya dokternya di rumah sakit Cathrine, yang membuat Dokter Andri semakin terkejut, karena tahu bahwa rumah sakit yang mengeluarkan kartu dokter Vanila adalah rumah sakit yang besar di negara J, dan mereka hanya menerima lulusan terbaik dari universitas kedokteran ternama yaag ada di negara J.


Dokter Andri segera mempersiapkan diri dan ruangan untuk melakukan tindakan mengeluarkan hematoma yang ada di kepala mbok Sa.


Vanila masuk ke ruang ICU, dan menggenggam tangan mbok Sa.


"Maafin Lala mbok. Mbok harus sembuh. Lala janji, Lala nggak akan ninggalin mbok lagi. Kita akan sama-sama terus." Kata Vanila sambil mencium pipi keriput mbok Sa dan tangannya.


Setelah mempersiapkan ruang operasi, dokter Andri dan beberapa orang perawat, membawa mbok Sa keruang operasi.


Vanila, Carl dan pak Arman menunggu di depan ruang operasi. Carl meminta Vanila untuk memakan roti dan meminum teh hangat yang ia beli di kantin rumah sakit.


"Saya tidak lapar." tolak Vanila

__ADS_1


"Tapi kamu harus makan. Kamu harus kuat. Kan nggak lucu kalau dokter sakit." Kata Carl yang mencoba bercanda.


"Terimakasih." Kata Vanila lalu mengambil teh dan roti yang Carl sodorkan.


"Va..."


"brak.." Suara benda terjatuh yang posisinya tidak jauh dari Vanila yang membuat Vanila, Carl dan pak Arman menatap ke sumber suara.


Vanila melihat seorang pria yang terlihat masih sangat tampan seperti dulu menjatuhkan kernjang buah yang di bawanya, dan masih berdiri terpaku, tidak jauh dari Vanila.


Vanila tersenyum melihat Vano, yang membuat Vano tersadar bahwa yang dilihatnya beneran Vanila.


"Assalamualaikum kak." Salam Vanila ramah.


"Wa'alaikumussalam. Ini beneran kamu kan Va?" Kata Vano yang langsung jalan menuju Vanila dan tanpa sadar memegang tangan Vanila yang sedang memegang roti.


"Iya kak. Ini Lala." Kata Vanila sambil tersenyum.


"Alhamdulillah. Kamu baik-baik aja Va. Kakak senang bisa lihat kamu lagi." Kata Vano sambil mengguncang-guncang tangan Vanila.


"Kak.."


"Maaf." Kata Vano yang jadi salah tingkah karena memegang tangan Vanila. Ini pertama kalinya Vano memegang tangan Vanila, karena Vanila selalu menjaga batasan dengan lawan jenisnya.


"Bagaimana kabar abah dan umi?" Tanya Vanila dengan wajah sedih, karena tiba-tiba Vanila merasa rindu dengan mantan mertuanya.


"Umi sama abah baik-baik saja. Umi sering tanya, apakah kakak tahu kabar kamu atau tidak. Umi mau minta maaf, untuk sikap terakhir umi sama kamu." Jelas Vano.


"Alhamdulillah kalau umi dan abah baik-baik saja." Kata Vanila sambil tersenyum.


"Kamu menghilang kemana aja sih Va? Kakak nyariin kamu kemana-mana, tapi tidak bisa menemukan keberadaan kamu." Tanya Vano.


"Yang jelas Lala baik-baik aja. Kakak nggak perlu tahu Lala ada di mana." Jawab Vanila.


"ehem" Deheman Carl membuat Vano dan Vanila sadar kalau ada orang lain di antara mereka.


"oh iya maaf. Kak Vano kenalkan ini tuan Carl, dan tuan Carl ini kak Vano." Kata Vanila memperkenalkan Carl dan Vano.


Vano mengulurkan tangannya untuk bersalaman, dan Carl menyambut uluran tangan Vano. Tapi Vano dan Carl sama-sama merasa tidak nyaman. (seperti ada kilatan petir yang saling menyambar dari mata Vano dan Carl 😅😅). Insting laki-laki mereka menganggap bahwa orang yang dihadapannya merupakan ancaman untuk mendapatkan Vanila.

__ADS_1


__ADS_2