
Setelah acara rapat yang cukup menguras air mata, karena di saat terakhir tiba-tiba suasana menjadi sedih. Vanila adalah sosok orang yang buat AerSS ada, sosok yang selalu ceria, tidak pernah marah, dan selalu menganggap semua karyawannya adalah keluarga. Walaupun modal awal Vanila yang keluarkan, tapi Vanila membuat perusahaan itu milik semua yang terlibat di AerSS.
Sewaktu jam makan siang, Aldrin dan Vano datang menjemput Vanila, dan akhirnya diputuskan kalau Aldrin akan mentraktir makan siang karyawan AerSS hari itu. Karena itu adalah makan siang perpisahan, akhirnya mereka menutup sementara kantor AerSS dan pergi ke restoran langganan mereka yang lokasinya tidak jauh dari AerSS.
"Nempel muluk bang, kayak perangko." Kata Satya bercanda yang melihat Aldrin tidak pernah melepaskan Vanila. Sepanjang perjalanan Aldrin memegang tangan Vanila, hal itu sebenarnya tentu aja menarik perhatian siapapun yang melihat mereka, yang satu cantik, ysng satunya lagi ganteng.
"Maklumlah bang Satya, Mas Aldrin lama di tinggal Vanila." Jawab Vano sambil tertawa membuat yang lain juga ikutan tertawa, sementara Aldrin hanya diam malu-malu, sementara Vanila cuek-cuek aja, malah Ia lahi fokus melihat buku menu.
Mereka menikmati makan siang dengan hidmat, dan sesekali di selingi candaan. Satya selalu saja menggoda Vanila, sehingga hampir sepanjang acara makan, ada saja hal yang mereka debatkan.
"Jam berapa besok berangkat Ae?" Tanya Satya.
"Penerbangan pagi. Abang nggak usah antar aku. Kaau abang antar aku, ntar abang nangis lagi." Ejek Vanila.
"Enak aja. Abang itu cowok tegar tau." Kata Satya.
"Oh iya kak Amel. Kalau minggu depan bang Satya nggak ngelamar kakak, tinggalin aja. Ntar kakak aku cariin calon suami yang kualifikasinya di ataa bang Satya." Kata Vanila.
"Enak aja. Besok abang lamar. Puas kamu Ae?" Tanya Satya yang langsung protea.
"Puas dong. Beneran besok?, ngelamar anak orang loh ini." kata Vanila lagi.
"Iya kalau Amel bersedia besok, abang akan bawak keluarga abang datang." Kata Satya lagi.
"Beneran?" tanya Amel.
"Benar sayang." kata Satya dan langsung di sorakin sama yang lain.
Selesai acara makan siang, karyawan AerSS yang lain kembali ke kantor, sementara Vanila, Aldrin dan Vano kembali ke hotel.
"Kamu nggak beres-beres La?" Tanya Aldrin.
"Nggak mas. Ntar baju-baju Lala, Lala kasihkan aja sama yang butuh." Kata Vanila.
"Istti mas memang orang baik." kata Aldrin sambil mencubit hidung Vanila gemas.
"Ih. Sakit tau mas. Ntar idung Lala copot loh." protes Vanila sambil memegang hidungnya.
__ADS_1
"Ada-ada aja kamu La, idung bisa copot. Tambah mancung ia. Gemes deh." Kata Aldrin bermaksud mencubit hidung Vanila, tetapi segera di tepis Vanila.
"Sakit mas. Jangan cubit lagi." kata Vanila.
"Oh iya, besok kita langsung ke kota S. Mau buat kejutan buat umi. Umi pasti senang." kata Aldrin.
"Iya. Umi mau kita belikan oleh-oleh apa?" Tanya Vanila.
"Umi nggak butuh oleh-oleh lain. Umi cuma butuh oleh-olehnya kamu." Kata Aldrin yang berhasil mencubit hidung Vanila kembali, lalu kabur sambil tertawa karena melihat Vanila yang mulai marah.
"Mas. Awas ya." kata Vanila marah, lalu berlari masuk ke kamarnya. Aldrin mengira kalau Vanila akan mengejrnya, ternyata diluar dugaan Aldrin, Vanila malah masuk dan mengunci pintu kamarnya.
"tok tok"
"La, maafin mas. Buka pintunya dong La. Kan rencananya mas mau kayak pelem pelem india gitu, kita lari-larian." Kata Aldrin yang masih mengetok pintu kamar Vanila.
Vanila sebenarnya tidak marah dengan Aldrin, Ia hanya mengerjai Aldrin. Di dalam kamar, Vanila malah berendam di bath tub untuk membuat dirinya sedikit relax.Sementara Aldrin terus mengetuk-ngetuk pintu Vanila mengucapkan berbagai kata maaf dan penyesalan.
Hampir sejam Vanila berendam, mandi lalu mengenakan pakaian rumahnya. Tidak lupa mengenakan jilbab instan untuk menutup kepalanya.
"Kenapa sih mas? Berisik banget." Tanya Vanila yang membuka pintu lalu keluar dari kamar, dan tercium aroma tubuh Vanila yang wangi sehabis mandi, membuat Aldrin bengong.
Aldrin mengira Vanila akan merajuk, trus menangis tersedu-sedu di atas tempat tidur. Aldrin yang khawatir dengan Vanila, eh Vanilanya malah dengan santainya pergi mandi dan sekarang dengan cueknya melewayi Aldrin dan duduk di sofa.
"Mas khawatir sama kamu. Eh kamunya malah enak-enak mandi. Sini mas kasih pelajaran." Kata Aldrin yang mendekati Vanila. Vanila yang sadar Aldrin akan berbuat jahil kembali memilih hendak kabur, tapi Aldrin berhasil menangkap tang Vanila, dan membuat Vanila jatuh kepelukan Aldrin.
Wajah Vanila berada di dada Aldrin, sehingga Vanila bisa mendengar detak jantung Aldrin yang berpacu sangat cepat. Aldrin memeluk Vanila dan tidak ingin melepaskannya.
Vanila yang merasa bahwa dirinya dalam bahaya sebagai perempuan, memutuskan untuk berdiri, tetapi Aldrin memeluknya makin erat.
"Biar seperti ini dulu La. Mas kangen banget sama kamu. Mas tidak akan lakukan lebih dari ini jika kamu tidak mengizinkan." Kata Aldrin yang membuat Vanila mulai melingkarkan tangannya ke pinggung Aldrin, dan menikmati berada dalam pelukan suaminya.
"Maafkan Lala ya mas." Kata Vanila yang merasa bersalah sambil mendongakkan wajahnya,berusaha melihat wajah Aldrin.
Wajah mereka sangat dekat, membuat Vanila bisa merasakan hembusan nafas Aldrin yang hangat menyapu wajahnya. Karena terbawa suasana, dan Aldrin melihat wajah Vanila yang imut, dengan bibir mungilnya yang menggemaskan, membuat Aldrin tidak tahan lagi untuk ******* bibir mungil Vanila.
Vanila yang mengerti, bahwa mereka sudah menikah, dan sah secara agama, hanya diam saja ketika Aldrin mencium bibirnya dengan lembut. Vanila memejamkan matanya, menikmati ciuman lembut dari suaminya.
__ADS_1
Aldrin yang tersadar karena sedang dikuasai nafsu, melepaskan ciumannya.
"Maafkan mas La." kata Aldrin dengan wajah yang memerah dan nafas yang masih belum stabil. Vanila hanya tersenyum melihat Aldrin yang merasa bersalah.
"Nggak apa-apa mas. Asalkan mas nggak lakuin lebih dari ini. Lala tahu mas berhak atas diri Lala. Tapi Lala mau mas menunggu lagi, sampai Lala benar-benar siap ya?" Kata Vanila sambil tersenyum, dan mengelus wajah tampan suaminya dengan tangannya yang lembut.
Aldrin ikut tersenyum lalu kembali membenamkan wajah Vanila ke dadanya, dan memeluk Vanila erat. Seolah-olah, Aldrin tidak ingin Vanila lepas dari pelukannya.
"Terimaksih sayang. Mas ngerti. Mas akan tunggu sampai kamu siap. Mas ngerti kok, kalau yang mas nikahin masih bocah." Kata Aldrin yang membuat Vanila melepaskan pelukan Aldrin, karena kesal dibilang bocah.
"Lala udah 16 tahun ya mas. Udah bukan bocah lagi." Kata Vanila sambil memanyunkan bibirnya yang membuat Aldrin jadi semakin gemas melihat tingkah imut istri kecilnya, dan mengecup sekilas bibir manyun Vanila.
"Mas..!" Teriak Vanila yang terkejut karena Aldrin menciumnya, tapi Aldrin hanya tertawa puas, melihat ekspresi Vanila yang melotot karena marah.
"Kamu kan godain mas." kata Aldrin
"Siapa yang godain mas?" Tanya Vanila.
"Itu bibir di manyun-manyunkan. Berartikan minta dicium." Kata Aldrin masih sambil tertawa.
"Itu bukan mintak di cium. Itu namanya manyun, nunjukin kalau Lala lagi marah." kata Vanila yang mulai kesal.
"Oh itu bibir manyun lagi kesal karena marah toh. Iya nanti mas ingat. Btw kamu nggak boleh loh La, manyun sperti itu kalau marah sama cowok lain. Ntar bisa khilaf mereka lihat bibir mungil kamu yabg kissable." Kata Aldrin
"Dasar cowok. perlu di kasih pemutih pikirannya biar bersih." kata Vanila lalu berdiri menuju dapur.
"Mau kemana La?" Tanya Aldrin.
"Mau cuci mulut yang habis terkontaminasi suami mesum." kata Vanila sebal, dan Aldrin malah tertawa dan menyusul Vanila kedapur.
Vanila membuka kulkas, dan mengambil sebuah apel, lalu memakan apel tersebut dengan kesal.
"Katanya mau cuci mulut?" Tanya Aldrin yang heran, karena Vanila malah memakan apel, padahal katanya mau cuci mulut.
"Iya ini cuci mulut namanya." Kata Vanila yang kembali menggigit apelnya.
"Kraus"
__ADS_1