
Selama berada di kota P, Vanila membantu Guntur mengurus Cafenya bersama Ghalih dan Jaki. Vanila juga membuatkan sistem laporan keuangan sederhana untuk membantu Guntur melihat kinerja keuangan yang dihasilkan cafenya.
"La, beneran besok mau balik? Disini aja La. Atau mintak no WA nya, biar kak Jaki bisa VC. Please." Kata Jaki sambil memasang wajah memelas.
"Nggak bisa kak. Lusa Lala sudah harus sekolah lagi. Kakak juga kan. kalau masalah no hp or WA, maaf, Lala nggak bisa kasi." Kata Vanila yang membuat Jaki kecewa.
Hari terakhir di kota K, Guntur mengajak Vanila, Jaki, dan Ghalih ke taman hiburan. Vanila memainkan beberapa wahana ekstream bersama Zaki, Guntur fan Ghalih. Bahkan Ghalih hanya sanggup menaiki satu wahana ekstream, sementara Jaki dan Guntur menemani Vanila menikmati seluruh wahana ekstrim. Vanila sangat bahagia, karena Ia bisa berteriak sepuasnya ketika menaiki wahana ekstream.
"Gokil kamu La. Cewek jadi-jadian kayaknya si Lala bang. Bisa-bisanya dia tertawa bahagia waktu naik semua wahana ekstream. Ghalih aja nyerah." Kata Jaki begitu turun dari wahana yang terakhir. Sementara Vanila masih tertawa senang dengan wajah yang sudah memerah.
"Udah sering naik wahana ekstream La?" Tanya Guntur
"Baru pertama. Dan ternyata seru." jawab Vanila senang.
Ghalih datang menghampiri mereka, sambil membawa beberapa botol air meneral dan softdrink.
"Thanks kak." kata Vanila yang memilih air mineral.
"Thanks bro., tau aja kalau babang Jaki haus." Kata Jaki sambil tertawa, dan memilih softdrink.
"Makasih Lih." kata Guntur yang juga memilih air mineral.
"Besok pesawat jam berapa La?" Tanya Jaki.
"Ada deh. pokoknya nggak boleh ada yang ngantar." Kata Vanila lalu kembali meminum air mineral yang ada di tangannya.
"Kok gitu sih La. Kan babang Jaki mau ngantar." Kata Jaki
"Nggak boleh kak." Kata Vanila lagi, yang akhirnya membuat Jaki mengalah.
Setelah puas bermain sampai sore, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Vanila sangat bahagia. Baru sekali itu, Vanila bermain ke taman hiburan.
Vanila memilih penerbangan paling pagi jam 05.00. Vanila yang tidak ingin ada yang mengantarnya, sudah pamitan sejak malam, dan memutuskan jam 4 berangkat ke Bandara di antar Pak Arman dan Mbok Sa.
"Non hati-hati di jalan. Makan yang teratur. Istirahat yang cukup. Jangan lupa sering-sering telpon mbok." Kata Mbok Sa, yang menemani Vanila di bangku tunggu Bandara.
__ADS_1
"Iya mbok. Lala akan baik-baik saja. Mbok nggak usah khawatir." Kata Vanila sambil tersenyum.
Suara panggilan petugas bandara untuk keberangkatan Vanila sudah terdengar. Vanila segera berpamitan dan segera masuk ke pesawat yang akan mengantarnya kembali ke kota K.
Seperti datang ke kota P, pulang ke kota K, Vanila juga tidak memberitahukan Umi Salma atau Abah. Vanila tidak ingin menyusahkan mereka. Vanila sampai ke kota K sekitar jam 9 pagi.
"Assalamualaijum." Kata Vanila mengucapkan salam di ambang pintu rumah Umi Salma yang memang selalu terbuka.
"Wa'alaikumussalam. Wr. Wb." Jawab yang ada di dalam rumah kompak.
Vanila agak terkejut melihat Al, Sidqila, dan Umi Salma sedang duduk di ruang tamu. Vanila segera masuk dan mencium punggung tangan umi Salma.
"Kok nggak bilang-bilang kamu pulang Syah? Kalau tau kamu pulang, umi bisa suruh Al jemput." Kata Umi Salma.
"Nggak apa-apa umi. Aisyah bisa pulang sendiri kok. sekarang kan gampang, bisa pakai aplikasi online umi. Aisyah masuk dulu umi. Permisi" Kata Vanila lalu kembali ke kamarnya.
Sesampainya di kamarnya, Vanila segera meletakkan tasnya di lemari, membuka jilbab, melepas softlense dan menghapus makeupnya. Lalu Vanila memutuskan untuk mandi, kemudian tidur, karena Vanila belum tidur dari jam 3 pagi. Vanila yang cukup lelah, segera mengarungj alam mimpi setelah selesai mandi.
"Tok tok tok"
"Iya Umi, nanti Aisyah keluar." Kata Vanila mengira umi Salma yang mengetok pintu.
"Aisyah mana La?" Tanya umi pada Sidqila, yang diminta umi Salma memanggil Vanila untuk makan siang.
"Katanya sebentar lagi keluar umi." Jawab Sidqila lalu duduk di kursi meja makan di samping Al.
Vanila yang terbangun karena suara ketukan pintu, segera bangun dan mencuci mukanya, berwudhu, melaksanakan sholat zuhur, kemudian secepat kilat mengaplikasikan foundation ke wajahnya, lalu Ia segera mengenakan jilbab instan yang dalam dan keluar dari kamar menuju ruang makan. Sewaktu terbangun Vanila melihat jam yang menunjukkan pukul 12.45 dan itu adalah waktu jam makan siang di pesantren.
"Maaf umi Aisyah ketiduran" Kata Vanila yang duduk di samping umi Salma dan berhadapan dengan Sidqila.
Al sebenarnya agak terkejut melihat warna mata Vanila yang berwarna coklat terang. karena buru-buru, Vanila lupa menggunakan softlense. Mereka segera memulai acara makan siang dengan membaca doa makan terlebih dahulu. Selama makan, tidak terdengar suara apapun, karena tidak boleh ada yang berbicara selama makan, kecuali minta tolong mengambilkan makanan atau minuman.
Sidqila mengambilkan Al, nasi dan lauk pauknya, dan meletakkannya di hadapan Al, begitu juga dengan umi Salma yang mengambilkan makanan untuk Abah.
"Mau umi ambilkan Syah?" Tanya umi Salma.
__ADS_1
"Nggak usah umi, terimakasih. Aisyah ambil sendiri aja." Kata Vanila lalu segera mengambil sedikit nasi beserta lauk pauk yang ada.
Selesai makan, Vanila dan Sidqila membersihkan piring kotor dan menyimpan kembali lauk pauk yang masih ada ke lemari. Sementara itu, Umi, Abah dan Al masih duduk di kursi meja makan.
"Kamu pakai softlense merk apa Syah? warnanya bagus." Tanya Sidqila sewaktu membantu Vanila mencuci piring.
"warna sofrlense bagus?" Tanya Vanila agak heran, karena ia masih belum sadar kalau lupa pakai softlense.
"Iya, warna softlense kamu coklat terang. Agak jarang sih aku ketemu warna itu." Kata Sidqila lagi.
"Astagfirullah." Kata Vanila spontan ketika tahu kalau dia tidak pakai softlense.
"Kenapa Syah?" Tanya umi Salma mendengar Vanila beristigfar.
"Hehe. Aisyah baru ingat, belum telpon si mbok umi." Kata Vanila berbohong.
"Oh. Umi kira ada apa." kata Umi Salma lega.
"Lupa sih kak, merknya apa. Kayaknya nggak ada di tempat kita deh. Soalnya aku pesan sama kakak aku yang di Jerman." Kata Vanila.
"Oh.. nanti kalau kamu pesan, pesankan aku satu ya." Kata Sidqila lagi.
"InshaAllah kak." Kata Vanila.
Setelah selesai cuci piring, Vanila izin kembali ke kamarnya untuk menelpon mbok Sa dan bunda Ningrum, memberitahukan kalau Vanila sudah sampai dengan selamat di kota K. Sebenarnya alasan Vanila segera kembali ke kamarnya, Vanila merasa ada sesuatu yang menyakitkan di hatinya, melihat Al dan Sidqila. Umi Salma dan Abah tidak mungkin membiarkan Al dekat dengan perempuan, Jika Al tidak berniat untuk mengkhitbah perempuan itu.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍁🍁🍁🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Hari ini semester baru. Vanila dan murid lainnya kembali bersekolah setelah libur selama dua minggu. Hari-hari yang dilewati Vanila seperti biasa, belajar dan kadang-kadang bermain dengan Rere, Juli dan Azam.
"Kamu jadi ikut tryout di alun-alun Syah?" Tanya Juli.
"Jadi kak. Nanti kita pergi bareng sama kak Azam." Kata Vanila.
"Asyik.. ada Gus Azam juga." Kata Rere senang.
__ADS_1
"Tahu Gus Azam pergi try out baru senang. Tadi aku ajakin ogah-ogahan." Gerutu Juli melihat perubahan sikap temannya itu.