Vanilarea

Vanilarea
Hari Tenang


__ADS_3

Vanila terbangun ketika mendengar suara lantunan ayat Al qur'an yang berasal dari mesjid pesantren. Vanila menstretching tubuhnya, agar merasa lebih baik.


Vanila yang melihat, bahwa dirinya ketiduran menggunakan mukenah, memutuskan untuk membuka mukenahnya karena akan mengambil wudhu.


Vanila tidak sadar kalau dari tadi Aldrin sedang memperhatikan semua yang Vanila lakukan. Bahkan Aldrin baru pertama sekali melihat rambut berwarna coklat milik Vanila yang panjangnya sepunggung.


Vanila menggulung rambutnya ke atas dengan acak-acakan, membuat penampilan Vanila semakin cantik. Leher putihnya yang jenjang, yang sedikit tertutuo dengan anak rambut yang berantakan, membuat Aldrin menelan salivanya.


"Ehem" Deheman Aldrin yang membuat Vanila menoleh ke sumber suara.


"Astagfirullah" Ucap Vanila panik, karena sadar kalau ia tidak menutup auratnya. Vanila buru-buru mengenakan kembali mukenahnya.


"Mas sudah pulang?" Tanya Vanila menghilangkan kecanggungannya.


"Udah dari tadi sayang." Kata Aldrin yang berjalan mendekati Vanila.


"Stop! Mas mau ngapai dekat-dekat?" Kata Vanila yang mengulurkan tangannya agar Aldrin tidak mendekat, tapi Aldrin tetap mendekat, bahkan memeluk Vanila.


"Kamu itu istri mas La. Masa harus mas ingatkan terus." Kata Aldrin sambil membuka mukenah Vanila dan memperlihatkan rambut Vanila yang terurai karena lepas dari gulungannya.


"MashAllah. Cantik bener istri mas. Nikmat mana lagi yang mau kau dustakan Aldrin." Kata Aldrin sambil tersenyum ke arah vanila.


Blush... wajah Vanila memerah seketika karena Aldrin memujinya. Banyak orang yang memuji kecantikannya karena memang Vanila cantik, tapi setiap Aldrin yang memujinya, tidak tahu kenapa, Vanila pasti jadi salah tingkah, dengan wajah yang memerah.


"Udah ambil wudhunya sana. Lain kali kalau lagi di kamar dan cuma kita berdua, nggak perlu bakai jilbab atau mukenah ya Sayang?. Oh iya, tadi mas ketemu Rere sama Juli. Mereka nungguin kamu di mesjid." Kata Aldrin lalu melepaskan pelukannya.


"MashaAllah. Kak Rere sama kak Juli masih disini mas?" tanya Vanila senang.


"Iya. Mereka jadi salah satu pengurus pondok putri." Jawab Aldrin.


"Wah.. Lala kangen banget sama mereka." kata Vanila lalu segera ke kamar mandi untuk berwudhu.


Selesai berwudhu Vanila segera mengenakan mukenahnya yang berwarna putih dan memiliki bordiran daun di bagian bawah mukenahnya.


Vanila menunggu Aldrin yang baru mengambil wudhu setelah Vanila keluar dari kamar mandi.


Aldrin berjalan keluat kamar duluan, lalu disusul oleh Vanila. Umi Salma dan Abah sudah berangkat ke meajid. Jarak antara mesjid dan rumah Umi Salma tidak begitu jauh, hanya sekitat 100 meter.


Vanila berjalan disamping Aldrin dengan menundukkan pandangannya. Karena Vanila tidak mau ada banyak pasang mata santri yang memandang wajahnya.


Walaupun menunduk, orang-orang yang berpapasan dan menyapa Aldrin tetap dapat melihat kalau perempuan yang berjalan disamping Aldrin adalah perempuan dengan wajah yang cantik.


Umi Salma dan Abah Abdullah, tidak pernah menyampaikan kalau Aldrin sudah menikah, karena sehari setelah menikah, Vanila kabur. Mereka tidak mau, Aldrin menjadi bahan pembicaraan orang-orang yang ada di pesantren. Hanya orang-orang terdekat saja yang tahu kalau Aldrin sudah menikah.


"Lala ke saf santriwati ya mas. Assalamualaikum" Kata Vanila lalu segera berlari menuju saf santriwati dan mencari dua sahabatnya.

__ADS_1


"Assalamualaikum" Ucap Vanila sambil tersenyum yang membuat santriwati yang sudah ada di dalam mesjid memandang Vanila.


Mereka pada heran dan bertanya-tanya siapakah perempuan cantik yang baru saja mengucapkan salam. Setelah tersadar, mereka membalas ucapan salam Vanila.


Vanila tersenyum bahagia sambil memandang Juli dan Rere. Sementara Juli dan Rere bingung, kenapa ada perempuan cantik yang sedang memandang mereka.


"Kamu kenal Jul?" tanya Rere,dan di jawab gelengan kepala oleh Juli.


"Assalamualaikum kak Rere, kak Juli."Kata Vanila sambil merangkul Rere dan Juli (Udah kayak teletubies aja 😅😅).


"Maaf kamu siapa ya?" Tanya Juli heran.


"Ini Aisyah kak." Kata Vanila sambil pura-pura merajuk menampilkan ekspresi yang suka Vanila lakukan ketika merajuk.


"Aisyah? MashAllah kamu beneran Aisyah? Kok jadi pangling gini." Kata Juli sambil memeluk Vanila senang, bahkan membuat santriwati yang ada di mesjid memperhatikan mereka.


"Jangan teriak kak. Ntar dimarahin Nyai lagi." Ingat Vanila.


"Hehehe.. maaf. Kakak senang banget ketemu kamu lagi. Mana cantik bener gini lagi." Kata Juli yang kembali memeluk Vanila.


"Kamu sehat Syah?" tanya Rere yang lebih tenang.


"Alhamdulillah kak." Kata Vanila sambil memeluk Rere.


Rere dan Juli menanyakan banyak hal kepada Vanila, mulai dari Vanila kemana aja, ngspain aja, trus kenapa bisa jadi cantik, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.


"Assalamualaikum" Sapa Aldrin ketika melihat Vanila sedang berbicara dengan Juli dan Rere. Juki, Rere dan Vanila segera menjawab salam Aldrin kemudian Vanila mencium punggung tangan Aldrin dan langsung mendapat tatapan heran dari Juli dan Rere.


"Saya izin, bawa istri saya dulu. Ngobrolnya dilanjutin nanti ya? Wassalamualaikum." Kata Aldrin lalu membawa Vanila pergi meninggalkan Juli dan Rere yang masih terheran-heran.


"Wa'alaikumussalam. Itu tadi maksudnya apa ya Jul?" Tanya Rere masih bingung.


"Tadi Gus Al bilang istri. Berarti Aisyah istri Gus... What? Istri? Kapan nikahnya ya?, Nanti kita tanya lagi. Aku lapar nih. Kita makan dulu aja" Kata Juli sambil nyengir karena cacing yang ada di ususnya sudah pada demo.


"Mas kok bilang gitu sih tadi. Shock itu kak Juli sama kak Rere." Kata Vanila tidak enak dengan Juli dan Rere.


"Nggak apa-apa. Yang tahu kan mereka berdua aja." Kata Aldrin sambil tersenyum menenangkan Vanila.


Sesampainya di rumah Umi Salma, Aldrin duduk di meja mekan, sedangkan Vanila pergi ke kamar Aldrin untuk meletakkan mukenahnya.


Sewaktu Vanila kembali di meja makan, terlihat umi, abah dan Aldrin sudah duduk di bangkunya masih-masing.


"Sini La. Duduk di samping umi. Udah lama kamu nggak makan di sini. Makan yang banyak. Ini umi masak khusus buat kamu." Kata Umi Salma sambil menyerahkan piring yang berisi nasi lengkap dengan lauk pauknya dihadapan Vanila.


"Terimakasih umi." Kata Vanila sambil tersenyum.

__ADS_1


"Al belum umi ambilin. Yang anak umi Al atau Lala sih?" protes Aldrin.


"Umi mau anak perempuan. jadi Lala anak umi sekarang." Kata umi Salma sambil tersenyum kepada Vanila dan mengelus kepala Vanila.


"Mas mau lauk apa?" Kata Vanila yang mengambil piring Aldrin, lalu menyendokkan nasi kedalam piring.


"Sama kayak punya kamu aj." Kata Aldrin sambil tersenyum.


"Ini, makan yang banyak." Kata Vanila sambil meletakkan piring yang sudah berisi nasi dan lauk pauknya ke hadapan Aldrin.


"Terimakasih La." Kata Aldrin senang.


"Sama-sama mas." Kata Vanila lalu kembali duduk di kursinya.


Setelah berdoa, mereka mulai menyantap makanan di piring masing-masing. Abah Abdullah selalu membiasakan tidak berbicara ketika makan, sehingga tidak ada pembicaraan di meja makan.


Selesai makan, Vanila membantu umi Salma membereskan meja makan dan mencuci piring. Sementara abah dan Aldrin duduk di ruang keluarga.


Abah Abdullah menanyakan kepada Aldrin, bagaimana Ia bisa menemukan Vanila. Aldrinpun menceritakan bagaimana Ia bisa menemukan Vanila.


Setelah selesai melakukan beberapa kegiatan, Vanila yang merasa agak lelah, izin untuk kembali ke kamar setelah sholat isya. Vanila membersihkan dirinya, lalu mulai merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Sebelum benar-benar beristirahat, Vanila memutuskan untuk menghubungi mbok Sa. Vanila juga mengatakan bahwa Vanila sudah bersama dengan Aldrin, dan tidak lama lagi kembali ke kota S.


Mbok Sa yang mendengar kabar, kalau Vanila sudah bersama suaminya, hanya bisa tersenyum bahagia, sambil berdoa yang terbaik untuk kehidupan Vanila.


"Udah dulu ya mbok. Lala ngantuk. Assalamualaikum." kata Vanila lalu memutuskan sambungan telpon setelah mendengar jawaban salam dari mbok Sa.


"Cklek" Suara pintu kamar Aldrin terbuka, dan nampak Aldrin berdiri di ambang pintu, lalu masuk ke dalam kamarnya.


"Belum tidur La?" Tanya Aldrin yang melihat Vanila duduk di pinggir tempat tidur.


"Iya ini mau tidur. Abis nelpon mbok Sa." Kata Vanila.


"Ya udah kamu tidur aja dulu. Mas masih ada yang mau di kerjakan." Kata Aldrin sambil mencium kening Vanila, dan mengelus rambut panjang Vanila yang lembut.


Vanila segera merebahkan tubuhnya yang memang cukup lelah, karena harus menjelaskan banyak hal dengan umi salma dan kedua sahabatnya.


Aldrin memeriksa beberapa email pekerjaan yang dikirimkan oleh Vano, karena untuk sementara waktu Vano yang akan mengurus kantor yang ada di kota J, sementara Aldein akan mengurus kantor di kota S.


Sudah seminggu Vanila dan Aldrin berada di pesantren. Aldrin yang memang agak sibuk, memutuskan segera kembali ke kota S untuk mengurus kantor yang ada di kota S.


Umi salma sebenarnya sangat berat, mengizinkan Aldrin kembali ke kota S. Karena Umi Salma masih rindu dengan Vanila. Tapi karena Aldrin berjanji, sebulan sekali akan pulang ke pesantren membuat umi Salma mengizinkan Aldrin dan Vanila kembali ke kota S.


Jarak kota S dan pesantren yang tidak terlalu jauh, membuat Aldrin memutuskan untuk kembali ke kota S melalui jalur darat, dengan membawa mobil sendiri, sekalian Ia menikmati waktu berdua lebih lama dengan Vanila.

__ADS_1


__ADS_2