
Pram yang sudah selesai mandi dan bersiap-siap untuk sholat, tersenyum ketika melihat Vanila sedang ngobrol dengan maminya di mushola sederhana yang ada di rumah mereka.
"Belajar jadi makmum Ai?" Tanya Pram menggoda Vanila yang membuat Vanila membulatkan matanya ke arah Pram, membuat Pram tertawa senang.
"Anak mami seneng banget ya godain anak gadis orang" geram mami Pram sambil menjewer kuping Pram.
"Ampun mi, ampun. Pram kan nggak godain." Kata Pram sambil mengusap kupingnya yang memerah.
"Terus itu apa namanya?" Tanya mami Pram.
"Itu namanya usaha mi." jawab Pram sambil nyengir.
Merekapun segera melaksanakan ibadah sholat magrib berjamaah setelah papa Pram bergabung untuk ikut sholat magrib berjamaah.
Setelah sholat magrib, mereka makan malam bersama. Benar-benar terlihat seperti keluarga bahagia.
"Pram Aisyah kapan mau kamu halalkan?, ingat le, umur mu wes nggak muda lagi." Tanya mami Pram yang membuat Vanila tersedak ludahnya sendiri.
"Halal halal, memangnya Aisyah barang mi." Protes pram sambil menyodorkan segelas air putih kepada Vanila.
"Pengennya besok mi. Tapi Pram yakin Aisyah belum siap." Jawab Pram.
"Lah, kenapa belum siap sayang?, Mami ingin kamu secepatnya jadi menantu mami." Kata mami Pram penuh harap kepada Vanila.
"Saya tidak bisa tante. Soalnya saya ini sebenarnya sudah menikah." Jawab Vanila yang membuat mami Pran lumayan shock, karena anaknya mencintai istri orang.
"Ai, kamu nggak bisa move on?, masih sebegitu inginnya kembali sama mantan?" Tanya Pram yang membuat Vanila membolakan matanya, tanda terkejut.
"Maksud Mayor?" Tanya Vanila pura-pura tidak paham.
"Ai, Saya punya banyak mata dan telinga kalau hanya sekedar mencari informasi tentang kamu. Vanilarea Aisyah Syauqi, putri ke 5 dari bapak Arland Sauki dan Ibu Rosaline, anak jenius yang beberapa kali lompat kelas, tapi tidak pernah tercatat. Selalu menjadi lulusan terbaik ketika Ujian Nasional, kuliah ketika usianya masih 14 tahun, pernah menikah sewaktu usianya 16 tahun, tapi sudah berpisah, karena mantan suami kamu punya istri lain..."
"Cukup Mayor. Tante maaf, saya permisi dulu. Terima kasih buat makan malamnya." Kata Vanila lalu segera berdiri dan pamit meninggalkan rumah Pram, yang membuat mami Pram agak sedikit bingung dan syok.
"Mi Pram antar Aisyah dulu. Assalamua'laikum." Kata Pram pamit, lalu segera menyambar kunci mobilnya dan menyusul Vanila.
Pram memberhentikan mobil yang dibawanya, di depan Vanila, agar Vanila berhenti berjalan.
"Apa-apaan sih Mayor?" Tanya Vanila kesal.
"Kamu masuk. Aku antar pulang." Ucap Pram.
"Saya bisa pulang sendiri." Jawab Vanila lalu bermaksud meninggalkan Pram.
"Jangan sampai aku paksa gendong kamu maduk ke mobil Ai." Kata Pram lagi, yang membuat Vanila msu tidak mau mengalah, karena mereka mulai diperhatikan beberapa orang yang kebetulan ada di sana.
__ADS_1
Vanila akhirnya masuk ke mobil Pram bagian belakang, dan menutup pintu sedikit dibanting, karena Vanila mersa sangat kesal.
"Ya sudah. Tapi mau antar aku pulang. Jalan dong Mayor." Ucap Vanila semakin kesal.
"Kamu kira saya supir kamu." Jawab Pram, yang membuat Vanila paham, bahwa dia seharusnya duduk di samping Pram.
"Kita itu bukan mahram Mayor, jadi nggak baik duduk bersisian, apalagi hanya berdua." Kata Vanila.
"Ya sudah. Kita mahramkan saja sekarang. Kita ke rumah pak ustadz sekarang untuk menikahkan secara agama dulu. Toh kamu kan menikah pakai wali hakim." ucap pram, yang membuat Vanila mencebikkan bibirnya.
"Perkara duduk dimana ribet banget sih Mayor." Ucap Vanila yang akhirnya mengalah dan pindah duduk di depan.
"Puas?!" Tanya Vanila yang menunjukkan ekspresi kesalnya kepada Pram.
"Puas banget. Makmum itu harus patuh sama imamnya." Jawab Pram sambil tersenyum, lalu muai menjalankan mobilnya.
"makmum, makmum. Yakin bener aku jadi makmumnya mayor." protes Vanila lagi.
"Insya Allah. Kan aku sudah minta kamu sama yang punya." jawab Pram masih dengan senyum puasnya, yang membuat Vanila semakin kesal.
"Yang punya aku ya akulah." Kata Vanila mulai nyolot.
"Nggak usah pakai ngegas Ai. Makmum itu nggak boleh meninggikan suaranya. Kamu pasti pernah belajarkan waktu di pesantren." Ucap Pram yang membuat Vanila semakin heran, dan tidak ingin berdebat lagi, dan memutuskan hanya diam, sambil memandang jalanan malam melalui jendela samping.
"Ai.. Kok kamu diam aja?" Tanya Pram memancing agar Vanila mau berbicara.
Tadinya Vanila hanya ingin pura-pura tidur, akhirnya malah tidur beneran.
Sesampainya di rumah Vanila, Pram hanya berhenti di halaman depan. Terlihat pak Arman yang datang mengetuk kaca jendela mobil bagian Pram.
"Kenapa tidak masuk aja den?" Tanya pak Arman.
"Kasian Aisyah pak kalau dibangunin. Biar bangun sendiri. Mau saya angkat, takut tidurnya terganggu." Kata Pram yang dipahami olwh pak Arman lalu masuk ke dalam.
Pram menatap Vanila yang masih tertidur lelap, karen Vanila memang tipe yang gampang sekali tertidur. Lebih dari satu jam Pram nungguin Vanila tertidur sambil puas-puas mandangin wajah Vanila yang tidur seperti bayi, karena mulutnya seperti mengemut permen.
"Astagfirullah." Ucap Vanila terkejut karena sawaktu buka mata, Vanila melihat wajah Pram yang sedang menatapnya, karena Vanila tidur menghadap ke arah Pram.
"Kok Astagfirullah si Ai, berasa jadi setan. Seharusnya MasyaAllah, gitu ngucapnya Ai." Protes Pram.
"Kita sampai dari tadi?" Tanya Vanila yang langsung membetulkan posisi duduknya.
"Lebih dari satu jam yang lalu." Jawab Pram.
"Kenapa Mayor nggak bangunin saya sih." Kesal Vanila lalu segera keluar dari mobil Pram dan menuju kedalam rumah, kemudian Vanila balik lagi, yang membuat Pram tersenyum ke arah Vanila.
__ADS_1
"Lupa. Terima kasih. Nggaknusah singgah, aku nggak nawarin, Mayor langsun pulang aja. Jangan lupa cuci kaki, cuci tangan, terus minum obat cacing. Assalamua'alaikum." Kata Vanila lalu kembali pergi meninggalkan Pram.
"Wa'alaikumussalam" Ucap Pram sambil tersenyum lalu segera masuk ke mobilnya untuk pulang.
Sepanjang jalan, Pram tersenyum bahagia, ditambah Pram berhasil mengabadikan beberapa foto dan video ketika Vanila tidur.
"Kok lama pulangnya Pram?" Tanya mami Pram yang masih duduk di ruang keluarga nungguin Pram pulang.
"Iya mi, tadi Aisyah ketiduran, nggak tega Pram ngebanguninnya. Ya udah, Pram tungguin sampai bangun. Mami kok belum tidur?" Tanya Pram balik.
"Nungguin kamu, soalnya mami masih penasaran. Beneran Aisyah sudah menikah?" Tanya mami Pram yang ingin melanjutkan mendengar cerita tentang Vanila yang membuat maminya penasaran.
"Beneran mi, Aisyah itu sudah menikah, tapi mami tenang, sudah cerai juga kok sama mantan suaminya, karena menikah lagi sama perempuan lain." Terang Pram.
"Kok bisa Aisyah cantik, baik, pinter gitu di khianati suaminya?" Tanya mami Pram heran.
"Namanya manusia mi. Nggak baik ah gosipin orang." Kata Pram, agar maminya tidak nerusin ngegosip.
"Berarti Aisyah janda dong Pram?, Kamu yakin mau menikah dengan janda?" Tanya mami Pram lagi.
"InsyaAllah mi. Lagian Aisyah janda kan bukan keinginannya. Keadaan yang memaksa. Kalau dari info yang Pram dapat, Aisyah menikah dibawah umur." Kata Pram lagi.
"What?, zaman sudah modern begini, masih ada aja yang mau menikah muda, di bawah umur pulak." Kata mami Pram terkejut.
"Itu karena tuan Arland mengalami kecelakaan dan kondisinya kritis, saat itu hanya Aisyah yang belum menikah. Jadi biar tuan Arland bisa pergi dengan tenang tanpa beban memikirkan putri bungsunya, akhirnya Aisyah dinikahkan sama anak sahabatnya. Waktu itu usia Aisyah sekitar 15 atau 16 tahun gitu. Tapi setelah itu Aisyah pergi ke negara J, Pram nggak tahu masalahnya apa. Nah di negara J itulah Pram ketemu Aisyah, sewaktu Pram kecelakaan." Jelas Pram.
"Wah, ternyata hidup Aisyah penuh warna." Kata mami Pram kagum.
"Aisyah itu sangat cerdas mi, makanya Pram mau Aisyah jadi istrinya Pram. Nggak apa-apa janda, lagian Pram jatuh cinta sejak awal jumpa." Jelas Pram.
"Waktu di negara J?" Tanya mami Pram.
"Bukan mi, waktu acara adek-adek leting. Mami ingat nggak, waktu itu ada acara yang heboh karena ada yang nyumbang lima puluh juta pada saat itu untuk amal?" Tanya Pram.
"Hmmm... Nggak ingat." Jawab mami Pram sambil nyengir.
"Aih.. Mami kan gitu. Yang mami sama papi telat datang loh." Ingat Pram lagi.
"Oh.. Iya mami ingat. Jadi yang kasi sumbangan Aisyah?" Tanya mami Pram.
"Bener mi. Waktu Aisyah marah karena di tuduh kasi sumbangan fiktif, saat itu Pram ngerasa kalau Aisyah itu imut dan menggemaskan." Kata Pram sambil tersenyum mengingat wajah Vanila saat itu.
"Iya, mami ingat, yang dia pakai baju warna army, padahal teman-temannya pakai baju putih biru kan?" Yakin mami Pram lagi.
"Bener mi." Jawab Pram.
__ADS_1
"Oalah... Bisa aja anak mami lihat yang bening-bening. Papi kamu banget." Kata mami Pram sambil tertawa.