
Aldrin dan Vano tidak pernah menyerah mencari Vanila. Sambil mengurus perusahaannya, mereka selalu mengecek laporan dari orang-orang yang ditugaskan untuk mencari Vanila.
"Bagaimana kak laporannya?" Tanya Vano.
"Nihil. Arrgh.." Teriak Aldrin kesal, karena sudah setahun lebih dia mencari Vanila, tetapi tidak ketemu juga.
"Sudahlah. Banyak-banyakin doa. Oh iya besok aku mau ke kota D. Nemanin Ryu menghadiri acara aniv salah satu perusahaan suport system yang ada di kota D. Ryu bilang perusahaan itu cukup hebat, baru berdiri sekitar setahun, tapi sudah membuat beberapa suport system yang bagus dan di pakai beberapa perusahaan besar." Terang Vano.
"Ya sudah, pergilah. Jangan lupa kirimkan papan bunga ucapan selamat ke perusahaan itu." Kata Aldrin yang kembali fokus dengan kerjaannya.
🌱🌱🌱🌱🌱🍀🍀🍀🌷🌷🌷🍀🍀🍀🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱
Hari ini acara peringatan ulang tahun yang pertama Aer Suport System. Semua persiapan sudah dipersiapkan sesempurna mungkin. Acara diadakan disalah satu ballroom hotel yang masih milik keluarga Vanila.
"Aku jadi tamu aja ya?" Kata Vanila ketika rapat terakhir.
"Nggak bisa dong Ae. Walau secara struktur, abang direkturnya, tapi perusahaan ini ada karena kamu." Kata Satya tidak setuju.
"Ini perusahaan kita semua. Ingat itu bang. Kalau nggak jadi tamu, aku nggak datang." Kata Vanila tegas.
"Sudah lah Sat. Yang penting Aer ada di sana." Kata Amel menengahi.
"Ya sudah. Kalau itu maunya kamu." Kata Satya mengalah.
"Ya sudah. Karena semuanya sudah kita persiapkan, semoga acara kita malam ini berjalan dengan lancar." kata Satya yang langsung di Aamiinkan semua yang hadir.
Vanila sebenarnya malas menghadiri pesta. Tapi karena semuanya memaksa, mau tidak mau akhirnya Vanila memutuskan untuk hadir.
Semua yang hadir mempersiapkan penampilan terbaiknya, bahkan karyawan perempuan menyempatkan diri ke salon dan membeli gaun yang bagus untuk dikenakan di pesta pertama perusahaan mereka, yang mengundang relasi perusahaan yang pernah bekerja sama dengan Aer Suport System.
Vanila datang mengenakan rok lebar berwarna hijau army dan tunik longgar berwarna putih dan jilbab dalam juga berwarna putih. Vanila juga mengenakan kacamata dengan bingkai lebar sehingga kelihatan cupu.
"Kamu serius mau berpenampilan seperti ini Ae?" Tanya Amel yang datang menjemput Vanila.
"Kan aku anak magang. Biarlah. Ntar kalau aku dandan, kakak kalah cantik lagi." Kata Vanila sambil tertawa.
"Anak magang dari mana? Nanti pas potong tumpeng, kamu naik juga kan ke panggung?" Tanya Amel lagi.
"Aku tamu loh kak." Jawab Vanila lagi.
Sesampainya di tempat acara, Vanila sengaja menyuruh Amel masuk duluan.
"Ae, kenapa kamu jadi makin cupu gini?" Tanya Ricky.
"Udah deh bang, jangan dekat-dekat aku. Aku tamu loh. Ntar ada yang lihatin kita. Ingat aku tamu." Ancam Vanila, lalu pergi meninggalkan Ricky yang bingung.
Vanila sengaja duduk di sudut ruangan agar tidak ada yang berinteraksi dengannya.
sekitar jam 8 acara di mulai. Satya meminta semua karyawan Aer suport system untuk naik ke panggung dan memotong tumpeng bersama. Setelah melakukan kegiatan seremonial, Satya memberikan kata sambutan.
"Terimakasih saya ucapkan atas kesediaan tamu semua menghadiri acara peringatan ulang tahun perusahaan kami yang pertama. Aer Suport System berdiri karena pemikiran revolusioner seorang gadis yang memiliki pemikiran yang mengagumkan untuk konsep bisnis dan menjadi brain untuk sistem yang kami buat. Untuk menghargainya, kami sepakat untuk menggunakan namanya sebagai nama perusahaan. Selain itu kami juga ingin perusahaan kami memiliki filosofi seperti air, yang sangat dibutuhkan untuk kehidupan semua makhluk. Kami berharap Aer Suport System bisa terus ada dan dibutuhkan seperti air." Terang Satya yang disambut tepuk tangan yang meriah.
Vanila yang merasa haus, mengambil minum di meja minuman, Vanila tidak sengaja melihat Vano yang berdiri tidak jauh darinya. Vanila yang panik, segera membalikkan badannya, dan tidak sengaja menabrak seorang wanita yang menggunakan gaun yang cukup terbuka.
"Oh my Good. Mata lo di letakkan di mana? Basah nih gaun gue. Lo pasti nggak bisa ganti gaun gue. Gaun gue mahal, rancangan desainer terkenal." Kata perempuan itu marah sambil, membersihkan bajunya yang ketumpahan minuman.
Seisi ruangan langsung memperhatikan Vanila dan perempuan yang memarahinya, termasuk Vano. Satya, Amel dan Niken yang melihat kejadian itu langsung menghampiri Vanila.
"Maaf buk Laras. Kita akan tanggungjawab." Kata Niken meminta maaf.
"Baju saya ini mahal. Mau tanggung jawab bagaimana? Lagian saya yakin nih perempuan pasti nggak punya uang buat ganti gaun saya. Lihat aja penampilannya.. euh.." Kata Laras memandang jijik penampilan Vanila.
"Kak Amel, tolong minta rekening bu Laras, ganti rugi seharga baju itu dua." Kata Vanila lalu segera pergi, karena tidak ingin Vano menyadari kalau yang sedang ribut adalah Vanila.
"Nggak sopan banget jadi orang. Main pergi-pergi aja. Siapa sih dia? Sombong bener mau ganti baju gue dua." Omel Laras tidak terima karena di tinggal begitu saja oleh Vanila.
"Maaf buk Laras. Ibu bisa pesan dua gaun di desainer tempat ibu pesan, nanti tagihannya akan saya bayar." Kata Amel mencoba sopan.
"Lo bukannya menejer keuangan perusahaan ini ya? Kok mau sih lo di suruh-suruh tuh perempuan." Kata Laras yang masih kesal.
__ADS_1
"Maaf ibuk. Saya rasa masalah ini tidak usah diperpanjang lagi. Atas nama Aer saya minta maaf." Kata Satya menengahi.
"Aer?" Tanya Laras heran, karena nama Vanila sama dengan nama perusahaan yang mengadakan acara. Tamu lain yang mendengar Satya menyebutkan kalau perempuan yang tadi menabrak Laras bernama Aer, juga menjadi heran.
Perempuan yang kelihatan biasa saja, dengan penampilan cupu, memiliki nama yang sama dengan perusahaan yang sedang berulang tahun.
Vano yang dari tadi memperhatikan Vanila, merasa tidak asing. Vano seperti mengenal sosok yang disebut bernama Aer.
"Permisi pak Satya. Saya Vano, dari PT. AlRasyid properties. Saya mau Aer Suport System mengirimkan proposal penawaran ke perusahaan saya." kata Vano sambil menjabat tangan Satya.
"Oh iya pak Vano. Saya sudah dengar tentang PT AlRasyid. Suatu kehormatan bagi kami, kalau bapak bersedia menerima penawaran dari kami. Secepatnya saya akan kirimkan proposal penawaran kepada Bapak." Kata Satya senang, karena Satya tahu betul kalau PT AlRasyid adalah salah satu perusahaan yang besar di negara I.
Acara berlangsung hingga tengah malam, Vanila memutuskan untuk pulang ke rumahnya di jemput supir perusahaan.
Keesokan paginya, Vanila pagi-pagi sudah datang ke kantor. Karena ada analisa perancangan sistem yang belum selesai dibuatnya.
"Astagfirullah." Kata Satya yang terkejut karena Vanila sudah duduk di depan meja kerjanya.
"Pagi banget ke kantor Ae? Atau kamu tidur di kantor?" Tanya Satya heran.
"Enggak sih. Tadi abis sholat subuh, sambil lari pagi, aku kekantor. Satu lagi rancangan sistemnya belum siap." Kata Vanila.
"Mau abang belikan sarapan?" Tanya Satya.
"Boleh bang. Mie ayam pakde biasa ya. Pakai sate telur puyuh dua, nggak pakai saos, kasih ati ampela, cabenya dipisahin. Kalau ada cekernya, mau juga." Pesan Vanila panjang lebar.
"Banyak bener pesannya. Mie ayam doang. Kalau abang bilang mie ayam pesanan Aer, paham pasti pakdenya kan?" Tanya Satya yang malas mengingat pesanan Vanila.
"Paham. Tinggal bilang aja, pakde pesanan mie ayam Aer yang imut, manis, rajin menabung, murah senyum dan suka menolong." Kata Vanila sambil tertawa.
"Buset. Panjang bener nama kamu Ae." Kata Satya yang terkejut mendengar panggilan nama yang disebut Vanila.
"Ya udah pergi abang sana cepat. Nanti pesanan aku nggak ada lagi. Mie ayam pakde itu favorit banyak orang. Kalau nggak cepet, banyak yang udah nggak ada." Kata Vanila yang mengusir Vanila.
"Siap buk boss. Abang pergi dulu. Jangan rindu sama abang ya? Soalnya kata Dilan rindu itu berat, biar Dilan aja yang rindu." kata Satya sambil tertawa lalu pergi meninggalkan Vanila.
"Assalamualaikum" Kata Niken yang masuk ruangan setelah Satya pergi. Ruangan kerja mereka konsep ruangan terbuka, jika butuh privasi, ada beberapa ruangan tertutup yang memang di sedikan bagi siapa saja yang bekerja butuh privasi. Karena Vanila lebih nyaman bekerja bersama, makanya Vanila lebih sering duduk di ruangan kerja terbuka, yang di dalamnya ada meja Satya, Amel, Niken dan Aer. Karena Niken sering keluar, Vanila paling sering ketemu Satya dan Amel.
"Iya. Itu si Satya minta kakak buat proposal penawaran ke PT AlRasyid." Terang Niken.
"AlRasyid? Direkturnya namanya pak Aldrin?" Tanya Vanila
"Iya. Semalam wakilnya pak Vano minta kita ngajukan proposal penawaran." Kata Niken lagi.
"Jangan buat penawaran. Aku nggak mau kita ada hubungan apalagi sampai kerjasama dengan PT AlRasyid." Kata Vanila.
"Tapi Ae, Mereka perusahaan besar loh. Kalau Suport System perusahaannya kita yang handle, kan kita bisa untung besar Ae." Kata Niken lagi.
"Aku ganti keuntungannya. Tapi jangan pernah kerjasama dengan mereka." Kata Vanila dengan wajah serius yang membuat Niken heran.
"Mie ayam datang." Kata Satya yang muncul membawa plastik berisi mie ayam, lengkap dengan sendok dan mangkoknya.
"Waduh.. pagi-pagi kok suasananya mencekam ya? Kamu lagi rebutan gue sama Aer Ken?" tanya Satya dengan pedenya.
"Ogah gue sama lo." Protes Niken.
"Aer yang imut baik hati rajin menabung dan suka menolong, ini mie ayamnya." Kata Satya yang meletakkan pesanan Vanila diatas mejanya.
"Thanks bang." Kata Vanila lalu mulai memasukkan mie ayam ke mangkok yang ada di depannya.
"Oh iya Ken, proposal Alrasyid gimana?" Tanya Satya sambil mengeluarkan mie ayamnya ke dalam mangkoknya.
"Aer nggak ngizinin" Kata Niken.
"Loh kenapa Ae? Mereka perusahaan besar loh." kata Satya heran.
"Aer Suport System boleh kerja sama dengan perusahaan manapun kecuali Alrasyid. Kalau abang merasa perusahaan akan rugi karena menolak kerjasama dengan mereka, aku akan ganti kerugiannya. Atau aku akan cari klien lebih besar dari mereka. Kita bisa mengajukan penawaran ke Syauqi Properties." Jelas Vanila.
"Tapi Syauqi Properties bukannya sudah punya suport system buatan putri bungsunya almarhum pak Arlan?" Tanya Satya.
__ADS_1
"Iya, Kita tawarkan sistem pengembangannya. Aku yang handle proyeknya." Kata Vanila meyakinkan.
"Ok lah kalau begitu. Ganti Ken, proposalnya ke Syauqi properties aja. Nggak dapat Ikan hiu, ikan paus pun jadi" Kata Satya sambil tertawa lalu menikmati mie ayamnya. Begitu juga dengan Vanila. Sementara Niken mulai sibuk membuat proposal penawaran ke Syauqi Properties.
Untuk memudahkan rencananya, Vanila akhirnya menghubungi keempat kakaknya. Karena bagaimanapun saham Syauqi properties sudah di pecah Arlan menjadi 5. Mereka mendapat saham yang sama besar.
Kakak-kakak Vanila sangat senang sekali, setelah lebih dari setahun, mereka tidak mendapat kabar dari Vanila, akhirnya mereka tahu kalau Vanila baik-baik saja. Langit dan Shanum berebutan berbicara dengan Vanila, karena mereka sudah lama tidak melihat Vanila. Dahlia dan Jasmine juga memiliki anak-anak yang sangat lucu dan menggemaskan. Vanila cukup senang bisa melihat keponakannya, walau hanya via VC.
Kakak-kakak Vanila menyetujui rencana kerjasama dengan Aer Suport System. Karena selama ini sistem yang di pakai di Syauqi properties, memang buatan Vanila.
Sehabis menelpon kakak-kakaknya, Vanila memutuskan untuk menghubungi mbok Sa. Vanila sudah sangat rindu, dengan wanita yang sudah membesarkannya dan sangat menyayanginya.
Mbok Sa, yang menerima VC ketika berada di tempat bunda Ningrum, hanya menangis tanpa bisa berkata apa-apa. Setelah sekian lama tidak melihat wajah nona kecil kesayangannya, akhirnya mbok Sa bisa melihat wajah dan mendengar suara Vanila.
Bunda Ningrum, Guntur dan kebetulan Badai yang sedang pulang ke panti, begitu terharu melihat mbok Sa yang menangis memandang hpnya. Mereka tahu, kalau yang menghubungi mbok Sa pasti Vanila. Karena hanya Vanila yang bisa membuat mbok Sa berurai air mata tanpa berkata apa-apa, karena menahan kerinduan.
Hampir satu jam mbok Sa berbicara dengan Vanila. Menanyakan apa saja yang Vanila lakukan selama tidak bersama mbok Sa. Bahkan mbok Sa meminta Vanila memberitahukan keberadaannya, agar Ia bisa menyusul Vanila.
"Mbok jangan nangis terus. Lala baik-baik aja. Nanti kalau waktunya sudah tiba, Lala pasti pulang. Kita sama-sama lagi." kata Vanila, karena mbok Sa ingin menyusul Vanila. Mbok Sa hanya mengangguk menanggapi perkataan Vanila.
"Assalamualaikum La." Salam Badai dan Guntur.
"Wa'alaikumussalam kak. Udah lama nggak ketemu. Kak Badai kok jadi gosong?" Tanya Vanila sambil tertawa karena melihat kulit Badai yang warnanya lebih gelap dari Guntur.
"Hmmm..bisa kena pasal body shaming kamu La." Protes Badai, yang hanya di tanggapi dengan tawa oleh Vanila.
"Setahun lebih ngilang gitu aja. Kamu nggak kangen sama kakak La?" Tanya Badai dengan wajah seriusnya.
"Kangen. Kangen semuanya." Kata Vanila sambil tersenyum dengan wajah imutnya.
"Kamu sekarang ada di mana La?" Tanya Guntur.
"Di rumah." Jawab Vanila
"Iya, Rumah kamu di kota mana?" Tanya nya lagi.
"Mmm.. di mana ya?" Kata Vanila sambil pura-pura berfikir mengetuk-ngetuk dagunya dengan telunjuk.
"Kakak serius La." Kata Badai masih dengan wajah seriusnya.
"Kak Badai woles dong. Yang jelas Lala masih di negara I. Lala baik-baik saja, dan tidak ada yang perlu di khawatirkan. Oh iya kak Badai, maaf ya Lala nggak bisa nepatin janji, untuk datang di hari kelulusan kakak." Kata Vanila dengan wajah menyesal.
"Kakak tunda kelulusan kakak, karena kamu ngilang. Jadinya kakak tambah pelatihannya ikut tim satuan khusus. Ini baru selesai pendidikan. InshAllah bulan depan kakak pelantikan. Jadi kamu masih bisa tepatin janji." Terang Badai.
"Wah... kak Badai keren. InshAllah. Oh iya kak Guntur gimana cafe nya?, aku lihat di medsos, makin keren aja. deviden aku amankan ya?" Tanya Vanila.
"Alhamdulillah, Cafe kita terus berkembang, bahkan sekarang sudah ada 10 cabang dalam setahun ini. Deviden kamu sudah kakak transfer ke rekening kamu yang dengan mbok Sa." Jawab Guntur.
"Lala bercanda loh kak. Serius amat." Kata Vanila kembali tertawa.
"BTW kak Guntur sama kak Badai kapan mau nikah? Ntar Lala kirimin kado yang besaaar." kata Vanila.
"Kalau kakak, InshAllah tahun depan. Tau nih si Badai, ntah siapa yang ditunggunya. Padahal anak atasannya ngejar-ngejar dia terus." kata Guntur, smabil menyenggol bahu Badai.
"Iya nih kak Badai, terima aja. Emang nunggu siapa sih?" Tanya Vanila heran.
"Kamu" Jawab Badai serius.
"What ? Becanda ini pasti. Nggak lucu ah." Kata Vanila yang merasa salah tingkah.
"Serius La. Kakak suka sama kamu dari dulu. Tapi karena kamu masih kecil, kakak nggak berani bilang. Tapi sekarang kakak yakin, kamu sudah ngerti soal perasaan ke lawan jenis." Kata Badai.
"Aku udah nikah kak." kata Vanila dengan wajah sedih.
"Kakak tahu. Tapi kan..."
"Nggak ada tapi-tapi kak. Jangan tunggu suatu hal yang tidak pasti. Kakak buka hati kakak untuk perempuan lain. Lala doain yang terbaik buat kakak." Kata Vanila serius.
"Perasaan nggak bisa dipaksakan La. Kecuali kakak lihat kamu bahagia, baru kakak akan menyerah." Kata Badai lagi.
__ADS_1
"Oh iya kak. Kuping Lala pengang nih, dari tadi pakai earphone. Waktu pelantikan InshAllah Lala usahain datang. Salam buat semuanya. Wasalamu'alaikum." Kata Vanila lalu mengakhiri panggilan VCnya ketika Badai dan Guntur selesai menjawab salam Vanila.