
Sudah seminggu mbok Sa di rawat di rumsh sakit, 13 jam setelah operasi mbok Sa sadar, dan mbok Sa sangat senang begitu membuka mata, ia bisa melihat Vanila. Putri kesayangan yang walau tidak lahir dari rahimnya, tapi sudah seperti anak kandungnya, karena mbok Sa yang merawat Vanila dari bayi.
"Kak Vano nggak kerja? Ke rumah sakit mulu." Protes Vanila begitu melihat Vano datang.
"Kan punya staff, mereka aja yang kerja." Jawab Vano sambil nyengir.
"Ih.. bos nggak bener ini. Oh iya, kakak nggak lupa kan?" Tanya Vanila
"Lupa apa"
"Ish, kebiasaan deh. Nggak boleh ada yang tau kalau aku pulang." Kata Vanila.
"Ooo.. Kalau itu beres. Rahasia terjaga." Kata Vano sambil meniru gaya sedang menresleting mulutnya.
"Bagus." Kata Vanila sambil tersenyum.
"Btw, itu bulepotan nggak balik ke negaranya?" Tanya Vano yang melihat Carl masih di negara I.
"Tau tuh. udah aku suruh pulang, tapi nggak mau." Jawab Vanila.
"Mbok Sa jadi pulang hari ini?" Tanya Vano pada mbok Sa.
"Jadi den. Mbok nggak betah di rumah sakit." Jawab mbok Sa.
"Kan enak mbok di rumah sakit, tidur-tidur, dijagain sama Vanila, Vano mau sakit, kalau Vanila yang jaga." Kata Vano.
"Hush.. kata-kata doa. Nggak boleh gitu ngomongnya den. Di mana-mana nggak ada sakit yang enak." Kata mbok Sa.
"Tau nih, aneh-aneh aja kamu kak." Kata Vanila sambil tertawa.
"Sudah beres-beresnya?" Tanya pak Arman.
"Sudah." Jawab mbok Sa.
"Ya udah, ayok kita pulang." Kata pak Arman lalu membawa tas pakaian mbok Sa.
Vanila yang malas dilihatin, memilih untuk menutupi wajahnya menggunakan masker dan kaca mata polos yang lumayan lebar.
Mereka segera menuju ke rumah Vanila yang ada di kota S. Vano bersama dengan Carl, sementara pak Arman, mbok Sa dan Vanila dalam satu mobil.
Sejak sampai di negara I, Vanila hanya berada di rumah sakit. Sudah hampir 4 tahun Vanila meninggalkan rumahnya. Rumah yang kelihatan sama dengan 4 tahun yang lalu. Tidak ada yang berbeda.
Vanila menyuruh mbok Sa istirahat, dan meminta Vano untuk mengajak Carl jalan-jalan karena Vanila juga mau istirahat.
__ADS_1
Vano yang selalu menuruti Vanila, mengantar Carl untuk jalan-jalan di kota S. Walau merasa Carl adalah saingannya, tapi Vano cukup senang karena Carl nyambung kalau di ajak ngobrol, bahkan mereka berencana untuk bekerja sama.
Vanila mengistirahatkan tubuhnya yang lelah, bagaimanapun nyamannya ruang VVIP tetap tidak bisa membuat Vanila beristirahat dengan tenang.
Sewaktu masuk waktu sholat, Vanila terbangun dan segera menunaikan ibadah sholat Zuhur, kemudian memesan makanan online, karena Vanila nggak mau mbok Sa masak.
Setelah menunggu lebih dari 30 menit, suara bel pintu Vanila berbunyi. Vanila segera membuka pintu untuk mengambil makanan yang di pesannya.
"Iya sebentar." Kata Vanila lalu membuka pintu rumah. Vanila bermaksud segera menutup pintu rumahnya begitu melihat ternyata Aldrin yang berdiri di depan pintu. Aldrin segera menahan pintu agar tidak tertutup, bahkan memeluk Vanila erat.
"Lepas kak. Ingat kita sudah bukan mukhrim lagi. Kakak sudah talak aku." Kata Vanila sambil meronta berusaha melepaskan pelukan Aldrin, tapi Aldrin justru mendekap Vanila semakin erat.
"Maafin mas La. Maafin mas. Itu adalah kesalahan terbodoh yang pernah mas lakukan. Maafin mas La." Kata Aldrin yang nggak mau melepaskan Vanila.
"Lepas kak. Aku bilang lepasin." Kata Vanila yang masih berusaha melepaskan pelukan Aldrin, sampai ada seseorang yang menarik Aldrin dan langsung memukulnya.
"Carl jangan." Kata Vanila yang menahan Carl untuk tidak memukul Aldrin.
Vano segera membantu Aldrin berdiri, yang tersungkur karena di dorong oleh Carl.
"Kamu tidak apa-apa Aisyah?" Tanya Carl pada Vanila.
"Its ok. Terimakasih." Kata Vanila.
"Mas sadar. Vanila bukan istri mas lagi. Mas sudah talak Vanila." Kata Vano menyadarkan Aldrin.
"Tapi mas baru ucapkan talak 1. Mas bisa balik lagi sama Lala." Kata Aldrin lagi.
"Maaf kak. Tidak ada kata-kata balik." Kata Vanila.
"Tapi La, Mas cinta sama kamu, mas sangat cinta sama kamu La. Kamu harus kembali sama mas. Mas janji, mas akan lakukan apapun biar kamu balik lagi sama mas. Kamu bilang aja La, apa yang harus mas lakukan?" Teriak Aldrin yang membuat mbok Sa dan pak Arman keluar rumah.
"Sudahlah mas. Mas akan membuat Vanila semakin menjauh dari mas. Jangan paksa Vanila mas." Kata Vano.
"Tapi mas butuh Vanila Rasyid, mas Cinta sama Vanila." Kata Aldrin yang terduduk di tanah sambil menangis menyesali perbuatannya dulu.
"Ikhlaskan aku kak. Kita sudah tidak berjodoh. Allah sudah menetapkan takdir jodoh kita hanya sebentar." Kata Vanila.
"Kamu tega sama mas La. Kamu tega. Kamu selalu pergi begitu saja, tanpa mau mendengar penjelasan dari mas. Maafin mas La." Kata Aldrin sambil menangis.
"Aku sudah maafin mas. Demi Allah. Tapi aku nggak akan balik lagi sama mas. Cintai aja istri mas sekarang. Ikhlasin aku." Kata Vanila lagi.
"Sudah non kita masuk aja. Den Vano tolong bawak dulu den Aldrin pulang. Nggak enak sama tetangga ribut-ribut." Kata mbok Sa.
__ADS_1
Vano memaksa Aldrin untuk masuk ke mobilnya, dan segera membawa Aldrin menjauh dari rumah Vanila.
"Maaf, nggak seharusnya kamu lihat seperti ini." Kata Vanila.
"Its ok." Kata Carl.
Tidak lama kemudian, makanan yang di pesan Vanila datang. Pak Arman segera mengambil pesanan Vanila dan membawanya ke dapur.
Vanila mengeluarkan makanan yang di pesannya dan menatanya dalam piring dan mangkok.
"Kasi mbok Sa makan dulu pak. Kamu juga makan Carl." Kata Vanila sambil menyerahkan piring kepada Carl.
Kedatangan Aldrin benar-benar membuat Vanila jadi tidak selera makan. Dari tadi Vanila hanya mengaduk-aduk makanan yang ada di hadapannya.
"Kamu kenapa tidak makan?" Tanya Carl.
"Kenyang." Jawab Vanila.
"Sayang makanan jangan di buang-buang." Kata Carl lagi.
"Iya aku makan. oh iya kamu kalau mau balik ke hotel, nanti aku suruh pak Arman antar." Kata Vanila.
"Ok. Kamu makan. Habisin makanannya. Oh iya kamu mau balik lagi ke kota J kapan?" Tanya Carl.
"Masih belum tahu. Sepertinya masih agak lama di sini. Kamu kalau mau balik, balik aja. Kasihan perusahaan kamu lama-lama ditinggalin." Kata Vanila.
"Aisyah, apakah aku boleh mencintai kamu?" Tanya Carl tiba-tiba.
"Nggak lucu becandanya." Kata Vanila yang mencoba tersenyum.
"Aku serius. Aku suka kamu sejak papa bawa kamu makan malam di keluarga kami. Kamu perempuan impian aku." Kata Carl.
"Maaf. Aku nggak bisa. Terlalu banyak perbedaan di antara kita. Kamu cari perempuan yang lain aja." Kata Vanila sambil memaksakan senyum nya.
"Tapi Syah..."
"Carl please." Kata Vanila yang membuat Carl tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Vanila cepat-cepat menghabiskan makanannya, lalu meminta pak Arman mengantarkan Carl kembali ke hotel.
Vanila mentup dirinya dari cinta. Vanila tidak ingin hatinya kembali sakit karena cinta. Walaupun Vanila selalu menampakkan wajah bahagianya, tapi hatinya selalu sedih mengingat perjalanan cintanya.
Aldrin adalah cinta pertama Vanila, tapi cinta pertama itulah yang melukai hati Vanila dalam, sehingga Vanila takut untuk jatuh cinta lagi, takut hatinya terluka lagi.
__ADS_1