
perkataan Vanila membuat umi Salma, kyai Abdullah dan mbok Sa terkejut. Mereka tidak menyangka kalau Vanila memutuskan untuk bercerai.
"La.."
"Maaf umi, abah, Lala sudah putuskan. Lala tahu kalau cerai adalah perbuatan yang di benci Allah, tapi mas Aldrin tetapi harus memenuhi janjinya, dan Lala nggak bisa kalau harus berbagi suami. Maaf untuk keegoisan Lala." Kata Vanila dengan tenang, tapi justru membuat umi Salma dan mbok Sa berurai air mata.
Vanila yang melihat umi salma dan mbok Sa yang menangis, hanya tersenyum sambil menggelangkan kepalanya, mengisyaratkan agar umi Salma dan mbok Sa tidak perlu menangisi Lala.
"Mas mohon La. Semuanya masih bisa dibicarakan. Mas nggak akan ceraikan kamu." Kata Aldrin yang bersimpuh di depan Vanila.
"Mas jangan seperti ini. Ini jalan keluar yang terbaik. Karena Lala juga yakin kalau kak Qila juga tidak mau di duakan." Kata Vanila bersaha tersenyum.
"Tapi La?"
"Lala mohon mas, bukankah mas sudah janji, apapun keinginan Lala untuk pernikahan kita, mas akan turutin." Kata Vanila
"Mas nggak mau cerai dari kamu La. Qila jika kamu bersedia jadi istri kedua saya, saya akan nikahi kamu. Tapi jika kamu tidak bersedia, maaf saya tidak bisa menikahi kamu. keputusan saya sudah final." Kata Aldrin dengan wajah serius.
"Ok. Qila bersedia jadi istri kedua mas, tapi sebagai suami, mas harus bersikap adil." Kata Sidqila.
"La, mas mohon. Mas tahu kamu perempuan hebat, punya hati yang besar untuk menerima keadaan ini. Qila bersedia untuk jadi istri kedua mas, jadi mas harap, kamu ikhlaskan mas menikah lagi." Kata Aldrin
"Kasih Lala waktu. InshAllah besok Lala jawab." Kata Vanila yang memang tidak mau gegabah untuk memutuskan.
Setelah pembicaraan selesai, Sidqila dan mamanya pamit pulang. Mbok Sa, pak Arman, Umi Salm dan Kyai Abdullah kembali ke kamarnya masing-masing.
Vanila dan Aldrin masih duduk di ruang tamu, hanya ada keheningan di antar mereka. Vanila memeriksa beberapa email yang masuk, karena dengan bekerja Vanila bisa mengalihkan pikirannya.
"La.."
"Mas istirahat aja duluan. Lala izin tidur di kamar Lala." Kata Vanila lalu pergi meninggalkan Aldrin.
__ADS_1
Aldrin menatap kepergian Vanila dengan perasaan sedih, tapi Aldrin tidak bisa mencegah Vanila, karena Aldrin tahu kalau Vanila tidak suka dipaksa.
Setelah masuk ke kamar Vanila memutuskan untuk sholat istikhoroh. Sepanjang malam Vanila duduk di atas sajadahnya dan mulutnya tidak pernah berhenti melantunkan lafaz Allah untuk menenangkan hati dan pikirannya.
Vanila ketiduran di atas sajadahnya, Ia baru terbangun ketika Aldrin mengetuk pintu kamar Vanila, untuk membangunkan Vanila, melaksanakan sholat subuh.
"tok..tok"
"La.."
"Iya mas. Lala udah bangun. Mas duluan aja ke mesjid."Kata Vanila.
"Lala mana Al?" Tanya Umi Salma.
"Lala sepertinya sholat di rumah umi." Jawab Aldrin.
Selesai sholat, mereka kembali ke rumah, Vanila terlihat sudah keluar dari kamarnya dan sedang mempersiapkan membuat nasi goreng.
"Biar mbok aja non." Kata mbok Sa ketika melihat Vanila mengupas bawang.
Selesai masak nasi goreng, Vanila segera menghidangkan di meja makan, umi dan kyai Abdullah senang melihat Vanila yang tidak larut dalam masalah Aldrin.
Selesai sarapan dan membereskan meja makan, mereka duduk di ruang keluarga, sambil menikmati wedang rempah.
"Lala udah ambil keputusan. Lala terima mas Al menikah dengan mbak Qila. Tapi jika nanti di kemudian hari terjadi masalah, Lala minta mas Al langsung ceraikan Lala."Kata Vanila.
"Alhamdulillah. Terimakasih La. Mas janji, mas nggak akan buat masalah." Kata Aldrin sambil menggenggam tangan Vanila senang.
Tidak lama setelah Vanila berbicara, Sidqila kembali datang bersma beberapa anggota keluarganya yang lain. Karena Vanila sudah memutuskan rela untuk diduakan, akhirnya semua sepakat, bahwa pernikahan Sidqila dan Aldrin akan diadakan minggu depan. Sidqila takut Aldrin berubah pikiran, sehingga tidak jadi menikahinya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌹🌹🌹🌹🌹🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Dalam waktu seminggu, Vanila membantu Aldrin mempersiapkan pernikahannya, mulai dari membeli bafang-barang hantaran hingga cincin dan mas kawin yang akan diserahkan oleh Aldrin dalam pernikahannya.
Mbom Sa yang paham betul seperti apa Vanila, hanya bisa menangis ketika putri kecilnya tersenyum memperlihatkan kalau dia baik-baik saja, tapi mbok Sa tahu betul kalau Vanila sangat terluka.
Vanila membantu Aldrin mengenakan pakaian pernikahannya. Vanila merapikan pakaian yang di kenakan Aldrin, dan berusaha memberikan senyuman terbaiknya, agar Aldrin bisa menikah dengan tenang.
"Terimakasih sayang. Maafin mas." Kata Aldrin yang justru sedih melihat senyum Vanila.
"Mas jangan sedih. InshAllah Lala ikhlas. Hari ini mas nikah dengan mbak Qila. Mas harus bisa jadi suami yang baik, suami yang adil buat kami."Kata Vanila sambil mengusap air mata Aldrin.
"Maafin mas La." Kata Aldrin sambil mencium kening Vanila.
"Maaf, Lala nggak bisa antar. Lala takut nanti banyak pembicaraan yang tidak mengenakan kalau Lala di sana." kata Vanila ketika mereka berjalan keluar dari kamarnya.
Vano yang baru pulang, karena ada urusa di negara P, sangat marah mengetahui kalau Aldrin akan menikah lagi.
"Apa maksudnya ini mas?, kanapa mas menikah lagi? Kalau mas nggak bisa bahagian Vanila, lepaskan Vanila, biar Rasyid yang jaga." Tanya Vano kesal begitu melihat Aldrin.
"Kak Vano. Lala nggak apa-apa." Kata Vanila sambil tersenyum berusaha membuat Vano tenang.
"Tapi Va.."
"Nggak ada tapi-tapi kak. Kak Vano antar mas Al. Lala doakan yang terbaik." kata Vanil sambil tersenyum yang membuat Vano tidak bisa berkata-kata lagi.
Vano dengan perasaan yang campur aduk menuruti permintaan Vanila. Sesampainya di tempat acara akad nikah yang diadakan di ballroom hotel milik keluarga Vanila,Aldrin menikah dengan Sidqila.
Sidqila terlihat sangat bahagia bisa menikah dengan Aldrin. Ia tidak perduli dengan wajah-wajah sedih umi Salma, kyai Abdullah, Aldrin dan wajah kesal Vano.
Setelah selesai acara akad nikah yang dilangsungkan abis Ashar, kemudian dilanjutkan acara resepsi pada malam harinya. Persiapan pesta yang sangat mewah untuk waktu persiapan yang hanya seminggu.
"Apa kamu benaran ikhlas Va?" tanya Vano ketika melihat Vanila yang sedang duduk di bangku yang ada di bawah pohon kelengkeng.
__ADS_1
"InshAllah kak. Aku manusia biasa. Tapi InshAllah aku kuat. Kakak doain yang terbaik buat Aku ya." kata Vanila sambil memandang jauh lurus kedepan.
Setelah menikah, orang tua Sidqila memberikan hadiah berbulan madu keliling negara di benua E. Aldrin sebenarnya menolak hadiah dari orang tua Sidqila, karena tidak mau meninggalkan Vanila, tetapi karena orang tua Sidqila terus memaksa, akhirnya di terima juga oleh Aldrin