
Perjalanan yang memakan waktu cukup lama dari kota menuju kampung laut sekitar 3 jaman, membuat Vanila sedikit lelah dan tertidur.
Pram tersenyum melihat wajah damai Vanila yang sedang tertidur, membuat anak buah Pram yang bernama Haris juga jadi senyum-senyum.
"Kamu kenapa senyum-senyum?" Tanya Pram dengan suara tegasnya.
"Siap salah Kolonel." kata Letda Haris takut.
"hmmm.... kita udah sampai capt?" Tanya Vanila sambil meregangkan tubuhnya yag sedikit tidak nyaman waktu tertidur.
"Itu iler lap dulu." Kata Pram sambil menatap Vanila dengan senyuman jahil.
"hah..? iler?" kata Vanila panil sambil mengelap sudut bibirnya yang membuat Pram tertawa terbahak-bahak, karena berhasil ngerjain Vanila, yang membuat Vanila langsung melototin matanya ke Pram..
"Dasar Captaint sableng"Kata Vanila kesal, lalu segera keluar dari mobil yang di tumpanginya.
Vanila melihat kesekeliling, ternyata ia tengah berada di lingkungan militer yang ada di kota A. Dan kebetulan ada beberapa orang tentara muda yang sedang latihan berlari sambil menyanyikan yale-yale ala tentara latihan.
Vanila yang turun dari mobil sambil ngedumel dan segera menggendong ranselnya yang cukup besar langsung menjadi pusat perhatian para tentara muda yang membuat Pram geram.
"Tambah larinya 50 putaran." Teriak Pram yang membuat para tentara muda itu langsung mengalihkan pandangannya dari Vanila dan segera berlari menyelesaikan perintah Pram.
"Kok di sini sih Captaint turunin aku. Aku tuh mau ke Kampung Laut, kenapa jadi ke kampung Militer?" Tanya Vanila kesal.
"Captaint Captaint, pertama jabatan saya bukan Captain lagi, jadi jangan panggil saya Captaint. Lagian biasain aja manggil abang kek, mas kek, honey bila perlu." Kata Pram sambil tertawa.
"Abang tukang bakso? Atau mas mas mie ayam?" Tanya Vanila dengan wajah polos yang membuat Pram jadi gemesh pengen cium (eh.. belum halal, nggak boleh nyosor-nyosor...😅)
"Bukan abang tukang bakso atau mas mas mie ayam juga kali, Vanilarea Aisyah Syauqi" Kata Pram yang agak kesal karena dikira abang tukang bakso atau mas penjual mie ayam.
"Lah... itu kenapa nama aku di sebut lengkap-lengkap?" Tanya Vanila
"Latihan buat ijab kabul. Kan harus sebut nama kamu lengkap." Kata Pram sambil menaik turunkan alis matanya menggoda Vanila.
"Ngarep. Kepedean bener Abang tukang bakso." Kata Vanila sambil melangkahkan kakinya meninggalkan Pram, menuju palang pintu yang tidak jauh dari tempat Vanila berdiri.
"Yakin mau jalan kaki neng? Kampung laut lumayan jauh." Kata Pram yang langsung menyusul Vanila.
"Deket kok, tadi aku udah cek, ini barak militer kan ada di kampung laut. Jalan ke tempat pemukiman sekitar 15 menitan. lumayan hitung-hitung olah raga. See u Capt. Assalamualaikum" Kata Vanila lalu segera pergi meninggalkan Pram yang masih bengong karena nggak berhasil nipu Vanila.
Vanila menyusuri jalanan yang terasa sejuk karena kebetulan jalan yang ia lewati tidak jauh dari pantai. Vanila tersenyum senang ketika melihat pemukiman kampung laut yang sudah mulai kembali rapi, tidak seperti waktu Vanila pertama kali datang ke kampung laut.
Vanila mengingat kondisi kampung laut yang tata letak pemukimannya tidak terlalu berubah, bedanya kalau Vanila sebelumnya datang, kondisinya masih beraatakan, sekarang kondisinya sudah rapi dan jadi lebih bagus.
Vanila melangkahkan kakinya menuju balai desa yang memang letaknya tidak jauh dari laut. Vanila tersenyum melihat seorang pria yang cukup berumur, sedang berbicara dengan seorang pria yang lebih muda mengenakan pakain yang sama.
"Assalamualaikum pak." sapa Vanila ramah.
"Wa'alaikumussalam. MashaAllah. ini nak Lala kan?" Tanya bapak kepala desa sambil tersenyum senang.
"Iya pak. ini Lala." Kata Vanila sambil tersenyum.
__ADS_1
"Bapak senang nak Lala nggak lupa sama kampung laut." Kata kepala desa lagi.
"InshAllah nggak pak."Kata Vanila.
Kepala desa meminta Vanila untuk masuk ke kantornya dan Vanila di sambut senyuman ramah pegawai kantor yang lain, karena mereka mengenal Vanila, ditambah lagi bantuan yang diberikan AERSS sangat membantu Desa Kampung Laut memperbaiki keadaan.
Pak kepala desa menjelaskan progres perbaikan infra struktur Kampung laut, dan Vanila mendengar penjelasan Bapak kepala desa dengan seksama.
"Nak Lala nginap di tempat bapak saja nanti. Ibu pasti senang ketemu nak Lala." Kata bapak kepala desa.
"Terimakasih pak. Saya nggak mau merepotkan. soal nginap gampang." Kata Vanila sambil tersenyum.
"Repot apa. Bapak dan Ibu nggak repot. lagian nanti ada agus yang bisa ngantarin nak Lala kalau mau jalan-jalan." Kata pak kades lagi.
"Agus?" tanya Vanila heran.
"Itu loh, yang nak Lala selamatkan waktu tertimpa bangunan, yang buat almarhum pak Ade meninggal." Kata paka Kades dengan wajah sedih.
"Ooo.. ingat. namanya Agus. Bagaimana kondisi Agus?" Tanya Vanila.
"Alhamdulillah sudah sangat sehat, walau terkadang bekas operasinya masih suka sakit." Terang pak Kades.
"Nanti coba saya periksa. Jadi Agus tinggal dengan Bapak?" Tanya Vanila heran.
"Iya. Soalnya satu-satunya keluarga Agus, pak Ade sudah meninggal. Jadi saya yang menggantikan pak Ade untuk menjaga Agus. lagian Agus sudah seperti anak kami sendiri." Kata pak Kades panjang lebar.
sewaktu istirahat makan siang, pak Kades segera mengajak Vanila untuk kerumahnya. Jarak kantor Desa dan rumah pak Kades yang lumayan jauh, menyebabkan pak Kades harus membonceng Vanila dengan motor yang merupakan inventaris kantor desa.
"Wa'alaikumussalam." Kata Istri pak Kades yang bernama Sinta, dan langsung memandang Vanila yang sedang tersenyum di ambang pintu.
"MashAllah. Non dokter cantik ternyata. Masuk non, jangan berdiri disitu." Kata Bu Sinta senang sambil mengajak Vanila masuk dan memintanya duduk di sofa sederhana yang ada di ruang tamu.
"Non dokter apa kabar?" Tanya bu Sinta dengan senyum yang masih belum luntur.
"Kabar saya alhamdulillah baik bu. Panggil Lala aja. Jangan Non dokter." Kata Vanila ramah.
"Oh iya maaf. Soalnya ibu ingatnya anak-anak sama yang lain bilangnya non dokter cantik, jadi ya ibu kebiasaan."Kata bu Sinta lagi.
"Oh iya bu, nak Lala mau nginap disini. Kamar tamu bisa dipakai kan?" tanya pak Kades.
"Wah... beneran nak Lala mau tinggal disini? Rumah ibu dan bapak sederhana. Nanti nak Lala nggak betah." Kata Bu Sinta agak khawatir.
"InshAllah betah bu. udah biasa juga Lala tinggal dipanti yang sederhana." Kata Vanila lagi.
"Oh, nak Lala tinggal di panti asuhan?" Tanya bu Sinta tidak percaya.
"Iya bu." Jawab Vanila lagi sambil tersenyum.
Bu Sinta segera mengantar Vanila ke kamarnya untuk meletakkan barang-barangnya, kemudian mereka segera makan siang, karena sudah masuk waktunya makan.
"Agus nggak pulang buk?" Tanya Pak kades pada istrinya.
__ADS_1
"Tadi makan siangnya sudah di jemput sama si Ari." Jawab bu Sinta, lalu mereka melanjutkan acara makan siang.
Selesai makan siang, Pak Kades segera ke mushola terdekat untuk melaksanakan sholat zuhur, begitu juga dengan bu Sinta dan Vanila.
Selesai sholat Zuhur pak Kades kembali ke kantor desa, sementara Vanila menemani bu Sinta ke tempat perkumoulan ibu-ibu yang lokasinya tidak jauh dari rumah bu Sinta.
"Jadi ibu-ibu di sini buka usaha umkm bu?" Tanya Vanila antusias.
"Iya nak, kita manfaatin hasil laut yang melimpah, dengan membuat beberapa olahan hasil laut. Lumayan, produk kita sudah sampai supermarket besar yang ada di kota loh." Terang bu Sinta bangga.
"Wah.. bagus dong. Jadi nggak sabar Lala mau lihat." Kata Vanila senang.
"Kakak Cantik.." Teriak Airin senang dan langsung berlari ke arah Vanila begitu melihat Vanila datang dan langsung memeluknya.
"Wah.. Airin sudah besar." Kata Vanila sambil mengelus kepala Airin.
"Ih, kakak Cantik basa basi. kan belum lama kakak dari sini. Masak iya Airin udah tambah besar." Protes Airin yang hanya dijawab cengiran oleh Vanila.
Airin segera menarik Vanila ke tempat ia dan teman-temannya sedang membuat kerajinan dari kerang laut.
Vanila senang, melihat warga kampung laut yang mulai bangkit setelah bencana yang menimpa desa mereka. Tidak ada lagi raut kesedihan dan rasa sakit, seperti yang Vanila lihat sewaktu pertama ke kampung laut.
Vanila ikut membantu ibu-ibu yang sedang mengolah ikan untuk dijadikan kerupuk, sedangkan remaja putri membuat kerajinan dari kerang.
Walaupun banyak yang bahagia yang melihat kedatangan Vanila, tapi yang namanya manusia, tetap saja ada yang merasa tidak suka dengan kedatangan Vanila.
"Assalamualaikum. Buk, mana yang mau di antar ke kota?" Tanya Agus kepada bu Sinta, dan tidak sengaja Agus melihat Vanila yang sedang menguleni adonan kerupuk, bahkan wajahnya terkena tepung akibat ulah Airin.
"Eh ada bang Agus. Abang cari Asri?" Tanya Asri yang berusaha mencari perhatian Agus, karen Asri memang suka dengan Agus sejak lama.
"Itu loh Gus, sudah di keranjang." Kata Bu Sinta, dan melihat arah pandang Agus, karena bu Sinta melihat Agus yang tidak menanggapi jawaban bu Sinta.
Agus sedang melihat Vanila yang sedang tertawa sambil menempelkan tepung ke pipi Airin yang kemudian kembali dibalas oleh Airin.
"Bang Agus, kok Asri di cuekin sih." dumel Asri yang masih tidak bisa mengalihkan pandangan Agus dari Vanila, yang membuat Asri semakin sebal dengan Vanil.
"Gus.. itu barangnya sudah di keranjang. Gus.. gus.." Kata Bu Sinta sambil menyenggol bahu Agus.
"Astagfirulloh. Iya kenapa bu?" Tanya Agus yang membuat bu Sinta geleng-geleng kepala.
"Itu barang yang mau di bawa ke kota sudah ibu susun ke keranjang." Kata bu Sinta lagi, dan lagi-lagi melihat Agus yang tidak memperhatikan bu Sinta karena sibuk menatap Vanila.
"Itu nak Lala." Kata bu Sinta.
"Lala?" beo Agus yang langsung salah tingkah karena ketahuan sedang memperhatikan Vanila.
"Ya sudah. Pergi sana cepat. Nanti keburu malam baliknya." Kata bu Sinta lagi.
"Bang Agus, Asri ikut ya?" tanya Asri dengan suara yang dibuat manja.
"nggak bisa. Abang perginya sama Ari." Kata Agus yang segera menuju ke arah keranjang, tempat barang-barang hasil kerja umkm kampung laut.
__ADS_1
"Agus pergi dulu bu Assalamualaikum" Kata Agus begitu selesai menyusun barang-barang di mobil bak terbuka yang dibawanya.