
Vanila yang merasa kepalanya semakin pusing, memutuskan untuk menutup matanya dan bersandar di kursi tunggu.
"Leher kamu nanti sakit Va. bersandar di bahu kakak saja." Kata Vano yang menawarkan bahunya untuk Vanila bersandar.
"Its ok kak. Efek jet lag Lala belum hilang." Kata Vanila.
"Kamu istirahat saja dulu di hotel, saya akan menggantikan kamu menjaga di sini." Tawar Carl.
"Its ok. Aku tunggu mbok Sa selesai operasi." Kata Vanila yang kembali menutup matanya.
Setelah menunggu lebih dari 3 jam, akhirnya lampu di depan ruang operasi mati, yang menandakan kalau operasi sudah selesai.
Vanila yang melihat lampu ruang operasi mati, segera berdiri, namun kepalanya kembali pusing dan membuat Vanila akan terjatuh, Vano dan Carl menangkap Vanila bersamaan agar tidak terjatuh.
"Nggak apa-apa." Kata Vanila menepis tangan Vano dan Carl lalu menyusul pak Arman yang sudah duluan berdiri di depan pintu ruang operasi.
"Bagaimana istri saya dok?" Tanya pak Arman panik.
"Alhamdulillah hematomanya sudah bisa kita keluarkan. Sekarang tinggal menunggu pasien melewati masa kritisnya." Kata dokter Andri yang tersenyum ke arah Vanila, karena saran Vanila berhasil.
Vanila memesan ruang VVIP sebagai ruangan perawatan mbok Sa, agar Vanila bisa memantau dan menjaga mbok Sa.
Setelah operasi, mbok Sa masih harus di rawat dulu di ruang pemulihan pasca operasi. Vanila yang seorang dokter, melihat kondisi mbok Sa, yang mulai stabil, memutuskan untuk istirahat di ruang rawat mbok Sa.
"Pak Arman, Lala ke ruang rawat mbok Sa dulu. Carl bisa istirahat ke Syauqi Hotel dulu di antar kak Vano. Aku mau istirahat." Kata Vanila
"Tapi Syah.. Va.." protes Carl dan Vano bersamaan.
"Tidak ada tapi." Kata Vanila tegas, yang membuat kedua pria tampan itu tidak bisa membantah lagi.
Dengan berat hati Vano dan Carl meninggalkan rumah sakit untuk mengantar Carl ke Syauqi Hotel. Vano membantu Carl Chek in atas nama Vanila, karena Vanila sudah menghubungi manajer hotel sebelumnya.
Vanila yang memang lelah dan mengalami sakit kepala akibat jet lag tertidur dengan pulas di kasur yang memang disediakan untuk keluarga pasien.
__ADS_1
Vanila yang merasa kalau tubuhnya sudah lebih baik setelah beristirahat mulai membuka matanya dan meregangkan tulang-tulangnya.
Vanila menghentikan aktivitasnya ketika sadar Carl dan Vano memperhatikannya sambil tersenyum.
"Kak Vano? Bang Carl? Kenapa kalian ada di sini? Bukannya Lala udah suruh pergi." Kata Vanila agak marah.
"Kita sudah pergi dan balik lagi. Kamu yang tidurnya kelamaan. Itu mbok Sa aja sudah dipindahkan." Kata Vano sambil menunjuk mbok Sa, yang membuat Vanila langsung turun dari tempat tidur segera menuju brankar mbok Sa.
"Alhamdulillah mbok Sa sudah melewati masa kritisnya. Berarti tinggal tunggu mbok Sa sadar. Pak Arman jangan khawatir ya. InshAllah mbok Sa baik-baik aja." Kata Vanila berusaha menguatkan pam Arlan.
Carl dan Vano sudah membeli makanan dan meletakkannya di meja makan. Karena Vano tahu betul kalau Vanila pasti akan lapar.
Vano sengaja memesan dimsum favorit Vanila dari restoran langganan Vanila.
"MashaAllah. Ada dimsum. Kak Vano tahu aja. Lala udah lama banget kangen makan dimsum ini." Kata Vanila senang melihat plastik kemasan dimsum yang tertulis nama restoran favorit Vanila.
"Mandi dulu kali Va. Itu dimsum nggak kemana-mana kok. Kakak udah pesan banyak. Kamu bisa makan sepuasnya." Kata Vano.
"Ai ai Captain." Kata Vanila sambil memberi hormat, lalu segera menuju lemari mengambil tas pakainnya dan segera ke kamar mandi.
"Jangan berfikir macam-macam Carl. She is mine." Kata Vano yang tidak suka melihat Carl yang terpesona melihat Vanila.
"No no no. She is mine." Protes Carl dan Vano yang siap-siap ribut, tapi langsung berhenti begitu mendengar deheman pak Arman.
Vanila yang sudah selesai mandi mengenakan gamis santai berwarna hijau botol dan jilbab sorong yang membuat Vanila kelihatan semakin imut.
Vanila segera meletakkan tas pakainnya di lemari, lalu segera duduk di meja makan dan membuka bungkusan dimsum.
"Pak Arman, sini makan. Mbok Sa nggak akan hilang kok." Kata Vanila yang membuat Vano tertawa karena sudah lama tidak mendengar candaan Vanila, tapi Carl bingung karena tidak mengerti ucapan Vanila.
"Kakak nggak di tawarin Va?" Tanya Vano
"Yang beli ini siapa?"
__ADS_1
"Kakak."
"Berarti ini punya siapa?"
"Kakak"
"Trus ngapain nanya." Kata Vanila sambil tertawa. Walau tidak mengerti tapi Carl suka melihat wajah Vanila yang bersemu merah ketika tertawa.
Vano ngajak Carl dan pak Arman untuk duduk di meja makan. Vanila segera meletakkan seporsi dimsum di depan Vano, pak Arman dan Carl.
"Kok kita cuma di kasih seporsi Va? itu kakak beli 10 porsi loh." Protes Vano
"Lala dalam masa pertumbuhan tau. Jadi butuh makan banyak. Kakak kalau mau, pesan lagi aja sana. Lagian dimsum seporsi isinya cuma 3." protes Vanila yang membuat Vano tertawa dan pak Arman hanya tersenyum, karena kalau makanan yang ada didepannya dimsum langganannya, 10 porsipun nggak rela Vanila untuk berbagi. (itu perut apa gentong La? Banyak amat makannya..😅😅)
"Apa lagi yang mau tumbuh La? Bukannya ini sudah maksimal?" Goda Vano.
"Shut.. kakak diam aja deh. Nggak ingat kata pak ustadz, kalau di meja makan nggak boleh berisik. Makan itu harus tenang, biar makannya bisa dinikmati. trus jangan lupa baca bismillah dan doa makan, biar syetan nggak ikutan makan." Terang Vanila panjang lebar, yang membuat Carl melongo mendengar kecepatan Vanila berbicara, sementara Vano hanya tertawa, menikmati moment yang sudah lama tidak dinikmatinya.
Mereka menikmati dimsum tanpa suara, dan Vanila adalah orang yang paling menikmati dimsum yang sudah lama tidak ia makan. Sangking semangatnya, saos dimsum sedikit belepotan di sudut bibir Vanila.
Carl refleks mengambil tisu dan melap saos yang ada di sudut bibir Vanila.
Vanila yang agak terkejut dengan tindakan Carl, segera memundurkan tubuhnya, membuat Carl sadar bahwa yang dilakukannya salah.
"Maaf" Kata Carl merasa tidak enak.
"Aku makannya berantakan ya.? hehe" Kata Vanila sambil nyengir karena juga merasa tidak enak. Vano yang melihat itu sedikit agak manyun.
Karena dimsum yang dimakannya tidak cukup menutupi rasa lapar, Vano segera memesan makanan lain setelah menanyakan kepada pak Arman dan Carl apa yang ingin mereka makan, sementara Vanila sudah tidak sanggup makan lagi setelah menghabiskan 7 porsi dimsum favoritnya.
Selesai makan, Vanila duduk di samping mbok Sa. Menatap wajah yang selama ini dirindukannya, tapi ketika bertemu salah seorang perempuan yang sangat berharga untuk Vanila tengah terbaring lemah akibat mengalami kecelakaan.
Vanila mencium tangan mbok Sa, dan mengelus pipi mbok Sa lembut. Dan Vanila tidak bisa menahan air matanya yang terus mengalir membasahi pipinya.
__ADS_1
"Maafkan Lala mbok. Mbok Sa bangun ya? mbok nggak kangen sama Lala. Lala udah pulang. Mbok bangun dong." Kata Vanila sambil menggenggam tangan mbok Sa dan meletakkan dipipinya.