
Vano yang sudah seminggu menunggu kabar dari Aer Suport System, tidak mendapatkan proposal penawaran akhirnya memutuskan untuk langsung mendatangi perusahaan Aer suport system.
"Selamat siang. Apakah saya bisa bertemu dengan pak Satya?" Tanya Vano kepada resepsionis.
"Selamat siang pak. Silahkan diisi dulu buku tamunya." Kata resepsionis yang bernama Riri ramah. Apalagi tamu yang datang genteng seperti Vano.
"Ini mbak buku tamunya sudah saya isi." Kata Vano sambil tersenyum dan mengembalikan buku tamunya kepada Riri.
"Sebentar pak, saya hubungi pak Satyanya dulu. Bapak bisa duduk dulu sebentar." Kata Riri sambil mengantar Vano ke sofa yang letaknya tifak jauh dari meja resepsionis.
Riri lalu segera menghubungi Satya memberitahukan bahwa Vano dari AlRasyid properties ingin bertemu dengan Satya.
"Mampus gue" Kata Satya begitu meletakkan gagang telpon.
"Kenapa bang?"Tanya Vanila heran.
"Gara-gara kamu nih Ae. Mana si Keken keluar lagi sama si Ricky. Abang bilang apa dong sama pak Vano soal kita yang nggak ngirim proposal penawaran?" tanya Satya gelisah.
"Tinggal abang bilang aja, kita kebetulan lagi ngerjakan sistem Syauqi Properties. Jadi kita nggak mau, nanti AlRasyid nggak bisa kita garap dengan maksimal karena keterbatasan SDM." Kata Vanila.
"Iya juga ya. Emang pintar kamu. Beli otak dimana sih Ae? Masih ada yang jual nggak?" Tanya Satya sambil tersenyum senang.
"Beli di pasar bawah. Punya aku sih limited edition. Ntar aku cariin deh yang pas buat abang." Jawab Vanila.
"Jiah.. dikira barang seconde kali, beli otak dipasar bawah. Ampun deh Ae, ngomong sama kamu emang nggak ada yang bisa ngelawan." Kata Satya lalu segera pergi keruangannya untuk bertemu Vano.
Satya menjelaskan kepada Vano seperti yang tadi di jelaskan Vanila. Bahwa mereka sedang mengerjakan suport system dari Syauqi Properties, sehingga mereka khawatir tidak bisa memberikan yang terbaik buat AlRasyid Properties.
Vano sebenarnya curiga dan kurang puas dengan alasan yang diberikan Satya, tetapi karena Vano tidak mau memperumit keadaan, akhirnya Vano menerima alasan Satya.
"Bagaimana bang? Pak Vano terima?" Tanya Vanila penasaran.
"Terima. Siapa dulu yang menyampaikan, Abang." Kata Satya membanggakan dirinya.
"Baguslah. Ya udah, untuk Syauqi, aku udah buat sih APSnya. Abang lanjutin sistemnya ya?" Kata Vanila.
"Siip." Kata Satya.
🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱
Sudah hampir sebulan Vanila dan tim mengerjakan pembaruan sistem Syauqi properties.
"Ae, besok perwakilan Syauqi mau datang, buat mastiin sistemnya. Kamu ikut juga?" Tanya Satya.
"Nggak ah. Abang sama yang lain aja urus. Aku besok nggak masuk ya. Cuti seminggu. Ada urusan keluarga. Jadi aku harus ke kota J." kata Vanila.
"Wah.. nggak beruntung kamu. Katanya besok itu yang datang langsung anak pak Arlan. Abang dengar ya Ae, anak pak Arlan yang mau datang, adalah anaknya yang paling cantik. Jadi penasaran abang. Udah punya pacar belum ya?" Tanya Satya.
"Udah nikah tau bang." Kata Vanila spontan.
"Seriusan Ae. Kok kamu tahu?" Tanya Satya heran.
"Karena aku nggak tempe." Kata Vanila sambil tertawa.
"Abang serius Ae." Kata Satya lagi.
"Aku bicara asal aja kok bang. Nggak tahu juga yang mau datang udah punya pacar atau belum. Yang jelas, kasih sambutan dan kesan yang baik ya." Kata Vanila Lalu mulai membereskan barang-barangya dan bersiap-siap untuk pulang.
Vanila memutuskan untuk ke kota J, menghadiri pelantikan Badai, sekaligus ketemu mbok Sa, bunda Ningrum dan Guntur. Selain untuk menepati janji, Vanila juga sudah sangat rindu dengan mbok Sa.
Pagi-pagi sekali, Vanila tidak menggunakan makeup untuk menjadi Aer. Karena hari ini Ia akan ke Aer suport system sebagai Vanila, bukan Aer.
__ADS_1
Vanila mengenakan celana panjang dan tunik berbentuk coat yang panjangnya sampai lutut. Vanila juga sengaja menggunakan makeup tipis dan natural, hanya mengenakan bedak, blush on dan lipstik berwarna coral, yang membuat wajah Vanila semakin fresh.
Vanila menghubungi pihak IT dari Syauqi Properties yang ada di kota P, yang tidak jauh dari kota D. Karena Syauqi properties memiliki cabang yang cukup besar di kota P.
"Assalamualaikum" Kata Vanila yang menyapa perwakilan IT Syauqi properties yang bernama Reyhan dan Siska.
"Wa'alaikumussalam." Jawab mereka kompak dan agak sedikit terkejut, dan dahi berkerut.
"Aku Lala." Kata Vanila memperkenalkan dirinya, karena Vanila tahu, kalau staff Syauqie properties bertanya dalam hati, siapa yang ada di hadapan mereka.
"Oh, ibuk Lala. Maaf buk, kami tidak tahu. Saya Siska dan ini Reyhan." Kata Siska sambil tersenyum.
"Santai aja kali, mbak Siska. Nggak usah panggil ibuk juga. kayaknya aku belum ibuk-ibuk deh." Kata Vanila.
"Baik buk.. eh maaf." Kata Siska yang kembali memanggil Vanila dengan sebutan Ibu.
"Panggil Lala aja." kata Vanila.
"Tapi kurang sopan sepertinya kalau saya panggil Lala. Lagian bukannya Ibu, maaf usianya di atas saya?" Tanya Siska sopan.
"Umur mbak Siska berapa?" Tanya Vanila balik.
"21 tahun." Jawab Siska.
"Berarti aku lebih muda." Kata Vanila sambil tersenyum.
"Di struktur organisasi saya lihat nama ibu ada gelar kesarjanaan. Jadi saya kira ibu umur ibu di atas saya." Kata Siska lagi, yang tetap memanggil ibu, karena merasa bahwa dirinya lebih muda. Walau siska akui Vanila sangat cantik dan imut, dan kalau dilihat dari wajahnya, memang umurnya masih muda. Tapi Siska tidak percaya, bukankah banyak sekali perempuan yang baby face.
"Kalau aku bilang umur aku berapa, mbak Siska jangan shock ya. Dan jangan panggil aku ibuk. Umur aku tuh baru 16 tahun mbak." Kata Vanila sambil tersenyum.
"Apa?, nggak mungkinlah, Ibuk yang sudah sarjana, tapi umurnya 16 tahun." Tanya Siska tidak percaya.
"Hmmm.. Ini KTP aku masih KTP anak." Kata Vanila sambil mengeluarkan KTP anak yang dimilikinya.
"Sudah percayakan. Panggil Lala aja kalau nggak tidak lagi bersama orang dari perusahaan lain." Kata Vanila sambil tersenyum, lalu kembali mengambik KTPnya dan menyimpannya.
Reyhan yang kagum dengan kecantikan Vanila hanya diam saja, tanpa mengucapkan kata sepatah kata pun. Karena Ia lagi menikmati salah satu keindahan yang diciptakan Tuhan.
"Ya sudah. Ayok berangkat." Kata Vanila lalu mengenakan kaca mata hitamnya, dan Vanila beneran terlihat cantik, anggun dan modis.
Sesampainya di Aer Suport System, Vanila dan tim disambut, Satya, Niken dan Amel.
Niken dan Amel tidak berhenti memandangi Vanila, karena ini salah satu kejadian langka, mereka bisa bertemu dengan putri bungsu Arlan yang memang terkenal cantik, dibandingkan kakak-kakaknya.
Satya bahkan sampai tidak bisa berkata apa-apa ketika Vanila menjabat tangannya sambil tersenyum. Satya baru kembali tersadar dari kebengongannya ketika Niken menyenggol bahunya.
"Oh iya. buk Lala. Selamat datang. Mari masuk" Kata Satya mempersilahkan Vanila dan timnya masuk ke ruangan kantor Satya.
Vanila sebenarnya ingin tertawa waktu melihat ekspresi Satya, Amel dan Niken. Tapi Vanila berusaha menahannya, karena ia tidak ingin ketahuan. Vanila juga merubah gaya bicaranya, agar orang-orang yang ada di Aer Suport System tidak curiga.
Hampir dua jam Satya menjelaskan tentang pengembangan sistem yang akan digunakan di Syauqi properties. Vanila pura-pura antusias mendengar presentasi dari Satya. Padahal Vanila tahu persis sistemnya seperti apa, karena Ia yamg mebuat analisa perancangan sistemnya.
"Bagaimana? Apakah ibu setuju?" Tanya Satya.
"Saya sih nggak masalah. Karena sistemnya juga gampang digunakan. Kalau soal maintanance Saya rasa pak Reyhan bisa handle." Kata Vanila.
"Oh iya, sebentar lagi jam makan siang. Bagaimana kalau kita makan siang dulu." Kata Satya.
"Maaf bang.. hmm.. maksud saya maaf pak Satya, saya tidak bisa. Tapi kalau bu Siska dan pak Reyhan InshAllah bisa. Saya harus segera ke bandara." Kata Vanila yang hampir saja keceplosan memanggil bang Satya.
"Wah.. sayang sekali ya buk. Tapi saya maklum. Orang seperti ibu, pasti punya kesibukan yang luar biasa." Kata Satya.
__ADS_1
Vanila lalu pamit dan segera menuju bandara menggunakan transportasi online. Karena Vanila tidak ingin merepotkan orang lain.
Semua yang berpapasan dengan Vanila, terpesona dengan wajah dan penampilan Vanila, apalagi ketika Vanila tersenyum, bahkan ada yang menabrak tonggak gedung karena masih memperhatikan Vanila.
Vanila kembali ke hotel sebentar, untuk mengganti pakainnya dan menghapus makeupnya. Walaupun makeup tipis, Vanila merasa sedikit tidak nyaman.
Vanila mengganti pakaiannya dengan gamis berwarna hitam dan jilba berwarna hijau botol. (Kalau hitam semua, nanti di kira mau ke pemakaman..😅😅😅). Tidak lupa sepatu sneakers berwarna putih hijau, yang membuat penampilan Vanila jadi feminim sporty.
Vanila segera menggendong tas ransel yang berisi laptop dan barang-barang pribadinya. Lalu menuju bandara menggunakan transportasi hotel.
Walaupun Vanila sudah tidak berdandan, tapi wajah imutnya selalu menarik perhatian. Agar tidak lama-lama di bandara dan menjadi perhatian, Vanila sengaja memilih datang setengah jam sebelum pesawat takeoff.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam 45 menit. Akhirnya Vanila sampai di kota J. Vanila segera menuju ke hotel milik keluarganya.
"Sore mbak. Chek in atas nama Amel." Kata Vanila karena memang sewaktu memesan kamar hotel ia menggunakan nama Amel dan meminjam KTPnya untuk selama di kota J. Vanila tidak mau Aldrin atau Vano bisa melacak keberadaannya.
"Oh iya. Sebentar nona." Kata resepsionis hotel, lalu segera mengecek, data Vanila yang menggunakan identitas Amel.
"Oh iya. Ada paket buat nama saya?" Tanya Vanila.
"Iya ada. Ini kartu kamarnya, dan ini paket anda. Selamat beristirahat dan semoga hari anda menyenangkan nona." Kata resepsionis ramah.
"Terimakasih." Kata Vanila lalu segera mengambil kartu untuk membuka kamarnya dan paket yang dikirimkan Badai, yang berisi undangan untuk masuk ke tempat acara.
Sesampainya di kamar, Vanila membuka tasnya dan mengambil hp, lalu mengaktifkannya. Baru sekitar 3 jam hpnya tidak aktif, sudah banyak pesan yang masuk dari Satya, Amel, dan kakak-kakaknya.
Vanila membalas satu persatu pesan mereka, dan melakukan VC ke nomor Liliana karena Langit dan Shanum ingin ngobrol dengan onty kesayangannya.
Seperti biasa, duo bocil kalau sudah VCan dengan Vanila, pasti menghabiskan waktu yang lama.
"Udah dulu ya sayang. Onty mau mandi dulu. Udah bau acem" Kata Vanila sambil mencium arom tubuhnya, yang sebenarnya tidak bau asem sedikitpun.
"Onty nggak pernah bau acem. Onty tuh wangi." Kata Langit yang masih tidak mau Vanila memutuskan VCnya.
"Onty tadi di perjalanan lumayan jauh. Jadi sekarang onty mau mandi. trus mau istirahat. Langit tega, onty sakit?" Tanya Vanila memasang wajah pura-pura sedih.
"Kalau onty cakit. Bial chanun lawat. Kan chanun mo jadi doktel." Kata Shanum yang masih belum bisa berbicara dengan benar, dan membuat Vanila tersenyum.
"Iya sayang. Tapi tunggu Shanum besar dulu jadi dokternya. Udah dulu ya sayang. Assalamualaikum. Mmuach." Kata Vanila sambil mencium HP nya biar dua keponakan imutnya senang.
Vanila segera mandi, lalu memesan makanan melalui layanan hotel, karena dari siang Vanila belum sempat makan. Di pesawat sebenarnya di kasi makanan, tapi Vanila tidak suka makan di pesawat.
Selesai mandi dan mengenakan pakainnya, bel kamar Vanila berbunyi. Vanila segera menyambar jilbabnya dan menggunakannya.
"Selamat sore nona. Ini pesanannya." Kata pelayan hotel ramah.
"Iya mas. letakkan aja dekat balkon. terimakasih" Kata Vanila kepada pelayan hotel dan tidak lupa memberikan uang tips.
Setelah pelayan yang mengantar makanan keluar, Vanila segera menutup pintu kamarnya dan memakan, makanan yang dipesannya.
"Kak Angel, masih ingat Lala?" Tanya Vanila yang menghubungi Angela, yang selalu memakeup Vanila ketika kakak-kakaknya menikah.
"Ingat dong. Lo kan bidadari tak bersayap, yang seumur hidup nggak bisa gue lupain." Kata Angela lagi.
"Kakak sibuk nggak besok? Mau minta makeupin nih. Sekalian bawain aku baju dari butik kakak ya." Kata Vanila lagi.
"Sibuk sih sebenarnya. Tapi demi Lo, gue bela-belain deh urus lo dulu. Udah kangen juga, lama banget nggak ketemu lo. Btw acara apa sih cin? Kakak lo bukannya udah nikah semua ya?" Tanya Angela heran Vanila minta di makeupin.
"Itu ada acara pelantikan teman di AU." Jawab Vanila.
"Temen apa demen. Ganteng pasti. Lo bela-belain dandan buat tuh laki." Kata Angela menggoda Vanila.
__ADS_1
"Temen kak. Udah ah. Jagan lupa besok ya. Acaranya jam 8 pagi. Gaun aku juga jangan lupa ya. Thank you kak Angel." Kata Vanila lalu memutuskan sambungan telponnya dengan Angela. Karena kalau dilanjutkan, bisa lama telponannya baru selesai.