
'Assalamualaikum Wa Rohmatullahi Wa Barakatu. Maaf mbok, Lala harus pergi ninggalin mbok lagi. Walaupun Lala pergi, Lala selalu ada dekat mbok, di hati mbok. Tolong jaga rumah papa, rawatkan juga makam papa. Nanti Lala hubungi mbok. Tolong berikan surat Lala untuk mas Al. Semoga mas Al dan mbak Qila selalu bahagia, dan segera mendapatkan baby lagi. Sampaikan salam Lala buat yang lainnya. Mbok doain Lala ya. Lala sayang mbok.' Tulis Vanila dalam suratnya.
Vano yang melihat mbok Sa lemas setelah membaca surat Vanila, meminta izin mbok Sa untuk membaca surat dari Vanila. Setelah mbok Sa mengizinkan, Vano membaca surat dari Vanila.
"Ini maksudnya apa mbok?" Tanya Vano bingung.
"Den Al... huuu.. den Al, den Al ceraikan non Lala." Kata mbok Sa sambil menangis.
"Bagaimana bisa? Sebenarnya apa yang terjadi mbok?" Tanya Vano lagi. Mbok Sa dan pak Arman menceritakan semua yang terjadi, mulai dari Vanila yang pergi ke rumah sakit, cerita yang diceritakan Vanila yang terjadi di rumah sakit, terakhir cerita ketika Aldrin mengucapkan kata talak kepada Vanila.
Vano yang mendengarkan semua cerita mbok Sa menjadi marah, lalu pergi sambil membawa surat yang di tulis Vanila untuk Aldrin.
Vano segera memacu mobilnya menuju rumah Sidqila. Sesampainya di rumah Sidqila, Vano yang emosi segera memanggil Aldrin.
"Mas, Mas Al. Keluar kamu mas !" kata Vano di depan pintu.
Vano melihat ART Sidqila membukakan pintu dan mengatakan kalau Aldrin sedang sarapan dengan yang lainnya.
"Rasyid, kenapa kamu teriak-teriak?" Tanya umi Salma yang tadi mendengat kalau Vano teriak memanggil Aldrin.
"Jelaskan sama aku mas. Ini maksudnya apa?" Tanya Vano sambil memyerahkan surat dari Vanila.
Aldrin yang bingung dengan pertanyaan Vano, mengambil amplop yang diberikan Vano, membukanya dan kemudian membaca surat dari Vanila.
"Nggak benar. Ini nggak benarkan Rasyid? Bilang sama mas kalau Lala masih di rumahnya." Kata Aldrin sambil mengguncang bahu Vano.
Vano yang marah, menepis tangan Aldrin dari bahunya.
"Puas kamu mas. Puas? Sudah aku bilang, kalau mas jangan pernah sakitin Vanila. Tapi sekarang apa? Mas tahu bagaimana susahnya kita mencari Vanila waktu dia hilang dulu. Sekarang mas lakuin kesalahan yang sama. Brengsek kamu mas." Kata Vano sambil memukul wajah Aldrin.
"Rasyid !" Teriak umi Salma terkejut.
Vano yamg tidak ingin ribut dengan umi Salma, memutuskan untuk pergi ke Bandara. Berharap ia bisa menemukan petunjuk tentang keberadaan Vanila.
Vano mendatangi bandara dan mengecek nama penumpang dan jadwal penerbangan, tapi Vano tidak menemukan nama Vanila. Vano juga meminta beberapa anak buahnya untuk mencari Vanila di terminal dan dermaga, tapi tetap saja hasilnya nihil.
"Aaarrrgghhh... Brengsek kamu mas !" Teriak Vano kesal begitu mendengar laporan anak buahnya..
Vano memutuskan ke rumah Vanila, berusaha untuk mencari petunjuk.
"Ngapain kamu disini mas?" Tanya Vano yang melihat Aldrin yang sedang mengetok-ngetok pintu rumah Vanila.
"Bukan urusan kamu. Lala istri mas." Kata Aldrin masih sambil mengetok pintu.
"Heh, masih istri. Mas pura-pura lupa, amnesia atau bagaimana? Bukankah mas sudah mengucapkan talak pada Vanila ?!" Kata Vano lagi.
"Saat itu mas lagi emosi. Bukankah perkataan orang yang emosi tidak bisa menjatuhkan talak? Lagian kalaupun jatuh talak, mas baru menjatuhkan talak satu. Mas akan minta rujuk sama Lala." Kata Aldrin.
"Mas.. mas... Naif sekali kamu mas. Mengenal Vanila dari kecil, menikah dengannya, apakah mas tidak bisa memahami Vanila? Sampai kapanpun, Vanila nggak akan kembali sama mas. Vanila bukan perempuan yang mengagungkan cinta mas. Vanila lebih sering mengutamakan logikanya dibanding perasaannya." Kata Vano yang membuat Aldrin sadar, bahwa benar kalau Ia begitu naif, setelah menyakiti Vanila, Ia masih berharap Vanila mau kembali menjadi istrinya.
__ADS_1
"Apa yang harus mas lakukan Rasyid? Mas tahu mas salah. Tapi mas nggak mau kehilangan Lala." Kata Aldrin yang berlutut di lantai sambil menangis.
Vano yang melihat saudaranya terpuruk seperti itu, menjadi kasihan. Bagaimanapun mereka bersaudara.
"Tok tok.."
"mbok buka pintunya. Ini Vano." Kata Vano sambil mengetuk pintu.
Mbok Sa membuka sedikit pintu, melihat Vano dan Aldrin berdiri di depan pintu.
"Mbok nggak mau Den Aldrin masuk." Kata mbok Sa ketus.
"Tapi mbok, Saya tahu saya salah. Tapi Lala istri saya." Kata Aldrin lagi.
"Den Al bukan suami non Lala lagi. Suami saya bisa menjadi saksi kalau den Al sudah menjatuhkan talak sama non Lala." kata mbok Sa lagi.
"Saya mohon mbok. Maafkan saya. Saya tahu saya salah. Waktu itu saya lagi kalut, saya tidak menyangka kalau Lala bisa bertindak kasar dengan mendorong Qila. Bahkan sewaktu Lala ke rumah sakit, Lala juga menyebabkan Qila jatuh, sehingga kami kehilangan anak kami." Kata Aldrin membela diri.
"Mbok besarkan non Lala dari bayi merah, mbok tahu betul kalau non Lala tidak akan lakukan hal itu. Lagian kalau dari cerita non Lala, sedikitpun non Lala tidak menyentuh non Qila. Lagian mama non Qila yang meminta non Lala datang, meminta non Lala meninggalkan den Al buat non Qila." Terang mbok Sa masih dengan nada sinis.
"Tapi cerita mama dan Qila nggak seperti itu mbok." Kata Aldrin lagi.
"Terserah den Al mau percaya atau tidak, tapi mbok percaya kalau semua yang dikatakan non Lala benar." Kata mbok Sa lagi.
"Mbok, izinkan Vano masuk, Vano mau cari petunjuk, mana tahu Vanila meninggalkan petunjuk. Kita bisa nemuin Vanila mbok." Kata Vano, lalu mbok Sa membuka pintu lebar-lebar, membiarkan Vano dan Aldrin masuk untuk mencari petunjuk.
satu jam lebih mereka memeriksa kamar Vanila tapi tidak sedikitpun menemukan petunjuk.
"Kamu di mana La? Maafin Mas La. Maaf" Kata Aldrin sambil berbaring dan memeluk guling yang biasa di gunakan Vanila. Bahkan masih ada aroma Vanila yang tertinggal di bantal yang biasa Vanila gunakan.
Vano dan mbok Sa membiarkan Aldrin berada di kamar Vanila.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🥀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🥀🍀🍀🍀🍀🍀
"Dokter Aisyah, di UGD, ada beberapa pasien yang baru masuk karena mengalami kecelakaan." Kata seorang suster kepada dokter yang berkulit hitam manis, hidung mungil yang mancung, bibir mungil yang sedikit tebal dan kaca mata bulat yang membingkai mata cantiknya. Dokter cantik yang di panggil dokter Aisyah adalah Vanila, yang empat tahun lalu memutuskan untuk kuliah dibidang kedokteran di kota heidelberg Jerman.
"Ok Suster Anet. Saya ke sana." Kata Vanila lalu segera mengenakan snelinya dan juga sarung tangan.
Vanila melihat ada lebih dari 10 orang pasien yang mengenakan pakaian militer dengan beberapa motif yang berbeda.
Vanila membantu menangani pasien yang kondisinya lumayan parah.
"Dokter pasien ini terlempar cukup jauh, kepalanya mengalami luka yang cukup parah." Terang seorang perawat laki-laki yang mendorong brankar pasien seorang laki-laki yang di dada kananya terdapat bordiran bendera negara asal Vanila, yang membuat Vanila teringat dengan Badai.
Vanila segera mengambil tindakan untuk menyelamatkan nyawa pasien yang kritis. Bahkan Vanila sempat kehilangan pasien tersebut, sebelum akhirnya Vanila berhasil membawanya kembali dari kematian, karena mungkin memang takdirnya yang masih harus hidup di dunia.
"masih ada yang lain suster Anet?" Tanya Vanila.
"Sudah semua dok, itu tadi pasien terakhir." Kata Suster Anet.
__ADS_1
"Ok. Saya istirahat dulu, tolong minta dokter Antonio untuk memantau kondisi pasien. Kalau ada yang kritis, Saya ada di ruangan." Kata Vanila lalu menuju ruangannya.
4 jam lebih Vanila berjibaku untuk menyelamatkan nyawa pasien, dan memyelamatkannya dari kondisi kritis. Vanila memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah, karena pasien kecelakaan yang di tanganinya datang hampir tengah malam.
Baru sebentar tertidur,Vanila terbangun karena alarm sholat subuh yang di pasangnya. Karena di rumah sakit tidak ada mesjid atau tempat ibadah umat muslim, Vanila mempersiapkan ruangannya sebagai rumah kedua. Vanila mendapatkan Vasilitas khusus, karena Vanila adalah salah satu dokter bedah terbaik yang dimiliki rumah sakit, ditambah lagi pemilik rumah sakit adalah sahabat Vanila selama di Heidelberg.
"Tok tok..."
Terdengar suara pintu ruangan Vanila yang di ketok.
"Siapa?" Tanya Vanila
"Ini gue Syah." Kata Cathrine yang merupakan sahabat Vanila.
"30 menit lagi aku keluar." Kata Vanila.
"Ish. kebiasaan Lo Syah. Gue mau masuk." Kata Cathrine lagi.
"Ke ruangan kamu aja keket." Kata Vanila sambil membereskan mukenah, dan menggunakan fondation untuk menggelapkan kulitnya.
Setelah kurang dari 30 menit, Vanila membuka pintu ruangannya, Cathrine yang masih menunggu di depan pintu langsung nyelonong masuk ke dalam.
"Lo kebiasaan deh. Ngapain sih lama banget, kalau lagi sholat, harus kunci pintu?" Tanya Cathrine.
"Dokter keket yang cantik, my sweetie pie, kan udah aku bilangin, untuk sholat aku butuh privasi." Jelas Vanila singkat karena malas berdebat dengan Cathrine.
"Gue dengar, tadi malam ada truk militer yang mengalami kecelakaan. Ganteng-ganteng pasti mereka." Kata Cathrine dengan wajah sumringah.
"Trus dokter Justine mau kamu kemanakan?" Tanya Vanila.
"Justine tetap dong penghuni hati gue. Tentara ganteng buat selingan doang." Kata Cathrine sambil tertawa.
"Aku bilangin dokter Justine kamu, biar cepat-cepat dinikahin, trus di kurung di rumah atau di ruangan dokter Justine, biar nggak bisa ngegoda cowok lain." Ancam Vanila.
"Jiah.. nggak asik kamu Syah. Suka ngadu. Lo itu sahabat gue, atau bodyguardnya Justine sih?" Dumel Cathrine.
"Aku ini pembela kebenaran dan keadilan." Kata Vanila sambil tertawa, yang membuat Cathrine ikutan tertawa.
"Lo nggak nyambung istirahat lagi?" Tanya Cathrine
"Nggak. Aku mau ke tempat profesor Lucas. Nyelesein Disertasi aku untuk spesialis bedah." Kata Vanila sambil membereskan beberapa berkas yang akan dibawanya untuk menemui profesor Lucas, dosen pembimbing Vanila.
"Enak banget Lo ya, dah ambil spesialisasi aja. Padahal gue kuliah dua tahun lebih dulu di banding Lo, ini mana training nggak selesai-selesai." Kata Cathrine dengan wajah sedih.
"Semangat. Makanya jangan dandan aja kerja kamu Keket, jadinya training nggak selesai-selesai kan.." Kata Vanila sambil tertawa.
"Sialan Lo. Ketawain gue." Kata Cathrine sambil melempar Vanila dengan tisu.
"Ya udah, aku pergi dulu. Oh iya, tolong bilang suster Ana, Aku lihat satu pasien berasal dari negara I,dan aku rasa dia juga muslim, jadi kasih aja makanan yang ada di ruangan aku ya. itu tinggal panasin aja." Kata Vanila lalu pergi meninggalkan Cathrine.
__ADS_1