Vanilarea

Vanilarea
Berpisah


__ADS_3

Hari ini Aldrin, Vanila, Satya dan Amel seperti double date. Selesai makan, mereka sholat di mushola yang ada di mall, kemudian menonton film yang sama.


Aldrin sedikit cemburu dengan kedekatan Vanila dan Satya. Sementara Amel yang sudah biasa melihat Vanila sering adu argumen, bersikap biasa aja.


"Nggak seru ah film nya. Kurang gereget gimana.. gitu." Protes Satya.


"Abang jadi sutradaranya aja. Mau lihat aku, film karya abang. Perasaan kemaren coba buat Video aja gagal mulu." cibir Vanila.


"Enak aja. Itu kan karena yang lainnya nggak mau di ajakin buat Video seru." Kata Satya lagi.


"Seru dari mana? buat Video kok cerita misteri gunung berapi. Btw abang ngefans ya, sama mak lampir?" tanya Vanila, lalu tertawa.


"Iya, kan kamu Ki Rempah Mayit." ejek Satya.


"Enak aja." Protes Vanila lagi. (Kalau diteruskan debat mereka nggak akan selesai sampai lebaran kodok. Lah kodok lebaran ya? wkwkwkwk)


🌱🌱🌱🌱🌱🍀🍀🍀🌹🌹🌹🌹🌹🍀🍀🍀🌱🌱🌱🌱🌱


Hari ini Vanila datang ke Aer suport system bersama Aldrin, karena Vanila akan pamit dan kembali ke kota S. Sedangkan Aer suport system akan di awasi Vanila dibawah kepemimpinan Satya dari kota S.


"Assalamualaikum. Maaf, sebelumnya. Apakah ada yang bisa Saya bantu?" Tanya Retno yang merupakan salah satu resepsionis di Aer suport system, karena Vanila bermaksud langsung masuk ke ruangannya.


"Kak Retno kenapa formal banget sih. Aku mau ke ruangan aku loh." Protes Vanila.


"Maaf sebelumnya. Saya pasti tahu jika perusahaan ada karyawan baru. Saya belum pernah lihat nona sebelumnya." kata Retno ramah, bahkan beberapa karyawan yang lewat juga menatap heran Vanila, karena setahu mereka, tidak ada karyawan perempuan secantik Vanila yang kerja di Aer suport system. Bahkan Niken yang dinobatkan sebagai karyawan tercantik, kalah jauh dengan kecantikan Vanila.


"Aduh, ini aku loh kak. Aer." Kata Vanila lagi.


"Aer?" Tanya Retno heran, karena setahu Retno, Aer penampilannya culun, kulit coklat, mengunakan pakaian longgar dan kacamata dengan bingkai besar.


"Astagfirullah. Lupakan. Kebiasaan. hehehe." kata Vanila malah nyengir.


"Ae, kapan datang?" Sapa Satya yang baru datang.


"Barusan sih bang, tapi nggak boleh masuk sama kak Retno." kata Vanila pura-pura manyun.


"Beneran kamu ini Ae? Kamu oprasi plastik dimana?" tanya Retno lugu, yang seketika membuat Satya tertawa puas.


"Seneng kamu ya bang? Ketawain aku sampai segitunya." kata Vanila sambil meninju lengan Satya.


"Ampun Ae. Abang bercanda. Tuch Retno aja ngira kamu oplas." Kata Satya lagi.


"Aku nggak oplas kak. udah ah, males bahasnya. Oh iya, umumkan, jam 10 kita Rapat. Semuanya harus hadir." Kata Vanila, lalu menarik Aldrin keruangannya.


"Kamu mau rapat kan La, mas ada urusan sama Rasyid. Tadi mas sudah hubungi Rasyid, sekarang dia nunggu di luar. Nanti pas jam makan siang mas jemput ya." kata Aldrin.


"Ok" Kata Vanila lalu mencium punggung tangan Aldrin, dan Aldrin mencium kening Vanila, lalu keluar dari ruangan Vanila.


"Cie... yang diantar suami. Harus sampai ke ruangan ya Ae antarnya?" Tanya Satya yang ingin memggoda Vanila.


"Udah deh bang, selesaikan cepat yang aku minta semalam. Oh iya sekalian aku mau kasih tahu, kalau besok aku akan ikut mas Aldrin ke kota S. Jadi aku sedahin semua urusan Aer suport sistem sama abang ya. Tapi aku tetap akan bantu buat APS nya, dan kalau ada apa-apa kita bisa video confrence."Kata Vanila yang membuat Satya terkejut.

__ADS_1


"Apa? Kamu serius Ae. Mau ninggalin Aer suport sistem?" Tanya Satya tidak percaya.


"Fisik aku aja nggak ada disini bang. Tapi aku tetap akan pantau dan handle beberapa pekerjaan, sampai nanti Aer suport sistem nggak bergantung lagi sama aku. Abang cari deh pengganti aku ya." Kata Vanila sambil tersenyum yang membuat Satya selalu terpana dengan senyum Vanila yang manis.


"Nggak bisa suami kamu aja yang kesini Ae?" Tanya Satya lagi.


"Nggak bisa dong bang. Mas Al juga punya perusahaan yang harus di urus. Lagian sebagai istri, kan aku harus ikut suami." Kata Vanila lagi


"Alah, bocah ngomong suami istri. Kok agak-agak geli.. gimana gitu Ae." Kata Satya membayangkan Vanila yang baru berumur 16 tahun, tapi sudah menikah.


"Ya nggak usah dibayangkan." kata Vanila santai.


"Udah ah, malas abang debat sama kamu." Kata Satya lalu mulai menghidupkan komputernya.


"Yang suruh debat siapa coba?" Dumel Vanila yang juga mulai mengerjakan kerjaannya.


Selama kerja, Satya sekali-sekali curi-curi pandang ke arah Vanila. Vanila benar-benar kelihatan sangat cantik dan anggun, apalagi ketika Vanila sedang serius mengerjakan pekerjaannya.


"Asaalamualaikum. Maaf telat, tadi ke kantor klien dulu." Kata Niken yang terkejut melihat perempuan cantik duduk di bangku kerja Vanila. Niken yang selama ini merupakan perempuan paling cantik di Aer suport sistem merasa, dirinya kalah cantik dibandingkan Vanila. Apalagi ketika Niken dengan wajah syoknya memandang Vanila, malah dibalas Vanila dengan senyumannya yang selalu bisa membuat orang terpana.


"Ini beneran kamu Ae? kakak nggak percaya loh tadi waktu Retno bilang kamu berubah jadi bidadari." Kata Niken yang langsung mendekati Vanila dan memegang wajah Vanila, dan sedikit mencubitnya.


"Au, sakit kak." Protes Vanila.


"Kakak mau buktikan kalau ini nggak mimpi. Karena kamu bilang sakit, berarti ini nyata." Kata Niken kembali Syok, ternyata kecantikan yang Ia banggakan selama inj tidak ada apa--apanya dibandingkan kecantikan Vanila.


"Kakak, yang mau bukti mimpi atau nggak, kenapa aku yang di cubit?" Protes Vanila sambil mengelus pipinya.


"Nggak ada perawatan. Nggak suka juga pakai apa-apa. Ini bare face aku loh." Kata Vanila, yang membuat niken langsung memeriksa tangannya yang tadi mencubit pipi Vanila, dan benaran tidak ada bedak atau fondation yang menempel.


"Kamu kenapa nggak kayak gini dari awal sih Ae. Kan lumayan abang bisa cuci mata." Kata Satya.


"Pakai air kalau mau cuci mata. Aku lapor kak Amel loh, abang genit." Ancam Vanila.


"Jangan dong Ae. Abang bercanda. Susah loh, sampai Amel bilang iya." Kata Satya takut.


"Makanya aku bilang. Langsung lamar aja. Minggu depan gimana? Ntar aku datang deh." Kata Vanila bersemangat.


"Buset dah nih bocah. Kok kamu yabg ngebet nyurung abang nikah si Ae?" Tanya Satya heran.


"Abang orang baik, kak Amel juga orang baik. Makanya aku nggak mau orang-orang baik seperti abang dan kak Amel berbuat dosa pacaran." terang Vanila.


"Assalamualaikum. Seru bener. Kamu kenapa Ken? wajahnya syok gitu?" Tanya Amel.


"Wa'alaikumussalam." Jawab yang ada di ruangan kompak.


"Nggak bisa nerima kenyataan si Keken, soalnya ada yang lebih cantik dari dia di kantor ni Yang." jawab Satya.


"Cie cie.. dah main Yang Yang aja." ejek Vanila.


"Biarin. Bocah ngapa? Iri?" Tanya Satya.

__ADS_1


"Iugh.. ogah aku iri." Kata Vanila sambil memutar bola mata hazelnya malas.


"Iya Ae, kamu bukannya hutang penjelasan ya?" Tanya Amel dan Vanila hanya nyengir, merasa seperti maling yang lagi ketangkap basah. (Kenapa istilahnya maling harus ketangkap basah ya? bukannya maling kalau ketangkap kering-kering aja.🤔)


Vanila akhirnya menceritakan dari masalah dirinya yang kabur dari Aldrin, sehingga Vanila merubah penampilannya karena tidak ingin Aldrin atau orang-orang mengenalnya.


"Itu kamu pakai softlense Ae?" Tanya Niken.


"Asli loh ini kak. Warisan mama aku." kata Vanila sambil tersenyum sedih mengingat mama dan papanya yang sudah tidak ada. Amel yang sadar kalau raut wajah Vanila yang berubah sedih, langsung memeluk Vanila.


"Jangan sedih. Kamu masih punya kami." Kata Amel menenangkan Vanila.


"Jadi pengen dipeluk juga." Celetuk Satya yang langsung dipelototin Amel.


Sesuai permintaan Vanila, mereka mengadakan rapat jam 10. Rapat dihadiri seluruh karyawan Aer suport sistem. Orang-orang yang belum bertemu Vanila hanya berani berbisik-bisik heran, bertanya-tanya dalam pikiran mereka, siapa perempuan cantik yang datang bersama petinggi Aer suport sistem.


"Assalamualaikum. Selamat pagi semuanya." Sapa Vanila sambil tersenyum manis yang selalu membuat orang terpana.


"Wa'alaikumussalam" Jawab mereka kompak.


"Terimakasih atas waktunya. Oh iya, perkenalkan nama saya Vanilarea Aisyah Syauqi. Di kantor ini saya biasa di panggil Aer." Kata Vanila tersenyum jahil, karena sebagian besar karyawan langsung syok, kaget, bingung, bahkan ada yang tidak percaya kalau perempuan cantik yang berdiri di depan mereka adalah Aer, salah satu bos mereka yang kulitnya hitam, dan selalu berpenampilan culun.


"ehem" deheman Satya supaya karyawan yanv lain kembali tenang dan tidak ribut.


"Maaf, kalau aku selama ini udah bohongin kakak-kakak dan abang-abang semua. Hari ini aku mau pamit, karena aku harus ikut suami aku kembali ke kota S" Kata Vanila yang kembali membuat karyawan kantor nya terkejut mendengar kalau Vanila sudah menikah. Karyawan cowok langsung memperlihatkan eksprsi kecewa.


"Aer suport sistem ini punya kita semua. Jadi aku titip Aer suport sistem sama abang-abang dan kakak-kakak semua. InshAllah nanti kalau ada waktu dan kesempatan aku akan ke sini. Terimakasih untuk kebersamaan kita selama ini. Maaf kalau aku banyak ngelakuin kesalahan." Kata Vanila lagi.


"Kamu nggak pernah salah Ae. Kamu selalu jadi bos kita yang paling baik. Salah kamu cuma satu. Kenapa nggak dari dulu aja penampilannya seperti ini Ae? Kalau kamu ginikan abang duluan yang lamar kamu." Kata Ricky yang memang terkenal playboynya Aer suport sistem. Nggak bisa lihat cewek cantik sedikit langsung main goda aja.


kata-kata Ricky membuat karyawan yang lain menyoraki nya.


"Dari awal Aer seperti ini Lo juga nggak bakalan bisa ngelamar si Aer. Lo mau dibilang phedopil." Kata Satya.


"Phedopil dari mananya? Sekarang aja Aer sudah nikah." Protes Ricky.


"Aer ini bocah. Gue juga heran sih, kenapa nih bocah dah punya suami aja." Kata Satya lagi.


"Kenapa Satya bilang kamu bocah Ae?" tanya Ricky heran.


"Bukannya di kantor yang paling muda si Retno ya?" Tanya Ayu yang merupakan HRD Aer suport sistem.


"Umur kamu berapa memangnya Yu?" Tanya Satya.


"Tahun ini 20 tahun sih bang. Waktu masuk kerja masih 19 tahun" kata Ayu agak merasa bangga karena ia yang paling muda.


"Kalah muda kamu Yu. Nih bocah baru 16 tahun, tahun ini. Gila ya, ternyata kita dipimpin sama bocah." Kata Satya tersenyum geli sendiri karena baru sadar kalau mereka di pimpin anak berumur 16 tahun.


Perkataan Satya langsung membuat karyawan yang lain ribut tidak percaya, bahwa Vanila masih berumur 16 tahun. Mereka tidak peracaya anak berumur 16 tahun punya pemikiran yang jenius, membuat usaha, dibidang suport system.


"Udah ah ngegosipnya. Intinya, aku mau pamit. Sekali lagi terimakasih untuk bantuan kakak-kakak dan abang-abang semua." Kata Vanila yang wajahnya mulai sedih, karena harus meninggalkan Aer suport sistem, membuat karyawan lain juga ikutan sedih, terutama Amel karena dia adalah orang yang paling sering bersama Vanila.

__ADS_1


__ADS_2