Vanilarea

Vanilarea
Bertemu


__ADS_3

Setelah tiga hari liburan bersama keluarga besarnya, Vanila kembali ke kota S, untuk melanjutkan kuliahnya. Sebenarnya langkah Vanila berat waktu berpisah dengan Langit, karena bocah gembul menggemaskan itu terus-terusan menangis dan tidak mau lepas dari gendongan Vanila. Langit akhirnya mau melepaskan Vanila, karena Vanila berjanji akan mengunjungi Langit, ketika kuliahnya libur.


"Assalamua'alaikum Mbok." Salam Vanila ketika memasuki halaman rumahnya dan melihat mbok Sa sedang merapikan tanamannya.


"Wa'alaikumussalam non. Loh kok nggak bilang kalau sudah balik?"Tanya mbok Sa.


"Hehehe.. kejutan." Kata Vanila sambil tertawa.


"Non ini ada-ada saja. si mbok mah sudah nggak heran lagi non. Itu den Langit, bagaimana bisa di tinggal?" Tanya mbok Sa lagi sambil berjalan ke dalam rumah bersama Vanila.


"Yah.. gitu deh mbok. Penuh drama. Untung aja pisahnya di Vila, nggak di bandara. Kalau di Bandara, bisa malu Lala, ntar dikira orang nelantarin anaknya." Kata Vanila sambil tertawa, mengingat bagaimana Langit menangis sesegukan di gendongan Daddynya.


"Iya mau gimana lagi. Non sih, kayak lem, kalau udah ketemu, pada nempel semuanya. Oh iya nak Fatih nyariin non kata Pak Arman." Kata mbok Sa.


"Ya udah, ntar Lala ke panti. Lala mau istirahat dulu. Lumayan capek di jalan." Kata Vanila lalu masuk ke kamarnya untuk istirahat.


Sore harinya, Vanila diantar pak Arman ke panti asuhan. Vanila membawa beberapa oleh-oleh untuk yang ada di panti. Semua penghuni panti sangat bahagia melihat kedatangan Vanila, karena hampir dua minggu Vanila tidak datang ke Panti.


"Asalamualaikum Oma." Salam Vanila sambil tersenyum lalu mencium punggung tangan Oma Ratna.


"Wa'alaikumussalam sayang. Bagaimana pernikahan kakaknya?" Tanya Oma Ratna


"Alhamdulillah oma, semuanya lancar. Aisyah ke pendopo dulu ya Oma, ada perlu dengan kak Fatih." Kata Vanila lalu pergi ke pendopo yang berada di belakang rumah utama.


"Assalamualaikum kak." Salam Vanila


"Wa'alaikumsalam Syah. Kamu sudah pulang?" Tanya Fatih


"Basa basi banget sih kak. Aku sudah disini, masak sih belum pulang." Kata Vanila sambil tertawa.


"Oh iya ya." kata Fatih sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, karena tiba-tiba merasa salah tingkah.


"Oh Iya, kata mbok Sa, kakak cari aku." kata Vanila


"Iya Syah. Rencananya kakak mau ajak adek-adek jalan-jalan. Soalnya selama liburan, mereka di panti aja." Kata Fatih


"Ok. Setuju. Aku bantu apa nih?" Tanya Vanila


"Biaya transportasikan lumayan mahal, kamu ada solusi nggak?" Tanya Fatih lagi.


"Transportasi aman kak. Ntar aku minta papa sediakan." Jawab Vanila


"Alhamdulillah." Kata Fatih bersyukur


"Trus apa lagi kak?" Tanya Vanila


"Udah sih Syah, itu aja. Yang lainnya InshAllah bisa kakak atasi." Hawab Fatih


"Ok. Jadi kapan mau perginya?" Tanya Vanila lagi.


"Sabtu ini."


"Ya sudah. Sabtu pagi InshAllah busnya sudah ready." kata Vanila

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Hari ini Vanila, Fatih dan beberapa orang pengurus panti pergi liburan ke daerah wisata daerah pegunungan yang ada di kota S. Vanila menyiapkan kejutan untuk semua yang pergi jalan-jalan, bahwa mereka akan menginap selama 2 hari di salah satu hotel wisata yang ada di sekitar gunung kota S.


Vanila bersama mbok Sa, pak Arman dan Oma Ratna menggunakan mobil yang biasa digunakan pak Arman untuk mengantar jemput Vanila. Mereka sampai di halaman hotel tempat mereka akan menginap. Fatih, agak heran kenapa busnya berhenti di halaman hotel.


"Pak, kenapa kita berhenti disini? Tempat wisatanya kan sekitr 500 m lagi kedepan." Tanya Fatih heran.


"Instruksi nona Aisyah seperti itu. Anda silahkan tanya aja." Kata Supir itu lalu membukakan pintu mobil agar anak-anak turun. Anak-anak yang senang dan beberapa orang pengurus panti segera turun dan menikmati pemandangan sekitar hotel, bahkan sudah ada beberapa anak-anak yang bermain kejar-kejaran.


Setelah menunggu sekitar 30 menit, akhirnya mobil yang membawa Vanila sampai di halaman hotel, dan langsung disambut oleh Fatih yang ingin bertanya, kenapa mereka berhenti di hotel, bukan di tempat wisata.


"Syah, kenapa berhentinya di sini?" Tanya Fatih sewaktu melihat Vanila keluar dari kobil.


"Kan kita mau nginap disini." Jawab Vanila santai


"Tapi di anggaran yang kakak buat, nggak ada kegiatan menginap Syah." Kata Fatih agak khawatir.


"Kakak tenang aja. Ini hadiah dari papa. Semuanya free." Kata Vanila sambil tersenyum lalu segera masuk ke lobi hotel untuk checkin.


Vanila sudah memesan bebarapa kamar hotel yang berbentuk rumah. 1 rumah akan ditempati 5 orang. Karena yang berangkat sekitar 30 orang, Vanila memesan 7 kamar.


"Nih kuncinya. tolong kakak atur yah. Itu petugas hotel yang akan ngantarin semuanya ke kamar. Kamar kita jaraknya nggak jauh-jauh kok. Aku duluan ya, mau istirahat dulu. oh iya, untuk baju ganti adek-adek, nanti boleh bebas ambil di butik hotel."Kata Vanila


Fatih yang agak bingung segera mengumpulkan anak-anak panti dan pengurusnya, dan segera membagi mereka menjadi 6 kelompok. Lalu pergi mengikuti staff hotel yang akan mengantar mereka menggunakan kendaraan khusus hotel.


Hotel tempat mereka menginap adalah salah satu hotel milik keluarga Vanila. Karena letaknya agak jauh, Vanila dan keluarganya tidak pernah berlibur di hotel itu, Sehingga semua pegawai hotel tidak ada yang tahu, kalau yang menginap adalah salah satu putri Arlan, pemilik hotel tersebut. Lagian Vanila memesan menggunakan nama mbok Sa, dan membayar tagihan kamar untuk dua hari dengan cara transfer dari rekening mbok Sa. Karena memang aktifitas keuangan Vanila menggunakan rekening mbok Sa.


"Non mau kemana?" Tanya mbok Sa sewaktu melihat Vanila akan keluar.


"Lala mau jalan-jalan mbok. Kalau ada yang nyari, bilang aja Lala ada keperluan diluar ya. Suruh aja mereka lanjutin acaranya. Nanti abis sholat Isya, semuanya bisa makan malam, trus ada acara bakar-bakar di restoran yang dibelakang. Nanti Lala kesana, tapi mbok jangan datangin Lala ya. Anggap aja nggak kenal. hehehe. Lala pergi Assalamu'alaikum." Kata Vanila lalu pergi meninggalkan mbok Sa yang menjawab salam Vanila.


Hari ini suasana hotel cukup ramai, karena ada acara kegiatan sekolah angkatan laut, darat dan udara. Kegiatan yang setiap tahun diadakan untuk menjalin keakraban semua tentara dari berbagai matra.


Vanila mengenakan gamis berwarna hijau botol, jilbab dalam dengan warna yang sama serta sepatu kets berwarna putih. Kulit wajah Vanila yang berwana putih, hidung mancung, dan bibir mungil yang tidak terlalu tipis berwarna pink, serta mata hazelnya selalu membuat orang yang berpapasan dengannya, tidak bisa mengalihkan pandangannya.


Vanila menggendong tas ransel yang berisi st**lth macbook pro, yang digunakan Vanila untuk membuat aplikasi dan beberapa analisa perancangan sistem. Vanila berjalan menuju cafe out door yang masih bsrada di kawasan hotel.


Hotel yang dibangun merupakan hotel wisata yang benar-benar memanjakan pengunjung. Selain terdapat kamar-kamar hotel untuk menginap, hotel itu juga menyediakan ballroom untuk menyelenggarakan acara, taman-taman tematik, kolam berenang, beberapa cafe, butik bahkan pusat oleh-oleh yang menjual produk masyarakat sekitar.


Vanila memilh duduk di bangku yang berada di sudut cafe, karena dari tempat itu, Vanila bisa melihat pemandangan yang indah.


"Heh ! Anak kampung. Kok bisa-bisanya kamu disini. Penampilannya aja seperti itu, pasti kamu tidak punya uang untuk beli baju di butik ini. Udah, beli bajunya yang di toko souvenir pinggir jalan aja sana." Hardik seorang perempuan yang berpenampilan modis, mengusir beberapa orang anak panti yang akan memilih baju di butiknya.


Butik yang dimasukin beberapa orang anak panti, merupakan salah satu butik yang menjual brand terkenal. Apalagi anak-anak panti yang masuk menggunakan baju koko sederhana dan mengenakan sendal sederhana.


Hardikan perempuan itu tentu saja membuat orang-orang sekitarnya memperhatikan. Anak-anak yang tidak tahu apa-apa menjadi ketakutan ketika dimarahi seperti itu.


"Biasa aja mbak. Nggak usah marah-marah juga. Namanya juga anak-anak. Mereka tidak tahu kalau tidak bisa beli pakaian disini." Protes Fatih, sambil menenangkan anak-anak panti yang ketakutan.


"Mas mau jadi pahlawan kesiangan. Makanya di jaga adek-adeknya yang benar. Merusak pemandangan di butik saya saja. Di sini kita jual pakaian brand terkenal semua. Harga satu stel baju disini mungkin setara gaji mas sebulan."Hina perempuan itu kepada Fatih.


"Ya udah ayok adek-adek. Nggak usah dihiraukan orang sombong. Nggak tau aja dia, kalau di atas langit masih ada langit." Kata Fatih sambil mengajak anak-anak panti keluar dari butik itu, tapi di tahan oleh Vanila.

__ADS_1


Vanila tersenyum ke arah anak-anak panti dengan manis, sehingga membuat anak-anak itu membalas senyuman Vanila. Bahkan Vanila berlutut, dihadapan salah satu anak yang paling kecil.


"Nama kamu siapa sayang?" Tanya Vanila ramah


"Chacha kak." Katanya masih sesegukan karena terkejut habis di marahi.


"Chaca mau baju yang mana? Ambil aja yang mana chacha mau. Jangan nangis lagi." Kata Vanila sambil mengusap air mata di pipi mungil Chaca.


"Nggak mau. Nanti tante itu marah." Kata Chaca sambil melirik Wanita yang tadi memarahinya.


"Nggak apa-apa. Nggak akan ada yang marah. Yang lainnya juga, boleh ambil berapapun baju yang dimau. Sekalian kasih tau yang lain. Ada banyak tadikan teman-temannya." Kata Vanila sambil tersenyum.


"tidak usah dek, terimakasih. Yok Cha." Tolak Fatih, tapi Vanila kembali menahan Fatih untuk tidak pergi.


"Beneran. Mas panggil anak-anak yang lain, boleh ambil baju yang ada disini." Kata Vanila


"Enak aja main ambil-ambil. Kamu kira baju disini murah?, Sok-sokan mau panggil yang lain." protes perempuan itu lagi.


"Tante diam aja deh. Pembeli adalah raja loh. Aku beli semua yang mereka mau. Pakai ini bisa?" Kata Vanila lalu mengeluarkan kartu unlimited punya papanya atas nama Arlan Syauki.


Perempuan itu tadinya menganggap remeh Vanila, tapi mukanya langsung berubah pucat, ketika melihat nama yang tertera di kartu tersebut.


"Ar..Arlan Syauqi? Bagaimana kamu bisa punya kartu debit pak Arlan?" Tanya perempuan itu heran.


"Papa kasih, buat jaga-jaga kalau butuh keperluan yang butuh uang banyak." Jawab Vanila, yang membuat perempuan itu langsung terdiam tidak bisa berkata lagi. Bahkan menejer hotel yang menyaksikan hal itu dari jauh, langsung berlari menghampiri Vanila dan meminta maaf untuk masalah yang terjadi.


"Maaf non Lala. Saya tidak tahu kalau non ada di sini." Kata Manager hotel itu panik.


"Bapak tidak usah khawatir. Tapi Saya tidak mau hotel papa bekerjasama dengan orang sombong seperti ibuk yang terhormat itu." Kata Vanila


"Maafkan Saya Non, Saya tidak tahu kalau nona anak Pak Arlan." Kata Wanita itu menyesal


"Kalau anak-anak itu maafin tante, aku akan maafin juga." Kata Vanila


"Baik. Saya akan minta maaf." Kata wanita itu lalu segera menghampiri anak-anak panti yang tadi dj marahinya dan meminta maaf. Sebagai bentuk permintaan maafnya, Wanita itu mengratiskan pakain yang ingin diambil oleh anak-anak panti.


Anak-anak kembali tersenyum dan mengucapkan terimakasih kepada Vanila. Begitu juga dengan Fatih. Vanila membalas ucapan terimakasih mereka dengan senyuman, lalu kembali menuju tempat duduknya diikuti oleh menejer hotel.


"Ada yang bisa saya bantu non?" Tanya menejer hotel itu ramah.


"Nggak ada. Bapak boleh kembali. Anggap saya tidak ada. Perlakukan saya seperti tamu yang lain" Kata Vanila, lalu menejer itu pamit meninggalkan Vanila.


Tidak jauh dari tempat Vanila duduk, ada sekitar lima orang tentara yang masih menggunakan PDH nya menatap kagum ke arah Vanila. Bahkan salah satu diantara mereka sangat bahagia bisa melihat Vanila. Gadis kecil yang selalu dijaga, dan sudah sekitar tiga tahun tidak bertemu.


"Kenapa Lo bahagia banget lihat tuh cewek bro?" Tanya salah seorang teman salah satu tentara yang sangat bahagia bisa melihat Vanila.


"Kangen. Sudah lama nggak jumpa."Kata cowok itu masih terus senyum memandang Vanila.


"Wah, sakit nih teman kita. Kelamaan jomblo gini nih. Lihat cewek cantik langsung SKSD, pakai bilang kangen lagi." Kata temannya sambil memegang kening laki-laki itu dan tertawa.


"Gue kenal." Kata laki-laki itu lalu berjalan kearah Vanila, berdiri diam, tegak dihadapan Vanila. Vanila yang merasa ada orang yang berdiri dihadapannya, mendongakkan kepalanya, melihat wajah orang yang berdiri dihadapannya.


"Kak Badai..?" Kata Vanila senang dan tersenyum ke Badai, yang membuat teman-temannya heran, karena Badai yang terkenal Cool dan anti cewek, kenal dengan cewek cantik yang sholeha.

__ADS_1


__ADS_2