Vanilarea

Vanilarea
Rebutan


__ADS_3

Vanila menjalankan harinya dengan bahagia di pesantren. Ia mengikuti semua kegiatan yang di lakukan di pesantren. Mulai dari sholat berjamaah, belajar kitab, hapalan Al-Quran, sampai makan ramai-ramai dengan lauk seadanya, tapi justru malah membuat Vanila semangat makan.


Diantara santriwati, ada satu orang santriwati yang selalu menarik perhatian, karena Ia memiliki paras yang cantik, dan bertutur kata lemah lembut, baik hati (murah senyum, rajin menabung dan suka menolong..😅😅😅). Namanya Sidqila Queensaa, yang biasa di panggil Lala, seperti Vanila. Tapi karena Vanila memperkenalkan diri sebagai Aisyah, jadi penghuni pesantren memanggilnya Aisyah. Seperti namanya Queensa, Sidqila sering di perlakukan seperti ratu, karena Ia suka membantu atau memberikan barang-barang atau makanan kepada teman-temannya. Orang tua Sidqila adalah salah satu pengusaha tambang batubara, sehingga secara ekonomi, kehidupan Sidqila sangat lebih dari cukup.


Dalam hatinya, Sidqila tidak suka dengan Vanila, karena baru beberapa hari Vanila di pesantren, Vanila menjadi pusat perhatian, karena selalu bisa menjawab pertanyaan dari pengajar, bahkan Vanila bisa menjelaskan dengan bahasa yang lebih mudah dipahami. Tapi Sidqila tidak pernah memperlihatkan ketidaksukaannya. Ia selalu tersenyum jika bertemu dengan Vanila walau terpaksa.


"Syah, kamu keren banget deh. Bisa jawab pertanyaan ustadzah. Padahal itu materi yang salalu buat kita ngantuk, karena kamu tahukan gimana Usdzah Nia kalau menerangkan. Cocokan kamu jadi ustadzah Syah." Kata Rere, ketika mereka istirahat menunggu waktu makan siang.


"Biasa aja. nggak gitu juga. Ustadzah tetap lebih hebat." Kata Vanila sambik komat komit menghapal Juz yang belum ia hapal.


"Kok kamu baru sebentar belajar sudah bisa sih Syah?" Tanya Juli


"mmm... nggak tau juga. bisa gitu aja." jawab Vanila asal.


"Nggak mungkinlah. Kamu ada minum vitamin atau apa gitu, biar pintar?" Tanya Juli, karena diantara Juli dan Rere, Rere jauh lebih pintar di bandingka Juli.


"Semua guru itu hebat, walaupun kita sudah tahu ilmu yang diajarkan guru kita, tetap kita harus menganggap mereka hebat. menerima yang mereka sampaikan. trus satu lagi, sewaktu belajar, jadilah gelas kosong." Kata Vanila yang membuag Juli bengong tidak ngerti.


"Manusia kok di suruh jadi gelas sih Syah. Nggak bisa aku. aku nggak bisa sulap, ilmu debus apa lagi. walaupun aku pernah di Banten sih sebulan." Terang Juli.


"Di Banten ngapain kamu Jul?, belajar ilmu kebatinan?" tanya Rere heran.


"Nggak. Aku bantu budhe aku jualan soto." Kata Juli sambil tertawa, karena berhasil mengerjai Rere


"Oasem. tak kirain kamu beneran belajar ilmu kebatinan di Banten, mau ikut aku." Kata Rere yang juga tertawa. Sementara Vanila yang tidak ngerti hanya tersenyum masih sambil komat-kamit hapalan.


"Istirahat loh Syah. masih komat kamit aja, kayak mbah dukun." kata Rere sambil tertawa.


"Tanggung. beberapa ayat lagi aku mau setoran juz 24 nanti malam." Kata Vanila yang kembali komat kamit.


"What?!" Kata Juli dan Rere bersamaan karena terkejut, baru 2 hari Vanila sudah selesai menghapal juz 24.


"Baru 2 hari sudah hapal aja kamu Syah. Aku aja butuh waktu 2 bulan paling cepat untuk satu juz." Kata Rere, dan Vanila hanya nyengir 😁 sebentar lalu kembali komat kamit.


"iya.. aku aja masih juz 5 jalan-jalan." Kata Juli.


"Kan setiap orang punya kemampuan yang berbeda-beda. syukuri dan nikmati aja." Kata Vanila sambil tersenyum menyemangati Juli.


"Udah jam makan. ayok kita antri. aku sama Juli ambil nasi sama lauk, kamu ambil minum sama pilih tempat duduk ya Syah?" Kata Rere


"Ok" Kata Vanila lalu mereka segera pergi menuju aula dapur umum untuk mengambil makanan.


Vanila, Rere dan Juli segera melakukan tugasnya masing-masing. Rere dan Juli mengambil makanan, dan Vanila mengambil minum dan memilih tempat untuk mereka makan. Aula dapur umum terlihat sangat ramai, karena ketika jam makan siang, tentu saja, tentu saja semua santri berbondong-bondong ke aula dapur untuk makan siang.


Vanila yang duluan mendapatkan air minum segera memilih tempat untuk Ia maka bersama Rere dan Juli. Tetapi sewaktu Vanila mau duduk, tiba-tiba Sidqila menabraknya, sehingga minum yang Vanila bawa, tumpah membasahi gamisnya dan Sidqila.


"ish.. jalan itu pakai mata."Kata Sidqila agak marah, sambil mengelap gamisnya yang basah.


"Maaf mbak. Nggak sengaja. Lagian setahu saya jalan itu pakai kaki." Kata Vanila sambil tersenyum.


"Kamu..." Kata Sidqila sambil mengepal erat tangannya menahan kekesalannya. kalau tidak memikirkan image nya sebagai anak baik di pesantren, sudah pasti ia akan berbuat keributan.


"Kamu nggak apa-apa La?"Tanya teman Sidqila yang datang menghampirinya.

__ADS_1


"Nggak apa-apa cuma basah aja." Kata Sidqila.


"Kamu itu ya, lain kali kalau jalan itu lihat-lihat. Jangan sampai nabrak orang seperti ini." Kata Sinta yang merupakan teman Sidqila yang selalu mendampingi Sidqila, seperti dayang-dayangnya.


"Iya maaf mbak." Kata Vanila yang malas ribut.


"Kebapa Syah?" Tanya Rere


"Nggak sengaja tertabrak mbak Qila." Kata Vanila lalu pergi mangisi kembali gelas yang tadi airnya tumpah.


Kegiatan makan adalah salah satu kegiatan yang Vanila sukai, bukan karena makannya, tapi karena kebersamaannya yang selama ini tidak pernah Vanila rasain, kecuali waktu di panti.


Selesai sholat zuhur, Vanila kembali ke kamarnya, karena ada beberapa hal yang mau dikerjakan di laptopnya.


Vanila lagi mencoba membuat analisa perancangan sistem, untuk keuangan dan pelaporan kegiatan administrasi di Syauqi Properties. Vanila belajar secara otodidak untuk membuat analisa perancangan sistem.


"tok tok tok" terdengar suara pintu kamar di ketuk. Vanila segera menyambar jilbab instannya, untung saja fondation yang digunakannya belum di hapus.


"La, nanti sore temanin umi ke rumah Nyai Halimah ya?" Kata umi Salma begitu pintu di buka Vanila.


"InshAllah Mi." Jawab Vanila.


"Yo wes. Nanti ba'da ashar umi tunggu." Kata ummi Salma lalu pergi meninggalkan Vanila.


Vanila kembali melanjutkan kegiatannya, sangking seriusnya, waktu terasa cepat berlalu. Vanila melakukan streching untuk merilekskan otot dan tulang-tulangnya yang mulai kaku karena duduk selama dua jam lebih. Vanila segera mandi dan berwudhu, kemudian memgenakan fondation dan segera menuju mesjid pesantren untuk ikut sholat berjamaah.


"Mau kemana Syah?" Tanya Juli karena melihat Vanila yang sudah membereskan mukenahnya.


"Mau nemanin Umi Salma ke rumah Nyai Halimah" Jawab Vanila.


"emang Gus Azzam kenal kamu Re?"Tanya Juli


"Hehe.. nggak." Jawab Rere


"ngisini ae. Nggak kenal pakai kirim salam. kirim buah kek, kueh kek.." Kata Juli yang protes karena dikiranya Rere kenal dengan Gus Azzam yang terkenal ganteng.


"Udah ah. aku di tungguin ummi. duluan ya. Assalamualaikum" Kata Vanila lalu segeea meninggalkan Rere dan Juli.


Vanila segera mengenakan flat shoes yang memang paling Ia suka kenakan jika bepergian. Vanila kelihatan manis dengan kulit coklatnya, menggunakan gamis dan jilbab besar berwarna hijau botol.


Dengan diantar supir, Vanila dan Ummi Salma menuju pondok pesantren tempat Nyai Halimah tinggal. Nyai halimah memiliki 3 orang anak laki-laki yang terkenal karena selain anak kyai besar, mereka memiliki wajah yang tampan, karena Kyai Yusuf yang memiliki darah keturunan arab, mewarisi wajah ganteng, hidung mancung, mata bulat, jambang rapi dan bibir tebal proporsional berwarna pink alami kepada anak-anaknya. Sementara Nyai Halimah mewariskan kulitnya yang putih kepada anak-anaknya.


Di lingkungan pesantren Kyai Abdullah selain anak-anak Kyai Abdulah yang terkenal ganteng-ganteng, anak Kyai Yusuf juga terkenal ganteng dan sholeh.


"Assalamualaikum" Kata Ummi Salma ketika berada di depan pintu sebuah rumah batu yang terkesan nyaman dengan konsep modern minimalis.


"Wa'alaiakumussalm. wr.wb." Jawab seorang wanita yang terlihat masih sangat cantik keluar dari ruang tengah.


"Apa kabar Mah?" Tanya ummi Salma sambil tersenyum.


"Oalah mbakyu toh. masuk mbakyu. Alhamdulillah sehat mbakyu. mbakyu sehaf juga toh?" Tanya Nyai Halimah


"Alhamdulillah"Kata Ummi Salma lalu masuk ke rumah Nyai Halimah dan duduk di sofa yang ada di ruang tamu.

__ADS_1


Vanila yang masuk bersama Ummi Salma segera mengambil tangan Nyai Halimah dan mencium punggung tangannya.


"Assalamualaikum Nyai." Kata Vanila sambil tersenyum.


"Wa'alaikumussalam. wr. wb. Oalah eneng cah ayu. sopo jenenge?" Tanya Nyai Halimah yang membuat Vanila bingung karrna dia belum bisa bahasa jawa.


"Di tanya Nyai halimah nama kamu siapa La." Kata Ummi Salma yang mengerti kalau Vanila bingung.


"Vanila Nyai. tapi panggil Lala aja." Kata Vanila sambil tersenyum.


"wah... ayu ne. maaf kebiasaan. tak kirain kamu bisa bahasa Jawa. Santriwati mbakyu?" Tanya Nyai Halimah


"Anak nya sahabat Abah." Kata Ummi Salma.


"Ooh. Lala sudah berapa lama nyantri?" tanya Nyai Halimah lagi.


"Baru 3 hari Nyai." jawab Vanila


"wah..masih baru bener. tak kirain sudah lama." Kata Nyai Halimah.


"Walau baru 3 hari, alhamdulillah hapalannya sudah 6 Juz." Kata Ummi Salma.


"MashaAllah. Lala kelas berapa sekolahnya?"Tanya Nyai Halimah penasaran.


"Tahun ajaran baru ini, kelas X Nyai."Jawab Vanila.


"kamu imut banget untuk anak kelas X. berarti sama dengan Azzam umurnya." Kata Nyai Salma


"Jauh beda Mah" Kata Ummi Salma.


"Lah.. kok jauh beda mbakyu. Azzam tahun ini juga kelas X." kata Nyai Halimah bingung.


"Lala ini umurnya baru 9 tahun." Terang Ummi Salma.


"loh loh.. piye cerita ne. kelas X umure 9 tahun. mbakyu becanda ini." Kata Nyai Halimah tidak percaya sambil tertawa.


"Beneran loh Mah, Lala itu ikut apa itu namanya La?


"kelas akselerasi Ummi." Jawab Vanila


"nah.. iya itu." Kata ummi Salma.


"wah.. mantu ideal iki mbakyu. bisa Imah jodohin sama Azzam." kata Nyai halimah sambil memandang Vanila senang.


"Enak ae. calon mantu ku loh Mah."kata Ummi Salma nggak mau kalah.


"Mbakyu kan banyak santriwati di pesantren." kata Nyai Halimah lagi.


"Tapi nggak ada yang seperti Lala." kata Ummi Salma lagi.


"ehem. maaf ummi, Nyai. Lala baru 9 tahun, belum ada niat untuk jadi menantu siapapun" kata Vanila sambil tersenyum, yang membuat Nyai Halimah dan Ummi Salma tertawa karena baru menyadari kesalahan mereka yang memperebutkan Vanila untuk menjadi menantu, sementara yang direbutkan umurnya baru 9 tahun.


"Nggak apa-apa mbakyu. Nikah gantung dulu." Kata Nyai Halimah masih memaksa

__ADS_1


"oh iya, ya." kata Ummi Salma membenarkan, yang membuat Vanila tidak bisa berkata-kata lagi.


__ADS_2