Vanilarea

Vanilarea
Dokter Spesialis


__ADS_3

Setelah berjalan lebih dari sejam, akhirnya mereka sampai di lokasi yang terdampak bencana paling parah. Tim yang sudah duluan mencapai lokasi, sudah mendirikan tenda darurat untuk tempat tinggal para korban bencana.


Vanila terdiam melihat kondisi bangunan yang berantakan, apalagi melihat kondisi orang-orang yang terluka.


"Kami baru mengobati mereka seadanya. Masih ada beberapa orang yang hilang dan terjebak dalam bangunan. Kami akan segera melakukan evakuasi." Terang Badai kepada dokter Abi yang merupakan ketua relawan medis.


Bagas melihat tim yang baru datang dan segera menghampirinya, karena Ia dan yang lainnya baru saja melakukan evakuasi mencari para korban yang masih terjebak bangunan.


"Lala... my beautiful princes. Lama menghilang jadi makin cantik. Abang kangen tau." Kata Bagas yang reflek ingin memeluk Vanila, tapi Vanila segera bersembunyi di belakang Badai.


Bagas berhenti dengan posisi sekitar dua jengkal dari Badai, sehingga Badai mendorong kepala Bagas dengan telunjuknya, dan meminta Bagas untuk mundur.


"Ah nggak asyik Lo Dai. Gue kangen tau sama My bautiful princes." Kata Bagas sambil memanyunkan bibirnya yang lumayan sexy.


"Bukan mukhrim." Kata Badai ketus.


"Ya udah, yok La ke KUA, biar kita mukhrim. Kan kamu sudah cukup umur." Kata Bagas semangat.


"Jangan konyol Bagas. Lanjutin tugas kamu" Perintah Badai, lalu Bagas segera kembali membantu evakuasi, dengan bibir manyun.


Vanila bersama tim medis yang lainnya segera memeriksa kondisi orang-orang yang terluka


Kejadian gempa yang terjadi di kota A cukup besar, tapi tidak terlalu banyak memakan korban jiwa karena terjadi sekitar jam 10 pagi.


"Lettu Badai, kami butuh tim medis. Soalnya ada yang terjebak dekat bangunan di sebelah sana." Kata seorang prajurit kepada Badai.


Badai segera berlari menuju tempat yang ditunjuk oleh prajurit tadi, dokter Abi dan Vanila juga menyusul ke sana.


Badai melihat korban yang akan di evakusi. Terlihat dua orang penduduk yang sedang tertimpa reruntuhan. Korban yang lebih muda tertusuk potongan kayu penyangga, jika kayu itu di patahkan, maka puing bangunan akan menimpa korban satu lagi yang lebih tua.


"Selamatkan anak saya." Kata Pria tua itu dengan suara lemah.


Abi segera memeriksa kondisi anak lelaki tua yang sudah tidak sadarkan diri, dan Vanila memeriksa kondisi Bapak tua yang juga semakin lemah.


"Kita harus cepat keluarkan mereka kak." Kata Vanila kepada Badai.


"Iya, kakak lagi memikirkan caranya. Masalahnya kayu ini terhubung dengan bangunan yang di atas, jadi kalau kita tarek atau patahkan, maka bapak itu bisa jatuh." Kata Badai.


"Tolong nak, selamatkan anak saya." Kata pria itu lagi dengan suara lemah.


"Bapak jangan bicara lagi. Kami akan menyelamatkan kalian berdua." Kata Vanila memberi semangat.

__ADS_1


"Bagaimana?" Tanya Badai dengan bawahannya.


"Susah Lettu, kita hanya bisa meeyelamatkan salah satu, bagaimanapun, ketika kayu penyangga itu begerak, bangunan yang di atas akan jatuh, kita juga tidak bisa ke atas karena tidak ada jalannya." Kata bawahan Badai.


"Selamatkan anak saya, tolong selamatkan anak saya terlebih dahulu." Kata laki-laki tua itu.


"Ambil gergaji mesin yang kecil cepat, nanti saya akan menahan kayu penyangganya." Kata Badai


"Tapi Let.."


"Lakukan saja, kita harus cepat." Kata Badai dengan wajah serius.


"Bapak berdoa saja, InshAllah bapak akan selamat" Kata Vanila.


Mereka mulai memotong kayu penyangga dengan cepat dan seperti perkiraan sebelumnya, begitu kayu penyangga itu di potong, maka bangunan yang ada di atasnya akan jatuh.


Selama proses berlangsung, Badai meminta Vanila dan yang lainny menunggu di luar.


Vanila terkejut mendengar bangunan yang di atas jatuh.


"Kak Badai, kakak baik-baik ajakan?" Tanya Vanila panik dan berencana untuk masuk ke dalam.


"Jangan La, di dalam berbahaya." Kata dokter Abi menahan Vanila.


"Lettu Badai pasti baik-baik saja" Kata Dokter Abi.


Tidak lama kemudian Vanila dan yang lainnya melihat Badai dan anak buahnya membopong pria muda yang masih ada kayu tertancap di perut kirinya.


Tim medis segera mengambil alih pemuda itu dan membawanya ke tenda medis.


"Bagaimana bapak tadi?" Tanya Vanila.


Badai hanya menggelengkan kepalanya, tanda bahwa pria tua itu tidak selamat.


Vanila mundur, dan air matanya tidak mau berhenti. Vanila sedih karena bapak tua itu tidak bisa selamat.


"Ini sudah takdir La. Jangan sedih. Kita harus selamatkan anaknya, sesuai permintaan terakhir almarhum." Kata Badai, yang membuat Vanila segera menghapus air matanya dan berlari menuju tenda medis.


dokter Abi dan dokter harun segera memberikan bantuan kepada pemuda yang terluka, sambil berfikir bagaimana.menyelamatkannya, karena keterbatasan alat yang mereka miliki.


Vanila melihat dokter yang menangani masih bingung. Vanila segera mengambil alat operasinya yang memang di bawa dalam tasnya.

__ADS_1


"Semprotkan desinfektan supaya ruangan ini steril. Dokter Harun, tolong lakukan anastesi regional, mumpung pasein belum sadar. Dokter Abi, dokter cabut kayunya, nanti Lala yang akan menjahit dan menghentikan pendarahannya." Kata Vanila yang membuat dokter Abi dan dokter Harun bengong.


"Cepat dokter" Kata Vanila sambil memakai sarung tangan, masker, dan mengeluarkan perlengkapannya untuk operasi.


Dokter Abi dan dokter Harun segera melakukan yang Vanila perintahkan. Untung saja mereka membawa obat anastesi untuk kondisi darurat.


Setelah melakukan anastesi, Vanila melihat jam tangannya, untuk memastikan waktu obat anastesinya bekerja,setelah yakin, Vanila meminta dokter Abi dan dikter Harun mencabut kayunya, lalu Vanila segera menekan pendarahan di tempat kayu yang di cabut.


Kamudian Vanila segera membedah, dan melihat apakah ada organ dalam yang terluka, dokter Abi dan dokter Harun seger membantu Vanila.


"Alhamdulillah, tidak kena organ dalamnya. Saya akan menjahit luka dalamnya." Kata Vanila, lalu segera menjahit bagian yang terluka.


Dokter Harun dan dokter Abi memperhatikan pekerjaan Vanila yang sangat rapi dan cekatan ketika menjahit dan memeriksa luka pasien.


Vanila lupa kalau dia mengaku sebagai perawat, bukan dokter spesialis. Sehingga Vanila mengerjakan pekerjaannya seperri yang ia kerjakan di rumah sakit sewaktu di negara J.


Selesai menjahit luka pasien dan memeriksa kondisinya, Vanila segera membersihkan tangannya.


Dokter Abi dan Harun memandang Vanila penuh curiga, karena Vanila terlihat biasa melakukan operasi, bahkan bisa memutuskan melakukan operasi di tempat yang tidak memadai.


"pasiennya mungkin akan mengalami trauma, karena lukanya lumayan besar. Kita tunggu sampai masa kritisnya lewat. Biar Lala yang jaga." Kata Vanila sambil memeriksa kembali kondisi pasiennya.


"Profesi kamu apa sih La? Nggak mungkin perawat bisa melakukan tindakan seperti itu. Saya aja butuh pertimbangan dulu sebelum mencabut dan menjahit luka pasien." Tanya dokter Abi.


"Aku perawat kak." Kata Vanila lagi.


"Nggak usah bohong La. Hanya dokter spesialis yang bisa lakukan tindakan seperti kamu." Kata dokter Abi lagi.


"well.." kata Vanila sambil menghela nafasnya, lalu Vanila membalik kokarde yang menggantung di lehernya, melepaskannya, dan menyerahkannya kepada dokter Abi.


Dokter Abi dan Harun melihat kartu yang tersemat di kokarde yang Vanila pakai.


"Sumpah Lo?" Kata dokter Harun tidak percaya.


"Belum 20 tahun sudah jadi dokter spesialis. Kamu bercanda kan La?" Tanya dokter Harun tidak habis pikir, bagaimana mungkin Vanila bisa menjadi dokter spesialis di usianya yang sangat muda, sementara dokter Harun sendiri sudah 35 tahun belum ambil spesialisasi untuk kedokterannya.


"Nggak cukup satu episode buat jelasinnya. Yang jelas, Lala nggak ngelakuin mall praktek." Kata Vanila sambil nyengir memperlihatkan gigi putihnya yang tersusun rapi.


Dokter Abi yang tahu kalau Lala anak yang cerdas dari cerita mbok Sa, sudah menduga dari kejadian sebelumnya, kalau Vanila pasti bukan perawat. Tapi dokter Abi yang tidak habis pikir, Lala lulusan spesialis Bedah dari salah satu universitas kedokteran terbaik di dunia.


"Bagaimana kondisinya La?" Tanya Badai.

__ADS_1


"Untuk sementara masih aman kak. Kita lihat perkembangannya." Kata Vanila sambil tersenyum sebentar, namun wajahnya kembali sedih ketika mengingat bapak tua yang tidak bisa selamat.


"Jangan sedih." Kata Badai sambil menepuk bahu Vanila, untuk memberikan semangat.


__ADS_2