Vanilarea

Vanilarea
Aer


__ADS_3

Sudah sekitar sebulanan, Aldrin, dan Vano mencari Vanila. Kakak-kakak Vanila yang mengetahui Vanila pergi akibat ulah Aldrin, menjadi marah dengan Aldrin. Mereka meminta Aldrin untuk segera menemukan Vanila.


"Sudahlah mas. Mas urus dulu perusahaan mas. Biar aku yang cari Vanila." Kata Vano, karena sudah sebulanan ini Aldrin tidak mengurus perusahaannya.


"Nggak bisa. Bagaimanapun mas harus ketemu dengan Lala." Kata Aldrin yang keras kepala.


"Tapi mas harus urus juga perusahaan mas. Nanti apapun info yang aku dapat, mas adalah orang yang pertama aku kasi tahu." Terang Vano.


Aldrin yang nggak mau terus-terusan terpuruk, akhirnya mendengarkan nasehat Vano untuk mengurus perusahaannya. Perusahaan yang suda Ia dirikan 4 tahun yang lalu. Perusahaan yang sudah cukup besar dan menjadi salah satu perusahaan yang sukses di negara I.


Vano yang akhirnya berusaha mencari keberadaan Vanila, tapi tetap menyelesaikan kuliahnya. Berbagai cara dilakukan Vano, mulai menyewa detektif, membuat pengumuan orang hilang, melapor ke pihak yang berwajib, dan menyebarkan informasi melalui media sosial. Tapi tetap saja hasinya nihil.


Vano juga meminta mbok Sa, untuk memberitahukannya kalau Vanila menghubungi mbok Sa. Vano juga mengecek, apakah Vanila mengambil uang tabungan yang direkening mbok Sa, tapi hasilnya juga menemukan jalan buntu. Saldo Vanila di rekening mbok Sa tidak pernah berkurang.


🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌹🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱


Sudah setahun Vanila menghilang dan tidak ada kabarnya. Vanila benar-benar seperti di telan bumi. Tidak ada sedikitpun info yang mereka dapat, padahal Aldrin menawarkan uang yang cukup besar untuk orang yang bisa menemukan Vanila atau memberi info tentang Vanila.


Vano yang sudah menamatkan kuliahnya, membantu Aldrin mengurus perusahaan. Sedangkan mbok Sa memutuskan kembali ke kota asalnya.


"Ae, analisa perancangan sistem untuk UD. Bumi bersama udah jadi belum?" Tanya Satya.


"Udah sih bang. Udah aku kasih juga sama Ghalih." Kata Vanila, yang sekarang di panggil Aer.


Vanila yang pergi setahun Lalu, tidak sengaja ikut transportasi online yang tiba-tiba mendapatkan telpon dan harus pergi ke kota D di pulau S, karena istrinya mengalami kecelakaan.


Vanila memutuskan ikut pak supir transportasi online ke kota D. Mereka membutuhkan waktu sekitar 3 hari perjalanan darat. Vanila membiayai semua biaya perjalanan, bahkan menjadikan supir tersebut, yang bernama pak Sugeng menjadi supir perusahaannya.


Istri pak sugeng berjualan nasi dan lauk pauk. Setiap siang warung nasinya selalu ramai dengan pembeli, karena masakannya yang enak dan harganya yang murah.


Pak sugeng dan istrinya bude Sarmila mengingatkan Vanila dengan mbok Sa dan pak Arman. Vanila memutuskan untuk tinggal di rumah pak Sugeng dan membantu bude Sarmila.


Vanila yang benar-benar merubah penampilannya, membuat Ia tidak bisa dikenali. Vanila mengenakan blouse longgar ditambah rok panjang dan lebar, serta jilbab dalam, dan warna fondation yang lebih gelap dari sebelumnya.


Sewaktu melayani pembeli, Vanila tidak sengaja melihat sistem yang dibuat oleh Satya untuk skripsinya. Vanila menawarkan kerjasama kepada Satya dan memintanya untuk mencari beberapa orang yang kompeten di bidangnya.


"Ok. Terimakasih atas kesediaan kak Amel, bang Satya, bang Ricky, bang Tomy dan kak Niken bertemu saya. Nama saya Aer. Saya mau menawarkan kerjasama dengan abang dan kakak semua, untuk membuat suatu perusahaan suport system. Perusahaan ini kita bangun atas dasar kekeluargaan dan profesionalitas. Saya punya modal, tapi tidak begitu banyak, tapi saya rasa cukup untuk menyewa tempat dan membeli beberapa keperluan kantor. Saya juga bisa membuat analisa perancangan sistem, nanti bang Satya dan bang Tomy yang buat sistemnya, kak Amel yang jadi akuntannya, kak Niken dan bang Ricky yang jadi marketing plus PR perusahaan kita. Saya tidak bisa menjanjikan gaji yang besar. Tapi kalau kakak dan abang mau bergabung, perusahaan ini bukan punya saya, tapi perusahaan ini punya kita. Setiap keuntungan yang kita peroleh akan kita bagi sesuai dengan porsinya. Untuk client, sebenarnya Saya sudah punya 2 proyek klien yang minta dibuatkan sistem penggajian karyawan. Saya sudah punya sistemnya, nanti kak Niken dan bang Ricky pelajari, dan coba negosiasi dengan calon klien kita." Terang Vanila panjang kali lebar, dan akhirnya semua yang hadir setuju untuk gabung di perusahaan yang diberi nama Aer Suport System Company, dimana Satya di tunjuk sebagai direktur perusahaan.


Perusahaan yang berdiri karena kumpulan orang-orang yang kompeten dibidangnya, dalam waktu setahun berkembang menjadi perusahaan yang lumayan besar. Mereka yang awalnya berenam, sekarang sudah menjadi 35 orang, dan semuanya adalah owner. Karena semua yang melamar dan memiliki kompetensi selalu Vanila tawarkan mau jadi owner atau karyawan. Dan semuanya memilih jadi owner, dengan keuntungan di terima bersama dan kerugian juga di tanggung bersama.


Tidak ada angka gaji yang pasti untuk karyawan Aer Suport System. Semua pendapatan yang mereka terima tergantung banyaknya proyek yang mereka terima. Bahkan kadang-kadang, satu bulan .ereka bisa terima gaji 5 kali.


"Darimana Ae?" Tanya Satya.


"Abis bantuin bude Sarmila." Jawab Vanila.

__ADS_1


"Emang, susah ditebak ya kelakuan manusia jenius kayak kamu. Bukannya duduk duduk manis di kantor, eh malah bantuin bude ngelayani pembeli." Kata Satya.


"Seru tau bang. Aku aja ketemu abang kan di warungnya bude. Warung bersejarah tuh. Kalau nggak ada warung bude, aku nggak ketemu abang, nggak ada tuh Aer Suport System." Kata Vanila.


"Sekalian aja kamu bilang, kalau nggak ada Nabi adam dan hawa, trus setan nggak ngegoda nabi adam untuk makan buah kuldi, nggak ada tuh yang namanya Aer Suport System." Kata Satya sambil tertawa.


"Iya juga ya." kata Vanila sambil pura-pura berfikir.


"Hayo.. lagi ngegosipin aku ya?" Tanya Amel.


"Idih.. siapa juga yang mau gosipin kamu Mel. Lagian kamu kan ratunya gosip." Kata Satya.


"Aku nggak ratunya gosip ya bang. Tapi ratunya ghibah." kata Amel sambil tertawa.


"Itu lebih parah loh kak Amel." Protes Vanila.


Vanila, Satya dan Amel lebih dekat dibandingkan dengan karyawan yang lain, karena mereka bertiga yang merupakan otaknya Aer Suport System. Jadi mereka lebih sering bersama untuk memecahkan masalah yang ditemui.


"Abang berasa punya bini dua, kalau kita lagi diskusi. Senangnya dalam hati, kalau beristri dua.." Nyanyi Satya dan langsung dihadiahi timpukan kertas dan pena oleh Amel dan Vanila.


"Tetapi istrinya jadi kayak zebra." Lanjut Satya yang tidak perduli habis di timpuk.


"Loh, kenapa kayak Zebra?" Tanya Amel.


"Iya. Si Aer kan kulitnya eksotis gitu, kayak telur mata sapi lupa angkat. Nah Kamu Mel, kulitnya kayak putri salju. brrr." Kata Satya yang menirukan orang kedinginan.


"Lah, nih bocah, dibilang item, dia malah tertawa. Bukannya cewek itu agak-agak apa tuh, merek alat tes ?" Tanya Satya.


"Sensitif ?" Kata Amel.


"Ya betul.100 buat Amel. Kan cewek biasanya sensitif kalau dibilang item Ae. Nah Lo malah ketawa. Girang lagi." Kata Satya heran.


"Kenapa harus sensitif. Terima nasip aja. Hidup itu sebentar, jadi harus banyak-banyak bersyukur." kata Vanila ala-ala ustadzah.


"Siap ibu ustadzah." Kata Satya sambil tertawa.


"Iya Ae. Kamu ikut perawatan aja sama kakak. Nanti bisa putih kok kulitnya." Kata Amel. dan Vanila hanya nyengir.


"Aku ngitaminnya susah loh kak" Kata Vanila dalam hati.


"Eh bang Sat.."


"Buset. Balas dendam jangan gitu Ae, masa abang di panggil bang Sat?" Kata Satya dengan muka yang disedih-sedihkan.


"Hehe.. sory bang. jangan merujak dong bang." Kata Vanila

__ADS_1


"Hah? rujak. Enak nih makan rujak. Aku suruh pak Rudy beli dulu ya. Kamu mau Ae?" Tanya Amel.


"Mau. Buahnya nanas, jambu, kedondong sama pepaya. Kuahnya pedasnya sedang trus dipisahin ya kak. Seperti biasa." Kata Vanila.


"Ok." Kata Amel lalu beranjak pergi.


"Woy.. Amel, Lo nggak nawarin gue?" Tanya Satya.


"Ogah. Lo beli sendiri." Kata Amel lalu segera pergi meninggalkan ruangan rapat.


Seperti itulah hari-hari yang dihadapi Vanila sejak memutuskan meninggalkan kehidupan lamanya. Vanila tidak pernah sekalipun menghubungi kakak-kakaknya, bahkan mbok Sa.


Sebenarnya Vanila sangat merindukan mereka semua. Tapi Vanila tidak mau keberadaannya terlacak oleh Aldrin. Tapi walaupun Vanila tidak bisa menghubungi keluarganya, tapi Vanila tetap mengetahui keadaan mereka dari orang-orang kepercayaannya.


"Ae, Ulang tahun perusahaan kita yang pertama mau buat kegiatan apa?" Tanya Niken yang menjabat sebagai menejer humas.


"Terserah kakak aja deh. Coba tanya sama bang Satya, kak Amel, bang Tomy sama bang Ricky juga. Aku ikut aja." Kata Vanila.


"Ok, kakak buat undangan rapat untuk konsep acaranya." Kata Niken lagi. Karena walaupun secara struktur organisasi Satya sebagai direktur, tapi setiap keputusan selalu melibatkan Vanila yang merupakan otak dari setiap keputusan di Aer Suport System.


Setelah mengadakan rapat, akhirnya diputuskan akan diadakan pesta peringatan ulang tahun yang pertama dan tidak lupa juga memberikan santunan kepada panti asuhan, panti jompo dan para tunawisma.


"Ae, pendapatan kamu mau di sumbangkan lagi?" Tanya Amel yang merupakan manejer keuangan.


"Iya kak. Jangan lupa ya, kasihnya harus noname." Jawab Vanila sambil membuat konsep system yang baru.


"Kakak aneh deh. Kalau semua pendapatan kamu di sumbangin, trus kamu uang dari mana untuk sehari-hari Ae?" Tanya Amel heran, karena Vanila tidak pernah mengambil keuntungan bagiannya.


"Hmmm.... kakak nungguin ya.. hahaha" Jawab Vanila sambil tertawa.


"Kebiasaan kamu Ae. Kualat loh ngerjain orang tua." kata Amel.


"Tumben ngaku tua." Kata Satya yang berdiri di ambang pintu.


"Nyamber aja kayak bensin." Protes Amel.


"Biasanya Lo kan ogah dibilang tua." Kata Satya.


"Kalau Lo yang bilang gue tua, ya ogah lah. Tapi kan gue emang lebih tua sih dari Aer. BTW, umur kamu berapa sih Ae?" Tanya Amel penasaran, karena Vanila tidak pernah memberitahukan identitasnya.


"Berapa ya?" Tanya Vanila sambil pura-pura mengingat.


"Iya Ae. Berapa sih umur kamu?" Tanya Satya juga.


"Ada deh. Yang pasti di antara semua karyawan kantor, aku paling muda." Kata Vanila sambil nyengir.

__ADS_1


"Oh iya Sat, di meja Lo tadi ada MOU yang harus lo tandatangani. Trus kasih ke Ricky, biar di antar ke PT. Berkah Bersama." Kata Amel mengingatkan Satya.


"Ok. Thanks Amel."Kata Satya lalu pergi ke ruangannya.


__ADS_2