
Vano segera menghubungi Satya menanyakan apakah Aer sedang ada di perusahaan atau tidak. Sebenarnya Satya agak sedikit curiga, bagaimana bisa Vano kenal atau tahu tentang Aer. Sementara sewaktu pesta perusahaan dan Vano datang ke perusahaan, Vanila tidak menampakkan dirinya.
Vano mencari alasan mengatakan bahwa Aer adalah temannya sewaktu sekolah dulu, dan Satya percaya karena ada kesamaan beberapa cerita dengan cerita Vanila.
Satya memberitahukan kepada Vano, kalau Vanila sedang mengambil cuti sekitar 3 hari. Vano meminta Satya untuk memberitahu Vanila, jika Vanila ada di kantor, tapi Vano meminta Satya merahasiakannya, karena Vano ingin membuat kejutan.
Setelah beberapa hari menghabiskan waktu dengan mbok Sa, Vanila memutuskan untuk kembali ke kota D, karena ada beberapa pekerjaan yang harus di urusnya.
"Mbok ikut ya non." Kata Mbok Sa, dengan wajah memelasnya meminta ikut dengan Vanila.
"Nanti kalau semuanya sudah selesai urusan Lala, dengan kak Aldrin, Lala pasti pulang ke sini. Kasih Lala waktu lagi ya mbok." kata Vanila yang memberikan pengertian kepada mbok Sa.
"Ya sudah.Tapi jangan lama-lama." kata mbok Sa lagi.
"InshAllah. Mbok doakan yang terbaik buat Lala ya." kata Vanila sambil tersenyum.
Vanila tidak ingin ada yang mengantarnya ke Bandara, karena Vanila tidak mau ada yang tahu, Vanila sekarang tinggal di kota mana.
Setelah menempuh perjalanan hampir 2 jam, akhirnya Vanila sampai di kota D sekitar jam 9 pagi. Karena masih pagi, akhirnya Vanila memutuskan untuk langsung ke kantor.
"Assalamualaikum." kata Vanila sambil tersenyum, lalu menyerahkan kotak oleh-oleh makanan kepada OB kantor, agar dibagikan untuk semua yang ada di kantor.
Vanila segera menuju ruangannya dan ternyata tidak ada orang di dalamnya. Vanila memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Astagfirullah" Kata Satya yang terkejut melihat Vanila duduk di kursinya, sedangkan Vanila hanya nyengir dan menunjukkan jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf V kepada Satya yang terkejut.
"Kamu ini kebiasaan Ae. Suka buat abang kaget. Kapan kamu sampai?" Tanya Satya.
"Jam setengah sepuluh. Aku laper, tadi belum sempat sarapan. Abang traktir aku makan siang ya. Biasa Bebek goreng pakde." Kata Vanila yang menutup laptopnya, lalu segera mendorong punggung Satya untuk keluar.
"Kebiasaan ini. Emang bos nggak ada akhlak. Bisa-bisanya kamu minta abang yang bayarin. Uang kamu lebih banyak loh Ae." Kata Satya morang maring.
"Bukan masalah duitnya. Tapi aku suka kalau abang yang bayar. Berasa punya abang." Kata Vanila sambil tersenyum sedih, mengingat dia nggak punya abang, dan tidak begitu dekat juga dengan kakak-kakaknya.
"Jangan sedih. Abang mau kok jadi abang kamu. Walau kita beda warna kulit. Biar deh orang bilang kotoran cicak. Asal kamu senang." Kata Satya sambil ketawa.
"Iugh.. jorok bener perumpamaannya. bilang kayak papan catur kek, simbol yin n yang kek, lah ini malah kotoran cicak. Dasar abang sableng." Kata Vanila lalu duduk di atas motor Satya.
Walau punya mobil, Satya lebih suka menggunakan motor sport nya, karena lebih bisa menikmati angin dan kondisi jalan, walaupun sering kepanasan atau kehujanan.
Mereka berdua segera menuju ketempat makan yang diinginkan Vanila. Walaupun naik motor, Vanila memberi jarak antara tubuhnya dengan tubuh Satya, karena memang Vanila tahu batasan perempuan dan laki-laki yang bukan mukhrim.
Mereka berdua makan sambil mendiskusikan pekerjaan. Banyak pasang mata yang melihat kedekatan Satya dan Vanila seperti pasangan kekasih, tapi dengan julukan handsome and the beast.
"Kamu bisa nggak sih Ae rubah penampilan nggak culun gini. Abang tahu, walau kulit kamu eksotis, tapi kamu manis loh. Buang tuh kaca mata segede gaban. Jilbabnya juga, jangan kayak guru madrasah, kenapa?" protes Satya yang mendengar bisikan orang-orang disekitarnya. Karena mereka memandang Vanila jelek tidak pantas dengan Satya yang ganteng, bukan karena Satya malu jalan dengan Vanila, tapi Satya tidak suka orang-orang menjelekkan Vanila.
"Biarin ajalah bang. Kucing mengeong aku tetap berlalu." kata Vanila cuek, sambil menggigit paha bebek favoritnya.
"Lah? Pepatah mana pula yang bahasanya begitu?" Tanya Satya heran.
"Biar sopan." kata Vanila lagi sambil tertawa.
Setelah kenyang, mereka memutuskan untuk kembali ke kantor karena kuping Satya panas mendengar komen negatif tentang Vanila.
Satya memberitahukan Vano, kalau Vanila sudah ada di kantor. Kebetulan Vano dan Aldrin sudah berada di kota D. Mereka segera menuju Aer Suport sistem.
Vanila yang sedang serius memikirkan pengembangan sistem Syauqi properties, tidak sadar kalau di ruangannya sudah ada Vano, Aldrin dan Satya.
"La.." Kata Aldrin dengan suara bergetar tidak percaya akhirnya ia bisa bertemu dengan Vanila setelah lebih dari setahun mencarinya.
Vanila yang terkejut mendengar ada yang memanggil nama panggilannya menatap sumber suara yang menyebut namanya, dan langsung berdiri tidak percaya, kalau Aldrin dan Vano bisa menemukannya.
"Kenapa abang bawa orang lain ke ruangan ini. Kalau mau rapat, keruangan rapat aja." Kata Vanila berlagak tenang.
"La.. mau sampai kapan kamu lari seperti ini. Mas cariin kamu kemana-mana." Kata Aldrin yang mulai mendekati Vanila, dan berusaha memegang tangan Vanila namun di tepis Vanila.
"Pak Aldrin bisa sopan sedikit. Tidak usah pegang-pegang Aer." Kata Satya agak emosi.
"Dia istri saya. Jadi saya berhak untuk menyentuhnya." kata Aldrin agak sedikit geram, karena Satya melarangnya menyentuh Vanila.
Satya terkejut, mendengar Aldrin mengatakan kalau Vanila adalah istrinya.
"Bapak jangan bercanda. Nggak mungkin Aer istri Bapak." Kata Satya lagi.
__ADS_1
"Vanila istri mas Aldrin, walau mereka nikah siri, karena Vanila belum cukup umur sewaktu mereka menikah. Tapi percayalah, Vanila adalah istri mas Aldrin." Kata Vano berusaha menengahi.
"Namanya Aer. Bukan Vanila. Saya rasa Bapak salah orang." Kata Satya lagi.
"Tidak mungkin saya salah orang. Aer adalah Vanila. Dia istri saya. Vanilarea Aisyah Syauqi." Kata Aldrin yang menyebutkan nama lengkap Vanila.
"Beneran Ae?" Tanya Satya tidak percaya, apalagi, Satya mendengar nama Syauqi dibelakang nama Vanila, Satya langsung teringat nama putri bungsu almarhum Arlan Syauqi, pemilik Syauqi properties.
"Jawab jujur La. Jangan bohong lagi. Bagaimanapun kebohongan itu tetap salah dihadapan Allah." Kata Aldrin.
Vanila yang merasa sudah terpojok dan tidak mungkin menghindar lagi, hanya menganggukkan kepalanya, yang membuat Satya kembali syok tidak percaya kalau ia selama ini bekerja dengan putri bungsu Arlan Syauqi yang terkenal jenius.
"Kita pulang La." Kata Aldrin dengan suara lembut dan berusaha meraih tangan Vanila, namun kembali di tepis Vanila.
"Jangan pegang aku. Kita bicarakan di luar." Kata Vanila, lalu pergi keluar ruangan menuju parkiran, dan meminta pak Sugeng mengantarnya ke hotel, tempat Vanila tinggal jika tidak dirumah pak sugeng.
Vano dan Aldrin mengikuti Vanila, sedangkan Satya masih terduduk di bangkunya dan mencerna yang barusan terjadi.
Sesampainya di kamar Vanila, Vanila meminta Vano dan Aldrin masuk, dan duduk di sofa yang ada di kamarnya.
Vanila menempati kamar president suite, sehingga kamarnya memiliki kamar, ruang tamu bahkan dapur.
"Kak Vano sama kak Al mau minum apa?" Kata Vanila yang berjalan menuju dapur.
"Air putih" jawab Aldrin.
"Sama." Jawab Vano.
Setelah mengambil air minum dan meletakkannya di hadapan Vano dan Aldrin, Vanila duduk di sofa yang agak jauh dari Vano dan Aldrin.
Setelah minum, Vano pamit, karena ia tidak mau mengganggu urusan Aldrin dan Vanila.
"Apapun yang terjadi, mas jangan pernah sakitin Vanila. Kalau aku lihat Vanila nangis, aku akan bawa Vanila pergi jauh dari mas." ancam Vano sebelum pergi.
"Kakak cari aku mau minta izin nikahin kak Sidqila?" Tanya Vanila to the point.
"Nggak La. Maaf. Mas salah. Yang mas mau nikahin itu memang kamu. Mas kira Sidqila adalah kamu. Soalnya ciri-ciri Sidqila mirip dengan ciri-ciri Lala yang mas kenal." Jelas Aldrin.
"Trus bagaimana janji kakak sama kak Sidqila?" Tanya Vanila lagi.
"Sudah masuk waktu sholat. Mas sholat di mushola aja." kata Vanila yang mendengar alarm adzan dari hpnya.
"Kamu nggak akan kabur lagi kan La?" Tanya Aldrin yang takut Vanila kabur lagi.
"Nggak. Aku juga mau sholat." Kata Vanila.
Aldrin yang lega mendengar jawaban Vanila, segera keluar kamar menuju mushola hotel untuk melaksanakan sholat.
Begitu juga dengan Vanila, sebelum sholat, Vanila membersihkan wajahnya dan melepaskan softlense yang menutupi mata hazelnya. Lalu Vanila segera mengganti bajunya, mengambil wudu dan melaksanakan ibadah sholat.
Vanila yang memang menghabiskan waktu agak lama untuk sholat, lupa kalau Aldrin ada di tempat Vanila menginap. Vanila menggulung tinggi rambut berwarna almondnya berantakan, karena Vanila tidak menyisirnya. Membuat Vanila kelihatan cantik.
Vanila keluar dari kamarnya menuju dapur, untuk mengambil minum, dan tas laptopnya.
"Astagfirullah." Kata Vanila terkejut yang melihat Aldrin sedang duduk di sofa, memegang hp dan menatap Vanila. Vanila yang sadar sedang tidak memakai jibab, dan ditatap Aldrin, segera berlari ke kamarnya untuk memakai jilbab.
"Glek" suara Aldrin yang meneguk ludahnya karena pertama kali melihat Vanila berpenampilan seperti itu.
"Kakak sudah pulang? Kok nggak ada suaranya? Buat aku kaget aja." kata Vanila yang keluar kamar sudah mengenakan jilbabnya.
"Tadi mas sudah bilang assalamualaikum, tapi nggak ada jawaban. Ya udah, mas duduk disini aja." Kata Aldrin.
"Kak Al sudah makan? Aku telponkan restoran hotel aja ya?" Kata Vanila sambil mencium punggung tangan Aldrin, lalu mengangkat gagang telpon dan memesan beberapa makanan untuk Aldrin.
"Kenapa kamu lari tadi La?, Mas ini suami kamu loh." kata Aldrin.
"Nggak biasa aja." jawab Vanila.
"Ya harus dibiasakan dong La." Kata Aldrin lagi.
Vanila hanya menghela nafasnya dan tidak menjawab lagi perkataan Aldrin.
Tidak lama kemudian, makanan yang di pesan Vanila datang. Vanila segera mengambilnya dan menatanya dipiring, lalu meletakkannya di atas meja makan.
__ADS_1
"Makan dulu kak. Tuh udah aku siapkan." Kata Vanila yang duduk dekat meja makan.
Aldrinpun duduk di hadapan Vanila. Vanila yang masih punya etika dan tatakrama, mengambilkan makanan ke piring Aldrin, lalu meletakkannya dihadapan Aldrin.
"Makasih La." Kata Aldrin sambil tersenyum dan mencuci tangannya.
"Sama-sama kak."Kata Vanila.
"Loh, kamu nggak makan La?" Tanya Aldrin lagi.
"Aku tadi sudah makan sama Bang Satya." Kata Vanila, yang membuat Aldrin agak sedikit cemburu.
"Kamu dekat ya, dengan pak Satya." kata Aldrin agak sinis.
"Bang Satya udah seperti abang aku."Kata Vanila lagi.
Aldrin yang tidak mau bertambah emosi, memutuskan untuk diam dan melanjutkan makannya dalam diam. Sekitar 10 menitan Aldrin makan tanpa suara, begitu juga dengan Vanila yang tidak mengucapkan sepatah katapun.
Selesai Aldrin makan, Vanila segera membereskan meja makan.
"Taruh aja di wastafel kak. Biar aku yang cuci." kata Vanila yang melihat Aldrin mengangkat piring kotor.
"Nggak apa. Waktu di negara M, mas biasa kok nyuci piring." kata Aldrin.
Selesai membereskan meja makan, Vanila memutuskan kembali duduk di sofa, dan mulai membuka laptopnya. Karena sebenarnya Vanila agak merasa canggung dengan keberadaan Aldrin.
"Mas mau bicara La." Kata Aldrin yang duduk di sofa sebelah Vanila.
"Kakak ngomong aja. Aku dengerin kok." Kata Vanila masih memandang layar laptopnya.
"Kalau ngomong itu, tatap mas La." Kata Aldrin sambil menutup laptop Vanila, yang membuat Vanila melirik Aldein sekilas, dan menunjukkan ekspresi tidak suka.
"Katanya mau ngomong. Ya udah ngomong." Kata Vanila ketus, yang membuat Aldrin harus banyak-banyak menghela napas dan bersabar, menghadapi tingkah Vanila, yang memang sengaja membuat Aldrin marah.
Aldrin menggenggam tangan Vanila. Vanila berusaha melepaskan pegangan tangan Aldrin tapi Aldrin menahannya cukup kuat, sehingga Vanila tidak bisa melepaskan genggaman tangan Aldrin.
"Lala dengar mas. Mas tahu mas salah. Nggak seharusnya mas bilang perkataan itu sebelum kita menikah. Tapi Lala juga sudah hukum mas, setahun lebih kamu tinggalin mas. Apa itu masih nggak cukup. Hargai mas sebagai suami kamu. Kamu itu sekarang tanggungjawab mas. Mas yang berhak atas kamu. Kesalahan yang Lala buat, harus mas pertanggungjawabkan. Lala belajar alquran dengan baik. Lala tahu kan apa hukumnya istri yang nggak taat suami?" Kata Aldrin panjang lebar, yang membuat Vanila berfikir dan merasa salah dengan sikap emosi dan kekanak-kanakan.
"Maaf." Kata Vanila dengan air mata yang mulai membanjiri wajahnya. Aldrin yang melihat Vanila menangis, menghela nafas lega, lalu menghapus air mata Vanila. Menyandarkan Vanila ke dada bidangnya, dan mengecup puncak kepala Vanila lembut.
"Mas maafin semua yang Lala lakukan. Tapi jangan pergi dari mas lagi." Kata Aldrin dan Vanila hanya mengangguk.
Berada dipelukan Aldrin membuat Vanila tenang, dan merasa jantungnya dan Aldrin berdetak sangat cepat. Vanila segera melepaskan pelukan Aldrin dan duduk agak menjauh dari Aldrin.
"Kenapa jauh duduknya?" Tanya Aldrin heran, yang hanya di jawab cengiran oleh Vanila.
"Ya udah kakak balik sana gih. Aku mau kerja sebentar." kata Vanila yang kembali membuka laptopnya.
"Mas suami kamu bukan sih La?" Tanya Aldrin sambil menutup kembali laptop Vanila.
"Kalimat retoris. Nggak perlu dijawab." kata Vanila.
"Panggil mas, dan jangan bilang aku lagi, oke?" kata Aldrin.
"Ok" Kata Vanila sambil membulatkan jari telunjuk dan jempolnya.
"Ya udah. Kakak pulang gih. Aku mau lanjutin kerjaan tadi." kata Vanila, yang membuat Aldrin mencium bibir mungil Vanila, dan membuat Vanila diam seperti patung.
"Itu hukuman, kalau kamu melanggar kata-kata mas." kata Aldrin sambil tersenyum puas, karena berhasil buat Vanila terdiam.
"Ih.. kak.."Kata Vanila lagi yang terpotong karena Aldrin kembali mencium bibir Vanila.
"Kamu sengaja ya, godain mas?" Kata Aldrin sambil menaik turun kan alis matanya menggoda Vanila.
"Ka. eh mas apa-apaan sih. Curi-curi kesempatan. Ntar ak, Lala laporin ke komnas perempuan dan perlindungan anak loh." protes Vanila sambil menutup mulutnya, takut kalau Ia melakukan kesalahan lagi, dan Aldrin menciumnya lagi.
"Lapor aja. Kamu kan istrinya mas. Lagian pahala loh cium istri sendiri." kata Aldrin sambil tertawa karena Vanila protes, dan mulai bersikap seperti Vanila yang dulu dikenalnya.
"Mas itu nikah sama anak di bawah umur. Jadi kegiatan 17 tahun ke atas, nggak boleh dilakukan." protes Vanila lagi yang membuat Aldrin tidak bisa berhenti tertawa.
"Emang kegiatan ada umurnya ya?" Tanya Aldrin lagi.
"Ya adalah. Yang mas lakuin tadi itu kegiatan umur 17 tahun ke atas. Aku.."Kata Vanila yang kembali terputus, karena Aldrin kembali menciumnya lalu tertawa.
__ADS_1
"Mass.. argh.." Teriak Vanila kesal, lalu menimpuk Aldrin menggunakan bantal sofa.