
Selesai makan siang, Vanila memutuskan untuk pulang duluan, karena pak Arman sudah menunggu Vanila di parkiran.
"Mas nggak usah antar. Lala pandai sendiri. Lala pulang duluan. Lala pulang duluan kak Azzam Assalamualaikum." Kata Vanila lalu mencium punggung tangan Aldrin dan kembali membawa rantang yang tadi di bawanya.
Begitu keluar ruangan Aldrin, beberapa karyawan Aldrin yang perempuan, masih tidak percaya kalau Vanila adalah istri Aldrin. Bahkan ada beberapa di antara mereka yang bilang kalau Vanila pakai pelet sehingga bisa menikah dengan Aldrin. (Emang Aldrin ikan ya?, di kasi pelet ๐ ๐ ๐ )
"Kamu Aisyah kan?, masih ingat saya?" Tanya seorang perempuan yang mendatangi Vanila ketika Vanila akan keluar dari kantor.
"Kak Sidqila?" Kata Vanila mengingat bahwa perempuan yang saat ini berdiri dihadapannya adalah Sidqila.
"Iya. Saya Sidqila. Saya mau bicara dengan kamu." Kata Sidqila dengan wajah yang tidak menunjukkan keramahan sedikitpun.
"Ok. Kita ke cafetaria di samping" Kata Vanila, karena kebetulan ada cafetaria yang berada tidak jauh dari kantor AlRasyid Properties.
Sesampainya di cafe, Vanila dan Sidqila memesan minuman, lalu Vanila tidak lupa menghubungi pak Arman untuk menunggu Vanila di dekat parkiran cafe.
"Kakak mau ngomong apa?" Tanya Vanila
"Saya tahu kamu sudah menikah dengan mas Al. Tapi pernikahan kalian terpaksa karena kondisi. Kamu juga tahu, kalau saya punya hubungan dengan mas Al, dan mas Al berjanji akan menikahi saya ketika saya tamat sekolah. Sekarang saya sudah tamat, tapi mas Al tidak mau memenuhi janjinya. Kamu harapan saya satu-satunya. Saya sangat mencintai mas Al. Saya mohon, lepaskan mas Al." Terang Sidqila dengan wajah yang sudah dipenuhi air mata.
Vanila hanya terdiam, mencoba merangkai dan memahami yang terjadi. Vanila ingat, bahwa sebelum ia menikah dengan Aldrin, Aldrin mengatakan bahwa Ia akan menikahi Sidqila setelah Sidqila menamatkan sekolahnya.
"Maaf kak, aku tidak bisa." Kata Vanila dengan wajah sedih.
"Kamu !, saya sudah berusaha merendahkan diri saya untuk bertemu dengan kamu, meminta mas Al dengan cara baik-baik. Tapi kenapa kamu tidak bisa melepaskan mas Al?" Kata Sidqila dengan suara yang mulai meninggi dengan deraian air mata yang terus mengalir dari mata cantiknya.
Orang-orang yang berada di mereka, memandangi Vanila dengan tatapan tidak suka, karena dari kata yang diucapkan Sidqila, seolah-olah Vanila adalah pelakor.
Vanila yang merasa banyak pasang mata yang menatapnya dengan tatapan tidak suka, menjadi tidak nyaman.
"Gini aja. Aku tunggu kakak di rumah umi Salma. Kita selesaikan masalahnya di sana. Aku duluan kak. Assalamualaikum." kata Vanila lalu pergi meninggalkan Sidqila yang mulai menghapus air matanya.
Vanila segera masuk ke dalam mobil dan menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi, dan tidak terasa air mata memgalir membasahi pipinya.
"Non kenapa?" Tanya pak Arman yang melihat dari kaca tengah.
"Lala nggak apa-apa pak. Kita pulang dulu, nanti habis itu kita ke pesantren ya pak." Kata Vanila sambil menyeka air mata dan membersihkan wajahnya dari fondation.
Sesampainya di rumah, Vanila segera mencari mbok Sa, dan langsung membawa mbok Sa pergi.
"Kita mau kemana non?" Tanya mbok Sa bingung, sewaktu mobil berjalan menuju arah luar kota, dan mbok Sa tahu betul kalau ada masalah yang sedang difikirkan Vanila.
"Nanti mbok tahu. Lala telpon Mas Al dulu." kata Vanila.
"Assalamualaikum mas." kata Vanila yang berusaha menahan tangisnya.
"Wa'alaikumussalam. Kenapa sayang? Kamu kangen ya sama mas?" Kata Aldrin yang mencoba menggoda Vanila, tapi Vanila malah diam aja.
"La.."
"Iya, maaf mas. Lala lagi di perjalanan menuju rumah umi. Mas bisa susul ke rumah umi sekarang?" Tanya Vanila.
"Baru sehari udah kangen aja sama umi. Ya udah mas susulin. Kebetulan Azzam mau balik ke rumahnya. Mas nebeng Azzam aja. Hati-hati di jalan sayang. Wassalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam." Jawab Vanila lalu mematikan telponnya.
Vanila memeluk mbok Sa erat dengan air mata yang terus mengalir. Mbok Sa yang paham betul dengan sifat dan sikap Vanila hanya diam dan mengelus kepala Vanila dengan penuh perasaan sayang.
__ADS_1
Karena terus menangis, akhirnya Vanila ketiduran di pangkuan mbok Sa. Ketika Vanila tertidur, mbok Sa sempat bertanya kepada pak Arman, kenapa Vanila seperti itu. Pak Arman yang memang tidak tahu apa-apa, menceritakan sesuai kejadian yang pak Arman alami, kalau Vanila tiba-tiba nangis waktu keluar dari cafe. Pak Arman juga tidak tahu Vanila bertemu siapa di cafe.
Setelah menempuh perjalanan selama dua jam lebih, mereka sampai di rumah umi Salma.
"Non, kita udah sampai." Kata mbok Sa sambil menepuk-nepuk lembut pipi Vanila agar bangun. Vanila yang merasa ada tepukan di pipinya mulai mengerjap-ngerjapkan matanya dan melakukan peregangan, karena tubuhnya agak pegal.
"Assalamualaikum umi." kata Vanila yang memaksakan ekpresi senang ketika melihat umi Salma di ambang pintu.
"Loh, baru sehari udah balik lagi La?" Tanya Umi Salma heran.
"Nggak boleh ya umi? Ya udah deh, Lala pulang lagi aja." kata Vanila yang pura-pura merajuk.
"Bukan begitu sayang. Umi khawatir kamu kecapean." Kata Umi Salma sambil menggandeng Vanila masuk ke rumah, diikuti mbok Sa dan pak Arman.
Tidak berapa lama duduk, suara adzan berkumandang. Umi Salma, mbok Sa dan pak Arman segera menuju mesjid, sementara Vanila izin membersihkan dirinya terlebih dahulu di kamarnya, kamar yang ia tempati sewaktu tinggal di rumah umi Salma.
"Kenapa bersih-bersihnya nggak di kamar Al La?" Tanya umi Salma sewaktu Vanila izin ke kamar lamanya.
"Kangen kamar Lala umi." Jawab Vanila sambil tersenyum.
Setelah membersihkan diri, Vanila memutuskan untuk sholat di kamarnya. Vanila sedang ingin sendirian, berbicara dengan Allah lewat doa-doanya, meminta agar Ia bisa mengambil keputusan yang terbaik.
"Tok tok"
"La, kamu masih di dalam?" Tanya umi Salma yang sebenarnya agak curiga dengan sikap Vanila.
"Iya umi. Nanti Lala keluar." Kata Vanila yang segera menyeka air matanya.
Vanila membereskan mukenahnya dan mencuci wajahnya, agar tidak kelihatan, kalau Vanila habis menangis.
"Coba telpon Al La. Udah sampai mana?" Kata umi Salma.
Vanila lalu segera menghubungi Aldrin yang posisinya sudah dekat dari pesantren. Tidak lama Vanila menutup telponnya, terlihat mobil Azzam memasuki halaman rumah umi Salma.
Vanila berusaha tersenyum ketika melihat Aldrin keluar dari mobil Azzam.
"Assalamualaikum mas, kak Azzam." kata Vanila sambil mencium punggung tangan Aldrin
"Wa'alaikumussalam." Jawab Aldrin dan Azzam kompak, lalu mereka segera masuk ke rumah.
Azzam hanya singgah sebentar, lalu pamit kembali ke rumahnya. Sedangkan Vanila mengikuti Aldrin ke kamarnya, untuk mempersiapkan pakaian yang akan digunakan Aldrin.
Selesai mandi dan mengenakan bajunya, Aldrin duduk di samping Vanila yang sadang duduk di balkon yang ada di kamar Aldrin.
"Kamu kenapa sih La?, baru kemaren dari ramh umi, hari ini tiba-tiba ke rumah umi lagi?" Tanya Aldrin yang heran melihat sikap Vanila.
"Nanti mas juga tahu." Kata Vanila sambil menghela nafasnya, yang membuat Aldrin semakin bingung.
"Kalau ada masalah, kamu bisa cerrita sama mas. Kalau mas ada salah, mas minta maaf." Kata Aldrin yang berusaha mendapatkan informasi atas perubahan sikap Vanila.
"Mas nggak salah. Nanti aja kita bicarakan. Lala turun dulu. Mas mau siap-siap sholat magrib kan." Kata Vanila lalu meninggalkan Aldrin.
Aldrin akhirnya pรจrgi ke mesjid untuk melaksanakan sholat magrib. Pada saat makan malam, Vanila lebih banyak diam dan sering terlihat melamun, bahkan hanya mengambil sedikit makanan.
"Yang banyak makannya La." Kata Umi Salma.
"Udah kenyang umi." Kata Vanila lalu menyudahi makannya.
__ADS_1
Selasai membantu membereskan meja makan, semuanya bersiap-siap untuk melaksanakan sholat Isya.
Selesai sholat, Vanila duduk di ruang tamu menunggu Aldrin, Umi Salma, mbok Sa, abah Abdullah dan pak Arman.
"Kamu nggak sholat di mesjid La?" Tanya Aldrin.
"Nggak mas. Tapi Lala udah sholat. Oh iya, umi, abah, mbok, pak Arman sama mas Aldrin, ada yang mau Lala bicarakan..."
"Assalamualaikum" Salam suara yang masih Aldrin kenal.
"Wa'alaikumussalam" Jawab mereka bersamaan.
Dari ambang pintu, nampak Sidqila dan perempuan yang sudah agak berumur tapi kelihatan masih cantik, karena melakukan perawatan.
"Jeng Vina toh. Kirain siapa. Masuk jeng." Kata Umi Salma ramah meminta Sidqila dan mamanya masuk dan duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
Aldrin yang melihat Sidqila menjadi tidak nyaman, teringat janji yang dulu pernah ia ucapkan pada Sidqila.
"Begini mbak. Kedatangan saya dan Qila kesini, untuk ยน
"Janji apa ya jeng?" Tanya umi Salma bingung.
"Janji kalau Aldrin akan menikah dengan Qila, saat Qila sudah menyelesaikan sekolahnya. Sekarang Qila sudah menyelesaikan sekolahnya, dan saya minta Aldrin untuk menepati janjinya." Kata bu Vina.
"Tapi tante, Saya janji, karena saya kira Qila adalah Lala, gadis kecil yang saya temui waktu saya SD." Terang Aldrin.
"Saya tidak perduli. Janji adalah janji. Dan karena janji kamu, Qila jadi sangat mencintai kamu." Terang Bu Vina.
Abah Abdullah, umi Salma dan mbok Sa, menatap Aldrin meminta penjelasan.
"Maaf abah, umi, mbok Sa, Al salah. Al telah bertindak gegabah."Kata Aldrin dengan wajah yang merasa bersalah.
"Jadi mau kamu bagaimana?" Tanya Abah Abdullah kepada Aldrin.
"Al tidak bisa menikah dengan Qila, karena perempuan yang Al cintai Lala, bukan Qila."
"Tidak bisa gitu dong mas!, mas janji sama Qila kalau mas akan nikahi Qila. Bukankah janji itu adalah hutang yang harus mas bayar?" Kata Sidqila yang marah mendengar perkataan Aldrin.
"Mas tahu mas salah. Tapi mas minta kamu mengerti. Mas salah orang. Yang mas cintai itu Lala, istri mas sekarang." Kata Aldrin
"Bagaimana ini pak kyai?, bukankah anak pak Kyai dan Umi harus memenuhi janjinya?" Tanya bu Vina meminta kepastian untuk Sidqila.
"Kamu tahu kalau Al sudah menikah Qila. Apakah kamu masih ingin Al memenuhi janjinya?" Tanya kyai Abdullah.
"Iya kyai. Mas Al janji sam Qila. Mas Al harus penuhi janjinya." Kata Sidqila yang mulai menangis, agar Aldrin bersimpati.
"Kenapa kamu diam aja La?" Tanya umi Salma heran melihat Vanila yang bersikap tenang.
"Lala sudah tahu, kalau ini akan terjadi umi. Sebelum menikah mas Al sudah bilang ke Lala. Lala sudah ambil keputusan."
"Jangan sembarangan ambil keputusan La. Mas nggak mau kamu ambil keputusan yang salah." potong Aldrin, karena takut mendengar keputusan Vanila.
"Maaf mas. Lala sudah pikirkan ini masak-masak. Lala harap mas juga penuhi ucapan mas sama Lala, sebelum kita menikah, mas akan terima apapun keputusan Lala.
"Tapi La.."
"Nggak ada tapi-tapi mas. Ini mungkin memang sudah takdir kita. Lala tahu, poligami tidak dilarang agama kita, tapi Allah juga menghalalkan percerian walau Allah benci. Lala bukan perempuan sholeha berhati lapang, yang mau menerima kalau suaminya dibagi dengan perempuan lain, jadi maaf mas, mas harus talak Lala." Kata Vanila sambil menghembuskan nafas berat.
__ADS_1