Wanita Sederhana Pilihan CEO

Wanita Sederhana Pilihan CEO
Zane Abraham Lincoln


__ADS_3

MANSION UTAMA ....


Sebuah mobil mewah berwarna merah berhenti di sebuah mansion megah bergaya barat Eropa. Beberapa mobil hitam ikut berhenti di belakang sana dan bergegas turun dari mobil, bersamaan pula dengan seorang pria tampan berpakaian jas rapi dengan wajah datar dan berhawa dingin.


"Selamat datang, Tuan Muda!" sapa para bodyguard dan maid yang sudah berkumpul dan menyambut kepulangan Tuan mereka.


Pria yang sungguh angkuh itu hanya memberikan lirikan mata dengan terus berjalan, memasuki mansion megah itu. Derap langkah kaki menggema, membuat seorang gadis cantik yang tampak sedang bermain dengan bonekanya, langsung menoleh dan tersenyum cerah.


"Kak Zane, pulang!" seru gadis berkuncir kuda dengan girang.


"Nona muda, hati-hati!" tegur wanita paruh baya yang sejak tadi mendampingi gadis berusia 10 tahun dengan wajah pucat dan tubuh kurus.


"Hai, Princess. Bagaimana keadaan mu?" tanya pria tersenyum dengan wajah datar tanpa senyum, tetapi berbeda dengan hatinya yang sangat berbunga-bunga melihat gadis cantik itu tersenyum penuh semangat menyambut kepulangan nya.


"Aku baik, Kak! Apakah Kakak akan menginap lagi, sudah sebulan lebih Kakak tidak kembali ke mansion!" kata gadis tersebut dengan wajah kesal.


Zane Abraham Lincoln, seorang pria dewasa berusia 30 tahun. Zane adalah seorang pengusaha sekaligus miliader terkaya dan tersohor di negara tempat tinggalnya saat ini, memiliki ratusan anak cabang dari perusahaan utama, yang tersebar di setiap penjuru dunia. Membuat Zane mendapatkan julukan 'The Business King Two'.


Zane memiliki Adik kembar yang berusia 10 tahun, yaitu Alexander Graham Lincoln dan Alexia Glory Lincoln. Dan gadis cantik yang duduk di kursi rodanya itu adalah Alexia. Hanya gadis manis, yang harus menderita dan terus-menerus merasakan sakitnya suntikan infus setiap saat. Banyak wanita yang menggandrungi seorang Zane, pria kaya-raya dan tersohor yang saat ini sedang mencari wanita untuk menjadi istrinya.


Iya hanya seorang istri, tidak lebih. Zane hanya ingin menghindari perjodohan yang terus-menerus di rencanakan oleh Ibunya sendiri, karena terdesak menginginkan seorang cucu. Sebenarnya Zane memiliki 3 orang Adik, tetapi anak kedua dari orang tua Zane meninggal dunia karena kecelakaan yang Ia alami.


Zane hanya tersenyum sebagai tanggapan, "Kakak tidak tahu. Akan Kakak usahakan untuk Princess kecil ini,"


Alexia tersenyum senang dan bersorak hore. "Bi, Kak Zane akan menginap! Alexia tidak sendiri lagi!"


Wanita paruh baya itu hanya tersenyum simpul dan membungkuk hormat kepada Zane yang seperti mencari sesuatu. "Mama?"


"Nyonya besar sedang berada di taman dengan Tuan Muda kecil," jawab wanita paruh baya tersebut, Bibi Maya namanya.


Tanpa bertanya lebih, Zane bergegas menyusul ke taman belakang. Taman yang sungguh luas, yang di tumbuhi oleh banyak tanaman hias dan bunga-bunga yang sungguh menyejukkan mata memandang. Zane sangat menyukai keindahan terutama kebun bunga. Baginya, melihat keindahan terutama taman bunga, membuat hati dan pikirannya tenang.


Terlihat beberapa maid dan bodyguard yang berdiri mengelilingi dua orang yang sibuk menanam dan menata tanaman di sana. "Mama!" panggil Zane dengan suara lantang.


Sontak wanita paruh baya dan seorang anak laki-laki yang sudah cemong dengan tanah, menoleh dan mendengus kesal.


"Kak Zane!"

__ADS_1


Alex, Kakak kembaran dari Alexia, langsung berlari kecil dan memeluk tubuh tinggi dan kekar Zane. Pria itu dengan senang hati membalas pelukan Adik laki-lakinya, tanpa takut kotor. Sedangkan wanita paruh baya yang sudah melepaskan topi berkebun nya, langsung mendekat.


"Akhirnya kau ingat juga punya rumah," sindir wanita tersebut, Bellamy Zoey Lincoln namanya.


Wanita cantik dengan usia tidak lagi muda. Wanita yang sangat elegan, sosialita, dan tentunya hobi berkebun. Memiliki ribuan tanaman hias langka dengan harga fantastis, bukanlah hal yang sulit untuk dirinya memiliki. Zane hanya menghela napas panjang dan melirik maid di sana.


"Alex, bersihkan diri mu dulu, Kakak ingin berbicara dengan Mama." Kata Zane membuat anak laki-laki itu mengangguk semangat.


Setelah kepergian Alex, Zane tersenyum tipis dan hendak memeluk Sang Mama.


"Stop!"


Langkah Zane langsung terhenti cepat, raut wajah bingung mulai terlihat dengan jelas di wajah tampannya. "Mama tidak merindukan ku?" tanyanya dengan suara kesal.


Bellamy menaikkan alisnya tinggi-tinggi, "Seharusnya Mama yang bertanya seperti itu, dasar anak nakal!" Dengan penuh rasa kesal, Bellamy langsung menarik telinga Putra sulungnya dengan emosi menggebu-gebu.


"Ma, lepaskan! Kenapa Mama menarik telinga ku!"


"Kemana saja kamu selama sebulan ini! Pulang tidak, bekerja saja tahunya!"


"Ma, kalau aku tidak bekerja, Anak istri ku makan apa nanti?!" jawab Zane dengan terus memberontak agar Bellamy melepas tarikan telinganya. Beberapa bodyguard dan maid yang masih berada di sekitar taman, hanya tersenyum dan sesekali terkekeh geli melihat raut wajah dan perdebatan antara Ibu dan Anak itu.


"Ma, aku belum ingin menikah!" balas Zane membuat Bellamy semakin kesal di buatnya.


"Lalu membiarkan Mama meninggal tanpa memiliki cucu?" tanya Bellamy dengan raut wajah kesal. Zane menghembuskan napas panjang dan mengusap wajahnya.


"Ma, akan aku-"


"Atau kau ingin menerima tawaran perjodohan itu?"


...****************...


PERUSAHAAN Z.L COMPANY


Gedung menjulang tinggi, dengan kaca yang memancarkan sinar matahari di siang hari. Terlihat beberapa mobil terparkir tepat di depan lobby. Para bodyguard bergegas datang dengan wajah berkeringat dingin.


"Selamat datang kembali, Tuan Zane!" sapa seorang pria yang lebih muda 2 tahun dari Zane.

__ADS_1


Nicholas Hoult, pria berusia 28 tahun yang sudah mengabdikan dirinya sebagai orang kepercayaan keluarga Zane. Nicholas tumbuh bersama dengan Zane, membuat pria itu sangat mirip dari segi watak, yaitu dingin dan irit berbicara tanpa di minta dan apabila tidak penting.


"Atur jadwal ku yang baru!" Perintah Zane, Nicholas hanya mengangguk dan mengikuti langkah sang Tuan di belakang sana. Ada beberapa orang yang mengikuti Zane, termasuk Nicholas dan satu orang sekretaris laki-laki.


Zane tidak suka bila sekretarisnya adalah seorang wanita, menurutnya sangat menjengkelkan, karena terakhir kali dirinya hampir saja jatuh ke dalam perangkap wanita yang menjadi sekretaris nya itu. Hal itu membuat Zane murka, dan langsung membuat wanita tersebut menderita karena perbuatannya sendiri.


"Tuan, dua hari lagi adalah keberangkatan kita ke sebuah desa, untuk melihat perkembangan proyek di sana." Kata sang sekretaris, Daniello Robert, sekretaris sekaligus sahabat dekat Nicholas dan Zane selama ini.


Ketiga pria berbeda usia itu masuk ke dalam lift, mereka memiliki ruangan di lantai yang sama. Banyak karyawan wanita yang begitu mengagumi ketiga sosok yang terus-menerus seliweran di hadapan mereka, terutama Daniel dan Nicholas.


"Siapkan keberangkatan kita mulai hari ini, saya akan menghubungi orang-orang saya di sana untuk menyiapkan tempat tinggal sementara di sana." sahut Nicholas membuat Daniel langsung mengangguk dan mengotak-atik iPad kerja miliknya.


"Berapa lama kita di desa itu?"


"Kita akan berada di desa Mentari selama satu Minggu, Tuan. Ada beberapa pemilik lahan tidak ingin menjual tanah mereka kepada kita," jawab Daniel dengan rinci membuat Zane menghela napas panjang dan mengangguk.


"Sudah berapa persen pekerjaan di sana?" tanya Zane dengan raut wajah yang lebih serius.


"Sekitar 70%, Tuan. Kepala pekerja meminta Anda turun langsung ke lapangan untuk melihat perkembangan proyek pembangunan di Desa Mentari." jawab Daniel membuat Zane mengangguk dan bergegas keluar dari lift menuju ruangannya.


"Panggilkan Cleaning service untuk memperbaiki AC di ruangan saya!"


"Baik, Tuan!"


Zane pun menghilang di balik pintu. Daniel menghela napas dan melirik ke arah Nicholas yang sudah berlalu menuju ruangan mereka. Daniel mendudukkan diri dan sedikit meregangkan otot tubuhnya.


"Aku rasa mood Tuan Zane sedang tidak baik, Nic." celetuk Daniel membuat Nicholas melirik sejenak.


"Lalu?"


"Bagaimana kalau kita hibur dia, sudah lama kita tidak pergi ke club." ajak Daniel dengan menaikturunkan alisnya. Nicholas merasa kesal.


"Kalau kau bisa membujuk Tuan Zane, akan aku beri ucapan selamat."


"Benarkah?"


"Selamat kau akan di pecat nanti,"

__ADS_1


Senyuman Daniel langsung lenyap seketika. Nicholas langsung pergi dari ruangan, karena ada sesuatu yang harus Ia urus.


"Ah, aku lupa kalau sahabat ku adalah seorang Zane Abraham Lincoln. Mana mungkin dia menerima ajakan ku ini, dasar bodoh!"


__ADS_2