Wanita Sederhana Pilihan CEO

Wanita Sederhana Pilihan CEO
Kabar Gembira


__ADS_3

"A ... aku gugup!" ungkap Zane dengan tangan dingin. Ini adalah pengalaman pertamanya datang ke rumah sakit, lebih tepatnya dokter kandungan. Entah siapa yang kan memeriksa sang istri, dokter laki-laki atau perempuan, Zane tidak tahu. Setelah mengambil antrian, Zane terus bergerak gelisah sedangkan Chelsea hanya diam dengan degup jantung tak karuan.


"Zane," panggil Chelsea membuat Zane langsung menoleh. Pria itu langsung meraih tangan Chelsea yang ternyata jauh lebih dingin dan berkeringat.


"Ada apa? Kau gugup?" tanya Zane membuat Chelsea menggeleng sebagai jawaban. Wanita itu menghapus air mata di sudut mata dan tersenyum tipis.


"Aku hanya takut, kalau kehamilan ini hanyalah sebuah ilusi." kata Chelsea dengan pelan. Zane terdiam, pria itu juga merasakan hal yang sama dan berharap yang sangat lebih bahwa kehamilan Chelsea adalah sebuah kenyataan. Zane adalah pria hangat yang sebenarnya, menyukai anak-anak terlebih lagi perempuan, maka dari itu sikapnya sungguh overprotektif kepada Alexia daripada Alex. Menurutnya, perempuan jauh lebih rapuh daripada laki-laki, dan Alex tidak mempermasalahkan tentang sikap overprotektif kepada kembarannya.


Lagipula Zane tidak pernah membedakan keadaan antara kedua adiknya yang sungguh berbeda. Sikap Alex yang sungguh dewasa di usia 10 tahun, membuat sebuah tamparan tersendiri bagi Zane. Sebagai Kakak yang menyayangi Adik kembarnya, tentu saja Zane dan orang tuanya menginginkan hal yang terbaik bagi si kembar tidak identik tersebut, termasuk pendidikan. Karena permintaan Alex yang ingin bersekolah secara tatap muka, membuat Zane cemas bukan main, di saat Papa Owen dan Mama Bellamy menyetujui permintaan anak laki-laki tersebut, berbeda dengan Zane yang tidak merespon Iya atau tidak.


Setelah melihat secara langkah bagaimana senangnya Alex di sekolah barunya, tanpa melupakan kembarannya yang sedang sakit parah. Sakit yang di derita oleh Alexia semakin hari semakin ganas, selain melumpuhkan saraf, bahkan penyakit itu mulai menyerang syaraf lainnya. Tangisan sakit setiap harinya dari Alexia, membuatnya tidak tega. Penyakit yang tidak bisa di sembuhkan dan belum di temukan obatnya, membuat Zane merasa gagal menjadi seorang Kakak yang melindungi Adik-adiknya.


"Kau baik-baik saja, Zane?" tanya Chelsea saat melihat Zane hanya diam termenung. Chelsea mengusap punggung tangan sang suami, dan saat itulah Zane tersadar.


"Ada apa? Kau mengatakan sesuatu?"


Alis Chelsea mengernyit heran, "Apa yang kau pikirkan, Zane? Sampai tidak mendengarkan aku bertanya?" tanya Chelsea terheran-heran dengan sikap pria itu. Akhir-akhir ini, Chelsea beberapa kali, bukan sekali atau dua kali tetapi lebih dari tiga kali, melihat dan memergoki sang suami termenung seraya menyesap nikotin nya secara diam-diam, tanpa memberitahu Chelsea.


"Memangnya apa yang aku pikirkan? Tidak ada, Sayang." jawab Zane yang semakin membuat Chelsea penasaran setengah mati. Menatap manik mata Zane, yang Chelsea temukan hanya sebuah kebohongan.


"Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan selama ini, Zane. Apakah segitu beratnya untuk menceritakan masalah yang kau alami kepada istri mu sendirian?" Raut wajah sendu mulai terlihat di pandang pria tersebut. Zane menelan ludahnya sendiri saat Chelsea menarik tangannya dan menatap ke arah depan.


"Sayang-"


"Pasien atas nama Nyonya Chelsea Amora, silahkan masuk." Panggil salah satu perawat. Chelsea langsung bangun tanpa berbicara apapun dengan Zane. Chelsea masuk dengan langkah yang terbilang cukup berat, Zane tersadar dan langsung menyusul sang istri masuk ke dalam.


"Jadi apa yang Nyonya alami selama kehamilan ini?" tanya seorang dokter perempuan kepada Chelsea.


"Saya mengalami pusing berlebihan, Dok. Gejala umum untuk Ibu hamil, saya tidak merasakannya sama sekali." jawab Chelsea seadanya. Dokter perempuan tersebut menoleh ke arah kursi sebelahnya dan terkejut melihat siapa yang duduk.


"Tu ... tuan!"


"Jangan banyak bicara, lanjutkan pemeriksaan kepada istri ku!" ketus Zane dengan tangan melipat kedua tangannya. Dokter perempuan yang semulanya begitu santai, kini mulai gelisah karena tatapan tajam dari Zane.


"Apakah Tuan merasakan gejala seperti mual dan muntah-muntah?" tanya dokter perempuan tersebut dengan keringat dingin yang sudah membahasi dahinya.


Zane terdiam sejenak, "Sangat jarang, tapi penciuman ku semakin sensitif." jawab Zane dengan sangat ketus.


"Kapan Nyonya Chelsea terakhir datang bulan?" tanya dokter tersebut membuat Chelsea terdiam.


"Satu Minggu yang lalu seharusnya saya datang bukan, Dok." Jawab Chelsea serangan. Dokter tersebut mengangguk.


"Seperti Nyonya Chelsea dan Tuan Zane mengalami simpatik. Di mana Nyonya Chelsea yang sedang mengandung, dan Tuan Zane yang mengalami gejala Ibu hamil. Nyonya Chelsea, silahkan berbaring di ranjang ya." Chelsea mengangguk dan menidurkan dirinya di ranjang pemeriksaan.


Zane juga ikut bergabung, jantungnya berdetak kencang saat dokter perempuan tersebut memberikan gel di permukaan perut rata Chelsea. Memutarkan alat di sana, seperti mencari sesuatu. Chelsea refleks menggenggam tangan Zane dengan cemas, Zane mengusap tangan dingin itu dengan lembut.


"Wah, lihat ini, Tuan" celetuk sang dokter. Zane ikut menatap ke arah layar monitor, yang Ia lihat hanyalah gambaran hitam putih.

__ADS_1


"Apa yang perlu aku lihat? Kau ingin mengerjai ku?!" tanya Zane dengan kesal.


GLEK .....


"I ... ini, Tuan." Dokter tersebut menunjuk satu titik di layar, "bulatan kecil ini adalah janinnya, dan ini juga."


"Jadi?" tanya Zane yang masih belum mengerti. Chelsea tertegun melihat bulatan kecil yang di tunjuk oleh sang dokter.


"Selamat, bayi Tuan dan Nyonya akan mendapat anak kembar."


DEG ....


...****************...


Setelah pulang dari rumah sakit tadi, Chelsea hanya diam dan tidak melirik sama sekali ke arah Zane yang juga malah ikut terdiam, mereka berdua bergelut dengan pikiran mereka sendiri. Zane menghela napas panjang dan akhirnya melirik ke arah Chelsea, yang setia memeluk erat perut ratanya.


"Jangan mendiamkan aku, Amora." kata Zane membuat Chelsea menoleh sejenak dan kembali melihat ke luar jendela.


"Aku tidak tahu, kau menganggap aku ini apa, Zane." ujar Chelsea memberanikan diri untuk mengatakan hal tersebut.


"Apa maksudmu?" tanya Zane tidak mengerti. Kini, mobil mereka telah berhenti di teras mansion keluarga Lincoln. Mereka berdua baru saja dari mall untuk membeli susu Ibu hamil, dan semua itu Zane yang memilih bahkan tak segan-segan membeli banyak dengan berbagai macam rasa.


"Lupakan saja, aku lelah." Chelsea langsung turun begitu saja. Raut wajah kecewa mulai terpatri di wajah cantik wanita tersebut. Zane tahu bahwa caranya sungguh sangat salah saat ini, tidak berbagi cerita tentang masalah yang sedang Ia hadapi kepada siapapun, bahkan kepada Chelsea.


Zane bergegas turun dan menarik tangan sang istri. Chelsea menghentikan langkahnya dan menatap Zane bingung, "Aku tidak bermaksud seperti itu, Amora. Aku mohon mengertilah, aku tidak ingin kau memikirkan masalah ku, kau saat ini tengah mengandung." Kata Zane membuat Chelsea hanya diam dan melepaskan tangannya.


"Bukan seperti itu, kau tidak akan mengerti dengan-"


"Aku jauh lebih muda dari mu, bukan berarti aku tidak mengerti dengan masalah mu. Kau seperti tidak menganggap ku sebagai istri, kau jahat, Zane!" ketus Chelsea dengan menepis tangan Zane kembali.


Wanita hamil itu berjalan tergesa-gesa tanpa mempedulikan Zane di belakang sana. Sedangkan pria yang akan memiliki status baru itu, mengusap wajahnya dengan gusar dan menyusul Chelsea. Seharusnya tidak seperti ini, Chelsea sungguh sensitif dan Zane melupakan hal itu, terlebih lagi dokter mengatakan bahwa Ibu hamil harus menghindari stres.


Chelsea menghembuskan napas panjang dan mengusap air matanya yang sudah luruh, "Kenapa aku menjadi sensitif begini?" gumam Chelsea yang mulai tidak mengerti dengan dirinya sendiri.


"Chelsea,"


Wanita berbadan dua itu sontak menoleh dan tersenyum saat melihat Mama Bellamy berjalan bersama putri bungsunya, Alexia. Gadis manis yang harus merasakan sakit yang luar biasa. Chelsea menjadi iba dengan gadis manis berwajah pucat itu, semakin hari tubuh gadis manis itu harus merasakan sakitnya suntikan dan pahitnya obat-obatan tanpa henti.


"Ma," Chelsea memeluk tubuh wanita yang sudah Ia anggap sebagai Ibunya. Lalu beralih berjongkok dan mengusap rambut Alexia.


"Bagaimana keadaan mu, Adik manis?" tanya Chelsea membuat Alexia tersebut tipis.


"Lumayan baik, Kak. Kakak kenapa menangis?" tanya Alexia saat menyadari mata kakaknya memerah. Mama Bellamy mengerucutkan keningnya.


"Nak, kau habis menangis? Ada apa?" tanya Mama khawatir. Chelsea menggeleng sebagai jawaban.


"Tidak ada, Ma. Hanya ada debu yang masuk ke mata ku," dalihnya membuat Mama Bellamy mendengus kesal.

__ADS_1


"Sejak dulu selalu saja kau berbohong ketika menangis. Lihat, telinga mu akan merah bila ketahuan berbohong!" ketus Mama Bellamy yang membuat Chelsea langsung menyentuh kedua telinganya secara refleks.


"Telinga kakak merah! Kakak ketahuan berbohong!" sahut Alexia dengan tawa kecil. Mama Bellamy menyipitkan matanya penuh tanda tanya.


"Nanny!" panggil Mama Bellamy, tak lama Bibi Maya datang karena mendengar sang Nyonya memanggil. "Bawa Alexia ke taman, jaga putri cantik ku ini dengan baik.


"Baik, Nyonya."


Mama Bellamy menarik tangan sang menantu ke ruang tamu dan menatap Chelsea dengan tatapan penuh menuntut jawaban. Chelsea menundukkan kepalanya dan memilih untuk diam. Tak lama, terdengar suara langkah kaki dari arah lain, ada Alex, Zane, dan juga Papa Owen.


"Sayang," Zane menghembuskan napas panjang dan mengusap rambut Chelsea dengan lembut.


"Chelsea, katakan kepada Mama, apakah Zane menyakiti mu?" tanya Mama Bellamy membuat Chelsea menoleh, begitu juga keluarga Lincoln lainnya.


"Apa maksud, Mama?" tanya Papa Owen tidak mengerti. Chelsea hanya diam dengan menatap Zane yang begitu menatapnya dengan sorot mata sendu.


"Chelsea menangis, apakah kau menyakiti istri mu?!" tanya Mama Bellamy kembali membuat Zane tidak bisa berkutik lagi saat ini.


"Chelsea menangis karena aku memborong banyak susu hamil, Ma." Dalih Zane membuat Chelsea langsung membuang wajahnya.


Papa Owen dan Mama Bellamy saling berpandangan, "Susu hamil? Tu ... tunggu, a ... apakah itu artinya?" Mama Bellamy dan Papa Owen sontak menatap ke arah Chelsea.


"Nak, kau hamil?"


Chelsea akhirnya menoleh dan tersenyum tipis, "Iya, Ma. Usianya 7 minggu dan janin ku kembar," Jawab Chelsea dengan memberikan surat hasil pemeriksaannya, terdapat foto USG yang benar-benar nyata di mata kedua orang tua tersebut.


"Kita akan menjadi Nenek dan Kakek!" pekik Papa Owen dan Mama Bellamy dengan girang. Mama Bellamy bagaikan melupakan permasalahan awalnya karena berita kehamilan Chelsea. Melihat betapa senangnya orang tua Zane, Chelsea hanya tersenyum tipis dan sesekali terkekeh.


"Kau tidak boleh kelelahan, okay! Pokoknya mulai sekarang kau tidak boleh mengerjakan apapun!" ketus Mama Bellamy membuat Chelsea mengerutkan keningnya.


"Tapi kenapa, Ma?" tanyanya dengan polos. Mama Bellamy berkacak pinggang dengan gemas.


"Nak, Ibu hamil tidak boleh kelelahan. Apalagi di bulan awal kehamilan, karena rawan dengan keguguran. Dengarkan Mama okay!" Jelas Mama Bellamy membuat Chelsea melirik kecil ke arah Zane yang mengangguk.


"Papa akan merenovasi kamar di sebelah kamar kalian. Mansion ini akhirnya akan ramai!" balas Papa Owen dengan antusias. Zane menyunggingkan senyum tipis dengan tangan yang mengusap-usap perut rata Chelsea.


Wanita hamil itu begitu senang melihat kebahagiaan keluarga Lincoln yang menyambut kehamilannya dengan antusias. Kini hanya keluarga Lemos saja yang harus Chelsea beritahu tentang kehamilannya. Ayah Robert pasti akan senang mendengar kehamilannya, terlebih lagi janin kembar. Dokter memberitahu tentang kehamilan anak kembar, yang bisa di pengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah gen kembar dari keluarga. Ayah Robert memiliki gen kembar dari keluarga Ayah, maka dari itu Ashton dan Ashley terlahir kembar.


Dan di keluarga Lincoln, Alex dan Alexia yang terlahir kembar tidak identik dan memiliki gen kembar dari Mama Bellamy. Bisa bayangkan bagaimana ramainya nanti mansion Lincoln dan Lemos dengan suara bayi dan anak-anak bermain. Membayangkannya saja sudah membuat Chelsea tersenyum senang dan tak sadar melupakan kekecewaannya kepada Zane.


Aku berjanji akan menjaga kalian sampai akhir napas ini. Tidak ada yang bisa menyentuh dan menyakiti kalian, selama aku masih hidup. batin Zane yang sejak tadi tak melepaskan pandangannya dari sang istri.


...****************...



...Twist mau login ke sini wkwkwk...

__ADS_1


__ADS_2