Wanita Sederhana Pilihan CEO

Wanita Sederhana Pilihan CEO
Perasaan Yang Salah


__ADS_3

DESA MENTARI .....


"Kalian sudah mengurus surat-surat saya?" tanya Ayah Robert kepada seseorang di seberang sana. Setelah sang istri pergi, Ayah Robert terang-terangan langsung menunjuk perubahan yang benar-benar tidak main-main.


Bahkan Ashton dan Ashley juga merasakan perbedaan yang mulai terlihat. Bahkan kemarin terlihat beberapa mobil mewah datang dan seperti orang penting menemui Ayah mereka. Ashton dan Ashley hanya diam dan tidak menganggu sebelum Ayah Robert mengatakan yang sesungguhnya kepada mereka.


"Kau merasakan sesuatu, Ashton?" tanya Ashley. Ya, kedua remaja kembar itu menguping setelah beberapa kali juga memergoki Ayah Robert menelpon secara diam-diam. Entah menelpon dengan siapa, mereka tidak tahu.


"Sepertinya orang penting lagi. Aku penasaran dengan siapa Ayah menelpon. Kau ingin tahu?" tanya Ashton membuat Ashley tanpa pikir panjang langsung mengangguk.


Mereka berdua menatap punggung Ayah Robert dengan penuh rasa penasaran. Setelah panggilan telepon selesai, Ayah Robert terkejut melihat kehadiran kedua putra kembarnya.


"Kalian di sini?" tanya Ayah Robert membuat Ashley langsung memicingkan mata curiga.


"Ayah berbicara dengan orang penting lagi?" tanya Ashton membuat Ayah Robert hanya menghela napas.


Mungkin ini sudah saatnya aku mengatakannya, batin Ayah Robert berkecamuk.


"Kemari lah, ada yang ingin Ayah katakan kepada kalian." kata Ayah Robert membuat Ashton dan Ashley saling berpandangan. Mereka berdua mendekat dan mengikuti Ayah Robert menuju kamar mereka berdua.


"Apakah penting? Maaf kami berdua lancang karena menguping, Ayah."


Ayah Robert hanya tersenyum mendengar ucapan putranya. Ayah Robert begitu menyayangi anak-anaknya, tidak peduli mereka berbeda Ibu, tetapi setidaknya mereka masih memiliki hubungan darah dari dirinya. Ayah Robert begitu menyayangi Chelsea, karena Chelsea adalah buah cintanya dengan wanita yang sangat Ia cintai hingga saat ini, sedangkan Putra kembarnya adalah kesalahan semalam yang memang Ia sengaja, tetapi tidak di pungkiri bahwa Ayah Robert menyayangi Ashton dan Ashley.


Mengelus kepala kedua putranya dan memegang pundak, "Tahun ini usia kalian sudah 18 tahun. Benar?" tanya Ayah Robert membuat kedua anak remaja itu mengangguk.


"Benar, tapi kami tahun ini tidak meminta apapun kepada Ayah."


Alis Ayah Robert mengerut bingung, "Kenapa? Ayah masih memiliki tabungan untuk membelikan hadiah yang kalian inginkan," jawab sang Ayah membuat Ashley hanya menghela napas. Sedangkan Ashton hanya diam dan melirik sang Adik dengan ekor matanya.


"Sebaiknya uang itu di gunakan untuk membuka usaha saja, kami tidak membutuhkan apapun untuk tahun ini. Bukankah begitu Ashton?" Ashley menyenggol lengan Ashton yang hanya diam tanpa bersuara.


"Tidak perlu menyenggol!" ketus remaja itu dengan sinis, "yang di katakan oleh Ashley benar Ayah."


"Lalu kalian ingin apa?" tanya Ayah Robert yang masih kebingungan. Karena setiap tahun, entah di hari ulang tahun Chelsea atau Putra kembarnya, Ayah Robert selalu memberikan hadiah ala kadarnya, mengingat dirinya sedang menyamar sebagai pria sederhana, karena suatu hal. Selain karena satu hal, karena juga sudah bertahun-tahun hidup di desa dan meninggalkan kota metropolitan, Ayah Robert mencoba untuk memberikan sesuai porsi tanpa membongkar identitas aslinya.


"Kami ingin tetap bersama Ayah. Itu saja permintaan kami," kata Ashley dan Ashton langsung mengangguk setuju. Selama 17 tahun, yang menyayangi mereka berdua dengan tulus hanya Chelsea dan Ayah Robert. Sedangkan Ibu Anggun? Wanita itu hanya sibuk dengan dunianya sendiri.


Ayah Robert tersenyum haru dan membawa mereka berdua ke dalam pelukannya. "Dengarkan, Ayah, ini saatnya kalian mengetahui sesuatu yang begitu penting."


"Apa itu?" tanya Ashton dan Ashley bersamaan.


"Lusa kita akan ke kota, di sana kita akan tinggal bersama." ujar Ayah Robert membuat kedua anak kembar itu kebingungan.


"Ayah, hidup di kota sangat besar biayanya. Aku tidak ingin!" tolak Ashley, sedang-kan Ashton hanya menggaruk tengkuknya. Pilihan yang sangat sulit baginya.

__ADS_1


"Kau benar, tapi kalian harus tahu bahwa Ayah harus kembali menjadi Robert Lewandowski Lemos yang sebenarnya. Kakak laki-laki kalian sudah menunggu sangat lama,"


****DEG**** ....


"Kakak laki-laki?!"


"Kalian memiliki Kakak laki-laki, Putra sulung Ayah." ungkap Ayah Robert setelah mempertimbangkan semuanya dengan baik-baik. Ashton dan Ashley semakin tercengang mendengarnya, itu artinya mereka memiliki dua orang Kakak.


"YES!"


...****************...


Di sebuah kamar president suite, terlihat seorang wanita terbaring dengan tubuh yang sudah di kenakan pakaian dan wajah pucat, keringat terus saja membahasi wajah wanita itu tanpa henti.


"Ayah," racau wanita itu. Memanggil nama sang Ayah, membuat beberapa pria yang sejak tadi hanya diam di ruangan yang sama, hanya menghela napas panjang.


"Kau menemukan sesuatu, Cal?"


Ya, mereka adalah Zane, Arthur, Calvin, Daniel, dan Nicholas. Kelima pria yang langsung turun tangan, setelah wanita yang ingin mereka jaga secara bersamaan hampir saja mengalami kejadian di luar nalar. Calvin mengangguk dan memberikan sebuah kapsul yang sudah kosong.


"Aku dan resepsionis tadi menemukan kapsul ini di tempat sampah," kata Calvin. Zane langsung mengambil kapsul tersebut dengan tatapan yang sungguh tajam.


Bila terlambat saja dirinya atau Arthur, maka Ibu Anggun benar-benar bisa menghancurkan dunia Chelsea. "Ternyata aku selama ini kurang bertindak tegas dengan wanita itu,"


"Kau mengenal Ibu Anggun?" tanya Calvin. Arthur sontak menoleh, membuat pria itu langsung menutup mulutnya.


"Kau tidak tahu? Ibu Anggun adalah Ibu tiri dari Adikmu, Chelsea." Sahut Daniel memberitahu. Nicholas hanya menyenderkan tubuhnya dan menyimak pembicaraan keempat pria di sana.


"Wait, wait. Ibu tiri? Jadi Ibu Anggun itu istri kedua dari Ayah ku dan Chelsea?" tanya Arthur dengan melirik Calvin. Pria yang di lirik, hanya mengangguk dan memberikan sebuah ponsel kepada sang atasan.


"Tuan besar akan kembali ke dunia bisnis, kau tidak ingin menyambut Ayahmu?" tanya Calvin membuat degup jantung Arthur langsung tak karuan. Sudah bertahun-tahun lamanya, Arthur menanti saat di mana Ayah Robert kembali setelah menghukum dirinya.


Arthur mengira, Ayah Robert hanya akan menghukum dirinya selama beberapa hari, tetapi ternyata hingga saat ini hukuman itu masih berlanjut. Tercatat sudah 17 tahun lamanya, hukuman yang selama ini membuat Arthur tersiksa hingga harus hidup seorang diri, di dalam mansion megah bersama pelayan dan orang kepercayaan Ayah Robert.


"Ayah akan kembali?" beo Arthur. Calvin hanya tersenyum tipis dan menepuk bahu pria tersebut dengan senang.


"Tapi tidak sendiri, kedua putranya akan ikut dan aku sedang mengurus surat perceraian Tuan Besar dengan istrinya, Anggun."


DEG ....


"Rubah betina dan Tuan Robert akan berpisah?" sahut Daniel dengan heboh. Nicholas mencolek punggung pria tersebut dengan kaki panjangnya.


Daniel seolah-olah enggan untuk memanggil istri dari Ayah Robert, dengan sebutan 'Ibu', karena wanita itu lebih pantas di sebut Rubah betina daripada Nyonya Besar.


"Lusa mereka akan di jemput oleh bodyguard dengan ketat."

__ADS_1


Zane sejak tadi tak bergeming, pria itu menatap kapsul yang sejak tadi di genggaman tangannya. "Menganggu keluarga ku, sama dengan mempertaruhkan nyawa mereka." gumam Zane dengan meremas kapsul tersebut.


"Kau baik-baik saja?" tanya Nicholas dengan pelan. Zane memasukkan kedua tangannya ke saku dan memilih untuk mendekati Chelsea.


"Sayang, bangunlah." Zane sangat khawatir dengan keadaan Chelsea yang belum juga membuka mata sejak tadi.


Obat perangsang yang masuk ke dalam tubuh Chelsea, efeknya sudah menghilang. Zane harus membantu Chelsea untuk terlepas dari obat tersebut, walaupun pria itu tidak ingin. Chelsea kembali meracau setelah keluar dari kamar mandi dan di dalam pelukan Arthur beberapa jam yang lalu. Zane mengelus kening sang istri dan sontak terkejut.


"HUBUNGI DOKTER!!" teriak Zane mengejutkan Arthur dan yang lainnya.


"Zane, ada apa?" tanya Arthur tak kalah khawatir. Zane langsung membawa Chelsea ke pelukannya dan melakukan skin to skin.


"Sayang, bangun. Jangan membuat aku takut," lirih Zane dengan mengeratkan pelukannya. Daniel bergegas menghubungi dokter pribadi Zane dengan cemas.


"Do ... dokter akan segera tiba!" jawab Daniel. Nicholas datang dari dapur dengan membawa baskom air.


"Pakai ini dulu untuk mengurangi panasnya!"


"Ayah ..." Racau Chelsea kembali. Wanita itu sesekali mengerut kening dan bergerak gelisah. Zane dan Arthur semakin khawatir di buatnya.


"Zane,"


"A ... aku di sini, aku si sini, Amora."


DEG ....


Kenapa bukan nama ku yang di panggil? Batin Arthur dengan perasaan pedih.


Pria menatap bagaimana Zane begitu mencintai Chelsea, begitu sebaliknya. Cinta di antara keduanya, bagaimana perisai dan tombak yang menembus ulu hati Arthur. Calvin menepuk pundak Arthur, membuat pria itu terkejut.


"Arthur," bisik Calvin. Arthur hanya menghembuskan napas panjang dan mengangguk. Perasaan yang selama ini Ia pendam, hanya Calvin saja yang menyadarinya, itu secara tidak sengaja.


Perasaan yang seharusnya tidak pernah ada atau muncul, membuat Arthur semakin sulit membedakan antara cinta sebagai seorang pria atau cinta sebagai seorang kakak. Sangat sulit baginya, terlebih lagi bagaimana Chelsea memperlakukan dirinya dengan sangat baik dan penuh kelembutan.


Perasaan ini salah. Kau salah Arthur! Batin Arthur yang menatap nanar setiap adegan Chelsea dan Zane di depan matanya.


Nicholas yang hanya diam di dekat Zane, kini memicingkan matanya melihat sesuatu yang tidak asing di matanya. Melihat bagaimana reaksi dari Arthur, melihat sisi romantis kedua pasangan suami-isteri tersebut, Nicholas hanya menyunggingkan senyum tak biasa dan berjalan santai melewati Arthur, tetapi pria itu hanya mencoba untuk memberikan sesuatu yang tentu saja mengejutkan Arthur.


"Aku tahu rahasia mu selama ini, Arthur." bisik Nicholas membuat Arthur langsung membeku.


DEG ....


"Perasaan yang kau miliki itu sangat salah. Kau adalah seorang Kakak, walaupun kau dan Chelsea tidak ada hubungan darah dari segi manapun, bukan berarti kau berhak mencintai Adik mu sendiri." Mata Nicholas kembali dengan berbisik.


Keringat dingin mulai membasahi pelipis pria itu. Nicholas tersenyum miring dan langsung melenggang pergi untuk menyambut kedatangan dokter pribadi mereka. Calvin menatap kepergian Nicholas dan merasakan hawa yang berbeda, setiap kali bertatap muka dengan pria datar tersebut.

__ADS_1


"Pria yang sungguh aneh," gumamnya.


__ADS_2