Wanita Sederhana Pilihan CEO

Wanita Sederhana Pilihan CEO
Clara Adelin Lemos


__ADS_3

Chelsea mengusap perutnya dengan gelisah, wanita yang sudah di perbolehkan untuk kembali ke rumah itu, menatap layar ponselnya yang memberitakan tentang Ibu Anggun dan juga ada konferensi pers yang di adakan oleh Ayah Robert.


"Amora,"


Chelsea menoleh dan langsung memeluk Zane yang baru saja datang dari kantor. "Ada apa?" tanyanya dengan bingung. Chelsea menggeleng dan enggan untuk melepaskan pelukannya.


"Kenapa lama sekali?"


Zane tersenyum dan membalas pelukan sang istri dan menutup pintu kamar. Hari ini sungguh melelahkan, Zane yang harus mengumumkan pernikahannya kepada pihak media dan rekan kerja, sebenarnya Zane tidak ingin, terlebih lagi berita tersebut sudah terpampang jelas.


"Duduk dulu, pasti kau lelah." kata Zane dengan mendudukkan tubuh Chelsea di tepi ranjang. Zane tersenyum kembali dan mengusap pipi Chelsea dengan sayang.


"Zane, apa berita itu-"


"Semua itu benar." sela Zane yang sudah mengerti dengan arah pembicaraan Chelsea. Wanita hamil itu mulai terdiam sejenak dan berakhir menghela napas.


"Tapi aku merasa, kalau Ibu tidak akan melakukan itu. Mungkin saja Ibu hanya di jadikan kambing hitam," ungkap Chelsea membuat Zane mengangguk setuju. Pria itu juga ikut merasakan hal yang sama.


Terlebih lagi tidak ada bukti-bukti yang cukup memberatkan Ibu Anggun terkait kecelakaan, hanya ada rekaman CCTV yang mengarah kepadanya tetapi yang melakukan sabotase bukanlah dirinya. Semuanya seperti sudah di rencana dengan mantap dan terampil, bahkan oknum polisi ikut campur.


"Kau tidak untuk menceritakan semuanya kepada ku?"


Zane menaikkan alisnya, "berita itu sudah ada di media televisi, Sayang." jawabnya bingung. Chelsea memutar matanya jengah dan memukul pelan lengan pria tersebut.


"Aku sudah melihatnya, hanya saja aku ingin mendengar nya langsung. Kau keberatan? Apa kau ingin aku masuk rumah sakit, karena kepikiran tentang hal itu?!" tuding Chelsea dengan menatap Zane kesal. Bahkan wanita itu sudah mengusap perut buncitnya dengan menggerutu kecil, Zane menghela napas panjang dan menahan lengan sang istri yang hendak pergi.


"Duduk, aku akan menceritakan semuanya. Kau sudah makan malam? obat? dan susu hamil?" tanya Zane dengan pertanyaan beruntun.


"Belum semua, aku menunggu mu. Aku takut kalau susu hamil ku di campur dengan racun tikus," jawab Chelsea dengan kesal. Zane menggaruk tengkuknya dan membenarkan ucapannya, padahal dirinya sendiri yang memberikan wejangan kepada sang istri untuk menunggunya pulang.


"Tunggu dulu, aku akan membuatkan sesuatu." Zane melepaskan jas dan melipat lengan kemeja, pria itu bergegas keluar menuju dapur. Chelsea langsung menyusul, mana mungkin Ia mau di tinggal sendiri, seharian penuh Zane di kantor dan sibuk dengan pekerjaannya.


Wanita itu berjalan santai, berniat untuk menyusul Zane yang sudah menuruni anak tangga. Tetapi saat hendak berbelok, lengan wanita hamil itu lebih dulu di tahan oleh seseorang, membuatnya mau tidak mau harus menoleh dan mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Sonia? Ada apa?" tanya Chelsea. Wanita itu melepaskan tangan Sonia dari lengannya dan melirik Zane yang sudah menghilang dari pandangannya.


"Aku ingin bicara, jangan di sini, nanti kau terjatuh!" ketus Sonia yang langsung pergi meninggalkan Chelsea yang terbengong-bengong. Tatapan curiga mulai terlihat dari Chelsea, wanita itu memilih untuk mengikuti Sonia yang berada di sofa di dekat ruang perpustakaan, jauh dari tangga.


"Duduk,"


Chelsea menggeleng menolak, "Apa yang ingin kau katakan? Apakah perihal kejadian beberapa hari lalu? Atau berita serta konferensi pers dari keluarga Lemos?" tebak Chelsea dengan melipat kedua tangannya. Sonia tersenyum tipis dan menyesap segelas jus miliknya.


"Mungkin keduanya, atau salah satunya." jawab Sonia dengan memainkan gelas jusnya. "Oh ya, bagaimana dengan kandungan mu? Baik-baik saja atau ...."


"Mereka sangat baik, bahkan sangat baik bila kau tidak bertele-tele yang membuat mereka tidak berselera memandang mu!" sinis Chelsea yang langsung membuat Sonia tersedak minumannya sendiri. Chelsea mulai tidak mood karena ulah Sonia dan memilih untuk pergi.


"Hey-"


"APA?!" Sahut Chelsea dengan galak membuat Sonia menelan ludahnya sendiri. Chelsea mengibaskan rambut panjangnya dan meninggalkan Sonia yang termenung.


"Dasar bocah, padahal aku ingin mengatakan perihal kejadian di ballroom hotel!"


...****************...


PRANG ....


"KENAPA MEREKA MASIH HIDUP?! KENAPA TIDAK MATI SAJA!!"


PRANG .....


Seluruh barang-barang yang ada di dekat wanita tersebut sudah hancur karena di lempar ke sembarangan arah. Hotel berbintang yang selama ini menjadi tempatnya tinggal, di kala sedang lelah dengan dunia. Wanita dengan rambut sebahu berwarna orange cerah itu, tampak mengusap wajahnya dengan kasar dan mengacak rambutnya dengan frustasi.


"Aku harus melakukan sesuatu! Aku harus membuat mereka semua meninggalkan dunia ini!"


Wanita tersebut langsung berjalan kesana-kemari dengan gelisah. Wanita yang tak lain adalah Clara, saudara angkat dari Robert itu sudah melihat konferensi pers yang di adakan oleh pria yang sangat Ia cintai. Pria yang sudah sangat Ia incar untuk di nikahi, ternyata malah tidak menolehnya sedikitpun. Hati wanita mana yang tidak hancur, saat menyaksikan pernikahan penuh haru dari keluarga Lemos lainnya, bahkan Ayah angkatnya pun tidak membantunya untuk mendapatkan Robert.


Mereka berdua adalah saudara angkat, Clara yang di adopsi dari rumah sakit dan hingga saat ini belum mengetahui tentang identitas aslinya, sedangkan Robert adalah keluarga kandung dari keluarga yang telah mengadopsi dirinya.

__ADS_1


"Kalian semua manusia *****, kalian semua mengkhianati ku! Aku mengira kalau Ayah dan Ibu begitu menyayangi ku, ternyata aku hanya di jadikan boneka oleh anak bungsu Ayahnya selama ini!" gumam Clara penuh dengan rasa dendam. 20 tahun menjadi bayang-bayang dari Rosela, membuatnya sangat tertekan dan seperti tidak di perhatikan.


Clara menatap televisi yang masih bersuara, menampilkan acara pesta pernikahan dari Zane dan juga Chelsea. Tatapan Clara sangat tajam saat melihat Chelsea yang sangat mirip dengan wanita yang begitu sangat Ia benci, Kimberly. "Dia masih hidup! Bahkan sekarang menjadi menantu dari keluarga tersohor! SIAL!"


BRAK .....


Kursi kayu di depannya sudah terjungkal, napas wanita itu tersengal-sengal dan terkekeh sejenak, "Kalian harus merasakan apa yang aku rasakan selama ini. Aku tidak akan menyerah sebelum aku mendapatkan mu, Robert! Tidak akan pernah!" ucapnya penuh dengan tekad. Wanita itu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang, tetapi alis wanita langsung berubah menjadi mengerut bingung, di saat siaran televisi sudah menampilkan acara lain.


ISTRI KEDUA DARI ROBERT LEWANDOWSKI LEMOS, MENDEKAM *****


BERITA TERBARU. ISTRI SIRI DARI ROBERT LEWANDOWSKI LEMOS HARUS MENDEKAM DI PENJARA ******


DUGAAN ATAS PEMBUNUHAN BERENCANA, ANGGUN CHANDRAGUNA HARUS MENDEKAM *****


KASUS PEMBUNUHAN BERENCANA KELUARGA LEMOS, DI BUKA KEMBALI *****


"WHAT!" pekik Clara terkejut dengan berita-berita yang muncul. Clara bahkan tidak menyadari bahwa sambungan teleponnya tidak tersambung sama sekali.


"Anggun di penjara? Kasus pembunuhan itu juga di buka kembali?!" Mata wanita itu benar-benar ingin lepas dari tempatnya karena terkejut. Kasus pembunuhan berencana yang membuat Kimberly harus meregang nyawa, bahkan muncul berita bahwa Robert dan Chelsea juga turut meninggal dunia karena kasus kecelakaan tersebut, tetapi semuanya ternyata hanya tipu muslihat Robert.


Clara sangat mengenal tentang Robert, pria yang bila sekali sudah mencintai seorang wanita, maka akan mencintainya hingga akhir haya, Robert juga memiliki kepribadian yang hangat, penyayang, dan juga perhatian. Itu lah yang membuat Clara jatuh cinta.


Tapi ada hal yang tidak Clara ketahui hingga sekarang, bahwa Robert bisa saja menjadi monster bila sekali di usik. Clara sudah tergila-gila dengan Robert, bahkan rela melakukan apapun sejak dulu, tidak peduli bagaimana reaksi orang-orang tentang dirinya, Clara hanya ingin Robert menjadi miliknya sepenuhnya, bila Robert tidak bisa menjadi miliknya itu artinya orang lain tidak boleh juga memilikinya, termasuk Chelsea sekalipun.


Clara menaruh ponsel dan bergerak gelisah kembali, "Bila seperti ini ceritanya, aku harus bagaimana? Pasti Robert tidak akan tinggal diam, terlebih lagi aku sudah menyuap oknum polisi dan menyeret Anggun dalam rencana ini," gumam wanita tersebut dengan cemas.


"Aku tidak ingin masuk penjara, biarkan saja Anggun yang mendekam! A ... aku tidak bersalah, mana mungkin aku di tahan!" katanya penuh yakin, tak lama Clara tertawa kecil dan menguncir rambutnya dengan asal.


"Anggun pantas mendekam! Siapa suruh, wanita gila itu merebut dengan Robert dari ku! A ... aku tidak bersalah, tidak ada saksi mata atau bukti lainnya yang melihatnya, a ... aku pasti akan aman!" tambahnya dengan tersebut miring ke arah cermin di dekatnya. Clara mengambil sebuah botol kecil dan menelannya beberapa butir, setelah itu mengambil botol lainnya.


Tak lama dari menelan obat-obatan tersebut, kesadaran Clara mulai terganggu, mulai meracau tidak jelas dan sesekali tertawa. Obat tersebut adalah obat penenang, dan efek samping sedang Clara rasakan sekarang, bukan hanya obat penenang yang Ia telan, tetapi narkotika yang Ia simpan dalam bentuk kapsul obat dan menaruhnya di botol obat, untuk Ia konsumsi sewaktu-waktu.


Clara adalah pecandu narkotika sejak Robert menikah dengan Kimberly. Tingkah wanita itu semakin menjadi-jadi seiring berjalannya waktu, bahkan melupakan siapa dirinya, tidak ada ucapan terima kasih yang keluarga Lemos terima darinya, bahkan semua fasilitasnya juga ikut di tarik dan semua ATMnya di bekukan oleh keluarga Lemos, yang Ia miliki saat ini adalah ATM pribadi, mobil, dan rumah yang Ia beli menggunakan dengan uangnya sendiri. Setidaknya dirinya memiliki tempat dan sarana transportasi untuk kemana-mana.

__ADS_1


Kesadaran Clara mulai terganggu, bahkan wanita itu sudah tertidur di lantai dan berguling-guling seperti orang kesakitan, tetapi mental psikis wanita sudah terganggu sejak lama.


"Robert, aku ingin kamu! Aku mencintai mu, kita harus menikah!"


__ADS_2