Wanita Sederhana Pilihan CEO

Wanita Sederhana Pilihan CEO
Tidak baik-baik saja (2)


__ADS_3

Chelsea meringis kesakitan membuat rasa iba kembali datang pada hati Bayu. Ya, pria itu di minta untuk menjaga Chelsea agar tidak kabur, bersama Tasya. Sedangkan Anggun dan Clara entah pergi ke mana.


"Sakit sekali," rintihnya pada bagian perut. Efek karena ulah Tasya ternyata tidak main-main pada perutnya. Walaupun hanya menekan pelan, tetapi hal itu membuat Chelsea semakin kesakitan.


"Ka ... kau baik-baik saja?" tanya Bayu terbata-bata. Dirinya merasa bimbang karena berada di dua pilihan saat ini, menyelamatkan Chelsea atau Adiknya. Bila Bayu menyelamatkan Chelsea, itu artinya dirinya harus merelakan sang Adik, tapi apabila dirinya menyelamatkan sang Adik, maka banyak pihak yang akan merasa kehilangan Chelsea.


"Sial! Kenapa aku menjadi bimbang seperti ini!" Bayu kesal sendiri. Pria itu mengacak rambutnya dengan kesal sebagai tanda frustasi.


"Tolong, lepaskan aku, Tuan." lirih Chelsea menatap Bayu memohon. Bayu mengalihkan tatapannya mencoba untuk tidak bertatapan dengan wanita hamil itu.


"Tidak," jawabnya pelan, tetapi terdengar jelas di pendengaran Chelsea. Wanita itu tertunduk seraya menahan sakit. Chelsea tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kepada dirinya, hanya kesalahan di masa lalu dari keluarga Lemos, yang berdampak besar pada kehidupan Chelsea saat ini.


"Kalian bisa membunuh ku, tapi jangan kepada bayi kembar ku, Tuan."


DEG ....


"Suami dan keluarga ku sudah menantikan bayi ini, Tuan. Bi ... bila kau menyelamatkan bayi ku, maka aku akan berhutang besar kepada mu begitu juga keluarga ku." imbuh Chelsea yang rasanya ingin mengatupkan tangannya, memohon.


Bayu hanya memasang telinga untuk setiap perkataan yang keluar dari mulut wanita hamil itu. Bayu harus mempertimbangkan semuanya dengan baik-baik, agar tidak ada yang akan dirugikan. Perbuatannya kali ini bukanlah kehendak dirinya, bila bukan karena uang untuk menyembuhkan sang Adik, mungkin Bayu tidak sudi untuk berurusan dengan ketiga wanita gila.


"Bila aku menyelamatkan mu, itu artinya aku harus menyaksikan Adikku tiada, Nona Chelsea." jawab Bayu dengan pelan. Bayu tidak ingin ada yang mendengar perkataannya.


"Adik?" beo Chelsea tidak mengerti.


Bayu langsung mengatupkan bibirnya dan memilih untuk keluar dari rumah usang itu. Chelsea terdiam, dress yang Ia kenakan sudah tak serapi dahulu, basah karena keringat dan kotor karena debu. Chelsea mulai cemas berlebihan sejak tadi, rasa takutnya membuncah bila Zane tidak berhasil menyelamatkannya.


"Zane, a ... aku takut."


Di lain sisi, Bayu menyesap nikotin dan menatap sekitaran rumah usang. Tatapannya sungguh tajam dan tak lama, telinganya mendengar sesuatu yang seperti melintas di udara. "Helikopter?" gumamnya bingung.


Posisi mereka ada di tengah hutan, dan sangat mustahil bila ada helikopter lewat tanpa sebab. Hingga Bayu menyadari sesuatu, "Chelsea."


Bayu membuang nikotin, bergegas masuk dan benar saja, Chelsea masih terduduk dengan tubuh keringat. Kondisinya lemah dan cukup membuat Bayu prihatin, tetapi apa boleh ia perbuat? Semua pergerakannya di awasi oleh Clara, tetapi untuk saat ini tidak.


"Ini waktu yang tepat,"


Bayu mendekati Chelsea dan langsung melepaskan semua ikatan di tubuh Chelsea. Wanita hamil itu tersentak terkejut, "A ... apa-"


"Tolong jangan banyak bertanya dulu, Nona. A ... aku berusaha untuk menyelamatkan mu dan juga Adikku," tutur Bayu membuat Chelsea langsung bungkam diam. "Ada helikopter yang melintas, sepertinya itu adalah milik suami mu, Nona."


Chelsea merasa terharu dan mengangguk, "Zane pasti akan menyelamatkan kita." kata Chelsea dengan mengelus perut buncitnya. Setelah melepaskan semua ikatan di tubuh wanita hamil itu, Bayu membantu memapah tubuhnya hingga keluar dari rumah usang tersebut.


"Aku akan mengurus Tasya dan sisanya. Dan ...," Bayu memberikan sesuatu kepada Chelsea. "Bila aku tidak selamat, tolong selamatkan Adikku. Namanya adalah Hana, dia di sekap oleh Clara dan dia sedang sakit keras. Tolong sampaikan surat dan berikan liontin ini kepadanya,"


Tubuh Chelsea menjadi kaku saat Bayu menyodorkan sebuah lipatan kertas berisi liontin bunga mawar kepadanya, "Kau harus selamat, Tuan. Aku sangat yakin bila kau adalah pria yang sangat menyayangi Adik mu dan kau adalah pria yang baik, aku akan menunggu mu, bila aku bertemu dengan suami ku." jawab Chelsea dengan lirih. Air matanya kembali lolos karena perkataan Bayu yang begitu menyentuh hatinya.

__ADS_1


Bayu hanya mengulas senyuman tipis, "Semoga, Nona. Bawa senjata ini untuk berjaga-jaga!"


Chelsea menerima pistol dari Bayu dengan senang hati langsung pergi setelah itu. Bagaimanapun caranya, Chelsea harus berhasil menemui Zane dan meminta bantuan untuk menyelamatkan Bayu dan juga Adiknya.


...****************...


Dengan langkah tertatih-tatih tanpa menggunakan alas kaki, Chelsea terus menyusuri hutan belantara yang cukup luas dan membuatnya sedikit pusing. Tetapi Chelsea harus keluar dari hutan belantara untuk meminta bantuan. Tangannya meremat kuat liontin, surat, dan juga pistol yang di berikan oleh Bayu kepadanya.


"Astaga," tubuh Chelsea merosot di dekat pohon yang menjulang tinggi, wanita itu menutup mulutnya untuk menahan diri agar tidak mengeluarkan suara.


Nak, bertahanlah sebentar. Kalian harus selamat dan harus kuat. Batin Chelsea dengan mengelus perutnya. Seketika pergerakan dalam perutnya mulai menghilang.


Chelsea mencoba untuk bangun dan kembali berjalan walaupun tak secepat sebelumnya. Samar-samar, Chelsea mendengar suara langkah kaki dari kejauhan. Wanita itu mulai ketakutan bila Anggun, Clara, ataupun Tasya mencium keberadaan dirinya. Chelsea langsung mempercepat langkahnya walaupun mustahil untuknya.


DOR ....


"Akhh!" pekik Chelsea terkejut kala mendengar suara tembakan. Wanita itu menoleh dan langsung menelan ludahnya sendiri.


"Oh, ternyata kau di sini, Chelsea."


Anggun, wanita itu seorang diri tanpa ada Clara ataupun Tasya di belakangnya. Wanita paruh baya itu memainkan senjata api di tangannya dengan senyuman remeh. "Kau tidak bisa lari jauh karena kondisimu itu, Chelsea." katanya kembali.


"Jangan mendekat! A ... atau aku akan menembak mu" ancam Chelsea dengan menodongkan pistol ke arah Anggun. Wanita itu terkejut dan tertawa kecil.


"Aku sangat takut," Anggun memeluk tubuhnya. "Tapi aku yang akan membunuh mu terlebih dahulu,"


"Sudah aku katakan, jangan mendekat atau aku akan membunuh mu!"


Chelsea kembali melayangkan pukulan kepada Anggun secara bertubi-tubi, hingga Anggun terjatuh ke tanah. "Kau telah membunuh Ibuku dan kau ingin membunuh ku? Enyah kau!"


"AKHHH! WANITA SIALAN!" teriak Anggun yang kesakitan karena ulah Chelsea.


Setelah puas membuat Anggun berdarah-darah dan tak berdaya, Chelsea bergegas untuk pergi menjauh dari sana. Chelsea bisa mendekat suara deru mesin mobil dan juga helikopter, dia tersenyum seraya menangis. "Zane, aku tahu kau pasti akan menyelamatkan ku."


DOR ....


BRUK ....


Chelsea terjatuh dan berhasil melindungi perutnya, wanita itu meringis karena mendapatkan gesekan peluru di lengan kanan atas.


"Mau ke mana kau, wanita bodoh?!"


Chelsea mengira bahwa Anggun akan meregang nyawa karena pukulannya, tetapi dirinya salah. Anggun berdiri dengan wajah berdarah-darah dan tersenyum remeh kepadanya, "Aku tidak akan mati semudah yang kau bayangkan. KAU HARUS MATI!"


"AKH!"

__ADS_1


Chelsea mulai kesulitan bernapas karena Anggun mencekik lehernya dengan cukup kuat. Bahwa Anggun melukai kepala Chelsea dengan ujung pistol miliknya dan berteriak senang seperti wanita gila.


"Kau harus mati, mati seperti Ibumu itu!"


Chelsea berharap bahwa Zane atau siapapun menolong dirinya sekarang. Bila dirinya tidak selamat, setidaknya kedua janinnya harus terselamatkan. Di saat Anggun terus berteriak senang, karena wajah Chelsea yang semakin pucat dan kesulitan bernapas. Di saat itu juga, Chelsea melihat Bayu yang langsung membuat Anggun tumbang.


Chelsea langsung mengambil napas sebanyak-banyaknya dan mengatur degup jantungnya, "Tu ... Tuan?"


Melihat Bayu berdarah-darah, Chelsea tidak berpikir jernih, terlebih lagi melihat Anggun meregang nyawa di tangan Bayu dalam sekejap mata. "Aku membunuh Ibu mu, maafkan aku, Nona." ucapnya dengan wajah datar.


Chelsea merasa lehernya begitu kebas dan sakit karena cekikan yang kuat, "Za ... ne,"


"Aku akan membantu mu untuk menemui suamimu," ucapnya dengan kembali membantu Chelsea untuk berdiri.


"Ka ... kau baik-baik sa ... saja?"


"Untuk sekarang cukup baik, Nona." jawab Bayu seadanya. Hingga mereka akhirnya berhasil keluar dari hutan belantara, pelupuk mata Chelsea tiba-tiba berembun karena melihat Zane secara jelas di matanya.


Di lain sisi, Zane begitu frustasi karena Dragon yang selalu menahan dirinya untuk masuk ke hutan belantara.


"Dragon, istriku-"


"Posisi Chelsea bergerak mendekati-"


"ZANE!"


DEG ....


Zane dan Dragon sontak menoleh ke arah lain, degup jantung Zane berdetak cepat saat melihat Chelsea tepat di depan matanya. Pria itu tak bisa membendung rasa khawatirnya saat melihat kondisi Chelsea yang begitu memprihatinkan.


Chelsea berjalan tertatih-tatih mendekati sang suami, Bayu hanya diam di tempat dan menatap nanar pertemuan antara suami dan istri tersebut. Dragon tak percaya dengan apa yang terjadi, ternyata dugaannya tidak salah bahwa Chelsea akan berhasil keluar dari hutan belantara bersama seorang pria asing.


"Siapa dia?" gumam Dragon dengan menyipitkan matanya ke arah Bayu.


"AMORA!"


DOR ....


DEG ....


Dragon dan Zane terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Langkah kaki Chelsea seketika berhenti dan menatap Zane dengan nanar, raut wajah wanita itu tampak senang, senyuman di wajah Zane seketika menjadi lenyap saat melihat sesuatu menetes berwarna merah.


"Za ... ne,"


"AMORA!"

__ADS_1


BRUK ....


__ADS_2