Wanita Sederhana Pilihan CEO

Wanita Sederhana Pilihan CEO
Membuat Adonan Donat


__ADS_3

Chelsea sedang berada di taman di mall yang sama, wanita itu terlihat kesal bukan main saat tak sengaja melihat adegan terjatuh Sonia dan Zane di depan matanya. Matanya sudah basah dengan air mata, dan sudah terlihat memerah juga. Niat hati Chelsea adalah untuk membawakan ponsel Zane yang tertinggal dan terus-menerus ada log panggilan dan pesan masuk dari Daniel dan Nicholas secara bergantian.


"Kenapa Sonia harus ada di sini. Membuat mood ku jelek saja!" gerutu Chelsea dengan memukul udara. Wanita cantik itu seakan-akan tidak terima, suaminya berduaan dengan wanita lain selain dirinya.


Entah sengaja atau tidak sengaja Sonia, Chelsea tidak peduli, katakan Chelsea benar-benar kesal karena Zane tidak mengejarnya. Chelsea tidak tahu saja, Zane sudah kalang kabut mencari dirinya di setiap penjuru mall. Taman yang cukup luas yang berada di belakang basement mall, tanaman bunga yang membuat tangisan kecil itu mulai mereda dan hanya menundukkan kepalanya.


"Hai," sapa seorang pria membuat Chelsea yang sibuk dengan pikirannya, langsung menadah terkejut. Seorang pria jangkung berwajah tampan, Chelsea mengerutkan keningnya melihat pria yang cukup tidak asing di matanya.


"Boleh aku duduk di sini?" tanyanya membuat Chelsea melirik kursi taman yang kosong. Wanita itu menghela napas dan mengangguk, menggeser posis duduknya dan membiarkan pria asing tersebut duduk.


"Aku melihat mu berlari keluar dari mall, apakah kau baik-baik saja?" tanyanya dengan raut wajah yang tidak bisa di artikan.


"Sedikit, Tuan." jawab Chelsea dengan nada yang tidak bersahabat. Pria itu hanya mengulas senyum tipis dan memberikan saputangan miliknya kepada Chelsea.


"Hapus air mata mu. Suami mu pasti menunggu mu di dalam sana,"


"Aku ingin di sini sebentar. Apakah kau mengenal ku? Dan kenapa kau tiba-tiba ....?" Chelsea tampak menggantung ucapannya dan menelisik pria di sampingnya dengan curiga.


Tanpa sungkan, pria asing tersebut langsung mengulurkan tangannya, "Sebaiknya kita berkenalan. Apakah kau keberatan?"


Chelsea hanya menatap uluran tangan tersebut tanpa berminat sedikitpun. Walaupun dirinya kecewa sekaligus kesal dengan Zane, bukan berarti dirinya akan mudah untuk berkenalan dengan pria asing. Pria tersebut tersenyum getir dan menarik uluran tangannya kembali.


"Baiklah, nama ku adalah Arthur Graziano Lemos. Kau bisa memanggil ku-"


"Wait, nama belakang mu adalah Lemos?" tanya Chelsea dengan wajah tercengang. Pria bernama Arthur tersebut hanya tersenyum.


"Benar, apakah ada yang salah?"


Chelsea bergeming sejenak, "Itu artinya, kau ... kau adalah Putra angkat dari Robert Lewandowski Lemos?!" tanya Chelsea membuat Arthur terkejut bukan main. Pria itu sontak berdiri dan menatap Chelsea dengan waspada.


"Kenapa kau bisa mengenal Ayah angkat ku?! Katakan!" desaknya membuat Chelsea semakin di buat kesal. Chelsea mengira bertemu dengan Arthur membuat moodnya membaik, tetapi semakin di buat memburuk saja.


"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu! Kenapa kau bisa membuat berita karangan belaka tentang kematian ku dan Ayah ku?!"


DEG ....


Berita kematian dia dan Ayahnya? Batin Arthur yang semakin di buat kalut setengah mati.


"Si ... siapa yang kau-"


"Aku ...," Chelsea menunjuk dirinya. "Chelsea Amora Lemos, putri dari Robert Lewandowski Lemos dan Kimberly Ryder!" jelas Chelsea membuat kedua lutut Arthur seakan-akan di timpa sesuatu. Pria itu semakin terkejut mengetahui bahwa wanita di hadapannya adalah Putri dari Ayah Angkatnya, itu artinya adalah Adik nya juga.


"A ... aku ...."


Alis Chelsea terangkat tinggi-tinggi seperti meminta jawaban yang menuntut. "Katakan-"

__ADS_1


"AMORA!"


Chelsea menoleh ke arah lain, terlihat Zane yang menatapnya dengan aneh, tetapi Chelsea tidak menghiraukannya dan memilih menatap Arthur yang sudah berkeringat dingin, "Jadi kau Arthur? Kakak angkat ku sekaligus Putra angkat Ayah ku?" tanya Chelsea memastikan membuat lidah pria itu kelu untuk menjawab.


Sedangkan Zane, pria itu mengepalkan kedua tangannya, pria itu tidak terima bila Chelsea berduaan di taman dengan seorang pria asing. Zane bergegas mendekati Chelsea dengan rasa cemburu yang membara. Di belakang sana, sudah ada beberapa bodyguard termasuk ada juga Daniel dan Nicholas.


"Tuan!" panggil Daniel, tetapi Zane seakan-akan tidak mendengar.


SREK ....


"Zane! Apa yang kau lakukan, lepaskan!" kata Chelsea yang terkejut saya Zane menarik lengannya cukup kasar.


"Aku tidak akan melepaskan mu! Kenapa kau berduaan bersama pria asing?!"


"Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau bisa begitu mesra jatuh berpelukan dengan Sonia?!" tanya Chelsea yang menatap Zane dengan kecewa. Zane mengusap wajahnya dengan gusar.


"Ayo kembali ke hotel!"


...****************...


Chelsea menatap Zane takut-takut, wanita itu melipat kedua tangannya dan membalik menatap Zane.


"Siapa pria itu?" tanya Zane pada akhirnya, rasa cemburunya sudah sampai di ubun-ubun kepala.


"Bukan siapa-siapa!" jawab Chelsea ketus. Wanita itu masih enggan untuk menjawab pertanyaan sang suami yang selalu sama.


"Apakah kau tidak mengerti? Aku cemburu, Amora! I'm jealous to see you close to another man!" Sambung Zane membuat Chelsea mendengus kesal.


"I didn't do anything with that guy, Zane!" jawab Chelsea membuat Zane menatap manik mata sang istri dengan serius. Pria itu melangkah mendekat, membuat Chelsea spontan juga melangkahkan mundur.


"Oh ya? Kenapa tatapan mu sungguh-"


"Kau ingin mengatakan, bahwa aku akan berpelukan dengan pria tampan seperti dirimu, yang berpelukkan dengan Sonia? Kalian sangat mesra," cetus Chelsea membuat Zane langsung terdiam. Melihat Zane diam, membuat Chelsea hanya bisa menghela napas. Dirinya juga cemburu karena melihat adegan yang tidak seharusnya Ia lihat.


"Aku tidak melakukan apapun dengan Sonia? Ada orang yang menabrak Sonia, dan tidak sengaja juga-"


"Aku juga tidak sengaja bertemu dengan Kakak angkat ku," sela Chelsea dengan tatapan yang sudah menunduk. Zane mengerut keningnya tidak mengerti.


"Who's that?"


"Pria tadi, Arthur Graziano Lemos." Chelsea mengusap ujung matanya, "kakak angkat ku. Putra angkat dari Ayah ku, Zane."


DEG ....


Chelsea sudah bertemu dengan Arthur? Batin Zane yang berkecamuk.

__ADS_1


Zane mendekat dan memeluk tubuh Chelsea yang bergetar karena menahan tangis, "Jangan menangis. A ... aku minta maaf," ujarnya dengan penuh rasa sesal. Pria itu mengelus rambut sang istri dan menghirup harum nya rambut hitam legam tersebut.


Chelsea membalas pelukan Zane dan juga turut menghirup harum maskulin dari tubuh sang suami. Chelsea menyukai semua tentang Zane, terutama harum wangi dari tubuh pria tersebut, cukup membuatnya tenang.


"Don't cry anymore, honey." bisik Zane membuat Chelsea langsung mengangguk di dalam pelukan sang suami.


"Aku bertemu dengan Arthur, Zane. Aku bertemu dengan kakakku," lirihnya membuat Zane seketika bungkam. Ada sebuah perasaan tidak rela, bila Chelsea bertemu dengan kakak angkatnya yang selama ini ternyata menjadi rivalnya di dunia bisnis.


Arthur meneruskan perusahaan A.M Company atas perintah dari ayah angkatnya, yaitu Robert. Sebagai bentuk terima kasih, akhirnya Arthur menjalankan perusahaan raksasa itu dengan bijaksana, tstapi di samping itu juga Arthur memiliki bisnis yang cukup sukses, dan tentu saja manjadi rival dari Zane.


Melihat diamnya sang suami, Chelsea menadah bingung. "Zane? You okay, hubby?" tanya Chelsea khawatir. Zane hanya tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya, sangat posesif.


"Jangan menyebut pria lain di hadapan suami mu ini, Amora." kata Zane membuat rasa kesal Chelsea berganti menjadi salah tingkah. Wanita itu memukul pelan dada sang suami.


"Arthur itu kakak ku! Kau tahu, aku ingat sekali saat Arthur sangat posesif kepada-MFHTTT!"


Zane langsung membungkam mulut Chelsea dengan rakus. Pria itu sangat tidak menyukai ada pria yang yang menjadi partner rivalnya, ternyata adalah kakak iparnya. Usia Zane dan Arthur hanya terpaut 2 tahun, sangat impossible sekali, di usianya yang sudah masuk kepala tiga, menjadi adik ipar dari pria yang masih melajang.


Chelsea yang awalnya memberontak, kini mulai memejamkan matanya dan menikmati setiap sentuhan yang di berikan oleh sang suami, pada tubuhnya. Zane tanpa izin, langsung mengangkat tubuh Chelsea yang bagaikan gitar spanyol itu dan membawanya ke ranjang tidur. Deru napas keduanya begitu beradu di sana, mulut mereka berdua masih menyatu dan terus-menerus Zane menekan tengkuk sang istri.


"Sayang," panggil Zane dengan napas berat. Dapat di lihat hawa penuh nafsu ada di antara mereka berdua. "Ayo membuat adonan donat," sambungnya dengan tangan merayap masuk dan mengelus perut rata Chelsea.


"Tidak! Aku sedang marah kepada mu!" Jawab Chelsea membuat aksi nakal Zane langsung terhenti. Chelsea bahkan menepis tangan Zane yang ternyata sudah menaikkan dress-nya, tanpa Ia sadari.


"Sayang, sudah aku katakan kepada mu, ada yang menabrak Sonia, lalu-"


"Kau membela wanita itu daripada aku?!"


GLEK ....


"Bu ... bukan, Sayang! A ... aku tidak membela Sonia, aku hanya-"


"Apa?!"


Zane menghela napas dan menelisik wajah Chelsea dengan nafsu yang sudah ada di ujung kepala. Chelsea sebenarnya sangat ingin melakukannya, hanya saja gengsinya kembali datang. Zane mengulas senyuman dan hal itu membuat Chelsea bergidik ngeri.


"Aku tahu kau sangat merindukan pusaka ku," tutur Zane dengan menuntut tangan wanita itu pada pusaka nya yang sudah menegang.


Chelsea menelan ludah sendiri, "Aku ...."


"Ayo membuat adonan donat, honey."


...****************...


Maaf lama update, ini bab tampungan ya😭

__ADS_1


Baru masuk rumah sakit karena sakit. Jangan bosan-bosan baca cerita "Wanita Sederhana Pilihan CEO" dan nantikan update selanjutnya ya. See you guys.


__ADS_2