
"Ayah dengar-dengar, Reno sudah di PHK dari kantor mu, apakah benar?" tanya Ayah Robert kepada Zane. Kedua pria berbeda generasi itu tampak anteng ayem duduk di bawah pohon mangga, yang berada di halaman depan mansion keluarga Lemos.
Zane yang masih mengatur napasnya pun menoleh, "Iya. Lagipula aku tidak sudi untuk melihat bocah ingusan itu lagi." jawabnya dengan kesal. Ayah Robert terkekeh geli mendengar penuturan sang menantu.
"Angkat keranjang itu, Chelsea pasti sudah menunggu kita." Ayah Robert langsung pergi begitu saja, Zane melongo dan melirik ke arah keranjang yang cukup penuh dengan buah-buahan hasil panen di kebun depan.
"Kenapa tidak Ayah saja?"
Ayah Robert menoleh kesal, "Anak muda itu harusnya menjadikan orang tua seperti Ayah ini sebagai seorang Raja! Dasar, bisa remuk pinggang ku," gerutu Ayah Robert di akhir kalimat. Pria paruh baya itu bahkan memegangi pinggangnya dengan jalan cukup tertatih, Zane di buat mendengus kesal lantaran sang Ayah mertua yang begitu ketara dalam berbohong.
Zane memilih untuk menyandarkan tubuhnya, mengurungkan niat untuk menyusul sang Ayah mertua. Zane teringat dengan ngidam yang di rasakan oleh Chelsea, ingin sesuatu yang manis-manis tapi tidak manis-manis sekali, permintaan sederhana itu benar-benar membuat Zane sakit kepala selama beberapa hari, bahkan Chelsea terus mendesak dirinya untuk mencari sesuatu tersebut yang Ia inginkan.
Alhasil, Ayah Robert datang dan mengatakan kalau Chelsea begitu menyukai satu buah dari buah lainnya. Buah manis tapi tidak manis-manis sekali, sesuai keinginan wanita hamil itu.
"Wanita hamil ini membuat ku semakin tergila-gila saja," gumam Zane dengan lengkungan senyum di sudut bibirnya.
Drttt ....
Zane merogoh kantong dan menatap layar ponselnya. Nicholas. Pria yang selama beberapa ini sungguh sibuk mengurus satu hal, yang sampai saat ini masih enggan untuk mengatakannya.
"Zane bisakah kau datang ke kantor!"
"Bukankah hari ini jadwal ku kosong? Daniel tidak memberitahu mu?"
"Bukan masalah kosongnya jadwal dan pekerjaan. Tapi ini ada sangkut-pautnya dengan penembakan di hotel,"
Mendengar Nicholas yang mengungkit tentang penembakan yang terjadi di hotel, membuat tatapan Zane langsung berubah menjadi penuh amarah.
"Tunggu aku di sana!"
Zane langsung bergegas menuju mobil tanpa memberitahu Chelsea. Mobil merah itu langsung melaju kencang keluar dari gerbang mansion, dan tidak menyadari bahwa Chelsea melihat kepergian sang suami.
Wanita hamil itu menyipitkan matanya curiga, "Pergi kemana dia? Tidak biasanya sampai tidak memberitahu ku," gumamnya penuh tanda tanya di benak.
"Kak Chelsea!"
Chelsea menoleh dan mengerutkan keningnya melihat kedua adik kembarnya, "Kalian berdua mau pergi kemana?" tanyanya saat melihat penampilan rapi kedua Adiknya.
"Kami akan pergi ke kantor Kak Arthur!" jawab Ashley dengan wajah datar. Wa sjah kedua anak remaja itu semakin hari semakin tampan dan semakin mirip dengan Ayah Robert versi muda. Chelsea bahkan sampai pangling melihatnya.
"Ah, mata ku sakit melihat penampilan kalian! Sebaiknya ganti!" kata Chelsea yang langsung mengalihkan pandangannya.
"Apakah ada yang salah dengan pakaian kami?" tanya Ashton dengan menatap penampilan dirinya sendiri. Ashley bahkan ikut menatap penampilannya, hanya baju kaos, celana jeans, sepatu sneaker, perpaduan outfit yang sempurna.
"Pakaian kalian terlalu mencolok! Aku tidak suka!" ungkapnya dengan langsung pergi begitu saja. Ashton dan Ashley saling berpandangan.
__ADS_1
"Mencolok? Hey, ini outfit ku dari desa, Kak!" protes Ashton yang tidak terima. Chelsea menutup kedua telinganya seolah-olah tidak ingin mendengar protes sang Adik.
"Sudahlah, lebih baik kita turuti saja."
...****************...
"Selamat datang, Tuan Zane!"
Para karyawan di perusahaan Z.L Company di buat ketar-ketir karena kedatangan CEO mereka secara tiba-tiba, karena jadwal hari ini dan selama beberapa ke depan sudah di kosongkan oleh Daniel untuk sang atasan, tentunya karena paksaan dari sang istri.
Zane tidak melirik atau menyapa para bawahannya, pria yang siap menjadi Ayah itu langsung menuju lift, Daniel sudah menunggu dengan lengan yang masih menggunakan arm sling. Pria itu menunduk hormat, "Selamat siang, Tuan Zane."
"Bagaimana keadaanmu?" tanyanya saat pintu lift sudah tertutup sempurna. Daniel tersenyum tipis dan mengangguk.
"Jauh lebih baik,"
"Aku sudah memberi mu cuti, bahkan Nicho sudah siap menggantikan posisi mau untuk sementara waktu." kata Zane tidak mengerti dengan jalan pikiran dari sekretaris nya ini. Daniel tersenyum canggung dan menggaruk tengkuknya.
"Lebih baik aku bekerja daripada harus bertemu dengan gadis centil itu," gumamnya membuat Zane langsung melirik.
"Kau mengatakan sesuatu?" tanyanya yang langsung mendapatkan gelengan kepala dari Daniel. Tak lama, pintu lift terbuka dan mereka berdua langsung menuju ruang kerja Zane.
"Nona Chelsea sudah tahu bahwa Anda datang ke kantor?" tanya Daniel membuat Zane langsung terdiam dengan tangan memegang handle pintu.
"Aku akan memberitahunya nanti," balasnya. Zane masuk dan langsung di sambut oleh Nicholas yang sibuk dengan laptop dan beberapa berkas di hadapannya.
"Katakan, apa yang kau dapatkan?" tanya Zane yang tampak mendesak. Nicholas menoleh dan langsung memberikan berkas putih kepada Zane.
"Bayu Artamana, pria berusia 48 tahun, bekerja sebagai Satpam di salah satu rumah sakit." jelas Nicholas yang memperhatikan raut wajah tidak bersahabat dari Zane.
"Dia?"
"Menurut mu?" Alih-alih menjawab, pria itu malah bertanya dengan senyuman miring. Zane meremas kuat kertas tersebut dan melipat lengan kemeja hingga batas siku.
"Bayu adalah mantan kekasih dari Kimberly Ryder, pria itu tidak terima saat pujaan hatinya di nikahi oleh Paman Robert. Bayu di bayar seseorang untuk menembak, sasaran utamanya adalah Chelsea, bukan Daniel atau siapapun. Bayu juga yang sudah menyabotase mobil Paman Robert 17 tahun yang lalu," ungkapnya dengan santai. Nicholas melainkan flashdisk di lengannya dan melemparnya kepada Zane.
"Flashdisk itu berisi rekaman kecelakaan 17 tahun yang lalu, rekaman basement hotel, ruang belakang altar, tempat parkir luar, dan beberapa buah voice percakapan." imbuhnya kembali. Daniel mengerutkan keningnya.
"Kau mendapatkan informasi sejelas ini dari mana? Bahkan Calvin saja tidak bisa," sahut Daniel, Nicholas menoleh dan melipat kedua tangannya.
"Sudah aku katakan, kasus ini aku yang bertanggungjawab. Jadi aku mencari semuanya hingga ke akar," jawab Nicholas dengan menatap Daniel datar. Daniel sedikit merasakan keraguan dalam dirinya karena ucapan dari sang sahabat.
"Lalu bagaimana dengan handle pintu basement? Tidak mungkin, kau tidak tahu kan?" tanya Daniel dengan mata memicing curiga. Nicholas mengambil sebuah kantong dan satu lembar kertas berisi keterangan.
"Sidik jari dan bukti kunci yang belum tercabut sudah aku simpan. Kau bisa memeriksanya," tanpa pikir panjang, Daniel mengambil hasil sidik jari tersebut dan menatapnya dengan teliti. Terdapat banyak sidik jari orang-orang di sana, salah satunya adalah Ibu Tasya.
__ADS_1
"Kenapa sidik jari dari Bibi Tasya ada di sini?"
Nicholas terkekeh geli, "Menurut mu?"
BRAK ....
Zane menendang kursi kayu di hadapannya dengan sekuat tenaga dengan napas memburu. "WANITA SIALAN!"
"Kau ingin kemana?" tanya Nicholas dengan mencegah lengan sang sahabat. Zane menoleh dan menepis lengan Nicholas.
"Wanita itu perlu di berikan pelajaran, jangan mencegah ku!" Bentak Zane dengan amarah menggebu-gebu. Nicholas menghela napas, ini yang Ia takutkan sejak tadi, sebab Zane bisa bertingkah gegabah bila bersangkutan dengan keluarganya.
"Jangan bertindak gegabah, kau bisa merusak-"
"Aku selama ini diam karena aku menghormati nya! Tapi setelah melihat tindakannya, aku benar-benar tidak akan tinggal diam, Nic!" potong Zane dengan menatap Nicholas dengan tajam.
"Aku tidak melarang mu untuk membunuh Bibi mu sekalipun, hanya saja ini ada sangkut-pautnya dengan Clara." ujar Nicholas. Daniel langsung mendekat dan menatap Nicholas tak percaya.
"Clara? Apakah dia itu wanita seperti Sonia? Menyukai saudaranya sendiri?!" tanya Daniel dengan heboh, bahkan pria itu seperti lupa bahwa lengannya sedang terluka. Nicholas menepis agar Daniel sedikit menjauh darinya.
"Seperti yang di katakan oleh Ayah mertua mu, Clara adalah saudara angkat yang di adopsi dari salah panti asuhan, Panti Asuhan Kasih. Clara terlalu tergila-gila kepada Paman Robert, hingga mampu membuatnya melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang Ia mau, termasuk Paman Robert dan melenyapkan istrinya." jelas Nicholas dengan tatapan yang sudah beralih ke arah lain. Nicholas mendekati sebuah frame foto pernikahan Zane dan Chelsea.
"Mungkin dia sudah mengetahui tentang konferensi pers. Tetapi dari segi psikologis, yang di rasakan oleh Clara itu bukanlah cinta tetapi obsesi untuk memiliki sesuatu. Mentalnya sedikit terganggu dan satu hal yang perlu kalian ketahui ..."
Nicholas menggantung ucapannya. Daniel mengeram kesal, "Cepat katakan!" desaknya. Zane mengerutkan keningnya saat Nicholas menatap ke arahnya.
"Ada apa?"
"Clara adalah pecandu narkotika, dan selalu mengonsumsi obat tidur secara rutin."
"What!" Daniel bahkan langsung syok mendengarnya. Pria itu sudah mendengar tentang Clara dari Calvin. Bahkan tentang Keluarga Lemos yang memutuskan untuk menarik semua fasilitas Clara, dan semuanya.
"Jadi ini alasannya meminta Bayu untuk menyabotase mobil Ayah," gumamnya dengan menyeringai kecil. Zane mengusap wajahnya dengan gusar dan menyandarkan tubuhnya di dinding.
"Apa rencana mu kali ini, Zane? Sudah cukup Sonia, Reno, dan Ibu Anggun. Jangan sampai bertambah menjadi tiga lagi," ucap Daniel membuat Zane menghela napas panjang. Mana mungkin Zane tinggal diam bila sudah bersangkutan dengan keluarganya, termasuk Chelsea. Wanita hamil yang sudah memenuhi hati dan pikirannya sejak pertama kali melihatnya.
"Aku serahkan Reno dan Bayu kepada Nicholas, biar aku mengurus Clara dan Bibi Tasya." jawab Zane seadanya. Daniel langsung menunjuk dirinya sendiri.
"Lalu bagaimana dengan ku?"
"Kau sebaiknya diam saja, kau masih sakit!" ketus Nicholas membuat Daniel mendengus kesal.
"Aku akan mengambil bagian juga! Aku akan mengurus kasus pembullyan Ashton dan Ashley,"
DEG ....
__ADS_1
"Pembullyan?!"