Wanita Sederhana Pilihan CEO

Wanita Sederhana Pilihan CEO
Pembalasan Dendam Robert


__ADS_3

"ARGH!"


BRAK ....


"Zane, tenanglah!"


Zane menepis tangan Dragon dan menatap sengit pria itu. "Tenang? Tenang kata mu?!"


Urat leher sudah menonjol begitu jelas, Dragon hanya menghela napas saat melihat Zane yang kembali terpuruk. Telat sedikit saja, maka Zane akan kehilangan semuanya, termasuk Chelsea. Suara tembakan yang begitu menggema di gendang telinganya, membuat ketakutan Zane semakin besar.


Pakaian pria itu sudah berlumuran darah segar, bahkan kedua tangannya tak berhenti untuk tidak bergetar karena rasa khawatir. "Kalau sedetik saja aku terlambat, maka Amora akan tiada, Dragon! A ... aku tidak bisa kehilangannya untuk kedua kalinya!" kata Zane yang menjatuhkan tubuhnya ke lantai dan menutup wajahnya yang penuh darah.


Dragon terdiam dan tidak bersuara. Mereka sudah berhasil membawa Chelsea dan satu pria asing ke rumah sakit dengan cepat, Bayu terkena tembakan dari arah lain, saat akan menyelamatkan Chelsea dari tembakan seseorang. Hal tersebut membuat mereka berdua harus terluka, Bayu dan Chelsea harus masuk ke ruang operasi untuk mengangkat peluru yang bersarang di tubuh mereka.


"Kau ingin balas dendam atas penderitaan istri mu itu, Zane?" tanya Dragon dengan wajah datar. Tak ada guratan khawatir di wajah pria mafia tersebut.


Zane seketika mengangkat wajahnya dan mengingat sesuatu, "Clara."


Dragon tersenyum puas, ini yang dia inginkan. "Bagus, jadi apakah tugas mu untuk ku masih berlaku? Aku akan menghabisi ketiga wanita gila itu dalam-"


"Biar mereka menjadi urusan ku." Zane berdiri dan mengeluarkan sebuah senjata api, "aku akan memberikan pelajaran karena telah berani menyakiti istri dan anak-anakku!" imbuhnya dengan suara yang begitu datar. Dragon hanya menatap kepergian Zane yang seorang diri tanpa di temani oleh kedua sahabatnya.


Dragon menghubungi seseorang untuk membantunya menjaga lorong rumah sakit, karena Dragon mulai khawatir bila Zane akan menyakiti dirinya sendiri atas apa yang terjadi kepada Istrinya. "Halo,"


"Ada apa, Dragon?"


"Datanglah ke rumah sakit, jaga ketat lorong di lantai 8." kata Dragon dengan melirik ke arah ruang operasi yang masih tertutup. Ada dua orang yang sedang bertaruh nyawa di dalam sana.


"Kau terluka?"


"Tidak."


"Lalu?"


"Jangan banyak bertanya, cepat kemari bersama yang lain!"


Dragon langsung memutuskan telepon dan melirik kedua bodyguard yang sejak tadi berdiri di belakangnya. "Hubungi keluarga Linchol untuk segera datang. Aku akan menyusul Zane,"


"Baik, Tuan!"


Dragon langsung bergegas menyusul Zane. Bagaimanapun Zane telah memberikannya tugas untuk membantunya membunuh Anggun, Tasya, dan Clara. Dragon masih ingat betul bagaimana teriakan melengking dari Chelsea saya tubuhnya tumbang terkena tembakan di bagian dada kanan.

__ADS_1


Bukan hanya tembakan yang membuat Zane ketakutan untuk kehilangan Chelsea, tetapi Zane juga melijah bagaimana banyaknya darah mengalir dari sela-sela bawah bagian sang istri. Chelsea bahkan meringis kesakitan seraya memegang perutnya. Dragon tidak bisa membayangkan bila dirinya ada di posisi Zane.


"Kau harus bertahan untuk Zane, Chelsea. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana Zane tanpa dirimu, aku bersusah payah untuk membawa Zane keluar dari dunia gelapnya." ujar Dragon seorang diri. Pria itu sangat berharap besar pada operasi yang di lakukan oleh Chelsea.


"Kau?"


Langkah kaki Dragon langsung berhenti dan menatap siapa yang berdiri dihadapannya, "Nico?"


Nico menatap selidik pada pria di hadapannya. Daniel mengerutkan keningnya melihat tatapan antara Dragon dan Nico yang terlihat aneh baginya, "Kalian saling mengenal?"


"Tidak,"


Nico langsung pergi begitu saja tanpa berbicara banyak lagi. Daniel menatap punggung Nico dan melirik Dragon yang masih berdiri di tempatnya. Daniel memilih untuk menyusul sahabatnya daripada harus meladeni Dragon yang menurutnya begitu aneh dan mencurigakan.


Dragon menatap kedua pria yang sudah menghilang dari pandangan matanya. Dragon menghela napas panjang dan kembali melanjutkan langkahnya, "Bahkan kau tidak sudi untuk menatapku."


...****************...


CETAR .....


CETAR ....


"A ... ampun! Aku mohon ampun, Robert!"


"Ampun? Aku tidak menerima ampun dari kalian!"


CETAR ....


"AKH! AMPUN! AKU MENGAKU SALAH, ROBERT!" pekik Anggun membuat beberapa bodyguard yang hanya diam di tempat langsung memegangi telinga. Robert menghentikan cambukan di tubuh Anggun yang sudah berdarah-darah. Tasya sudah tak sadarkan diri dan kesakitan karena ulah Robert.


Pria itu menjatuhkan cambuk dan berjongkok tepat di hadapan Anggun, di cengkeram kuat dagu Anggun. "Kau tahu, karena ulah mu yang gila itu, Putri ku harus tersiksa!"


Anggun menangis. Mungkin dirinya sudah jera atau hanya sekedar sandiwara bagi Robert. Pria itu mendorong tubuh Anggun dengan kuat dan melirik Tasya. "Siram wanita ini dengan air es!" perintah Robert dengan aura yang begitu membunuh.


"Baik, Tuan!"


Satu orang bodyguard datang dan langsung mengguyurkan air berisi es batu kepada Tasya, membuat wanita itu tersentak dan terbangun dari pingsannya dengan keadaan menggigil. "A ... apa yang kau lakukan?!" tanya Tasya dengan memeluk tubuhnya yang sudah basah kuyup.


Robert berdiri dan menatap kedua wanita yang begitu menjijikkan di matanya, "Sekarang aku harus menangkap Clara. Aku sudah mengatakan pada mu, Anggun, jangan pernah menganggu kehidupan anak-anak ku lagi!"


Anggun menatap sang mantan suami dengan sinis, "kalau bukan karena kau menipu ku, aku tidak akan-"

__ADS_1


PLAK ....


Anggun terkejut bukan main saat Robert melayangkan tamparan pada pipi kirinya. "Kau harus di penjara dan di hukum mati!"


DEG .....


Mati? Tidak, aku tidak ingin mati!


"Kau telah menabrak Lona hingga tewas, kau telah menelantarkan kedua putra kembar mu, dan kau juga yang telah membunuh kakak Lona!"


Tasya sontak menoleh terkejut. "Kau membunuh orang, Anggun?" tanyanya tak percaya. Anggun hanya diam dengan wajah ketakutan yang begitu terlihat.


"Kau juga yang telah memata-matai ku dan istri ku 17 tahun lalu, atas perintah Clara!"


Tasya benar-benar tak menyangka bila Anggun begitu mengerikan dan telah melakukan tindak pidana. Tasya mulai teringat dengan berita tabrak lari yang melibatkan pejalan kaki dan juga sebuah mobil hitam, yang menyeret pejalan kaki tersebut hingga beberapa meter dan tak berbentuk lagi. Kini, semua pertanyaannya sudah terjawab, bahkan Anggun secara terang-terangan terburu-buru saat meninggalkan cafe setelah bertemu dengannya.


"Dan sekarang kau memohon maaf setelah apa yang kau lakukan kepada keluarga ku?" Robert menyunggingkan senyum miring dan mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, "tapi sebelum kau menyentuh keluarga ku lagi, maka aku yang akan menyentuh mu terlebih dahulu."


DEG ....


Detak jantung Anggun berdetak kencang melihat Robert mengeluarkan senjata api berisi peluru. Tubuhnya bergetar hebat dan hal itu membuat Robert sangat senang. Robert harus menuntaskan semua dendam masa lalunya yang Ia pendam selama 17 tahun lamanya. Robert tidak ingin anak-anaknya kembali di usik oleh orang-orang yang memiliki urusan dengannya.


"Ro ... Robert, a ... apa yang ingin kau la ... lakukan?"


Anggun menyeret tubuhnya membuat Robert semakin tersenyum jahat. Walaupun usianya tak lagi muda, tetapi jiwanya masih muda dan masih mampu membunuh siapapun yang menyakiti keluarganya. "Kau pasti mengetahui apa yang akan aku lakukan kepada mu,"


Anggun menggeleng dan terlihat panik saat tubuhnya sudah menempel pada dinding ruangan. Tasya mencoba untuk berdiri dan langsung di tahan cepat oleh bodyguard di sana.


"Lepaskan aku! Kau monster, Robert!" hardik Tasya membuat Robert tertawa pelan.


"Aku monster?" Robert menoleh dan menatap ketiga bodyguardnya, "apakah kalian bertiga tidak ingin bermain-main dengan wanita bodoh itu?"


"Maksud, Tuan?"


Tasya sontak menggeleng cepat, "TIDAK! AKU TIDAK SUDI DI SENTUH OLEH PRIA SIALAN SEPERTI KALIAN!"


"Stttt!" Robert bergegas mendekat, "wanita jallang ini harus diberikan pelajaran. Kalian bertiga bebas melakukan apapun kepadanya," tambah Robert dengan menunjuk Tasya dengan sinis.


"Kau monster-"


DOR ....

__ADS_1


"AKHH!"


__ADS_2