
"Sayang,"
Zane yang tengah berkutat dengan laptopnya, mulai menoleh ke arah ambang pintu ruangannya. Zane tersenyum saat melihat wajah Chelsea yang sedikit berantakan, "Come on, Baby."
Chelsea dengan senang hati mendekati sang suami, yang tampak sibuk dengan pekerjaan. Malam sudah menyapa sejak tadi, dan Zane seperti enggan untuk meninggalkan ruang kerjanya walau hanya sedetik saja.
"Kau sibuk?" tanyanya dengan bergelayut manja di lengan Zane. Pria yang akan menjadi seorang Ayah, semakin hari semakin bertambah tampan dan tak lupa kumis dan bulu-bulu halus mulai tumbuh di wajah Zane, semakin membuatnya bertambah tampan berkali-kali lipat. Chelsea menyukai penampilan Zane kali ini, begitu terasa seperti sugar Daddy.
"No, Baby. Kau membutuhkan sesuatu?" tanyanya membuat Chelsea mengangguk. Zane memutar kursinya dan menarik pinggang sang istri, agar duduk di pangkuannya. Chelsea mengalungkan tangannya dan menatap manik mata Zane yang begitu teduh.
"Tapi kau sejak tadi sibuk, apakah aku menganggu mu?"
Zane tersenyum tipis dan menjauhkan anak rambut yang menutupi wajah cantik sang istri, "Untuk mu aku selalu luang, Amora. Katakan, kenapa kau tiba-tiba terbangun?" tanyanya kembali dengan tangan besar miliknya mulai mengusap perut Chelsea.
Chelsea bernapas lega, saat akhirnya Zane mengusap perutnya. "Perut ku ingin kau usap," pinta Chelsea dengan mengusap rahang tegas sang suami.
"Of course, baby." Zane begitu senang bila bersangkutan dengan mengusap perut buncit sang istri, bagaikan memiliki hobi baru, Zane tidak akan pernah bosa untuk mengusap dan mengelus perut Chelsea, yang belum membuncit sepenuhnya itu.
"Aku ingin bertanya sesuatu, Zane."
Zane menadah dan mengangguk, "Katakanlah."
Chelsea terdiam sejenak dan mengelus rambut Zane dengan lembut, "Apakah benar kalau Kak Arthur memiliki perasaan lebih kepada ku?"
DEG .....
Zane terkejut dengan pertanyaan sang istri, bahkan pria itu menatap Chelsea dengan serius. "Dari mana kau mendapatkan informasi tentang itu?"
Chelsea mengangkat bahunya tidak tahu, "Aku hanya beropini saja, Zane. Karena melihat tatapan Kak Arthur kepada ku, aku seperti melihat Reno." ungkapnya dengan sendu. Chelsea menunduk dan memainkan kancing kemeja sang suami, mana mungkin Chelsea menatap Zane sekarang.
Pria itu menghela napas panjang dan mengerutkan pelukannya, "Itu tidak benar, Sayang. Ada hukum yang menjerat,"
"Tapi aku dan Kak Arthur tidak ada hubungan darah. Jadi tidak ada hukum yang akan menjerat, bila kami menikah-"
CUP ....
Zane langsung membungkam mulut Chelsea dengan cepat, bahkan menekan tengkuk sang istri untuk memperdalam ciuman mereka. Chelsea yang semulanya terkejut, kini mulai membalas ciuman dan membenarkan posisi duduknya di pangkuan Zane.
Mereka berdua mulai menikmati kegiatan mereka, hasrat Chelsea mulai menggebu-gebu sejak awal kehamilan. Zane membuka pakaian Chelsea dengan satu tangan memegang pinggang sang istri, agar tidak terjatuh dari pangkuannya. Sama halnya dengan Zane, Chelsea melepaskan kancing kemeja sang suami dan mengusap dada bidang pria itu.
"Zan-mhppp!"
Zane langsung menyelesaikan ciumannya dan menatap sang istri dengan napas tersengal-sengal. "What is it?" tanyanya dengan mata sayu. Niatnya hanya ingin menghukum Chelsea, tetapi sang istri malah memancingnya.
"Jangan di sini," kata Chelsea dengan malu-malu. Zane tersenyum dan menyandarkan punggungnya di kursi, kedua tangannya memegang pinggang sang istri.
"Kita belum mencoba posisi bercinta di kursi ini, Sayang. Bagaimana kalau kita-"
__ADS_1
"Zane, aku sedang hamil!" potong Chelsea dengan cemberut. Hasrat ingin bercinta Chelsea begitu menggebu-gebu, tetapi wanita itu langsung tersadar bila dirinya tangan berbadan dua.
"Kata dokter, kita bisa melakukannya kapan pun, hanya saja dengan posisi aman untuk mu dan bayi kita, terlebih lagi jangan terlalu sering. Aku selama ini terlalu sering bermain solo, Amora." keluh Zane dengan wajah cemberut. Chelsea terdiam sejenak dan menatap area dada bidang sang suami yang begitu terekspos.
Zane tersenyum nakal, pria itu seolah-olah tahu apa yang di inginkan oleh Chelsea sejak tadi. "Aku menginginkanmu," bisik Zane dengan nada tengilnya. Bahkan pria itu mulai meremas dua gundukan yang mulai membesar itu.
...****************...
Reno, pria yang sudah tak lama terdengar namanya itu kembali muncul. Kali ini bukan di perusahaan atau kembali ke desa Mentari, tetapi pria itu menatap bangunan sangat megah dihadapannya dengan senyuman miring.
Dua hari sudah, Ia mengamati situs rumah besar di hadapannya dan hari ini adalah hari di mana Ia akan melakukan sesuatu yang cukup besar. Dengan pakaian serba hitam, pria itu mengenakan topinya kembali dan mendekati pintu gerbang dan senantiasa tertutup.
"Permisi, apakah benar ini adalah alamat dari keluarga Lincoln?" tanya Reno kepada salah satu satpam yang berjaga di pos. Satpam tersebut menatap penampilan Reno dengan mata memicing curiga.
"Benar. Anda siapa dan ada keperluan apa?" tanya satpam tersebut dengan tatapan yang tak lepas dari menelisik penampilan pria di hadapannya. Reno menyunggingkan senyum dan menyodorkan sebuah kertas.
"Ada kiriman paket untuk Nyonya Chelsea, Pak. Apakah Nyonya Chelsea ada?"
Satpam tersebut mengangguk, "Tunggu sebentar. Saya akan memanggil Nyonya,"
Reno menadah dan membenarkan posisinya, satpam tersebut menjauh dan hal tersebut membuat Reno benar-benar tersenyum puas. "Ternyata ada orang yang jauh lebih bodoh di dunia ini," gumamnya dengan nada mengejek.
Reno menatap nota paket dan langsung membuangnya begitu saja. Masuk ke dalam, dan beruntungnya pintu gerbang tidak di kunci dan hanya di tutup biasa, maka Reno leluasa untuk masuk. Pria itu berjalan mengendap-endap dan sesekali berjalan seperti biasa.
"Alex, jangan berlari!"
Langkah Reno berhenti saat melewati sebuah taman, terdapat seorang wanita hamil yang tak lain adalah Chelsea dan satu anak laki-laki yang tak lain juga adalah Alex. Mereka berdua bermain dengan di awasi oleh dua bodyguard, yaitu Ricky dan satu temannya. Reno menyeringai dan berjalan mendekati taman tersebut.
"Kakak tidak kuat, Alex." keluh Chelsea yang langsung mendudukkan dirinya di kursi taman. Ricky bergegas mendekat untuk memeriksa.
"Nyonya baik-baik saja?" tanya Ricky khawatir. Chelsea menoleh dan terkekeh geli.
"Aku baik-baik saja. Ric, bisakah kau mencarikan aku peliharaan baru?"
Ricky mengerutkan keningnya, "Peliharaan?" beonya.
"Aku ingin kucing atau kelinci," ungkap Chelsea dengan senang. Ricky tersenyum dan membungkuk hormat.
"Akan saya tanyakan kepada Tuan Zane, Nyonya." jawab Ricky membuat Chelsea semakin di buat senang. "Kami pamit untuk berkeliling, Nyonya. Pelayan akan segara datang untuk mengawasi Nyonya dan Tuan Muda Alex." Tambah Ricky membuat Chelsea hanya mengangguk sebagai jawaban.
Ricky dan satu temannya pergi, sedangkan Reno semakin tersenyum. Seperti keberuntungan berpihak kepadanya, tidak ada penjagaan ketat di mansion dan tidak ada yang mengawasi Chelsea untuk sementara waktu, "Ini saatnya kau menjadi milikku, Chelsea."
Dengan langkah cepat, Reno mendekati Chelsea yang duduk kursi taman tepat di bawah pohon rindang. "Permisi, Nyonya."
Chelsea menoleh terkejut saat menyadari bila pria asing berada di belakangnya. "Maaf, Anda siapa?" tanyanya dengan nada curiga. Chelsea bergegas berdiri dan menatap penampilan pria di hadapannya dengan curiga.
Aku seperti pernah melihat pria ini. Tapi di mana? batin Chelsea berkecamuk.
__ADS_1
"Ada kiriman paket untuk Anda, Nyonya." kata Reno membuat Chelsea mengerutkan keningnya.
"Paket? Tapi saya merasa tidak pernah memesan apapun," jawab Chelsea dengan bingung. Reno menadah pelan dan menyunggingkan senyum miring.
"Tapi kau pasti merasa bahwa-"
"Reno!"
Chelsea sontak menjauh saat menyadari pria di hadapannya adalah Reno. Reno tersenyum miring dan menjatuhkan paket dari tangannya dan menendangnya agar menjauh, "Lama tidak bertemu dengan mu Chelsea. Ternyata kau ..."
Tatapan Reno jatuh pada perut buncit Chelsea, "Ternyata kau tengah mengandung." sambungnya dengan tawa ringan. Chelsea sontak memeluk perutnya dan menatap Reno dengan waspada.
"Apa yang kau inginkan lagi, Ren?!" tanya Chelsea dengan takut. Reno melepaskan sarung tangannya dan menelisik penampilan Chelsea yang sedikit berisi dan semakin bertambah cantik di matanya.
"Aku menginginkanmu! Kau mengenal ku, aku adalah pria yang nekat untuk mendapatkan apa yang aku inginkan! Dan tujuan ku kemari adalah mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku!" jelas Reno membuat Chelsea memundurkan langkanya, sedangkan Reno mulai melangkah mendekatinya.
"Menjauh dari ku! Atau aku akan-"
"Kau ingin berteriak? Silakan, tidak akan ada yang mendengarnya, Chelsea sayang."
Jantung Chelsea mulai berdetak kencang saat punggungnya sudah menyentuh pohon besar di belakang sana. Reno dengan cepat langsung mengunci pergerakan Chelsea, "Kau tidak bisa lepas dari ku sekarang!"
"KAU GILA! LEPASKAN AKU, REN!" pekik Chelsea dengan mendorong tubuh Reno agar menjauh darinya. Reno tidak merespon atau bahkan berpindah karena ancaman Chelsea.
"Aku gila karena dirimu! Seharusnya kau menikah dengan ku, untuk melunasi hutang-hutang Ayah mu itu!" kata Reno membuat Chelsea berdecak sinis seraya menepis tangan Reno yang hendak menyentuh wajahnya.
"Aku tidak sudi menikah dengan pria jahat seperti mu! Ayah ku dan kedua orang tuamu hanya bermain drama! Ayah ku tidak pernah memiliki hutang apapun kepada orang tua mu itu, Reno!" tampik Chelsea mencoba untuk menyadarkan Reno. Chelsea sudah mendengar semuanya, termasuk tentang drama hutang-piutang Ayahnya dengan orang tua Reno. Begitu manipulasi juga Ayahnya.
"Oh ya? Jangan harap kau bisa menipu ku, Chelsea!" Raut wajah Reno begitu memerah dan langsung mencengkeram erat dagu Chelsea. "Kita lihat, bagaimana Suami mu tercinta itu menyelamatkan mu-"
DUK .....
"AKHHH!"
Chelsea mendorong tubuh Reno dengan kuat dan langsung berlari dari sana. Reno meringis memegangi aset pribadinya dan langsung pergi menyusul Chelsea. "TETAP DI SANA ATAU AKU AKAN MENEMBAK MU!"
Tetapi Chelsea tidak menghiraukan ancaman Reno, wanita hamil itu semakin mempercepat langkahnya agar menjauh dari taman. Reno mengeratkan genggaman tangannya pada senjata api dan bergegas menyusul Chelsea. "CHELSEA!"
Chelsea sesekali menoleh ke belakang dan sontak terkejut melihat bahwa dirinya salah memilih jalan. Wanita itu menelan ludahnya saat terhalang tembok besar di hadapannya, tak lama terdengar suara langkah kaki di belakang, membuat Chelsea semakin ketakutan.
"Sudah aku katakan, bahwa sejauh apapun kau berlari, maka aku akan tetap bisa menangkap mu!" ujar Reno membuat Chelsea semakin bergetar di bagian tubuhnya.
"A ... aku akan memberikan apapun yang kau inginkan, tapi tolong biarkan aku pergi, Ren." lirih Chelsea dengan mengatupkan tangannya, memohon. Reno menyugarkan rambutnya dan tertawa miring.
"Aku tidak menginginkan apapun, aku hanya menginginkan mu saja, Chelsea. hampir lima tahun lamanya aku menunggu mu, tetapi Zane secara tiba-tiba saja datang dan menikahi mu! SEMUA ITU TIDAK ADIL BAGI KU!" Hardik Reno membuat tubuh Chelsea seketika menjadi lemas. Wanita itu merosot kan tubuhnya dan menangis ketakutan.
"Masih banyak wanita di luaran sana, yang menunggu cinta mu, Ren. Aku wanita yang sudah menikah dan aku tengah mengandung, kenapa kau masih saja mengharapkan ku?" tanya Chelsea dengan air matanya yang sudah luruh. Reno memasukkan senjata apinya kembali dan mendekati Chelsea. "JANGAN MENDEKATI KU!"
__ADS_1
"KARENA AKU LEBIH DULU MENCINTAI MU!"
DOR ....