Wanita Sederhana Pilihan CEO

Wanita Sederhana Pilihan CEO
Dua Pilihan


__ADS_3

Di malam harinya ....


Zane meregangkan otot tubuhnya yang sedikit terasa kaku, pekerjaannya begitu menumpuk hingga membuatnya harus menyelesaikannya hari ini. Melirik jam dan langsung menyandarkan tubuhnya dengan malas.


"Alexia," gumam Zane dengan lirih.


Selama 8 tahun belakangan ini, Zane terus berupaya untuk menyembuhkan penyakit yang di derita oleh Adik perempuan satu-satunya, Alexia. Gadis kecil yang seharusnya bisa bermain seperti anak lainnya, hanya bisa terduduk di kursi roda dengan di temani pengasuh dan boneka kesayangannya.


Penyakit langka yang tidak dapat di sembuhkan yang di derita sang Adik, membuat Alex enggan untuk bergaul dan meninggalkan Alexia seorang diri. Alex lebih memilih untuk menghabiskan waktu di mansion, saat pulang sekolah, sedangkan Alexia tidak lanjut sekolah karena penyakitnya. Segala cara sudah Zane dan keluarga Lincoln lakukan, untuk kesembuhan Alexia, tetapi kenyataan pahit terus menampar mereka.


Alexia di diagnosa mengidap penyakit fenilkeyonuria, yaitu metabolik bawaan dari lahir, di mana penyakit ini tidak dapat di obati dan sangat berbahaya bagi tubuh. Tubuh kurus dan pucat, membuat Zane semakin tidak tega dengan Adik perempuannya.


"Aku harus apa, aku tidak ingin kehilangan Adik ku untuk kedua kalinya."


Tok ... tok ....


Zane bergegas mengusap air matanya, "Masuk!"


Zane mengerutkan keningnya saat melihat Nicholas dan Daniel datang secara bersamaan. Jam kerja mereka sudah selesai satu jam yang lalu, tetapi Nicholas ataupun Daniel enggan untuk kembali pulang.


"Kau baik-baik saja, Zane?" tanya Daniel dengan gaya bahasa santai. Nicholas pun sama, pria itu terkesan cuek dan tidak peduli.


"Kau menangis?"


"Tidak!" jawab Zane dengan cepat. Raut wajah pria itu kembali datar dan dingin.


"Lalu kenapa mata mu memerah?" tanya Daniel dengan mata memicing curiga. Zane memalingkan wajahnya dan tanpa di minta, kedua sahabatnya langsung mendudukkan diri di kursi depan meja kebesaran Zane.


Nicholas dan Daniel hanya diam, seperti menunggu Zane untuk berbicara. Tetapi berselang beberapa menit, pria datar itu tidak juga membuka suara, membuat Daniel kesal sendiri.


"Bagaimana keadaan Alexia?" tanya Daniel pada akhirnya, berhasil membuat Zane menoleh. Raut wajah itu kembali Nicholas dan Daniel lihat selama ini.


"Tidak ada perubahan," jawab Zane dengan lirih. Nicholas memberikan tissue kepada Zane, membuat pria itu mengerutkan keningnya.


"Aku tidak suka melihatmu menangis," kata Nicholas ketus. Tetapi berbeda dengan hatinya yang seperti di pukul ribuan batu. Zane menerima dan menghapus air matanya.


"Zane, penyakit yang Alexia derita sudah di diagnosa tidak akan pernah bisa di sembuhkan." Kata Daniel membuat Zane langsung melayangkan tatapan yang sangat tajam.


Apakah aku salah berbicara? batin Daniel dengan keringat dingin mulai keluar.


"Adikku pasti akan sembuh, dan aku sangat yakin akan hal itu!" balas Zane dengan nada tegasnya. Daniel langsung bungkam dan menghela napas panjang.


"Jangan terlalu menyibukkan diri dengan pekerjaan, Zan. Kau juga membutuhkan waktu untuk mencari calon istri," celetuk Nicholas dengan suara begitu menggema.

__ADS_1


"Maksudnya?"


Zane terdiam sejenak, memang benar, sejak dirinya duduk di bangku sekolah menengah pertama, Zane sudah bertekad untuk membuat kerajaan bisnisnya sendiri. Terlahir dari keluarga berada dan konglomerat, membuat Zane terkadang dikucilkan.


Sifat dan watak Zane sangat sulit untuk di tebak, begitu misterius bagi mereka semua, termasuk bagi Nicholas dan Daniel. Zane sangat keras seperti Ayahnya, memiliki ambisi yang bukan main-main, membuat Zane tumbuh seperti sekarang.


"Aku tidak tahu, apakah Mama Bellamy akan menjodohkan mu dengan siapa nanti. Mungkin salah satu wanita seksi atau culun," balas Nicholas dengan menatap serius kepada Zane.


"Daripada aku harus di jodohkan, lebih baik aku mencari wanita pilihan ku sendiri!" jawab Zane ketus dan melipat kedua tangannya dengan angkuh. Daniel mengangguk setuju dengan perkataan Zane.


"Ya lebih baik seperti itu, aku tidak ingin wanita yang di jodohkan dengan mu, hanya menginginkan harta mu saja."


"Memangnya kau sudah memiliki pilihan wanita? Aku tidak ingin kau memilih sembarang wanita!" harap Daniel dengan Nicholas yang mengangguk setuju.


Di antara mereka bertiga, Zane yang tertua. Daniel yang paling muda, bukan berarti Daniel tidak mengetahui tentang tentang perjodohan yang telah direncanakan oleh Bellamy. Zane bukan tipikal pria yang mudah berinteraksi dengan orang baru, terkesan kaku dan tidak mudah mengungkapkan apa yang ada di hatinya.


7 tahun mengabdikan diri dengan Zane, membuat Daniel sudah cukup mengenal atasan sekaligus sahabat pertamanya itu. Bahkan Daniel akan rela tidak menikah, hanya untuk terus mengabdi kepada Zane sebagai balas budinya.


"Aku memiliki tugas penting untuk mu, Nic."


Nicholas menoleh dengan bingung. Sejak tadi, hanya Nicholas yang mengunci mulutnya. Tidak bersuara karena tidak di tanya atau bukan dirinya yang di ajak berbicara, adalah kebiasaannya.


"Lalu aku?"


"Dan?"


"Masih virgin,"


"WHAT!"


...****************...


Zane menginjakan kakinya kembali di mansion utama, suasana mansion udah gelap dan sepi. Zane terus berjalan tanpa merasa ragu dan berhenti saat melihat seseorang yang duduk di sofa, menunggu dirinya. Wanita dengan pakaian tidur itu sibuk membolak-balik halaman majalah miliknya.


"Mama?"


Bellamy menoleh dan tersenyum tipis melihat kepulangan Putra sulungnya. Bellamy bergegas berdiri dan merentangkan kedua tangannya, "Hug me please, boy."


Tanpa pikir panjang, Zane langsung memeluk tubuh Bellamy dengan sangat erat. Di peluknya wanita yang sudah melahirkannya itu dengan sangat erat.


"Kau kembali, apakah kau akan tidur di sini?" tanya Mama Bellamy penuh harap. Zane sudah memiliki mansion sendiri, bahkan lebih sering menghabiskan waktunya di kediaman pribadi, daripada di kediaman keluarga Lincoln.


"Princess Alexia yang meminta ku untuk pulang," jawab Zane dengan suara lirih. Mama Bellamy tersenyum dan mengusap punggung Putra sulungnya.

__ADS_1


"Alexia tadi menangis kesakitan dan menyebut nama mu terus, bahkan Papa harus mengambil jadwal terbang lebih awal dari jadwal seharusnya." ungkap Mama Bellamy dengan sorot putus asa.


Zane terdiam sejenak dan menghela napas panjang. "Twins sudah tidur?"


Bellamy mengangguk dan tersenyum tipis, "Kau sudah makan malam?" tanya Mama Bellamy membuat Zane menggeleng.


"Aku rindu masakan Mama," Mama Bellamy tersenyum senang dan langsung menarik Putra sulungnya menuju ke ruang makan.


"Mama sengaja memasak kesukaan mu, ayo di habiskan!" kata Mama Bellamy dengan senang. Zane tersenyum dan memasukkan sesuap makanan ke mulutnya, sebenarnya Zane sudah makan malam bersama kedua sahabatnya, tetapi entah kenapa dirinya merindukan masakan Mama Bellamy.


"Mama sudah menemukan beberapa wanita yang cocok dengan mu, pilihlah."


Uhuk ... uhuk ....


Zane tersedak dan langsung meneguk air miliknya. Siapa yang tidak terkejut dengan penuturan dari Mama Bellamy.


"Ma, Zane tidak ingin di jodohkan!" Jawab Zane dengan menggelengkan kepalanya. Mama Bellamy mendengus kesal dan memberikan sebuah amplop berisi foto-foto para wanita pilihannya.


"Lihat lah sebentar, kau pasti akan menyukai salah satu dari 10 wanita ini!" desak Mama Bellamy dengan terus menyodorkan amplop coklat kepadanya. Zane pusing sendiri dengan tingkah sang Mama.


"Ma, aku bisa-"


"Mama tidak menerima penolakan! Cepat di lihat dulu!" desak Mama Bellamy kembali. Selera makan Zane langsung menghilang setelah dengan terpaksa membuka amplop dan langsung di suguhkan oleh foto-foto wanita cantik dan seksi.


Zane bergidik ngeri melihat foto para wanita tersebut. Bila pria lain akan senang melihat wanita cantik dan seksi, tetapi berbeda dengan Zane yang justru merasa ngeri.


"Mama yakin?" tanya Zane dengan tatapan tak percaya.


"Kau meragukan, Mama?"


Zane menjadi gelagapan sendiri karena ucapannya, "Ma, aku memiliki tipikal wanita sendiri, aku tidak ingin mereka menikah karena harta ku!"


Mama Bellamy terdiam, yang di katakan oleh Zane ada benarnya. Mungkin banyak yang akan mempamerkan hal ini kepada khalayak ramai, dan mereka tidak ingin hal tersebut jadi. "Jadi kau menolak mereka?"


"Aku tidak menolaknya, Ma. Hanya saja aku memiliki tipikal wanita yang aku dambakan sejak dulu, izinkan aku untuk menuntaskan itu semua, Ma. Aku tau, Mama sangat ingin yang terbaik untuk ku dan twins, aku hargai usaha Mama untukku. Tapi aku tidak ingin mereka menikah dengan ku hanya karena harta, aku menginginkan mereka benar-benar tulus mencintai dan menunaikan pernikahan ini dengan cinta." jelas Zane membuat Mama Bellamy seketika bungkam. Ada rasa bangga yang tersemat di dalam diri Mama Bellamy saat ini.


"Kau sudah dewasa,"


"Aku akan membawakan calon istri ku di hadapan Mama dan Papa, beri aku waktu."


Mama Bellamy menghapus air di sudut matanya dan menggenggam erat tangan Putra sulungnya. "Nak, keluarga kita tidak memandang status derajat orang, itu yang Papa mu lakukan kepada Mama dahulu. Jangan pernah ragu untuk membawa wanita dambaan mu itu kepada Mama dan Papa. Kamu mengerti maksud Mama?"


"Terima kasih, aku tidak akan mengecewakan Mama kali ini."

__ADS_1


__ADS_2