
Zane mengajak Chelsea ke kamar, setelah kedatangan Ibu Anggun yang tiba-tiba, membuat Chelsea tidak tenang begitu saja. Walaupun Ibu Anggun tetap di perbolehkan untuk tinggal, tetapi ada mengganjal dalam dirinya. Wanita itu sejak tadi hanya bergerak gelisah dan tidak menjawab pertanyaan dari Zane.
"Sayang, ada apa?" tanya Zane kembali dengan memegang kedua pundak sang istri. Chelsea menggeleng dan memegangi kepalanya yang tiba-tiba saja berdenyut.
"Kepala ku sakit sekali," keluhnya membuat Zane langsung bergegas mengambil segelas air.
"Minumlah berlahan,"
Chelsea hanya menurut dan meminum setengah gelas. "Zane, aku tidak tenang," ungkap Chelsea membuat Zane menoleh.
"Apa yang membuat mu bingung, Sayang?" tanyanya dengan mengelus puncak kepala sang istri. Chelsea berpindah posisi dengan memeluk tubuh kekar sang suami, yang telah telanjang dada seperti biasanya.
Bau maskulin mulai menyeruak membuat Chelsea begitu tenang berada di dekat pria tampan itu. Zane hanya tersenyum saat melihat Chelsea memejamkan kedua matanya dan hanya diam juga saat Chelsea mulai menyentuh kulitnya.
"Kau ingin bermain kuda-kudaan?" tawar Zane membuat Chelsea sontak membuka matanya. Wanita itu mendengus kesal dan menjauhkan dirinya, melihat reaksi dari sang istri membuat Zane mendesah pelan.
"Sayang, aku ingin-"
"Aku sedang tidak ingin, Zane." sela Chelsea dengan kepala tertunduk. Walaupun Chelsea sudah berkata tidak ingin, tetapi tidak dengan tangan wanita itu yang sibuk berkelana di dada telanjang Zane.
Zane terkekeh geli melihat tingkah menggemaskan dari Chelsea. Ini yang Ia sukai dari sang wanita. Chelsea akan terus terang apa yang mengangguk pikirannya, tetapi Chelsea begitu tenang dalam menyembunyikan beberapa masalah pribadinya, tidak ingin seseorang masuk dan terlibat.
"Jangan memendam nya, Amora. Katakan apa yang membuat mu gelisah," kata Zane dengan nada yang sangat lembut. Pria itu menyelipkan anak rambut Chelsea, dan menatap wajah cantik sang istri.
Mereka sebenarnya berniat untuk tidur tadi, tetapi tiba-tiba saja Chelsea ingin berjalan-jalan dengan memakai baju tidurnya. Zane tidak bisa menolak dan memilih untuk menuruti kemauan sang istri. Zane menyadari perbedaan sifat dirinya saat bersama dan saat tidak bersama dengan Chelsea, sangat mudah membedakannya.
"Aku benar-benar tidak mengetahui kenapa Ibu datang secara mendadak. Ayah menelpon dan langsung mengatakan kalau Ibu pergi ke kota sendirian," ungkap Chelsea pada akhirnya membuat Zane langsung memasang telinga lebar-lebar.
"Ayah dan si kembar artinya tidak ikut ke kota?"
Chelsea menggeleng, "Ayah mengatakan kalau dirinya dan Ibu akan segera berpisah. Dan Ibu menyetujuinya tanpa pikir panjang,"
Itu artinya hak asuh si kembar, pasti akan Ayah Robert ambil dengan bukti-bukti yang ada. Batin Zane dengan pikiran yang mulai berkelana.
"Apa kau tahu apa alasannya?" tanya Zane membuat Chelsea bergeming sejenak, wanita itu seolah-olah sedang berpikir keras.
"Tidak, aku akan menelpon Ashton untuk bertanya. Tidak mungkin mereka berpisah secara tiba-tiba bila tidak ada api,"
Zane mengangguk menyetujui dan membiarkan Chelsea menghubungi Ashton. Wajah gelisah masih terlihat di wajah cantik sang istri, membuat Zane tidak tega untuk melarang. Chelsea mengigit kuku jarinya dengan gemas, karena telpon belum kunjung di angkat.
"Halo, Kak Chelsea?"
Chelsea bernapas lega, "Ashton, apakah Kakak menganggu mu?"
"Tidak, Kak. Aku dan Ashley sedang belajar untuk besok," jawab Ashton membuat Chelsea menyunggingkan senyum tipis.
"Kakak ingin bertanya." Chelsea melirik ke arah Zane yang hanya mengangguk, "Apakah kalian tahu, kalau Ibu pergi ke kota?"
"Iya, kami mengetahuinya, Kak. Apakah Ibu pergi ke rumah Kakak dan Kakak ipar?" tanya Ashley membuat Chelsea mendesah pelan sebagai jawabannya.
"Ibu dan Ayah berdebat hebat sebelum Ibu pergi, Ayah berkata akan mengirim surat cerai dari pengadilan," kata Ashton yang terdengar begitu sendu di pendengaran Chelsea. Zane mendekat dan mengambil alih ponsel tersebut.
__ADS_1
"Pertengkaran apa itu, Ashton?" tanya Zane membuat Ashton diseberang sana tersedak air ludahnya sendiri.
"Kakak mengagetkan aku!"
Zane terkekeh geli, "Maafkan aku,"
"Kami tidak terlalu mendengar, hanya mendengar bila Ibu sudah muak hidup dalam kemiskinan dan selalu di cemooh oleh warga di desa mentari, Kak."
...****************...
Pagi hari seperti biasa, Chelsea melayani seluruh anggota keluarga Lincoln dengan suka cita, terdapat tawa dan debat kecil antara Alex dan Zane, atau cerita dari Daniel dan Nicholas yang membuat Mana Bellamy berakhir kesal setengah mati.
"Kakak cantik!" panggil Alex membuat Chelsea menoleh. Wanita itu tersenyum dan mengusap rambut hitam legam pria kecil tersebut.
"Ada apa?" tanyanya dengan lembut. Papa Owen dan Mama Bellamy terheran-heran dengan kedua anak kembarnya, Alex dan Alexia begitu anti sosial atau berdekatan dengan orang baru, tapi berbeda saat bersama Chelsea.
Sejak saat Chelsea datang sebagai pengantin, Alex atau Alexia begitu antusias, dan bahkan langsung menjadi dekat dengan Chelsea. Tetapi di balik rasa heran mereka, mereka begitu bersyukur setidaknya Alexia adalah teman untuk bermain dan bercerita. Mama Bellamy juga beruntung karena Zane memilih wanita yang sangat tepat dan tentunya Putri dari sahabatnya, yang mereka kira telah tiada bertahun-tahun.
"Aku ingin sekolah bertatap muka,"
UHUK ... UHUK ....
Papa Owen langsung terbatuk-batuk mendengar ucapan putra kembarnya, "Boy, Are you sure you want face to face school?" tanya pria paruh baya tersebut dengan serius.
Alex mengangguk dan melirik ke arah Alexia yang hanya diam, "Alexia yang meminta ku untuk sekolah seperti anak-anak lainnya."
Semua mata langsung tertuju kepada Alexia yang sibuk makan bubur buatan Chelsea. Merasa di tatap, Alexia menadah dan tersenyum. "Aku tidak ingin Alex kesepian karena terus-menerus menjaga ku, Ma." Kata Alexia membuat semua orang saling berpandangan.
"Tapi kalau kamu sekolah, kamu bisa bermain dengan anak-anak lainnya. Memangnya kamu tidak bosan hanya di rumah, berkebun, dan merawat orang penyakitan seperti aku?"
"Alexia!" seru Papa Owen dan Zane secara bersamaan. Chelsea menghela napas panjang dan mengusap kedua telinga anak kembar tersebut.
"Tidak ada yang penyakitan, Sayang. Kamu sehat, hanya saja Tuhan memberikan ini, itu artinya kamu istimewa bagi-Nya." nasihat Chelsea membuat Alexia terdiam sejenak. Alex melirik sang Adik dan mengusap kepala Alexia.
"Tidak ada kata bosan dalam kalimat ku, bila bersangkutan dengan mu, Adik manis."
Melihat interaksi kedua adik kembarnya, membuat Zane tersentuh bukan main. Alexia harus merasakan sakitnya di suntik dan obat-obatan rumah sakit, Alex yang setia mendampingi sang kembaran tanpa mengeluh, hingga di usia 10 tahun ini. Papa Owen melirik sang istri yang hanya diam, pelupuk mata wanita itu sudah terisi air, yang siap untuk menetes.
"Sayang,"
Mama Bellamy menoleh dan langsung menghapus air matanya. "Mereka terlalu cepat berpikir dewasa, aku tidak bisa, Pa." kata Mama Bellamy membuat hati seorang Ibu mana yang tidak sakit. Kedua anak kembarnya berjuang dan saling menguatkan satu sama lain, sedangkan dirinya hanya diam dan tidak melakukan apapun.
Chelsea melirik Zane yang menatapnya juga, wanita itu tampak bingung untuk berkata-kata lagi. "Bagaimana kalau kita bicarakan lagi nanti, sekarang kita sarapan lagi. Jangan menangis, atau Kakak tidak akan membuatkan kalian bubur lagi," ancam Chelsea membuat Alex dan Alexia sontak menggeleng cepat.
"Jangan seperti itu, Kakak tidak adil kepada kami!" ketus Alex dengan Alexia yang mengangguk setuju. Chelsea hanya tersenyum dan kembali duduk di sebelah Zane.
Dentingan alat-alat makan mulai kembali menggema, ada satu orang tambahan di meja makan, yaitu Ibu tiri dari Chelsea yang hanya tersenyum sinis melihat keluarga Lincoln yang begitu lucu di matanya.
"Ternyata anak kecil ini penyakitan, dasar. Uang saja yang banyak, tapi tidak bisa menyembuhkan anaknya sendiri," Hina Ibu Anggun dengan nada pelan, membuat Chelsea langsung menatap wanita paruh baya yang berada di hadapannya.
"Uang keluarga Lincoln memang sangat banyak, bukan berarti kami tidak bisa menyembunyikan penyakit Alexia!" balas Chelsea membuat Ibu Anggun terkejut. Dentingan alat-alat makan langsung terdiam, Ibu Maya bahkan melirik sinis ke arah Ibu Anggun yang benar-benar tidak tahu malunya.
__ADS_1
"Urat malu mu ternyata sudah putus, sudah menumpang hidup, menghina pula! Tidak tahu diri," hina Ibu Tasya begitu menohok hati Ibu Anggun. Mama Bellamy menatap kesal pada wanita yang menjadi Ibu tiri dari sang menantu.
"Kau tidak memiliki hak untuk menghina putri ku! Urus saja kehidupan mu yang benar-benar buruk itu," sahut Mama Bellamy dengan rasa kesal yang sudah di atas kepala. Daniel dan Nicholas langsung menenangkan wanita itu dengan cepat.
"Apakah ucapan ku ini salah? Anak mu itu penyakitan dan rawan juga kalian terkena penyakit di deritanya,"
"Adik ku tidak memiliki penyakit menular, mungkin sifat iri hati mu yang bisa menulari kami!" cibir Zane membuat Chelsea langsung tertunduk. Mungkin salah baginya karena menerima Ibu Anggun untuk tinggal di mansion, karena sifat dan watak Ibu Anggun yang benar-benar keras dan suka meremehkan orang lain.
Bukan hanya dirinya saja yang kena, tetapi setiap hari selalu saja ada pertengkaran atau hinaan yang di lontarkan oleh Ibu Anggun kepada beberapa warga. Wanita itu bagaikan tidak melihat kehidupannya sendiri, haus akan harta membuat Ibu Anggun begitu tamak akan uang. Karena haus akan uang dan selalu menyimpan iri hati, Ibu Anggun bahkan tega menjual perhiasan milik Chelsea dan meminjam uang kesana-kemari hanya untuk bersenang-senang, lalu yang akan melunasinya adalah Ayah Robert dan juga Chelsea.
"Aku iri hati? Bila aku kaya raya, aku tidak sudi untuk-
"Bu, aku mohon sudah lah hentikan!" hardik Chelsea membuat semuanya langsung terkejut, termasuk Ibu Anggun sendiri. "Ibu sudah keterlaluan!"
"Kamu membentak Ibu hanya karena keluarga Lincoln?!" tanya Ibu Anggun tidak percaya. Chelsea tersenyum sinis dan mengeratkan genggaman tangannya pada tangan kekar Zane.
"Aku membentak Ibu bukan tanpa alasan! Keluarga Lincoln sekarang adalah keluarga ku, dan Ibu menghina mereka sama saja Ibu menghina ku!"
"Anak tidak tahu di untung! Begini pembalasan atas jasa ku kepada mu! Aku adalah Ibu mu, Chelsea!"
"Kau-"
"Tidak, jangan. Ini urusan ku dengan wanita ini, Zane." potong Chelsea membuat Zane menggeleng. Tatapan wanita itu berubah menjadi raut kebencian, dan Zane atau keluarga Lincoln lainnya tidak pernah melihat tatapan itu.
Tatapan itu sangat persis seperti Kimberly, batin Mana Bellamy yang tercengang melihatnya.
"Nanny, bawa kembar ke kamar!" titah Chelsea membuat Bibi Maya, pengasuh Alex dan Alexia langsung mengajak kedua bocah kembar itu masuk ke dalam kamar. Mereka menurut dan tidak banyak protes. Setelah kepergian Bibi Maya dan si kembar, Chelsea mengepalkan tangannya dan menatap tajam kepada Ibu tirinya.
"Ibu mengatakan jasa kepada ku? Jasa apa yang Ibu katakan? Ibu tidak pernah melahirkan ku atau memberikan aku kasih sayang yang seharusnya! Aku bukanlah putri mu, dan Ayah bukanlah gudang uang mu!" kesal Chelsea dengan tatapan penuh kekecewaan. Ibu Anggun menatap kesal kepada sang putri dah menunjuk wajah Chelsea.
"Kamu adalah putri ku, setidaknya kamu harus berterima kasih kepada ku!"
"Berterima kasih untuk apa? Berterima kasih karena kau telah membunuh Ibu ku?"
DEG ....
"Membunuh?" gumam Papa Owen dan Mama Bellamy. Zane, Daniel, dan Nicholas bahkan tidak kalah terkejut dengan ucapan dari Chelsea. Melihat wajah tidak tenang dari Ibu Anggun, membuat Chelsea mengerutkan keningnya.
"Kenapa kau begitu gelisah? Padahal aku hanya berbicara asal." kekeh Chelsea membuat Ibu Anggun langsung menatap Chelsea kembali. Wanita itu berdiri, sedangkan Chelsea mengerutkan keningnya.
"Kemari kau! Aku harus mengingatkan mu tentang rasa terima kasih mu itu!" Ibu Anggun menarik lengan Chelsea, membuat Zane marah besar.
"JANGAN MENYENTUH ISTRI KU, WANITA ******!"
DUK ....
Ibu Anggun terjungkal karena dorongan dari Zane. Pria itu membawa Chelsea ke pelukannya dengan erat. Chelsea menangis dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami. "Jangan menangis,"
Ibu Anggun menatap geram, Daniel dan Nicholas langsung berdiri di depan Zane dengan tatapan datar, "Kau tidak bisa menyentuh Chelsea," ujar mereka berdua secara bersamaan.
"Kalian tidak bisa melarang ku, karena Chelsea adalah-"
__ADS_1
"Aku bukan putri mu! Aku adalah Putri dari Kimberly Ryder!"