
Di pagi harinya ....
Suasana desa Mentari seperti biasanya, para warga sibuk menuju sawah dan anak-anak sibuk akan berangkat sekolah. Hanya itu kegiatan mereka setiap hari, termasuk Zane yang hari ini memilih untuk kembali ke rumah sewa, karena sudah seminggu lebih dirinya di desa, sedangkan di perusahaan sudah banyak pekerjaan yang menunggu sejak kemarin.
Setelah perbincangan keduanya, membuat Chelsea dan Zane merasa canggung satu saat lain. Tidak ada yang saling berbicara, membuat Ayah Robert terheran-heran dengan keduanya.
"Kalian berdua baik-baik?"
Chelsea yang sibuk menyiapkan rantang nasi untuk Ayah Robert, sontak menoleh dan mengangguk. "Aku dan Tuan Zane baik-baik saja, Ayah. Kenapa?"
"Aneh saja, baru kemarin kalian saling berpegangan tangan dan sekarang sudah seperti orang asing."
Uhuk ... uhuk ....
Chelsea langsung sigap menepuk-nepuk punggung Zane yang sedang tersedak teh hangatnya. Ayah Robert tersebut tipis melihat reaksi keduanya. Wajah Chelsea memerah padam karena perkataan Ayah Robert yang sepertinya mendengar apa yang mereka bicarakan kemarin.
"Tuan, ini-"
"Panggil aku dengan sebutan Ayah, Zane." sela Ayah Robert dengan tatapan tajam. Zane melirik Chelsea meminta persetujuan, wanita itu hanya mengangguk kecil dan kembali menyiapkan rantang nasi.
"Baiklah, Ayah." jawab Zane membuat senyuman terpatri di wajah Ayah Robert. Pria paruh baya itu menyesap kopinya dan menatap ke arah Chelsea.
"Nak, jangan pikirkan tentang Ibu mu. Menikahlah dengan Zane,"
Zane dan Chelsea menoleh terkejut, Ayah Robert hanya tersenyum tulus ke arah Zane. Sedangkan Chelsea merasa khawatir bila Ayah Robert memang benar-benar mendengar pembicaraan mereka berdua. Ayah Robert berdiri dan mengusap kepala putri semata wayangnya itu.
"Ayah bersalah karena sempat memaksa mu untuk menikahi Reno, tapi Ayah saat ini sadar, bahwa Ayah bukanlah Tuhan yang bisa menentukan jodoh orang." Chelsea hanya diam menatap manik mata Ayah Robert yang sangat mirip dengan Chelsea. Zane bahkan ikut berdiri dan menatap Ayah Robert tak percaya.
"Kamu masih putri kecil, Ayah sampai kapanpun itu, Chelsea. Saat ini yakin dengan pilihan, Ayah." Ayah Robert melirik ke arah Zane yang terdiam, "menikah lah dengan Zane."
DEG ....
"Apa maksud, Ayah?" tanya Chelsea dengan air mata yang sudah lolos. Zane memegang kedua pundak wanita itu.
"Ayah tidak rela bila kau menikah dengan Reno hanya untuk menembus hutang, Ayah. Biarkan itu semua manjadi urusan Ayah," kata Ayah Robert membuat Zane menggelengkan kepalanya.
"Ayah, aku bisa membantu mu untuk melunasi hutang itu!"
__ADS_1
"Kau memang bisa membantu ku, Zane. Tapi hanya satu hal yang harus kau lakukan untuk ku, ini termasuk membantu ku."
Hening. Chelsea menatap Zane dan Ayah Robert secara bergantian. Chelsea mulai bingung dengan keputusannya sendiri, di sisi lain tidak ingin jauh dari Ayah Robert, dan di sisi lain tidak ingin menyakiti Ibu Anggun.
Chelsea menyayangi Ibu Anggun seperti Ibu kandungnya sendiri. Kurangnya kasih sayang yang Ayah Robert berikan kepada Chelsea, membuat Chelsea haus akan kasih sayang. Dan Chelsea baru menemukan figur Ibu dalam diri Ibu Anggun walaupun wanita itu tidak menyukainya.
"Apa itu, Ayah?"
"Menikahlah dengan putri ku,"
Lagi dan lagi lidah Zane merasa kelu untuk menjawab. Walaupun besar harapannya kepada Chelsea yang belum menjawab tawarannya, tetapi Zane tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan hati wanita cantik itu. Jatuh hati telah membuat Zane benar-benar menjadi gila seperti sekarang. Zane menginginkan Chelsea menjadi ibu dari anak-anaknya dan istri seorang Zane seorang. Tetapi semua keputusan ada di tangan wanita cantik itu.
"A ... aku belum bisa memutuskannya,"
Ayah Robert tersebut pilu dan mengusap kepala sang putri dengan penuh kasih sayang. "Jangan pernah menyia-nyiakan pria yang sudah jatuh cinta dengan mu, Chelsea. Jangan menjadi seperti Ayah,"
...****************...
Di halaman belakang rumah, kedua pria berbeda generasi tengah saling beradu tatap selama beberapa menit. Tidak ada siapapun kecuali mereka berdua. Mereka adalah Zane dan Ayah Robert. Ayah Robert sengaja mengajak Zane ke halaman belakang, karena ada hal penting yang ingin Ia sampaikan tentang Chelsea.
"Ayah mendengar pembicaraan kalian berdua kemarin,"
"Maafkan saya, apabila saya telah lancang menyatakan cinta saya kepada putri, Anda." kata Zane dengan bahasa formalnya. Ayah Robert melipat kedua tangannya dan menatap manik mata Zane dengan teliti, seperti mencari sesuatu di sana.
"Apakah benar kau mencintai putri ku?" tanya Ayah Robert memastikan. Ayah Robert tidak ingin putri yang selama ini Ia jaga, menikah dengan pria sembarangan, dan apabila Chelsea menikah dengan Zane, itu tandanya tawaran Reno tidak berlaku kembali.
Sebenarnya Ayah Robert sudah menolak tawaran nikah dari Reno, dengan iming-iming hutang lunas. Tetapi Ayah Robert tentunya berpikir tentang akibatnya yang akan Ia dapatkan. Ia hanya ingin yang terbaik untuk Putrinya selama ini.
"Saya benar-benar jatuh cinta dengan Amora, Tuan Robert." jawab Zane dengan sangat yakin. Mata Ayah Robert memicing penuh keseriusan, menatap manik mata Zane untuk mencari sebuah kejujuran dan ketulusan. Dan Ayah Robert menemukan itu.
"Saya jatuh cinta dengan Putri Anda tanpa adanya alasan yang memberatkan. Kebaikan hati, ketulusan hati, itu lah yang membuat saya jatuh cinta dengan Amora, saya tidak ingin Amora menikah dengan pria yang salah seperti Reno, Tuan Robert." sambung Zane dengan seluruh keseriusannya.
"Kenapa kau memanggilku ku dengan sebutan Tuan?" tanya Ayah Robert dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Zane tersenyum tipis dan mengeluarkan ponselnya.
"Karena Anda adalah Tuan Robert Lewandowski Lemos. King of Business three yang selama ini menghilang selama bertahun-tahun, bukankah itu benar, Tuan Robert?"
DEG ....
__ADS_1
Ayah Robert seketika langsung terdiam kaku. Identitas yang selama ini Ia sembunyikan rapat-rapat ternyata dengan mudahnya di ketahui oleh anak muda seperti Zane. Zane memberikan ponselnya yang menampilkan sebuah foto, foto berisi dua orang pria yang saat ini sudah berpisah bertahun-tahun.
"Apakah Tuan Robert mengenal pria ini?" tanya Zane dengan menunjuk ke arah foto Ayahnya sendiri, Ayah Owen. Seketika mata Ayah Robert membulat lebar dan sontak menatap ke arah Zane yang tersenyum ke arahnya.
"Ka ... kau?"
Zane mengangguk, "Aku adalah Zane Abraham Lincoln, putra sulung dari Owen Gervinho Lincoln dan Bellamy Zoey Lincoln." ungkap Zane membuat Ayah Robert semakin terkejut bukan main. Zane menyimpan ponselnya kembali dan menatap Ayah Robert dengan sendu.
"Papa mencari sahabatnya selama ini, berharap kecelakaan yang menimpa Tuan Robert hanya sebuah impi besar bagi Papaku," kata Zane dengan menatap Ayah Robert yang seperti enggan mengeluarkan suara. Bahkan air mata pria paruh baya itu menetes deras dengan tubuh bergetar menahan tangis.
"Sampaikan maaf ku kepada Papa mu, Zane." jawab Ayah Robert pada akhirnya membuat alis Zane terangkat sepenuhnya.
"Tuan Robert tidak akan kembali ke dunia bisnis?" tanya Zane membuat Ayah Robert langsung menghapus air matanya dengan cepat.
"Jangan membahas tentang dunia bisnis di sini, bahaya." tegur Ayah Robert membuat Zane semakin kebingungan. Sebenarnya apa yang terjadi, hingga Ayah Robert enggan membahas tentang perusahaannya yang masih berkembang pesat dan sekarang berada di kategori kedua dengan perusahaan tersohor, setelah milik Zane.
"Baiklah, Tuan Robert memiliki hutang cerita kepada ku dan Papa!"
Ayah Robert terkekeh geli dan menepuk pundak pria yang ternyata adalah Putra dari sahabat lamanya. "Jadi kau sangat-sangat mencintai putri ku? Apakah kau berniat menikahinya?"
Zane tersenyum tipis, "Aku sudah mengutarakan keinginan ku mempersunting Amora, tapi keinginan ku berselimut dengan tawaran." Ayah Robert tersenyum kembali, pria paruh baya itu mulai mengerti akan pembahasan tawaran.
"Chelsea adalah darah daging ku dengan Kimberly Ryder. Putri yang sangat aku sayangi dan belahan jiwa ku setelah istri ku. Chelsea tumbuh tanpa seorang Ibu, di usia yang masih belia. Selama ini aku kurang memberikannya sebuah kasih sayang, karena aku selalu menyalahkan diriku atas kematian istri ku."
Zane hanya terdiam mendengarkan cerita lama dari Ayah Robert. Zane menjadi teringat dengan gadis kecil berwajah cantik, sangat mirip dengan seseorang. Zane sepertinya harus mencari tahu tentang gadis kecil yang sempat menjadi temannya selama beberapa tahun itu. Walaupun kenangan lama, tetapi Zane sangat mengingat tentang gadis cantik berambut panjang itu.
"Aku tidak akan melarang mu untuk menikahi Putri ku, Chelsea. Aku hanya ingin yang terbaik untuk putri ku, dan pria terbaik pilihan ku adalah dirimu, Zane."
DEG ....
"Tuan-"
"Panggil aku Ayah seperti Chelsea dan kembar memanggil ku," sela Ayah Robert membuat Zane mengembangkan senyuman. Bukankah itu artinya dirinya mendapatkan restu secara tidak langsung dari Ayah Robert?
"Jaga putri ku seperti aku menjaganya, dia wanita yang paruh dan penyayang. Chelsea sangat mirip dengan Ibunya, dan keras kepala seperti diri ku. Bila kau ingin berpisah dengan putri ku kelak, bawalah putri ku kepada ku dengan baik-baik."
Wejangan dari Ayah Robert membuat Zane tersenyum tipis seraya mengangguk mantap. Hatinya sudah mantap untuk mempersunting wanita cantik bagaikan bidadari itu. Zane akan memberitahukan berita ini kepada keluarganya nanti dan termasuk kepada para sahabatnya, Daniel dan Nicholas.
__ADS_1
"Aku akan menjaganya dengan sepenuh hati dan penuh cinta, Ayah."