
Arthur dan Sonia, kedua orang berlawanan jenis itu saling bertatapan. Di mana Arthur menatap wanita di hadapannya dengan tajam, berbeda dengan Sonia yang menatap pria di hadapannya dengan genit. Mereka berdua saat Ini berada di taman belakang mansion Lemos, hanya ada mereka berdua. Bahkan bodyguard dan pekerja kebun pergi entah kemana, membuat Sonia bersorak ria karena hal itu.
"Kita akan menikah," kata Sonia dengan senang, Arthur berdecak sinis mendengarnya.
"Aku menolak," jawab Arthur membuat Sonia langsung menaikkan alisnya tinggi-tinggi.
"But why? Kita ini cocok, kau tampan, dan aku-"
"Bad,"
Sonia memutar matanya malas dan menghela napas panjang, "Mata memang rusak, ya? Mau aku congkel dengan obeng?" tawar Sonia dengan memperagakan gerakan memutar di tangannya.
"Sangat rusak, dan mata ku rusak karena ulah mu, Sonia. Apakah kau sudah gila? Kau mencintai Zane, bahkan kau rela menyingkirkan adikku demi mendapatkan Zane. Kau lupa?" tanya Arthur dengan ketus membuat senyuman antusias Sonia langsung menghilang.
"Kenapa kau membahas hal itu? Padahal Zane dan Chelsea sendiri tidak mengungkitnya," kata Sonia dengan lesu. Arthur terdiam sejenak dan menelisik perubahan raut wajah Sonia yang tiba-tiba berubah.
"Itu perlu, agar kau sadar diri. Kau itu bukan tipe ideal ku. Aku ingin wanita yang masih ... masih tersegel, sedangkan kau?" Arthur menjadi gugup sendiri karena ucapannya, pria itu menatap Sonia yang memang terlihat cantik dengan gaun ketat berwarna hitam di tubuhnya, bahkan proporsi tubuhnya sangat bagus. "Payudara mu kurang besar dan pantat mu terlalu datar!" tambah Arthur membuat Sonia mendelik tajam.
"Kau pria mesum ternyata!" cibir Sonia membuat Arthur tertohok sendiri. Arthur yang ingin membalas cibiran Sonia, langsung di potong oleh wanita itu dengan cepat, "Kau belum itu belum pernah merasakan permainan maut ku! Kau ingin?" tawar Sonia dengan kembali genit.
"A ... apa maksud mu?" tanya Arthur tidak mengerti membuat Sonia kembali mengembangkan senyumannya. Sonia melepaskan blazer dari kedua pundaknya, hingga membuat kedua pundak jenjang dan terbuka itu membuat pemandangan indah di mata Arthur.
GLEK ....
Wanita ini mulai gila, aku harus melarikan diri! Batin Arthur yang mulai panas dingin sendiri karena ulahnya.
"Kenapa? Kau gugup?"
"Ja ... jangan berbicara sembarangan, mana mungkin aku gugup hanya karena wanita berpantat datar-"
"Oh ya?"
Mata Arthur langsung mendelik saat wanita di hadapannya secara tiba-tiba berjinjit dan mengalungkan tangannya di leher Arthur, bahkan Sonia dengan berani menempelkan payudara sintalnya pada bagian dada Arthur.
"Bagaimana? Besar kan?" tanya Sonia dengan mata genitnya. Wanita itu sengaja menggoda Arthur agar jatuh dalam perangkapnya.
"Iya-maksud ku tidak!" jawab Arthur dengan cepat dan mencoba menjauhkan Sonia dari tubuhnya. Tetapi wanita itu seperti lem yang lengket, semakin Arthur berusaha menjatuhkannya, maka Sonia semakin mengeratkan pelukannya.
"Sonia, lepaskan aku. Bagaimana kalau ada yang melihat kita!" tutur Arthur dengan menatap sekitarnya dengan was-was. Tetapi Sonia seperti tidak memiliki telinga, wanita menggelengkan kepalanya dan semakin bergelayut manja.
"Lalu kenapa? Biarkan saja mereka tahu, kalau kita memiliki hubungan, Arthur." jawab Sonia membuat Arthur langsung menjauhkan kepala Sonia darinya.
"We don't have any relationship! Camkan itu!" tekan Arthur setelah berhasil melepaskan pelukan Sonia dari tubuhnya. Sonia melipat kedua tangannya di depan dada dan tersenyum miring dengan jawaban pria di hadapannya.
"Akan memiliki hubungan, cepat atau lambat kau akan melupakan cinta mu kepada adik mu sendiri, begitu juga aku kepada Zane."
DEG ....
Arthur menatap Sonia dengan tatapan yang sungguh sulit di artikan. Sonia mengangkat bahunya acuh dan langsung melenggang pergi begitu saja, meninggalkan Arthur yang berubah menjadi patung. "Darimana dia mengetahuinya?"
...****************...
__ADS_1
Di esok harinya, Arthur menatap sang Ayah yang menatapnya dengan tak biasa. Ayah Robert menatap penampilan sang putra dengan teliti dan tersenyum kecil. "Kau ingin menemui Sonia, Nak?" tanya Ayah Robert membuat Arthur menghela napas.
"Tidak. Aku ingin menemui rekan kerja ku, Ayah." Jawab Arthur dengan lesu. Setelah kepulangan Sonia kemarin yang sungguh meresahkan bagi Arthur, dan di tambah Sonia juga meninggal satu barang yang cukup berharga di kamarnya, entah bagaimana caranya wanita itu mengetahui kamarnya dan masuk begitu saja.
"Kenapa kau terlihat tidak bersemangat? Bukankah kau sudah di kecup manja oleh Sonia kemarin?" goda Ayah Robert membuat Arthur mendelik setelah itu.
"Kapan? Di mana? Ayah jangan membual!" ketus Arthur dengan raut wajah mulai tidak bersahabat. Ayah Robert terkekeh geli dan melirik ke dalam kamar sang putra, dan tatapannya jatuh pada satu benda milik seorang wanita yang masih tergeletak di sofa kamar Arthur.
"Apa itu yang hitam?" tanya Ayah Robert yang langsung masuk begitu saja, Arthur menoleh terkejut saat menyadari sesuatu.
"Ayah, itu-"
"Ini bra milik siapa, Arthur?"
Tamat lah riwayat ku sekarang! batin Arthur dengan mengacak rambutnya dengan frustasi.
Ayah Robert melirik ke arah sang putra dan meletakan benda kacamata besar itu kembali, "Kau sudah melakukannya?"
"What? Mana mungkin, aku bahkan tidak sudi menyentuhnya!" tampik Arthur dengan cepat membuat alis Ayah Robert langsung terangkat tinggi-tinggi.
"Kau seperti memiliki dendam pribadi dengan Sonia. Dasar anak muda jaman sekarang, kalau suka ya langsung menikah, kalau dia sudah di ambil orang, baru menangis." ejek Ayah Robert membuat Arthur langsung tertampar seketika. Pria itu terdiam sejenak dan menatap punggung sang Ayah yang sudah menghilang dari pandangannya.
"Kenapa Ayah mengatakan itu, seolah-olah dia tahu tentang perasaan ku kepada Chelsea?" gumamnya dengan cemas. Arthur langsung pergi menyusul sang Ayah dengan cepat.
"Ayah," panggil Arthur membuat Ayah Robert menoleh. "Ayah ingin pergi ke mana?" tanyanya dengan menatap sang Ayah yang seperti sudah siap untuk pergi.
"Chelsea meminta Ayah datang dan mengelus perutnya. Kau ingin ikut?"
"Tidak ada penolakan, kau harus ikut!" paksa Ayah Robert tanpa ingin mendengar kata 'tidak' dari sang putra. Arthur hanya menghela napas dan pasrah saat Ayah Robert menarik lengannya untuk ikut. Secara diam-diam, Ayah Robert tersenyum tipis saat rencananya berjalan sesuai rencananya.
Bagaimana caranya, Arthur harus menikah dengan Sonia. batin Ayah Robert pantang menyerah. Setelah masuk ke dalam mobil, Arthur langsung menjalankan mobil mewah tersebut keluar dari pekarangan dan segera menghubungi Calvin.
"Ada apa?"
"Tolong atur jadwal pertemuan ku dengan Tuan Tirta. Aku memiliki urusan mendadak," kata Arthur membuat Calvin rasanya seperti di serang lebah.
"Hey! Kenapa mendadak sekali, restoran sudah aku-"
"Cancel saja apa susahnya. Kau tahu Ayah bagaimana kan!"
Arthur langsung mematikan sambungan telepon dan melirik Ayah Robert yang menatapnya sinis, "Jangan membawa nama Ayah dalam urusan mu, Nak." kata Ayah Robert membuat Arthur mengangguk kecil.
Tak lama, mobil tersebut masuk ke dalam pekarangan mansion Lincoln, di mana mata Arthur langsung menyipit saat melihat sosok wanita yang begitu familiar.
"Sonia?"
Nama Sonia langsung lolos begitu saja, Ayah Robert tersenyum mendengarnya, "Ternyata mata mu sungguh jeli, Nak." goda Ayah Robert membuat Arthur menjadi salah tingkah sendiri.
"Jangan menggoda ku, mana mungkin mata ku langsung cerah melihat wanita galak itu." kesal Arthur dan membiarkan Ayah Robert turun menemui Chelsea yang baru saja keluar untuk menyambut kedatangan mereka.
"Ayah!" Chelsea dengan perut besarnya, langsung memeluk Ayah Robert dengan senang. Zane tersenyum menyapa Ayah mertuanya dengan sukacita.
__ADS_1
"Ayah di sini, kau ingin perut mu Ayah elus kan?" tanya Ayah Robert membuat Chelsea langsung mengangguk antusias.
"Iya, Ayah."
"Sejak kemarin Amora merengek karena baby twist bergerak tanpa henti, Ayah. Bahkan saat aku elus pun, gerakan mereka semakin bertambah." ungkap Zane membuat Ayah Robert tersenyum cerah.
"Itu artinya mereka merindukan Kakek. Ayo masuk, biarkan Kakak mu berduaan dengan Sonia." kata Ayah Robert membuat dahi Chelsea langsung mengerut bingung.
"Kak Arthur ikut? Mana?"
Raut wajah Zane langsung berubah drastis mendengar nama Arthur di sebutkan. Pria itu seperti memiliki dendam pribadi dengan Arthur, dan salah satu dendam pribadinya adalah perasaan Arthur kepada istrinya, Chelsea.
"Kenapa dia harus ikut? Aku hanya meminta Ayah saja yang kemari!" gerutu Zane dengan menatap Arthur yang baru saja keluar dari mobil.
"Jangan bertanya, Ayah berencana untuk menikahkan Sonia dengan Arthur. Sonia sudah setuju, tapi Arthur masih beku." ungkap Ayah Robert dengan santai membuat Chelsea langsung bersorak senang, lain hal dengan Zane yang langsung bernapas lega karena sebentar lagi saingannya akan menghilang satu lagi.
"Langsung nikahkan saja aku tidak keberatan, kalau Arthur menolak, potong saja burung merpati nya, Ayah." celetuk Zane memberikan dukungan kepada sang Ayah mertua.
"Itu urusan Ayah, sekarang ayo masuk!" ajak Ayah Robert dengan menatap ke arah Arthur yang sedang fokus menatap Sonia yang sibuk dengan selang air. Tanpa sadar, Arthur melipat kedua tangannya di depan dada dan tersenyum tipis melihat aktivitas sederhana dari Sonia. Siapa sangka, Sonia yang Ia anggap sebagai wanita galak, ternyata bisa menyiram tanaman di halaman depan.
"Aku mengira kau tidak bisa memegang selang air," ejek Arthur membuat Sonia terkejut dan tak sengaja mengarahkan selang air yang ia pegang pada Arthur.
"S***, apa yang kau lakukan?!"
"Ma ... maafkan aku, aku tidak sengaja." Sonia bergegas mematikan selang air tersebut dan mendekati Arthur yang sudah basah kuyup karena ulahnya.
"Pakaian ku jadi basah-"
"Kenapa kau malah menyalahkan ku? Kau yang mengejutkan aku, jadi aku yang sepatutnya marah kepada mu!" serobot Sonia dengan tatapan tak bersahabat. Arthur berdecak kesal dan mencoba untuk menjauhkan air dari kemejanya, tapi itu mustahil.
"Seharusnya aku menolak untuk ikut Ayah kemari," gumam Arthur yang masih bisa Sonia dengar. Wanita itu tersenyum cerah dan mendekati Arthur lebih dekat.
"Kau merindukanku?"
Arthur menadah kesal, "Rindu? Bahkan aku lebih merindukan kucing ku daripada seekor singa," sindir Arthur membuat Sonia memutar matanya malas.
"Ayo masuk, aku akan mengambilkan pakaian baru-"
"Jangan menyentuh ku!" Arthur menepis tangan Sonia yang hendak menarik tangannya, "Kita musuh!"
"Apa?"
"Kau tidak dengar? Kita musuh, aku dan kau adalah musuh!" Tekan Arthur membuat Sonia mengerjabkan matanya tak habis pikir. Bahkan terlihat jelas kalau Arthur mengibarkan bendera perang kepada dirinya. Sonia menyunggingkan senyum miringnya dan bersikap acuh kembali.
"Baiklah, kita musuh! Kembalikan bra hitam ku!"
"Kau yang menaruh di kamar ku, kenapa malah aku yang mengambilnya? Kau sungguh aneh," kata Arthur tak habis pikir dengan ucapkan Sonia yang tak masuk akal. Seumur-umur, Arthur tak pernah memegang benda seorang wanita.
"Sengaja, agar kau menyimpannya. Siapa tahu saat kita menikah-"
"JANGAN MIMPI! KITA MUSUH SEKARANG!"
__ADS_1
Pria ini sungguh lucu. Aku menyukainya, batin Sonia.