Wanita Sederhana Pilihan CEO

Wanita Sederhana Pilihan CEO
Kunci dari Kematian Kimberly


__ADS_3

"Ayah!"


DEG ....


Ayah Robert yang baru saja menuju anak tangga langsung di kejutkan dengan kedatangan sang putri kesayangan, di belakang sana ada Zane yang hanya berjalan santai sembari menggandeng lengan Alex yang terlihat tak kalah santai. Ayah Robert merasakan pelupuk matanya mulai memanas, bergegas menuruni anak tangga dan menyambut kedatangan Chelsea.


"Princess Chelsea!" panggil Ayah Robert membuat Chelsea yang kebingungan, langsung menoleh ke arah belakang.


"AYAH!"


Ayah Robert menyambut pelukan hangat sang putri, yang sudah hampir dua bulan ini tidak Ia peluk. Zane hanya tersenyum tipis dan melirik Alex yang hanya diam. Chelsea mengeratkan pelukannya dan menangis sendu di pelukan sang Ayah.


"Chelsea merindukan Ayah!" cicit Chelsea dengan nada pelan. Ayah Robert tak kalah erat memeluk tubuh sang putri dan mencium puncak kepala wanita itu.


"Ayah juga merindukan kamu, Nak." jawab Ayah Robert membuat tangisan Chelsea semakin menjadi-jadi. Arthur, Calvin, dan si kembar yang baru saja tiba di mansion, di kejutkan dengan kedatangan Chelsea dan Zane.


"KAKAK!" panggil Ashton dan Ashley secara bersamaan. Ayah Robert melepaskan dan membuat Chelsea langsung menoleh. Kedua matanya membulat lebar saat melihat kedua adik kembarnya yang sungguh berbeda. Ashton dan Ashley langsung memeluk tubuh Kakak perempuan mereka dengan erat.


Calvin berdiri di samping Zane setelah membungkuk hormat kepada pria tersebut. Arthur hanya berdiam diri, saat melihat pemandangan yang sungguh langka dan baru sekali ini Ia melihat Chelsea berpelukan dengan kedua adiknya.


"Kakak kenapa tidak pernah ke desa? Kami merindukan Kakak!" lirih Ashley membuat Chelsea terkekeh geli dan mengusap rambut hitam legam kedua anak kembar itu.


"Apakah Kakak sudah melupakan kami?" tanya Ashton membuat Chelsea langsung menggeleng sebagai jawaban.


"Mana mungkin kakak melupakan kalian. Kakak setiap hari selalu merindukan kalian," balas Chelsea dengan kembali memeluk tubuh Ashton dan Ashley dengan erat.


Zane mendengus kesal dan melipat kedua tangannya. Hatinya bergemuruh saat melihat Chelsea berkali-kali memeluk erat kedua Adiknya, tapi ada yang lebih membuatnya tak tenang, yaitu Arthur. Tatapan pria itu tampak sangat berbeda bila kepada Chelsea, Zane memicingkan matanya curiga saat setiap kali Arthur berkedip mata.


"Sayang," panggil Zane yang mulai mendekat. Ashton dan Ashley sontak menoleh dan tersenyum kepada Zane. Pria itu tampak sangat gagah dengan pakaian formal dan gaya rambutnya yang benar-benar seperti anak muda.


"Kak Zane!" sapa Ashley dengan girang dan memeluk sejenak pria kekar tersebut. Zane membalasnya tanpa ragu, Chelsea tersenyum dan mengusap ujung matanya. Ayah Robert mendekat, mengelus rambut sang putri.


Chelsea terkejut saat Papa Owen mengatakan bahwa Ayahnya ada di kota dan Zane langsung membawa sang istri pergi ke mansion. Zane awalnya tidak asing dengan mansion yang tak kalah megah dengan mansion milik keluarga Lincoln. Zane merasa sudah pernah kemari, tapi dirinya tidak tahu kapan itu.


"Ayah kenapa tidak menghubungi ku bila sudah di kota? Dan apa ini?" tanya Chelsea dengan menatap setiap penjuru bangunan megah tersebut dengan perasaan tidak menentu. Walaupun Chelsea sudah mengetahui tentang identitas asli sang Ayah, tetapi Chelsea ingin mendengarnya langsung.


Ayah Robert tampak terdiam sejenak, "Mansion ini adalah kediaman Ayah dan Ibu mu, Nak." jawab Ayah Robert membuat napas Chelsea seperti tercekat di tenggorokan.


"Itu artinya, tempat aku tumbuh selama tujuh tahun bersama Kak Arthur?" tanya Chelsea memastikan. Arthur mendekat dan langsung merangkul pundak sang Adik, dan Zane melihat hal itu.

__ADS_1


"Benar, hanya saja Ayah sudah mengubah beberapa bagian di mansion, termasuk kamar mu juga." balas Arthur dengan tak lupa mencolek hidung sang Adik.


Apa-apaan pria ini! Berani sekali mengambil start ku! batin Zane dengan tangan terkepal.


Ashley menyenggol lengan Ashton yang berdiri di sebelahnya. Kedua anak kembar itu seperti menyadari sesuatu. "Ada apa?" tanya Ashton.


"Lihat," Ashley menunjuk Zane dengan dagunya. Ashton meringis melihat wajah datar dan juga merasakan bahwa hawa di sekitarnya sudah berubah menjadi aneh.


"Sepertinya Kak Zane cemburu dengan Kak Arthur," bisik Ashley, langsung saja Ashton menatap Arthur yang tampak merangkul Chelsea di sana.


"Ah, pantas saja atmosfer di sini berubah," gumam Ashton dengan menggaruk tengkuknya.


...****************...


Kini, di sebuah ruang kerja milik Ayah Robert, ada Zane, Calvin dan Arthur, termasuk Ayah Robert. Keempat pria berbeda generasi itu hanya diam dengan menatap pria paruh baya yang mengetuk-ngetuk meja kerjanya dengan raut wajah datar.


"Chelsea?"


"Istri ku berada di taman bersama kucingnya, Ayah." jawab Zane membuat Ayah Robert tersenyum kecil. Terlihat raut wajah pria itu tampak masam, karena Chelsea lebih memilih bersama kucing pemberian Arthur, daripada bersamanya.


"Twist dan Alex?" tanya Ayah Robert dengan melirik Calvin yang sudah memasang wajah datar.


"Mereka di taman samping, sedang memberi makan Loca." sahut Arthur dengan melirik Zane dengan pikiran tak menentu.


"Awasi ketiga anak itu. Loca masih belum terbiasa dengan kedatangan mereka," titah Ayah Robert membuat Calvin langsung mengangguk. Zane menatap ruang kerja milik Ayah mertuanya dengan teliti. Terdapat beberapa frame foto dan pajangan foto yang di tutupi oleh kain putih di belakang sana. Zane memiringkan kepalanya, tanpa di buka pun Zane sudah mengetahui siapa foto di balik kain putih itu.


"Istri Ayah sungguh sangat cantik," puji Zane tanpa mengalihkan pandangannya dari pajangan foto di sana. Ayah Robert menoleh dan tersenyum tipis mendengar pujian sang menantu.


"Kimberly memang sangat cantik, dan kecantikannya menurun kepada putri ku." jawab Ayah Robert dengan melirik pada frame foto berisi foto Chelsea saat masih sekolah menengah pertama saat itu. Rambut panjang dengan senyuman yang sungguh mirip Kimberly, membuat Ayah Robert seketika merindukan wanita yang masih bersemayam di hatinya.


"Ayah tidak ingin menikah kembali?" tanya Arthur membuat Zane, Calvin, dan Ayah Robert menoleh terkejut. Arthur hanya ingin Ayahnya bahagia dengan wanita di cintai, walaupun itu sangat mustahil karena terlihat sangat jelas dan nyata bila pria yang menjadi Ayah angkatnya itu, begitu mencintai istri nya.


"Sampai kapanpun, Ayah tidak akan mengkhianati cinta Ibu mu, Arthur. Kimberly masih hidup walaupun abu-abu di sini," Ayah Robert menyentuh dadanya yang bergemuruh. Zane hanya menghela napas panjang.


"Ayah, bagaimana dengan perkembangan kasus kecelakaan itu?" tanya Zane mencoba untuk mengalihkan topik awalnya. Suasana ruangan kembali menjadi tegang, tatapan keempat pria tersebut menjadi tajam seketika.


"Dia akan segera datang, beberapa-"


TOK ... TOK ....

__ADS_1


Pintu terbuka setelah di ketuk beberapa kali. Terlihat seorang pria yang cukup muda 5 tahun dari Ayah Robert, masuk dengan masuk sesuatu.


"Selamat datang, Tuan Arjun!" sapa Ayah Robert membuat pria berpakaian formal itu tersenyum tipis dan membungkuk, Arjuna Bhagawanta. Pria yang berprofesi sebagai pengacara pribadi dari keluarga Lemos, sekaligus pria yang sudah Ayah Robert anggap sebagai Adik nya sendiri.


"Terima kasih, Tuan Robert." Tuan Arjun mendekat dan menyapa keempat pria asing tersebut. Zane menelisik penampilan pria di hadapannya, pria yang baru pertama kali Ia temui.


"Perkenalkan, dia adalah Arjuna Bhagawanta. Pengacara pribadi keluarga Lemos," kata Ayah Robert membuat Arthur, Calvin, dan Zane langsung menjabat tangan pria di hadapannya.


"Mereka adalah keluarga ku, Zane adalah menantu ku, lalu Arthur adalah putra sulung ku, dan pria di samping nya adalah asistennya." jelas Ayah Robert dengan memperkenalkan ketiga pria di hadapannya kepada Ayah Robert.


"Senang bertemu dengan kalian," ujar Tuan Arjun yang langsung mendudukkan dirinya di sebelah Calvin. Kembali dengan suasana tegang dan hening.


"Kau mendapatkan sesuatu, Arjun?" tanya Ayah Robert dengan nada non formal. Tuan Arjun menoleh dan mengangguk.


"Banyak kejanggalan dalam kasus kecelakaan 17 tahun yang lalu, Tuan. Kecelakaan tersebut seharusnya begitu memuncak selama beberapa bulan kedepannya, tetapi ..." Tuan Arjun memberikan sebuah kertas putih dan juga flashdisk, "Ada yang menguap stasiun televisi dan beberapa oknum polisi untuk menutup kasus tersebut." ungkap Tuan Arjun membuat Ayah Robert langsung mengambil kertas dan flashdisk tersebut.


"Berarti flashdisk ini berisi video?" tanya Arthur dengan menunjuk flashdisk di genggaman sang Ayah.


Tuan Arjun menggeleng, "Hanya ada 2 voice berdurasi kurang dari 30 detik, dan 1 video saat kecelakaan tunggal itu terjadi, Tuan Arthur."


Zane terdiam dengan tatapan tajam, pria itu seolah-olah terbungkam dengan kasus kecelakaan yang menimpa keluarga Lemos 17 tahun yang lalu. "Kasus ini ada suap uang kepada oknum polisi yang menangani kasus kecelakaan, Ayah. Bukankah itu termasuk dalam kasus tindak pidana?" tanya Zane membuat Tuan Arjun mengangguk.


"Benar, Tuan. Saya sudah menyelidiki siapa oknum polisi yang di suap, dan siapa yang menyuap. Ini datanya," Tuan Arjun kembali memberikan sebuah map merah, Zane mengambilnya dan membaca lembaran tersebut.


"Bagas Widyonindito, Wisnu Pratama, dan Juan Manuel." gumam Zane. Arthur mengambil alih map tersebut dan terdiam sejenak.


"Benar, mereka adalah oknum polisi yang ikut menyelidiki kasus kecelakaan Tuan Robert 17 tahun yang lalu," balas Tuan Robert membuat pria paruh baya tersebut mengepalkan kedua tangannya.


"Itu artinya bukan hanya satu pihak yang di suap. Aku benar-benar tidak akan memaafkan kalian, dan wanita itu." lirih Ayah Robert membuat Zane langsung teringat sesuatu.


"Ayah, ada yang ingin aku tanyakan!"


Ayah Robert mengalihkan pandangannya dan mengerut kening, "Apa itu, Zane?"


"Apakah benar bahwa Ibu Anggun menjadi dalang dalam kecelakaan tersebut?" tanya Zane membuat Ayah Robert dan ketiga pria lainnya sontak terkejut. Zane menatap serius pada Ayah mertuanya, berharap pertanyaan mendapatkan jawaban.


"Ayah tidak tahu," jawab datar Ayah Robert. Zane tersenyum miring, pria itu tahu bahwa Ayah Robert menyembunyikan sesuatu dari dirinya, bahkan Arthur tidak tahu menahu.


"Ayah benarkah itu?!" Kini giliran Arthur yang bertanya. Ayah Robert mengusap wajahnya yang berdenyut.

__ADS_1


"Kenapa kau bertanya seperti itu, Zane?" Alih-alih menjawab, pria itu malah bertanya balik dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


"Chelsea yang mengatakannya, dan Ibu Anggun tampak ketakutan karena ucapan asal dari istri ku." beber Zane membuat Ayah Robert terdiam kaku.


__ADS_2