
"Kau sudah menyerahkan semua tentang Anggun ke stasiun televisi dan sudah menyebar luaskannya?" tanya Ayah Robert kepada Calvin yang setia berdiri di sampingnya.
"Sudah, Tuan. Berita itu akan keluar sebentar lagi," jawab Calvin dengan menatap iPad miliknya. Ayah Robert tersenyum miring dan membenarkan jas hitamnya.
"Atur konferensi pers ku hari ini, aku tidak sabar melihat reaksi dari Anggun." kata Ayah Robert dengan tatapan datar, Calvin membungkuk sebagai jawaban dan mengikuti langkah pria empat anak itu keluar dari area lorong rawat inap Chelsea.
Rasa geram Ayah Robert semakin bertambah karena kasus penembakan di ballroom Gervinho Hotel's beberapa hari yang lalu, hampir saja membuat nyawa empat orang melayang karena kejadian itu. Bila saja Zane tidak bergerak cepat bersama membawa Chelsea ke rumah sakit, dan Daniel mendapatkan perawatan intensif, maka bisa di bayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Kau sudah mencari tahu, siapa dalang dari penembakan itu?" tanya Ayah Robert tanpa menoleh ke arah Calvin yang berjalan di sampingnya.
"Saya, Tuan Arthur, dan Tuan Nicholas sudah mendapat titik terang. Untuk langkah selanjutnya, Tuan Nicholas yang akan turun tangan." jawab Calvin seadanya. Sebenarnya pria itu cukup meragukan kemampuan Nicholas yang ingin mencari tahu sendiri, tetapi keraguan itu langsung di tepis saat melihat rekaman CCTV di luar basement hotel, yang di tunjukkan oleh Nicholas.
"Nicho? Sepertinya dia mengetahui banyak hal, minta Nicholas untuk datang ke mansion!" tutur Ayah Robert membuat Calvin mengangguk tanpa bertanya apapun lagi.
TING .....
Calvin menghentikan langkahnya dan menatap iPad yang terdapat notifikasi dari salah satu media televisi, Calvin menyeringai kecil melihat berita Ibu Anggun yang sudah tersebar sangat cepat. "Tuan, lihat berita ini!"
Ayah Robert menoleh dan menatap layar iPad, senyuman miring sudah terpampang jelas di sana, "Pastikan berita itu tidak redup sebelum waktunya. Dan jangan sampai kedua putra kembar ku mengetahui berita ini sebelum konferensi pers tiba!"
"Baik, Tuan!"
Berjalan menuju lift, mereka berdua mengurungkan niat untuk menjenguk Chelsea hari ini, jadi hanya memastikan bahwa Ashley ganti perban. Anak remaja 17 tahun itu sudah cukup pulih dari luka serempet peluru di pelipisnya, dan benar saja, luka itu berbekas.
"Tuan," panggil Calvin membuat Ayah Robert melirik kecil.
"Bagaimana dengan hak asuh Tuan Muda Ashton dan Ashley?" tanya Calvin penasaran. Sebenarnya dirinya tidak berniat untuk bertanya perihal hak asuh, tetapi entah kenapa mulutnya begitu gatal.
"Ashton dan Ashley ikut dengan ku atas kemauan mereka. Bila Anggun keberatan, maka terpaksa aku harus mengeluarkan semua bukti selama ini," jawab Ayah Robert dengan begitu tenang. Tidak ada raut wajah penyesalan atau bahkan sedih sedikit. Calvin mulai bertanya-tanya sekarang.
"Apakah selama ini Nyonya Anggun mengetahui tentang status pernikahan ini?" tanya Calvin yang mulai merutuk dirinya sendiri.
"Kau ternyata jauh lebih cerewet bila tidak ada Arthur," sindir Ayah Robert membuat Calvin hanya tersenyum canggung.
"Maaf, Tuan. Mulut saya-"
"Selama ini aku memalsukan status pernikahan siri ini, Anggun tidak akan pernah bisa meminta harga gono-gini kepada ku, dengan alasan apapun. Karena semua harta ku, sudah terbagi." sela Ayah Robert tanpa ragu mengungkapkan status nikah sirinya. Calvin mulai mengerti, dari cerita Arthur dulu kepadanya, bahwa Ayah Robert mengasingkan diri ke desa untuk menghukumnya, entah benar atau tidak, Calvin memilih diam.
"Aku menikahi Anggun secara siri, bukan semata-mata dia mengandung Ashton dan Ashley dulu. Tapi aku memiliki misi hingga saat ini, yang berhubungan dengan Anggun." tambah Ayah Robert membuat Calvin hampir saja jantungan. Padahal di pikirannya, hal itu yang sedang ia tanyakan, tapi ternyata Ayah Robert sudah menjawab pertanyaan lebih dulu.
Ayah Robert tersebut kecil melihat reaksi Calvin yang begitu terkejut, "Cal, selama bertahun-tahun lamanya, kau dan putra ku Arthur sudah berteman. Aku mengutus mu menjadi asisten Arthur, bukan sekedar bekerja. Kau ingat kata-kata ku dulu?"
__ADS_1
TING ....
Pintu lift terbuka, Calvin dan Ayah Robert keluar dan langsung bergegas menuju mobil mereka, yang sudah siap di teras rumah sakit. Setelah itu, Calvin menatap pantulan Ayah Robert dari kaca depan, "Anda di latih oleh orang-orang kepercayaan Anda, untuk menjaga Tuan Arthur. Karena hanya saya yang Arthur miliki sejak kecil,"
"Cal, aku menyayangi mu seperti aku menyayangi anak-anak ku. Aku melatih mu dengan keras, bukan berarti kau harus selalu di samping Putra ku. Kau harus menikah dan memiliki keluarga, jangan membuat ku kecewa karena dirimu." Ungkap Ayah Robert dengan sangat tulus, hingga membuat pelupuk mata Calvin memanas.
...****************...
Ibu Anggun, wanita itu menatap Lona yang tampak tenang seraya memainkan gelas minumannya.
"Kau sengaja melakukan ini kepada ku?!" tanya Ibu Anggun dengan emosi yang siap meletup-letup. Lona menadah dari layar ponsel dan mengerutkan keningnya, tentu saja wanita itu berpura-pura tidak mengerti dengan ucapan Ibu Anggun.
"What do you mean?"
Ibu Anggun terkekeh kesal dan menyodorkan sebuah bungkus bekas bubuk dari obat tidur. Lona hanya diam tidak berekspresi atau bereaksi apapun, saat Ibu Anggun menyodorkan bungkus putih itu kepadanya.
"Ini milik mu kan?! Kau sengaja memberikan aku obat tidur di minuman ku kan? Jawab aku!" desak Ibu Anggun yang sudah mengeluarkan taringnya. Lona tersenyum miring dan meletakkan gelas minumannya.
"Oh ayo lah, Anggun. Jangan bertindak bodoh dengan memfitnah ku tanpa bukti, kau bisa aku laporkan-"
BRAK .....
"KATAKAN SAJA KALAU MEMANG BENAR INI MILIK MU! JANGAN BERTELE-TELE!" hardik Ibu Anggun membuat beberapa pengunjung club malam menoleh ke arah mereka. Lona pun menoleh dan menunduk meminta maaf, dirinya harus tenang agar rencananya kali ini berjalan mulus sesuai ekspektasi.
Bukan hanya itu, semua rekaman CCTV yang mengarah kepadanya, saat malam itu, benar-benar sudah di musnahkan oleh Robert, dan menyisakan rekaman Ibu Anggun yang di nikmati oleh enam pria, dan Lona yang di nikmati oleh satu bodyguard, dan semua itu rekayasa.
"Bohong! Mana mungkin kau ikut meminum obat tidur!" kata Ibu Anggun dengan tawa renyah. Lona mengeluarkan ponselnya dan memberikannya kepada Ibu Anggun. Rekaman CCTV yang mengarah kepada Lona sesaat Ibu Anggun di bawa oleh bodyguard. Ibu Anggun merampas ponsel tersebut dan melihat dengan seksama rekaman CCTV, dimana Lona juta ikut masuk ke dalam pengaruh obat tidur hingga terhuyung ke lantai.
Lona menampilkan senyuman miring secara tipis dan mengambil kembali ponselnya, "You believe now? Aku juga ada di kamar tepat di sebelah kamar mu, bahkan aku sudah tidak virgin lagi, hiks ..."
Dan sandiwara seorang Lona pun di mulai sepenuhnya, Lona benar-benar menangis mengeluarkan air mata buayanya. Mana mungkin dirinya menangis sungguhan, hanya masalah virgin, bahkan dirinya saja masih perawan.
Ibu Anggun tanpa memperdulikan Lona, langsung berjalan cepat menuju kamar di mana Lona di nikmati. Lona yang melihat kepergian Ibu Anggun, mulai melipat kedua tangannya dan menghapus air matanya. "Sekali aku memiliki dendam, maka dendam itu harus di tuntaskan." gumamnya dengan menyeringai.
Lona memilih untuk menyusul Ibu Anggun dengan santai, wanita itu mengerutkan keningnya saat melihat Ibu Anggun yang terjatuh ke lantai dengan wajah pias.
"Kenapa kau duduk di lantai?" tanya Lona tidak mengerti. Wanita itu menatap seisi kamar dengan terkejut, di mana banyak foto-foto vulgar milik Ibu Anggun, entah itu sebelum menikah atau beberapa hari yang lalu, semuanya benar-benar jelas tanpa ada yang di blur sedikitpun.
"SIAPA YANG BERANI MENEMPEL SEMUA INI!" hardik Ibu Anggun dengan cepat langsung merobek semua foto yang tertempel hampir memenuhi kamar tersebut. Lona yang masih tercengang hanya diam dan arah pikirannya kepada ulah Robert.
Apa ini rencana Tuan Robert? Batin Lona.
__ADS_1
KRAK .....
Beberapa foto sudah terbagi menjadi beberapa bagian. Tak lama, tiba-tiba saja televisi di kamar tersebut menyala dengan sendirinya, membuat Lona dan Ibu Anggun sontak menoleh terkejut. Kedua mata Ibu Anggun rasanya ingin lepas, saat melihat rekaman dan foto-foto vulgarnya di tayangkan di televisi dengan beberapa rumor yang tidak bisa Ibu Anggun elak.
"A ... apa ini? Siapa yang melakukannya ini?!" gumam Ibu Anggun penuh tanda tanya. Lona mendekati televisi dan menyeringai sinis.
"Wow, kau menjadi artis!" ejek Lona tanpa menoleh Ibu Anggun yang tengah berapi-api, seraya menunjuk ke arah layar televisi.
"APA MAKSUD UCAPAN MU, HAH?!"
"Kata orang-orang, siapapun yang berhasil masuk ke televisi, adalah artis. Jadi kau seorang artis sekarang!" jelas Lona dengan girang. Tangan Ibu Anggun terkepal kuat dan langsung mendekati Lona dengan perasaan marah.
PLAK .....
"JAGA UCAPAN MU, JA LA NG!"
Lona mengusap sudut bibirnya, "Kau meneriaki diri mu sendiri, Anggun. Padahal aku hanya mengatakan yang sebenarnya, kenapa-"
"DIAM! AKU BILANG DIAM!" sela Ibu Anggun dengan menunjuk wajah Lona dengan emosi. "Kau meremehkan ku ternyata, aku bukan-"
"Selamat siang Tuan Robert."
Ucapan Ibu Anggun tergantung dan menoleh ke arah televisi. Lona menepis tangan Ibu Anggun dan memilih untuk pergi dari kamar, Ibu Anggun merasa dadanya begitu sesak saat melihat suaminya berada di televisi, dengan penampilan yang benar-benar berbeda.
"Ro ... Robert?" Gumam Ibu Anggun yang kembali mendudukkan dirinya di atas kasur. Tidak peduli dengan tebaran foto miliknya, kini Ibu Anggun memilih untuk fokus dengan konferensi pers yang di adakan oleh Robert.
Di samping Robert, sudah ada Arthur, Calvin, Tuan Arjun, Zane, Nicholas, dan kedua putra kembarnya. Ibu Anggun yang melihatnya, langsung mengigit kuku karena terkejut.
"Selamat siang semuanya, mungkin kalian sudah mengenal saya sebelumnya. Saya akan memperkenalkan diri kembali, nama saya adalah Robert Lewandowski Lemos, pemilih perusahaan dari A.M Company dan cabang-cabang yang tersebar di seluruh dunia. Dan kedua anak kembar ini, adalah Putra kembar saya, yaitu Ashton Argatura Lemos dan Ashley Argantura Lemos, dan di samping kanan saya adalah Putra sulung saya, Arthur Graziano Lemos."
DEG .....
"Robert Lewandowski Lemos?!" Ibu Anggun benar-benar terkejut mendengar nama itu.
"Tuan, apakah benar tentang kasus kecelakaan yang menimpa Anda, 17 tahun yang lalu?"
"Bukankah Anda memiliki seorang putri?"
"Tuan, lalu bagaimana dengan perkembangan kasus kecelakaan tunggal yang menyebabkan istri Anda harus meregang nyawa? Apakah benar ada oknum kasus suap?"
"Tuan, saya sempat mendengar bahwa Putri Anda sudah menikah dengan seorang pengusaha tersohor. Bagaimana tanggapan Anda?"
__ADS_1
"Mohon, satu-persatu. Kami akan menjawab pertanyaan kalian," kata Arthur membuat para wartawan yang hendak bertanya lagi, langsung terdiam.